Kobayashi Masahiro


Klik gambar untuk memperbesar

37th International Film Festival Rotterdam
Sutradara versus Nicholas Saputra
oleh Asmayani Kusrini
Redaktur Rumahfilm.org, Rotterdam

HARI KEEMPAT (Minggu 27 Januari 2008)

Di festival Rotterdam, Edwin akan banyak belajar cara 'jualan' proyek film. Ceritanya, hari ini ajang Cinemart akan dimulai. Cinemart adalah tempat paling pas bagi Edwin yang sedang berusaha mencari dana untuk melanjutkan pembuatan film panjang pertamanya Babi Buta Ingin Terbang. Di Cinemart, para sutradara dan produser akan dipertemukan dengan para calon investor.

Garin Nugroho atau Riri Riza pernah mendapat dana hasil negosiasi di ajang Cinemart. Para investor di ajang ini paham betul film macam apapun yang mereka akan dapatkan sehingga para filmmaker tak usah khawatir. Kuncinya adalah berusaha meyakinkan mereka bahwa film anda punya 'sesuatu'.

Sejauh ini Edwin sudah punya poin lebih. Film pendeknya, Trip to the Wound sudah dipajang di jejeran seksi Short: As Long As It Takes. Lalu film pendeknya yang lain Hulahoop Soundings: A Tribute to Films Of Coen Brothers dibuat atas rekomendasi dan dana dari Rotterdam Film Festival. Bisa dipastikan, tahun-tahun kedepan, kita bisa menantikan film Edwin disini seperti juga film-film Garin Nugroho atau Riri Riza yang sudah langganan IFFR.

Saya membuka hari keempat ini dengan menonton film dari seksi kompetisi The King of Ping Pong karya Jens Jonsson asal Swedia, negeri Ingmar Bergman. Sutradara-sutradara asal Swedia memang harus berjuang keras untuk keluar dari bayang-bayang kebesaran nama Ingmar Bergman di dunia Internasional. Jonsson pun memilih tema yang jarang disentuh oleh Bergman, tentang anak-anak.

Rickard –dipanggil Rille--, seorang remaja tanggung yang tambun, percaya bahwa ping-pong adalah 'the most egalitarian sport in the world'. Tapi saya salah prediksi, 'lead' soal olah raga ping-pong ini karena film berbelok ke hubungan Rille dan adik laki-lakinya, Erik. Rille curiga, karena Erik punya segala hal yang tidak dimilikinya: cakep, gaul dan --paling utama-- langsing. Kecurigaan inilah yang menjadi inti cerita, membawa Rille menemukan fakta-fakta baru dalam keluarganya.

Yang menyenangkan dari The King of Ping-Pong adalah karena diceritakan dari sudut pandang Rille, sudut pandang kanak-kanak yang naif dan lugu. Film ini jadi terlihat seperti anak-anak yang menggemaskan. Tapi, Jonsson terlalu banyak menjejali filmnya dengan statemen-statemen yang tidak perlu, dan mengganggu keluguan film yang seharusnya bisa terus menggemaskan ini. Seperti pernyataannya soal Amerika saat Rille bilang: ‘tidak penting apa yang kamu lakukan, karena bukankah orang Amerika bisa melakukan apa saja?’ Pernyataan ini seperti tompel di wajah mulus The King of Ping-Pong.

Usai menonton The King, saya tidak perlu berjalan jauh. Di gedung yang sama diputar film kompetisi Wonderful Town karya Aditya Assarat asal Thailand. Film ini berlatar belakang sebuah kota kecil di daerah pantai selatan Thailand, Takua Pa, sebuah daerah yang elok. Kota tenang ini diapit oleh daerah pantai dan pegunungan batu dibelakangnya. Seperti yang digambarkan oleh Na, gadis pemilik hotel, “Takua Pa terjepit”.

Di Takua Pa inilah datang seorang arsitek asal Bangkok, Ton yang punya proyek rehabilitasi perumahan mewah di tepi pantai yang rusak akibat tsunami tiga tahun lalu. Seperti sudah bisa diduga, Ton dan Na saling jatuh cinta, tapi Takua Pa bukanlah tempat yang tepat untuk mengembangkan hubungan itu. Takua Pa seperti punya daya magis yang tidak selalu baik.

Seperti cerita Na, Takua Pa sudah melewati banyak bencana, gempa bumi, bumi terbelah, dan terakhir kali adalah tsunami. Banyak sudah yang dihancurkan, tapi Takua Pa tetap bertahan, seakan bencana itu tak pernah datang. Demikian pula nasib hubungan Na dan Ton. Struktur cerita Wonderful Town sendiri cukup lancar hanya saja eksekusinya terasa kikuk disana-sini. Tapi dari film ini tampaknya, Thailand sudah melahirkan lagi salah satu sutradara muda yang menjanjikan.

Lepas menyusuri Takua Pa di Wonderful Land, handphone saya tiba-tiba berbunyi. Petugas yang bertanggung jawab untuk mengatur permintaan wawancara mengabarkan, Aleksandr Sokurov sudah datang. Tapi karena waktu terbatas, permintaan wawancara khusus saya tidak bisa dilakukan. “Sokurov tidak punya waktu untuk wawancara tatap muka. Karena itu ia hanya akan mengadakan satu sesi konferensi pers. Jika anda masih tertarik silahkan datang sekarang,” katanya. Tanpa pikir panjang, saya langsung ‘terbang’ ke Van Capellen Zaal di lantai dasar De Doelen. Tak lupa saya menghubungi Ekky yang sangat ingin berfoto sekaligus minta tanda tangan Sokurov.

Konferensi yang dimaksud sebetulnya bukan murni konferensi pers. Lebih tepatnya disebut diskusi antara dua sutradara: Sokurov dan Jos Stelling sutradara ternama asal Belanda. Mereka berdiskusi (atau lebih tepatnya berdebat) soal hubungan antara literatur dan film. Sokurov berkeras bahwa film hanyalah salah satu cabang literatur. “Literatur adalah sumber dari segala sumber seni”.

Jos Stelling tidak begitu setuju, menurutnya, film sudah mampu berdiri sendiri dan bukan hanya bagian dari literatur. Dan begitulah dua sutradara ini saling lontar pendapat sementara saya hanya melongo, dan penonton lain mendengarkan dengan tertib. Sampai tinggal sedikit waktu untuk mengajukan pertanyaan, dengan muka tebal saya bertanya: “Pak Sokurov, saya suka sekali dengan film-film anda, khususnya Russian Ark dan tentu saja Alexandra. Jadi saya mengartikan pernyataan anda dengan banal. Dalam bentuk apa literatur yang anda maksud itu anda terapkan dalam Alexandra?

Sokurov yang ditemani penerjemah pun menjawab dengan sabar. Sayangnya, moderator acara yang mengingatkan saya kepada Rosiana Silalahi itu memotong dengan sangat tidak sopan. Padahal Sokurov terlihat masih ingin menjelaskan banyak hal. Mungkin Sokurov paham, saya masih anak bawang yang perlu dididik lebih jauh. Tapi moderator itu sudah beralih ke penanya lain. Tak lama kemudian, acara itupun bubar. Dan Ekky sudah siap sedia untuk dipotret bareng sang maestro.

Setelah acara Sokurov, saya dan Ekky memutuskan untuk mencari makan siang. Saat akan keluar dari pintu utama De Doelen, didepan saya tiba-tiba berdiri seseorang dengan wajah yang sangat familiar. Nicholas Saputra! Setelah saling menyapa, kami berpisah. Saya sudah siap dengan jadwal wawancara lainnya.

Kali ini dengan Kobayashi Masahiro. Saya diberi waktu untuk ngobrol dengan Kobayashi selama 30 menit. (Tunggu wawancaranya di RF). Meski terlihat sangat pendiam, Kobayashi ternyata orang yang sangat menyenangkan diajak ngobrol. Sayangnya, ia sulit untuk diarahkan untuk berfoto. Kobayashi tiba-tiba terlihat kaku ketika dipotret. Ekspresinya pun datar.

Usai memotret Kobayashi kami masih sempat ngobrol basa-basi. Ternyata Kobayashi pernah tinggal beberapa waktu lamanya di Paris, sehingga ia bisa sedikit berbahasa Perancis. Kami pun saling mempraktekkan bahasa Perancis kami yang amburadul dan tak tentu arah. Salah satu petugas pers diruangan wawancara --yang kebetulan orang Perancis-- hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar bahasanya diaduk-aduk dengan aksen Jepang dan Indonesia.

Karena sudah malam, saya pun menuju Jurriaanse Zaal, salah satu dari dua sinema besar dalam gedung De Doelen untuk menonton 3 Hari Untuk Selamanya. Film Indonesia pertama yang saya tonton di tahun 2008 ini. 3 Hari masuk dalam seksi Time & Tide –dan sebetulnya tidak masuk dalam program disiplin saya--. Tapi ini adalah film Indonesia dan saya harus menontonnya, sekaligus menunjukkan penghargaan kepada karya anak negeri.

Saya tidak akan memberi komentar banyak untuk 3 Hari karena saya termasuk terlambat menonton film ini. Semua orang tentu sudah punya pendapatnya masing-masing. Saya hanya ingin bilang bahwa 3 Hari adalah film yang enak dan ringan untuk ditonton. Orang-orang Indonesia di Belanda banyak yang ikut menonton. Merekalah yang paling riuh terbahak-bahak melihat adegan-adegan di kampung dengan berbagai dialek.

Yang mengejutkan adalah reaksi penonton-penonton bule. Humor-humor lokal yang disajikan dalam 3 Hari rupanya tertangkap juga oleh mereka. Ruang sinema pun ramai dengan suara tawa dan Riri Riza mendapat applaus meriah. Acara tanya jawab berlangsung singkat dan diakhiri dengan sebuah permintaan dari masyarakat Indonesia dan Malaysia untuk Nicholas. Apalagi kalo bukan foto bareng.

Teori saya dan Gan yang saya tulis di diary kemarin tentang sutradara bintang rupanya tidak benar 100%. Ekky meledek teori itu, “Buktinya Nico tetap jadi bintang,” katanya. Hmmm...ya, malam itu Nicholas memang jadi bintang dan akan tetap jadi bintangnya Indonesia.***

Artikel lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org