37th International Film Festival Rotterdam
Sineas Indonesia di Kandang Macan
oleh Ekky Imanjaya
Redaktur Rumahfilm.org, Amsterdam

Jika menonton trailer promosi IFFR, tentu Anda akan ingat Ted Okum, sutradara yang menjadi bintang iklannya. Dalam iklan itu, dia menyatakan bahwa dirinya diperlakukan dan dihargai seperti sutradara besar. Begitu pula lah yang terjadi dengan para sineas Indonesia di sana.

Sekadar ilustrasi: Edwin dan filmnya, Hulahoop Sounding, yang menjadi pembuka film No Country for Old Man-nya Coen Bersaudara, dianalisa harian Volkskrantdag lebih dari setengah halaman. Riri Riza diwawancara televisi Cheko. Setiap bertemu saya John Torres, sutradara asal Philiphina, ia selalu bertanya “Edwin di mana?” atau sekadar kasih info, “Tadi saya ketemu Riri”. Garin Nugroho, yang hadir sebagai juri Prince Claus Fund Grand Award, juga acap dimintai wawancara.

Senang sekali melihat para sineas dan karya mereka mendapat tempat di festival besar seperti IFFR. Riri Riza, Mira Lesmana, Edwin, Garin Lesmana, Shanty Harmayn (menjadi juri Netpac), Meiske Taurisia (produser Babibuta Films), Nicholas Saputra, hingga Ladya Cherryl dan John Badalu diapresiasi dengan baik di sana, baik oleh panitia, sesama sineas, penonton dan wartawan.

Edwin adalah sineas pertama yang saya temui di sana, tepatnya di Vernster. Dia peserta Cinemart, program pendanaan film, bersama produsernya untuk Babi Buta yang Ingin Terbang. Edwin membawa beberapa film, Trip to the Wound yang diputar di ajang Neighbours, juga Hulahoop Sounding yang merupakan daur ulang dari film ujiannya Joel Coen di New York University, Sounding—dan masuk program Meet the Masters.

Edwin hadir Jumat malam (25/1) untuk membuka dan diskusi tentang filmnya, Trip to the Wound bersama film-film pendek asal Indonesia lainnya. P ara penonton yang berjubel di ruangan itu tertawa mendengar pidato pembukaan Edwin: “Izinkan saya memotret Anda semua, sebagai bukti untuk teman-teman saya bahwa film saya ditonton banyak orang!”

Trip to the Wound sebenarnya adalah kisah personal. “Setiap luka punya ceritanya sendiri-sendiri,” ujar Edwin saat sesi tanya jawab. Dalam film itu ada satu adegan yang bisa ditafsirkan “subversif” dan pastinya sulit untuk lulus sensor di dalam negeri.

Di program Neighbour itu terdapat dua film pendek yang berlaga memperebutkan Tiger Awards. Selain As I Lay Dying dari Ho Yuhang yang menjadi pemenang, ada Setengah Sendok Teh dari Ifa Ifansyah. Setengah Sendok Teh agaknya menjadi film dengan tata suara yang paling bagus dan matang. Misalnya, saat adegan di dalam bis yang sedang berjalan, efek suaranya begitu menggelegar dan tanpa sadar membuat kita ikut bergetar dan seolah berada di dalam bis.

Film-film pendek dari Indonesia (walau ada beberapa catatan) begitu membuat saya bangga. Bagi saya, banyak yang kualitas estetika dan cara bertuturnya di atas sebagian film Malaysia yang diputar malam itu. Sebut saja film Malaysia Shaking the Gods ( Tey Kok Hau) yang tidak komunikatif, karena selama 11 menit hanya menampilkan cuplikan orang-orang mendorong pemandu tempat bersemayamnya patung, tanpa ada keterangan sedikit pun. Atau Retrace ( Margaret Bong) yang eksperimentalis, menampilkan berbagai foto-foto masa lalu yang sangat personal dan kurang lancar dalam bercerita.

Forum Lenteng yang diwakili oleh Rumah karya Otty Widasari dan Ketika Aku Pulang Tidak Ada Mamah di Depan Pintu oleh Gelar Agryano Soemantri, sebenarnya juga bermain-main dengan bentuk, tapi tetap mampu menjelaskan sebuah ide. Rumah, misalnya, melakukan eksperimen dengan dua kamera yang berseberangan, dan ditampilkan secara split screen, mengangkat suasana (mood) santai di sebuah perumahan murah. Sedangkan Mamah malah lebih ekstrem, gambar yang ditampilkan sengaja dibalik.

Film pendek terbaru Riri Riza, Tak kau Kunanti, cukup berhasil meyakinkan penonton tentang betapa bosan dan menyebalkannya sebuah penantian, lewat lirik lagu-lagu lama di radio. Jam terbang Riri yang tinggi membuat cerita di film itu berjalan lancar, tanpa perlu “dieja”.

Film-film itu cukup membuat saya kangen tanah air. Misalnya nasi padang dan suasana Mangarai dan Busway di filmnya Riri. Atau suara adzan yang tak pernah terdengar di ruang publik Belanda, bisa saya nikmati di Bilal (Bagaskoro Aryaningtyas, Forum Lenteng).

Sayang sekali, ada masalah dengan subtitle pada beberapa film negeri kita. Pertama, ini kesalahan panitia dalam soal format rasio layar, terjemahan tidak terbaca karena keluar frame. Kedua, ini masukan dari Nuraini Juliani –teman seperjalanan saya, direktur Kunci Cultural Studies yang sedang menempuh program master Kajian Asia Kontemporer di Universiteit van Amsterdam– banyak terjemahan yang salah, dan bahkan tidak diterjemahkan. “Masak ‘pikiran’ diterjemah jadi ‘mine’. Sayang sekali, kan, sudah jauh-jauh sampai di Rotterdam,” curhatnya.

Riri dan Mira Lesmana –Nicholas Saputra menyusul kemudian– datang karenaTiga Hari untuk Selamanya diputar di sana. “Sudah sejak 2002 gue kemari, tapi foto di ID tidak ganti-ganti, nih,” seloroh Mira. Sambutan atas film Tiga Hari begitu meriah, terlihat lewat antusiasme penonton di sesi tanya jawab

Minggu (27/1) pukul 21.45, Riri dan Nicholas langsung memberikan kata sambutan dan tanya jawab pada pemutaran Tiga Hari untuk Selamanya. Bioskopnya penuh, dan penonton antusias bertanya soal banyak hal. “Apakah ganja legal di Indonesia?”, “Bagaimana dengan badan sensor di sana?”, “Bagaimana reaksi kaum agamawan di sana?”.

Nicholas Saputra di sambut sama hangatnya dengan Riri atau Mira. Saat pesta bersama para sineas malam itu, ia tertahan di sana karena banyak yang ingin mengobrol, dan karenanya ia sedikit terlambat hadir di Q&A malam itu. Saat ia berlari mengejar momen diskusi, Nico berpapasan dengan bubaran penonton. “Wah, film yang bagus! Aktingnya asyik!” ujar para bule itu. Dan selepas tanya jawab, tidak sedikit yang antre ingin berfoto dengannya, kebanyakan memang warga Negara Indonesia.

Nico di sana juga dalam rangka kerja untuk Channel V. sebelumnya, dan selepas IFFR, ia pergi ke Gotenborg International Film Festival untuk meliput acara itu, di samping Tiga Hari juga diputar di sana. Kali ini, di Rotterdam, Nico bekerjasama dengan Edwin sebagai juru kameranya.

Garin Nugroho hadir sebagai juri Prince Claus award, di samping datang untuk menghadiri pemutaran Teak Leaves at the Temple (2007). Selasa (29/1), Garin yang baru mendarat bandara Schiphol dan masih kliyengan harus berpidato membuka filmnya, pada pukul 13.15, dan juga sesi tanya jawabnya. Penonton bersemangat bertanya banyak hal dan sebagian kaget juga mendengar cara kerja Garin yang penuh dengan eksplorasi, kolaborasi, dan improvisasi.

Saat ditanya apa film terbarunya, Garin bercerita sedikit tentang, Under the Tree, yang beredar Maret 2008. Film ini tentang maestro penari dari Bali yang pernah pentas di depan tokoh semacam Mao Ze Dong dan Walt Disney. “Bumi Manusia akan syuting Maret tahun depan,” ungkapnya kepada RF. “Garin adalah salah satu sutradara terpenting dalam festival kita,” ujar Gertjan Zuilhof, salah satu programmer yang menjadi moderator. Selepas itu, Garin akan ke Amsterdam, Cannes, dan lanjut ke Berlinale Film Festival sebagai juri Netpac.

Sineas yang acap saya jumpai adalah Shanty Harmayn, yang sibuk dengan penjurian Netpac dan menulis sebuah sinopsis film terbarunya yang masih dirahasiakan. Ia kini bermukim di Manila. Dengan John Badalu, karena kesibukan masing-masing, saya tak banyak ngobrol – dia hadir sebagai orang Q Film Festival. Sedangkan dengan Ladya Cherryl, saya malah tak sempat bertemu.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, IFFR adalah satu dari sedikit festival kelas dunia yang memberi tempat tersendiri bagi film Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Untuk film pendek saja, misalnya, sudah ada program A Very Indonesian Conversation (2006), Flags of Indonesia (2005), dan Indonesia on the Move (2005). Garin Nugroho sudah dari 1995 (sejak Surat untuk Bidadari) memutar film-filmnya di sana. Kuldesak juga diputar di sana, pada 1999. Tidak sedikit juga film Indonesia yang mendapatkan bantuan dana dari Cinemart.

Semangat IFFR untuk “menemukan sutradara sebelum mereka terkenal” harus dimanfaatkan sebaik mungkin oleh sineas Indonesia. Semoga makin banyak film Indonesia yang tampil di Rotterdam dan festival film kelas dunia lainnya.***

Artikel lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org