Mengapa Kita Tak Lagi Membuat Film Superhero?
Negeri adikuasa seperti Amerika terlihat mudah saja memproduksi film superhero. Menekuk-nekuk genre itu pun seolah cukup sekadar bermain dengan niat. Bagaimana negeri ini? Apakah karena segala yang super belum jadi takdir bangsa ini, film superhero pun jadi tak terbayangkan? Kontributor RumahFilm Ade Irwansyah mencoba mencari jawabnya...

Mengapa Film Horor (2)
Film horor bukan sekadar film yang ada hantunya. Hikmat Darmawan dalam bagian kedua tulisannya ini menjelaskan mengenai tipologi film horor yang dikenal. Selain itu, ada juga film yang menampilkan hantu tapi tidak dibuat dengan maksud untuk menakut-nakuti penonton. Berdasarkan pengertian ini, Hikmat sampai pada diskusi mengenai: film apa yang merupakan film Indonesia pertama yang bisa dikategorikan sebagai film horor.

Trend (Tak Terlalu) Baru: Menggemblok Monyet
Sebuah film bisa mengakibatkan pembicaraan panjang. RumahFilm sudah sempat menurunkan resensi film Juno yang ditulis oleh Hikmat Darmawan. Namun redaktur RumahFilm lain juga merasa bahwa film ini masih bisa dibicarakan. Salah satunya, Eric Sasono yang cukup terkesan oleh film itu hingga menghasilkan sebuah artikel tentang posisi Juno dalam lanskap film independen Amerika.


awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org