
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() ![]()
37th International Film Festival Rotterdam HARI KELIMA (Senin 28 Januari 2008) Mungkin Tale 52 adalah film yang bagus. Saya bilang mungkin karena secara pribadi saya tidak terlalu bisa menikmatinya seperti ketika menonton film-film thriller psychology seperti misalnya Twin Peaks: Fire Walk With Me. Sebetulnya bukan salah Alexis Alexiou, sutradara asal Yunani kalau saya tidak bisa ikut arus ketegangan yang ia coba bangun sejak menit pertama film ini. Kebetulan saja suami saya seorang psikiater yang telaten menjelaskan gejala-gejala schizoprenia, halusinasi, paranoia, dan teman-temannya. Faktanya, penderita gejala-gejala ini memang suka membayangkan hal-hal yang tidak masuk akal manusia normal. Mendengar banyak kisah dengan berbagai macam gejala itu, membuat saya lebih banyak memperhatikan alur cerita ketimbang alur visual. Dalam hubungannya dengan film, gejala-gejala schizoprenia dan halusinasi memang bahan empuk untuk eksplorasi visual, bisa terlihat rumit dan akan membuat penonton bertanya-tanya. Luasnya kesempatan untuk eksplorasi visual yang mengangkat tema-tema gejala psikologi ini membuat banyak sutradara keasyikan sendiri bermain-main dengan gambar. Dan mereka sering lupa, bahwa sebetulnya gejala ini sangat sederhana, sesederhana penjelasan mengapa orang terjangkit flu. Dan Tale 52yang masuk seksi kompetisi ini sebetulnya juga cerita thriller psychology biasa. Dari menit pertama saja, sudah bisa diduga (atau sudah bisa didiagnosis). Saya berharap, sutradara yang mengolah bahan empuk ini tidak sekedar bermain di level puzzle visual, cara yang paling umum digunakan. Sayangnya Tale 52memang hanya sampai pada level itu. Setelah Tale 52, di ruang yang sama kemudian diputar film kompetisi Shanghai Trance karya sutradara Belanda, David Verbeek. Natascha Devillers, pendiri Jiffest, menjadi produser film ini. Saya menghargai upaya Verbeek untuk mengamati kehidupan urban di Shanghai dari 'dalam'. Selain sutradara dan jajaran produser, praktis film ini didominasi oleh aktor artis dan para kru dari China. Verbeek ingin memotret gaya hidup masyarakat megapolitan yang sangat kontras itu. Diwakili oleh karakter-karakter dengan tuntutan kehidupan mereka masing-masing. Dengan mudah kita bisa mengidentifikasi kehidupan mereka dengan kehidupan sehari-hari disekeliling. Ada seorang DJ yang pencemburu, ada bar girl yang selalu ingin tampil glamour, ada pemuda lulus kuliah yang dituntut untuk segera bekerja, ada wanita yang ambisius, dan sebagainya. Pertanyaannya kemudian adalah, lantas kenapa? Tak ada yang meragukan dalam kualitas visual Shanghai Trance. Gerakan kamera dan sudut shot-nya mampu merepresentasikan sebuah kontras urban ---antara gedung-gedung tinggi dan perumahan kumuh--. Tapi tak ada sesuatu yang lebih dari itu. Shanghai Trance hanya terlihat seperti fragmen-fragmen video klip tanpa cerita yang kuat. Maraton saya berlanjut di gedung yang sama. Kali ini dari seksi kompetisi Cordero De Dios atau Lamb Of God yang beberapa hari lalu jadi film pembuka IFFR 2008. Film panjang pertama karya Lucia Cedron ini diawali dengan penculikan Arturo. Lalu penculiknya kemudian meminta tebusan kepada cucu Arturo, Guillermina, yang kemudian terpaksa memanggil ibunya, Teresa –seorang pelarian politik-- untuk kembali ke Buenos Aires dan membantu mengumpulkan uang tebusan tersebut. Kepulangan Teresa rupanya mengungkit banyak luka lama yang jadi penyebab tegangnya hubungan Teresa dan Guillermina. Lamb of God berusaha menghubungkan kisah yang sangat personal --kisah konflik keluarga Arturo yang berdampak pada cucunya Guillermina-- dengan sejarah Argentina. Kesimpulan saya, Lamb of God adalah film yang sangat tertib: alur cerita, penyajian gambar, warna dan musik diramu dengan pas. Tapi ketertiban itu tidak cukup berhasil membangun ketegangan yang jadi bumbu film ini. Alur kilas balik yang digunakan untuk terus membuat orang bertanya-tanya tidak berhasil meningkatkan emosi karena bisa ditebak ditengah film. Kelelahan menonton film maraton tanpa jeda –biasanya ada jeda setengah jam antar film, tapi kali ini tidak ada jeda sama sekali--, saya memutuskan untuk istirahat sejenak di ruang pers yang menyediakan kotak surat, fasilitas fotokopi, fax, dan lain-lain. Sejak hari pertama datang, saya belum sempat mengunjungi ruangan yang biasanya selalu menyediakan makanan kecil ini. Di ruang pers, saya bertemu kembali dengan relawan-relawan yang sama dengan tahun lalu. Dari obrolan kami, saya kemudian mendapat cerita, bahwa IFFR punya relawan tetap yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Di hotel tempat saya menginap misalnya, ada Marieke, teknisi projektor yang sudah jadi relawan IFFR selama 15 tahun. Ia juga menjadi relawan di IDFA hampir setiap tahun. Relawan seperti Marieke jumlahnya bisa ratusan. Alasan utama mereka karena suasana kerja yang asyik, fasilitas yang terjamin dan tentu saja nonton film gratis. Menurutnya, para relawan ini biasanya meminta libur khusus dari pekerjaan utama mereka. Salah satu wajah yang familiar adalah seorang bodyguard yang juga pernah saya temui di IDFA. Menurut Marieke, bodyguard ini sudah jadi relawan festival bertahun-tahun dan karena itu pula hampir setiap relawan saling mengenal satu sama lain. Saya hanya berpikir, betapa penuh dedikasinya orang-orang ini. Setelah itu, saya hilir mudik lagi di De Doelen menunggu screening berikutnya. Lalu ada Liew Seng Tat dan Gan Siong King bergabung dengan saya di cafe De Doelen. Kami kemudian ber'say hello' dengan Jafar Panahi yang kebagian tugas jadi juri tahun ini. Tak lama kemudian sekelompok remaja datang mendekat, seorang diantaranya menyapa Liew Seng Tat dengan volume suara kencang. 'Ohhhh I loooovee your movie !!!. Baru kali ini saya menonton film asia yang membuat saya tertawa sekaligus menangis bersamaan. Liew Seng Tat pun tersipu-sipu. Lalu ia kemudian beralih ke saya. “Kamu tidak mengenal kami? kita tinggal satu hotel loh,” katanya bersemangat. Eh, saya baru ingat mereka. Setiap pagi mereka ribut di ruang sarapan membicarakan film dengan semangat banteng menyeruduk. Mereka berlima, dua orang perempuan dan 3 orang laki-laki. Usia mereka tidak lebih dari 20 tahun. Yang paling tua berumur 19 tahun, dan paling muda berumur 16 tahun. Tanpa sungkan-sungkan, mereka mengajak saya ikut pesta tengah malam yang memang selalu diadakan di Filmcafe Schouwburg yang letaknya persis didepan Pathe. “Kita kan tinggal sehotel, jadi nggak usah takut pulang malam, bisa bareng kami.” Saya tidak suka pesta dan suka pusing dengan lampu berkilat-kilat. Tapî saya terpaksa tidak bisa menolak. “Kunjungan ke IFFR kurang lengkap tanpa menghadiri pesta ini,” bujuk mereka rame-rame. Dan malam itu, untuk pertama kalinya saya menghadiri pesta tengah malam yang dipenuhi para staff festival, sutradara dan programmer. Bahkan, mantan direktur IFFR, Sandra Den Hammer pun terlihat di keramaian. Pesta yang berakhir sekitar jam 2 pagi itupun membuat saya terkapar dan bangun terlambat keesokan harinya.*** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |