
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() MovieSquad Team ![]()
37th International Film Festival Rotterdam HARI KEENAM, Selasa (29 Januari 2008) Saya sering melihat mereka. Berkelompok dan rajin menyapa sutradara-sutradara yang hilir mudik di lantai tiga De Doelen. Saya kemudian melihat mereka lagi saat mereka menyapa Liew Seng Tat kemarin. Saya pikir, mereka hanyalah sekelompok remaja tanggung yang sedang jatuh cinta terhadap film. Dan pagi ini, saat sarapan di hotel, saya bergabung di meja mereka. Ternyata mereka adalah juri-juri muda dari program MovieSquad, sebuah program pendidikan film bagi anak-anak dan remaja yang disponsori oleh IFFR, Filmeducatie, dan Dutch Institute of Film Education, Belanda. Program ini sudah berlangsung selama 10 tahun, dan bertujuan untuk mendidik remaja-remaja mengenal lebih luas berbagai jenis film dari berbagai benua. “Maklum, seperti juga di Indonesia, film-film Hollywood dan opera sabun mengakar kuat dibenak remaja-remaja karena mendominasi program televisi di Belanda. Program pendidikan film ini diharapkan bisa membuat remaja lebih kritis terhadap film dengan berbagai dimensinya,” kata Merel Gilsing, koordinator Moviesquad. Selain itu, mereka juga menyediakan dana serta fasilitas pendidikan untuk anak-anak atau remaja yang ingin membuat film. Setiap tahun, program ini akan memilih 5 remaja dibawah umur 20 tahun untuk menilai film-film khusus pilihan IFFR. Mereka diberi tanggung jawab untuk memilih dan kemudian mempresentasikan pilihan mereka diacara penyerahan MovieSquad Award. Tahun ini, mereka adalah Sander Kersten (16 tahun, pelajar sekolah menengah atas), Katia Truijen (17 tahun, juga pelajar sekolah menengah atas), Giulia Bijvoet (17 tahun, sedang belajar editing dan teknis membuat film di sekolah film), Glenn Vergoossen (17 tahun, pelajar di akademi teater ) and Wouter Booij (19 tahun, sutradara film pendek yang baru baru saja lulus sekolah menengah). Mereka semua punya satu kesamaan, sedang dalam proses pembuatan film pendek mereka. Mereka semua memang berasal dari Belanda. Menurut Gilsing, dimasa datang, MovieSquad berencana untuk mengembangkan sayap dengan mencari bakat-bakat dari luar Belanda. “Sekarang ini masih sulit karena pertimbangan biaya,” kata Merel. Dan beginilah jadinya ketika remaja diberi tanggung jawab untuk menentukan film terbaik. Pagi itu, suara mereka bergaung hingga sudut-sudut ruang makan hotel. Mereka membicarakan film seperti anak-anak yang rebutan mainan baru. Seperti ketika mereka membicarakan Girl Sparks karya Ishii Yuya asal Jepang. Mereka berebutan untuk menjelaskan mengapa mereka ada yang suka dan ada yang tidak suka dengan film itu. “Saya akan mencoba menjelaskannya tapi saya peringatkan film ini akan membuat anda keluar dengan mata spiral,” kata mereka beramai-ramai. Hmmm.... Dan begitu seterusnya. Kata-kata keluar dari mulut mereka seperti berondongan peluru sehingga menarik hampir sebagian penghuni hotel yang juga sedang makan pagi. Yang kebetulan juga datang untuk festival langsung bergabung dimeja kami. Anak-anak ini lancar bercerita, berargumen, mengapa sebuah film bagus atau jelek menurut mereka. “Oh tapi kamu harus mengingatkan saya untuk tidak menyebutkan pemenang pilihan kami sebelum pengumuman, ok?” kata Wouter Booji, anak yang paling cerewet diantara mereka. Semangat mereka sungguh membuat saya kagum. Hari itu kami kemudian berangkat bersama-sama ke De Doelen dan kemudian berpisah untuk menonton film pilihan masing-masing. Pagi itu saya menonton film kompetisi asal Chile, El Cielo, LaTierra y la Lluvia (The Sky, The Earth and The Rain). Jika anda ingin tahu bagaimana rasanya kesepian dan tak punya daya untuk keluar dari kesepian itu, tontonlah film panjang pertama karya José Luis Torres Leiva ini. El Cielo adalah sebuah monolog visual tentang hidup yang begitu-begitu saja disebuah pulau kecil yang seperti penjara tak terlihat. El Cielo fokus pada kehidupan 4 karakter yang bergelut dengan kehidupan mereka sehari-hari. Mereka saling membutuhkan untuk bisa punya aktivitas lain selain kegiatan mereka yang monoton. Menonton film ini, saya langsung merasa bersyukur punya banyak pilihan dalam hidup. Lalu saya lanjut menonton film kompetisi Fujian Blue karya pertama Weng Shou-Ming asal China. Fujian dibagi dalam dua bagian, bagian awal bercerita tentang sekelompok anak berandal yang menggunakan kamera film dan kamera foto untuk memeras korban-korbannya. Mereka memotret hubungan affair calon korban, merekam dengan video lalu mengirim surat ancaman. Bagian ini memperlihatkan bagaimana kamera video jaman sekarang punya kekuatan untuk mengganggu kehidupan kita atau sekeliling kita. Lalu film ini mengalir dengan manis ke bagian kedua tentang ilusi yang terbangun di masyarakat China bahwa negara-negara barat menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Mereka mengirim anak lelaki dalam keluarganya ke Amerika atau Inggris dengan harapan mendapat kiriman uang tiap bulannya. Kita semua tahu, cerita ini bukan isapan jempol. China terkenal sebagai salah satu negara pengekspor manusia terbanyak didunia. Di China, banyak makelar-makelar tenaga kerja ilegal yang mengeruk keuntungan dari situasi ini. Tapi menurut saya, Wheng Shou kurang berhasil menerapkan gaya realisme yang sejak awal ingin ia bangun. Realisme ini terlihat wagu. Selain itu, ada yang membuat saya tidak mengerti. Menjelang akhir, film ini berubah jadi hitam putih. Apakah karena ia ingin menunjukkan bahwa ada batas antara harapan dan ketidak mampuan manusia mengatasi hal-hal yang diluar kuasanya? Entahlah. Usai menonton Fujian, saya menuju Cinerama untuk menonton film kompetisi lainnya, Wellness karya Jake Mahaffy, sutradara asal Pennsylvania, Amerika. Untuk membuat film ini, Mahaffy mengerahkan hampir semua masyarakat di kota kecil Warren, Pennsylvania, dari pemeran utama hingga seluruh aktor pendukung. Wellness mengikuti perjalanan Thomas Lindsey, seorang sales paket kesejahteraan sosial perusahaan bernama Wellness. Seperti pada umumnya kepala keluarga, Lindsey adalah suami dan ayah yang baik, yang berusaha mencari kehidupan lebih baik dengan menjadi sales. Pernahkah anda berpikir bagaimana perasaan seorang salesman yang ditolak dan dihindari dimana-mana? padahal salesman pun hanya manusia biasa yang sedang bekerja untuk membiayai keluarganya. Masalahnya adalah, Wellness, tempat Lindsey menaruh kepercayaan penuh ternyata tidak lebih dari perusahaan multinasional palsu. Meski tahu bahwa perusahaannya tidak cukup bonafide dan tidak cukup meyakinkan, Lindsey bekerja dengan semangat dan sepenuh hati. Kamera mengikuti Lindsey dan menjadi saksi bagaimana Lindsey dengan pakaian rapi berjalan dari rumah ke rumah, ditolak disana-sini, hingga ia kelelahan dan duduk menangis. Tapi ia tidak menyerah. Bagian dari film inilah yang sungguh menyentuh. Apalagi, aktor non-professional yang jadi pemeran Lindsey, Jeff Clark bermain sangat baik dan meyakinkan. Setelah Wellness, saya berpindah ke film kompetisi yang lain, Strizh karya sutradara Kazakhstan, Abai Kulbai. Bercerita tentang kehidupan gadis kecil, Ainur didaerah miskin di Almaty. Ainur adalah gadis yang gelisah dan tidak nyaman dengan lingkungannya. Ia tidak suka suasana sekolah yang penuh aturan. Belum lagi teman-temanya yang selalu menganggap Ainur gadis aneh. Ainur selalu merasa jadi 'orang luar'. Bahkan dirumahnya sendiri. Jadilah ia sering bermain di jalanan, berlaku layaknya anak terlantar. Untuk ukuran Kazakhstan, negeri pecahan Rusia yang jarang terdengar, Strizh menjadi film yang istimewa. Lewat Ainur, penonton diajak untuk mengenal lebih dekat Kazakh dan masyarakat kota kecil di Almaty tapi sekaligus juga memotret masalah sosial yang universal. Pencarian jati diri seorang remaja yang tumbuh dilingkungan yang keras. Walaupun kita tidak akan pernah tahu bagaimana Ainur tumbuh dewasa nantinya, yang jelas terlihat bahwa gadis kecil itu jauh lebih tabah menghadapi kenyataan. Setelah Strizh saya berniat untuk menonton No Country For Old Man yang tiketnya selalu sold out. Saya berharap bisa menguji keberuntungan dengan berdiri didepan sinema yang memutar No Country. Ternyata, tetap saja saya belum bisa menonton film itu. Lain kali saya pasti akan menontonnya. Jadilah malam itu saya kembali bergabung dengan kelompok juri muda yang masih saja sibuk beradu pendapat tentang film-film favorit mereka. Kami menghabiskan waktu ngobrol didepan Pathé sambil berfoto-foto. Sambil berjalan menuju hotel, sekali lagi tanpa basa-basi mereka bilang kepada saya: “Kami tidak akan memberitahumu pemenang MovieSquad sebelum penyerahan hadiah. Jadi jangan bujuk kami, karena mulut kami akan terkunci rapat.” Hahahaha....Saya tidak bisa berkata-kata. Beginilah jadinya kalau anak-anak diberi kuasa. Keesokan paginya, saya terbangun dengan suara ribut-ribut didepan kamar. Mereka sedang berbicara ramai-ramai dengan koordinatornya. Saya mengenal suara dengan volume tinggi itu. Suara itu menyebut film pemenang pilihan mereka.*** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |