The Birds

Mengapa Film Horor (2)
oleh Hikmat Darmawan
Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta

 

Tiga Jenis Film Horor Menurut Derry

Dalam perkembangannya, ada beberapa jenis film horor. Menurut Wikipedia, pada masa awal perkembangannya di Barat, film-film horor mengambil ilham dari tokoh-tokoh dalam sastra klasik Barat seperti Dracula, Wolfman, Frankenstein, Dr. Jekyll & Mr. Hyde, The Mummy, The Phantom of The Opera, dan lain sebagainya.

Setelah Perang Dunia II, atau pada pertengahan hingga akhir abad ke-20, berkembang tiga jenis (subgenre) film horor yang dominan di Amerika: horror-of-personality, horror-of-Armageddon, dan horror-of-the-demonic (Charles Derry, Dark Dreams: A Psychological History of the Modern Horror Film, 1977).

Horror-of-personality adalah jenis (film) horor yang tak lagi menokohkan karakter-karakter mitis sebagai sumber horornya. Dalam horor jenis ini, objek horor bukan lagi sosok berciri monster, tapi manusia biasa yang kelihatan normal dan biasanya baru pada bagian akhir cerita tampak tabiatnya yang mengerikan. Secara tipikal, film-film jenis ini memberikan tekanan pada tema-tema psikologi aliran Freud dan seks.

Bagi banyak pengamat, karya seminal untuk jenis film horor ini adalah Psycho (1960, Alfred Hitchcock). Sebetulnya, M dari Fritz Lang jelas mengandung unsur horor dalam manusia biasa. Film yang beredar pada 1931 ini menemukan sosok berpribadi monster pada diri Hans, yang gemar membunuh anak. Ketika akhirnya kota Berlin yang jadi latar cerita dilanda teror oleh perbuatan M, para polisi dan kelompok penjahat sama-sama mencari sang monster.

Ketika Hans terpojok oleh massa, penonton dipaksa berada dalam posisi tak nyaman: sang monster jadi makhluk yang terpojok, tersiksa, terancam, terteror. Ketaknyamanan posisi moral inilah yang membuat M menjadi sebuah karya masterpiece. Hans memang monster, tapi apakah massa penyerangnya juga monster?

Setelah M, karya cult classic yang juga menampilkan sosok psikopat/manusia berjiwa monster secara kuat adalah Night of The Hunter (1955, sutradara: Charles Laughton) Robert Mitchum berperan sebagai Harry Powell, psikopat yang meneror seorang perempuan, Willa Harper (Shelley Winters). Jari-jari Mitchum yang bertato huruf-huruf membentuk kata “h-a-t-e” dan “l-o-v-e” menjadi salah satu imaji paling terkenal dalam sejarah film noir.

Namun, memang baru setelah Psycho, sebuah blangko (template) psikopat yang utuh tersedia bagi film-film sesudahnya. Lebih dari sekadar menyediakan model psikopat yang memikat dalam dunia film, Psycho juga menyediakan embrio model film-film slasher lewat adegan pembunuhan di shower-nya (adegan pembunuhan paling masyhur dalam sejarah film).

Film slasher adalah subgenre film horor yang mengeksploitasi adegan kekerasan eksplisit yang lazimnya melibatkan senjata tajam atau alat potong, seperti: pisau jagal, kampak, gergaji mesin, clurit, dan sebagainya. Hasilnya adalah mayat-mayat termutilasi. Ciri lain, tentu saja, cipratan darah –banyak, banyak darah. Jenis kekerasan yang ditampilkan juga khas: sangat eksesif. Satu lagi cirinya, kekerasan eksesif itu “sebaiknya” ditampilkan secara jelas, telanjang, terang-terangan.

Film slasher akan kita bahas di bab lain, karena ia menyempal dari film Psycho: tokoh-tokoh psikopat film-film slasher belum tentu manusia biasa, bisa jadi makhluk-makhluk supernatural. Misalnya, Freddy Krueger (Nightmare On The Elm Street), Jason Voorhees (Seri Friday the 13th—walau secara teknis, pembunuh dalam film pertama ini adalah manusia biasa), atau Mike Myers (Halloween). Yang menarik, “pembunuh” pada Final Destination –apakah malaikat maut, atau benda-benda yang nyatanya membunuh para tokoh itu?

Psikopat Paling Jahat Dalam Film

Horror-of-the-Armageddon adalah jenis film horor yang memetik arketip kisah/mitologi biblikal tentang kiamat. Namun, dalam film, arketip ini diambil melewati rute perkembangan film-film sci-fi pada 1950-an. Salah satu pelopor subgenre ini, menurut Derry, adalah The Birds (1963, Alfred Hitchcock).

Lebih rinci, Derry menyebutkan:

…in this subgenre, the world is constantly being threatened with extinction, usually by nonhuman, unindividualized creatures such as birds, bats, bees, frogs, snakes, rabbits, ants, or plants. Although the nucleus of the horror-of-Armageddon subgenre is distinct, the outer reaches of the subgenre are downright fuzzy; indeed, the horror of Armageddon includes in its periphery films as disparate as Yog, Monster from Outer Space (Inoshirô Honda, Japan, 1970), The War Game (Peter Watkins, Britain, 1965), and They Shoot Horses, Don't They? (Sydney Pollack, USA, 1969).

(...dalam subgenre ini, dunia selalu terancam hancur atau musnah, biasanya oleh makhluk-makhluk nonmanusia dan tak bersifat individual, seperti burung-burung, kelelawar, lebah, katak, ular, kelinci, semut, atau tumbuhan. Walau ciri-ciri subgenre ini amat khas, cakupan yang luas dari subgenre ini bisa sangat membingungkan. Memang, subgenre ini mencakup film-film yang sangat beragam macam Yog, Monster from Outer Space (Inoshirô Honda, 1970), The War Game (Peter Watkins, 1965), dan They Shoot Horses, Don't They? (Sydney Pollack, 1969).)

Derry sendiri menggunakan kata “Armageddon” (tempat pertempuran terakhir kekuatan baik vs. kekuatan jahat di akhir zaman dalam mitos Injili) bukan karena konotasi religiusnya. Ia menggunakan kata itu karena “film-film ini selalu berurusan dengan sejenis pertempuran yang jelas-jelas bersifat mutlak, mitis, dan berdampak kejiwaan/ruhaniah yang besar.”

Walau cakupannya luas, film berjenis horror-of-the-Armageddon bisa dibedakan dari film-film bencana seperti Armageddon (1998, Michael Bay), Twister (1996, Jan de Bont) atau Dante’s Peak (1997, Roger Donaldson). Film-film bencana itu tak bernuansa apokaliptik. Tema utama film-film bencana adalah kemampuan manusia untuk bertahan hidup (survival) atau menghadapi bencana.

Menurut Derry, salah satu contoh terbaik film horor jenis ini adalah film-film zombie yang dipopularkan oleh George P. Romero. Film-film ini, ungkap Derry, secara tipikal dicirikan oleh kebangkitan mayat-mayat hidup di seluruh dunia, yang mengincar orang-orang yang masih hidup untuk mereka makan secara kanibalistik.

Rasa ngeri yang ditimbulkan oleh film-film horor jenis ini adalah munculnya rasa ketakberdayaan atas kehancuran mondial, bahkan kadang kehancuran kosmis; kengerian atas bencana apokaliptik, kengerian akan kehampaan karena segala kemajuan peradaban umat manusia akan musnah dan sia-sia.

Film-film Apokaliptik Terbaik

Terakhir, Horror-of-the-Demonic, jelas yang paling dikenal dalam khasanah horor. Derry mengungkap bahwa film horor jenis ini,

….suggested that the world was horrible because evil forces existed that were constantly undermining the quality of existence. The evil forces could remain mere spiritual presences, as in Don’t Look Now (Nicolas Roeg, 1973), or they could take the guise of witches, demons, or devils...

(Menawarkan tema tentang dunia yang buruk karena kuasa Setan ada di dunia, dan selalu mengancam kehidupan mat manusia. Kuasa Setan/Kejahatan itu bisa hanya berupa penampakan spiritual belaka, seperti dalam Don’t Look Now (1973, Nicolas Roeg), atau dapat juga mengambil bentuk penyihir, demit, atau setan....

Ada empat tema, menurut Derry, yang biasa ada dalam film-film horor sejenis ini. Keempat tema ini bisa serentak ada pada sebuah film, bisa juga kombinasi beberapa saja:

  • Gagasan balas dendam
  • Perusakan tokoh tak berdosa
  • Fenomena Mistik, khususnya kerasukan
  • Tekanan pada simbologi Kristiani (ingat, bahwa kajian ini adalah tentang film Amerika, yang didominasi oleh tradisi Yudeo-Kristiani).

Perkembangan Berbagai Jenis

Film Horor di Indonesia

Pembagian jenis horor lain juga bisa kita lihat dalam Wicaksono Adi & Nurruddin Asyhadie, Paramarupa Film Horor Kita (Majalah F, no. 3, Februari-Maret 2006). Menurut tulisan ini –yang sebetulnya membahas perkembangan film horor di Indonesia, ada ketegangan film horor berjenis demonic horror (horor dengan tokoh-tokoh setanwi, atau supernatural) dan pyschological horror (horor yang bersumber dari persoalan kejiwaan).

Menurut tulisan ini, jika kita menerima bahwa film horor pertama Indonesia adalah Tengkorak Hidoep (1941, Tan Tjoei Hock), maka sejarah film horor Indonesia diawali oleh film demonic horror. Sementara, jika kita mengacu pada film Lisa (1971, M. Shariefuddin) sebagai film horor Indonesia yang pertama (seperti disebutkan pula dalam buku Katalog Film Indonesia 1926-2005), maka sejarah film horor Indonesia justru dimulai dari psychological horror.

Pertanyaannya, mengapa ada dua versi tentang “film horor Indonesia yang pertama”, dengan jarak waktu masing-masing versi sepanjang 30 tahun?

Barangkali soalnya terletak pada definisi film horor yang dipakai. Rupanya, bagi Wicaksono Adi & Nurruddin Asyhadie, film yang melibatkan unsur supernatural seperti Tengkorak Hidoep dengan sendirinya adalah film horor. Padahal, bisa jadi sebuah film melibatkan alam gaib tanpa menjadi film horor. Misalnya, jika unsur supernatural (termasuk hantu) itu disajikan sebagian dari sebuah cerita fantasi atau cerita dongeng –seperti yang agaknya terjadi pada Tengkorak Hidoep.

Contoh lain, betapa film hantu tak mesti film horor, adalah Ghost (1990, sutradara: Jerry Zucker) yang sama sekali bukan film horor, malah film romantis yang mencuatkan model “rambut Demi Moore”. Atau Casper (1995, Brad Sliberling) dan Ghost Busters (1984, Ivan Reitman) yang lebih merupakan komedi.

Jika kita kembali ke pengertian paling dasarnya, bahwa film horor adalah “film yang dirancang untuk menerbitkan rasa takut”, maka film Lisa lebih memenuhi syarat sebagai film horor Indonesia pertama. Film ini menyajikan narasi kengerian yang timbul dari rasa bersalah tokoh Ibu tiri (Rahayu Effendi) karena memerintahkan orang untuk membunuh Lisa (Lenny Marlina).

Pada tahun yang sama, terbit pula film Beranak Dalam Kubur (Sutradara: Awaludin & Ali Shahab, dengan skenario dari Sjuman Djaja, berdasar cerita dari komik Ganes TH, Tangis Dalam Kabut). Menurut catatan Wicaksono Adi & Nurruddin Asyhadie, film ini lebih laris dibanding Lisa. Pada 1972, muncul lagi film horor berjenis psychological horror, berjudul Pemburu Mayat (Sutradara: Kurnaen Suhardiman), tentang seorang psikopat pengidap nekrofilia (gemar bersetubuh dengan mayat). Lagi-lagi tak terlalu berhasil di pasar, dibanding demonic horror berjudul Ratu Ular (sutradara: Lilik Sudjio, skenario: Motinggo Boesje, Sofyan Sharna).

Wicaksono Adi & Nurruddin Asyhadie menyimpulkan bahwa pada akhirnya, “pertarungan” antara dua jenis film horor itu di Indonesia dimenangi oleh demonic horror.

Dalam perkembangan selanjutnya, mereka juga mencatat bahwa muncul banyak subgenre horor yang menarik dalam kancah film nasional. Ada horor-komedi yang ditandai oleh film Mayat Cemburu (1973, sutradara: Awaludin, skenario: Teguh Srimulat). Juga biographic horror (film Kisah Nyata Dukun AS (Misteri Kebun Tebu), 1997, sutradara: Eddie SS.) dan socio-historical horror (seperti film Misteri Banyuwangi (Dukun Santet), 1998, sutradara: Walmer Sihotang).

Namun, identifikasi kedua jenis film horor terakhir masihlah sumir. Sebab, misalnya, film macam Kisah Nyata Dukun AS bisa kita kategorikan secara lebih masuk akal ke dalam subgenre horror-of-personality, di mana rasa takut penonton ditimbulkan oleh penggambaran sosok Dukun AS yang gemar membunuh demi ilmu hitamnya.

Yang menarik, Wicaksono Adi & Nurruddin Asyhadie mencatat adanya pergeseran kecenderungan dari narrative horror dalam film-film horor Indonesia lazimnya, menjadi visual horror.

Film berjenis narrative horror merancang terbitnya rasa takut penonton berdasarkan unsur-unsur pembangun cerita –seperti tokoh (kuntilanak, sundelbolong, leak, siluman buaya, psikopat, dll.), kontruksi plot, atau premis cerita (misalnya, bagaimana kalau perempuan korban perkosaan yang telah mati lalu gentayangan dan membunuhi para pemerkosanya).

Sementara film berjenis visual horror bertumpu pada elemen-elemen visual dalam menakuti penontonnya. Sebetulnya, pengertian ini pun kurang memuaskan. Bagaimana pun, tokoh horor paling culun pun, macam kuntilanak atau sundel bolong versi Suzanna, mengandalkan unsur visual seperti kostum dan make up untuk menerbitkan rasa takut penonton.

Adi & Asyhadie menunjuk Jelangkung (2001, sutradara: Rizal Mantovani & Jose Purnomo) sebagai penanda awal film horor “jenis baru” ini. Kedua penulis cukup jeli untuk mengenali bahwa film ini dipengaruhi oleh generasi film horor baru di Amerika, yang ditandai oleh Scream (1996, sutradara: Wes Craven), dan di Jepang –yang biasa kita sebut sebagai fenomena J-Horror—yang ditandai oleh sukses internasional Ringu (1997, sutradara: Hideo Nakata).

Referensi Jelangkung memang bukan lagi film-film horor Indonesia lama. Baik referensi visual, maupun pakem-pakem naratifnya. Film-film horor Indonesia sebelumnya mengambil sumber cerita dari folklore dengan setting “kampung” (sang kuntilanak, misalnya, masih harus nangkring di atas pohon rimbun, dan bukan ikut masuk lift). Sementara film-film horor generasi/aliran Jelangkung mengambil sumber cerita dari khasanah urban legend di kota.

Perbedaan penting lainnya, Jelangkung adalah film generasi pasca-Garin Nugroho. Sutradara Garin Nugroho pernah mencanang gagasan sinematisnya sebagai “mementingkan estetika gambar”. Artinya, tekanan estetis film-film Garin adalah pada sinematografinya. Garin terkenal sebagai sutradara yang piawai mencipta gambar-gambar yang kuat secara fotografis. Garin juga terkenal dengan film-filmnya yang membingungkan dari segi cerita. Ada kesan, memang, Garin adalah sutradara yang abai cerita.

Generasi pembuat film sesudah Garin sangat fasih bicara dan menggunakan teknologi film, khususnya sinematografi, mutakhir, termasuk teknologi film digital. Mereka fasih memanfaatkan “rasio gambar”, “CGI”, “low key photography”, “musik ambiance”, dan sebagainya. Mereka juga fasih mengutip berbagai acuan visual dari film-film dunia (tak hanya dari mainstream Hollywood saja). Dan, seperti Garin, kebanyakan mereka sering bermasalah dalam hal membangun cerita (premis, penokohan, struktur plot, logika-dalaman, dialog, dsb.)

Dari generasi inilah, lahir film-film horor lokal “gaya baru”. Mereka, di luar beberapa perkecualian, cenderung membuat film-film horor yang menomorsatukan pencapaian gambar, dan menomorduakan elemen lain, seperti cerita. Namun, dalam hal film horor lokal, keliru jika ‘penyakit’ abai cerita hanya menjangkiti kaum sineas muda kita: dari dulu pun, film horor lokal banyak dijangkiti ‘penyakit’ ini!

(Bersambung)

Artikel lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org