Omar Shargawi, Aditya Assarat, Liew Seng Tat


Klik gambar untuk memperbesar

37th International Film Festival Rotterdam
Penutup: Memahami Hidup dan Berbagi Cerita lewat Film
oleh Asmayani Kusrini
Redaktur Rumahfilm.org, Rotterdam

HARI KESEMBILAN: Jumat, 1 Februari 2008

PAGI ITU...

Malam ini adalah acara pengumuman pemenang. Meski IFFR 2008 ditutup pada 3 Februari, tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, pengumuman pemenang dilakukan dua hari sebelum penutupan. Siapa 3 orang sutradara yang berhak mendapatkan Tiger Award plus uang tunai 15.000 Euro? Sejak pagi semua orang sudah sibuk menebak-nebak. Tapi sudah banyak yang menduga, film-film Asia akan berjaya lagi tahun ini.

Diakui atau tidak, film-film dari Asia punya ciri khas yang dianggap eksotis bagi penonton barat. Seperti yang pernah dikatakan oleh Wouter Booji (salah seorang juri muda di MovieSquad), “film-film asia seperti memperkenalkan kami pada dunia baru, pada cara hidup, pada cara menghadapi masalah sosial yang sama sekali berbeda dari yang kami pahami,” kata Booji.

Semakin banyak film-film Asia dari para sutradara muda yang belakangan makin banyak muncul, makin membuka lebar mata dunia internasional tentang kehidupan sosial di Asia. Film-film Asia lebih mampu 'berkomunikasi' dengan audiens internasional, berarti juga makin mudah jalan bagi pembuat film lain untuk tampil. Dan festival film internasional seperti Rotterdam juga makin membuka kesempatan seluas-luasnya bagi mereka untuk unjuk gigi.

Menyaksikan film-film dari sutradara-sutradara baru ini seperti menyaksikan kelahiran bayi yang langsung menjerit keras-keras mengabarkan kehadiran mereka pada dunia. Banyak 'bayi' yang sudah lahir di IFFR dan kemudian tumbuh di dunia yang lebih luas. Sebut saja, Bela Tarr, Aleksandr Sokurov, Christian Mungiu, Tsai Ming Liang, Garin Nugroho, Jim Jarmusch, Kobayashi Masahiro dan banyak lagi. Yang pasti, IFFR masih akan terus menyaksikan banyak lagi sutradara lainnya.

Sejak pagi, kesibukan mempersiapkan acara malam penghargaan sudah terasa. Ruang besar tempat ngumpul di lantai 3 sudah ditata untuk acara cocktail party. William Burger Zaal pun ditata apik, dengan membentangkan poster-poster IFFR 2008 di dua sisi layar. Panggung diatur, sound system disiapkan. Para sutradara yang filmnya diputar di seksi kompetisi utama terlihat gelisah.

Sambil menunggu malam, saya masih menyempatkan diri untuk menonton film 3 film lagi: Hidden Faces karya Handan Ipekci (sutradara Turki-Jerman yang bakal mengikuti sukses Fatih Akin), Glory To The Filmmaker karya Takeshi Kitano, dan (lagi-lagi) The Man From London,karena Bela Tarr akan mengadakan sesi tanya jawab dengan penonton.

Setelah itu saya kembali ke De Doelen dan kemudian bertemu dengan Gertjan Zuilhof yang sangat suka dengan film Waltz in Starlight. Lalu kemudian saya bertegur sapa dengan John Badalu. Kami ngobrol tentang film favorit kami masing-masing. John Badalu memegang Wonderful Town. Saya menjagokan 3 film: Flower in the Pocket, Years When I Was A Child Outside dan Wonderful Town. John bilang tidak mungkin 3 pemenang semuanya dari Asia. Tapi toh tak ada salahnya berharap.

MALAM ITU...

Dulu sekali, saya pernah punya serial Taiwan favorit. Bukan Meteor Garden yang digila-gilai cewek seumuran saya waktu itu. Judulnya memang tidak menarik dan terdengar ‘cheesy’: Toast Boys Kiss. Ceritanya pun biasa, tidak seperti Meteor Garden yang mengharu biru itu. Tapi saya sangat tertarik dengan karakter utamanya, Sun. Ia seorang gadis biasa, tidak pintar, tidak cantik, tidak populer, tidak punya banyak teman, dan sering diejek tidak berguna oleh kakak perempuannya.

Karena itulah, ia banyak menghabiskan waktu dengan kamera video hadiah ulang tahun dari ayahnya. Apalagi ketika semua teman-teman sebayanya lolos masuk universitas, sementara Sun harus mengulang lagi tahun depan. Jadilah hari-harinya ia habiskan dengan kamera yang berfungsi jadi diary hariannya itu.

Saya lantas menemukan banyak kesamaan dengan Sun. Dan kebetulan juga waktu itu saya punya kamera Sony Hi 8 yang saya selalu tenteng kemana-mana hingga saya mulai bekerja di sebuah majalah. Sun, meski tidak berniat jadi filmmaker, dikisahkan kemudian berhasil membuat film dari kamera jurnalnya itu. Tapi saya, seperti semua orang tahu, akhirnya menyerah dan menjual kamera HI 8 itu sementara ratusan tape yang saya gunakan beberapa tahun itu hanya tersimpan dilemari, berdebu dan jamuran.

Tapi dunia ternyata memang kecil. Penulis skenario Toast Boys Kiss yang juga bermain sebagai aktor figuran adalah Niu Chen-Zer. Malam itu, di acara cocktail party sebelum pengumuman pemenang Tiger Award, saya melihat Chen-Zer. Meski terlihat berbeda di Toast Boys Kiss, wajahnya sangat akrab.

Saat saya menegur Chen-Zer, ia terlihat kaget. “Toast Boys Kiss? Serial itu kan sudah lama sekali, 7 atau 8 tahun yang lalu bukan? Kamu menontonnya? Tapi kan serial itu tidak begitu popular?” kata Chen-Zer bertubi-tubi. Kami kemudian terlibat pembicaraan panjang. Ternyata Chen-Zer hadir di IFFR 2008 untuk memutar film panjang pertamanya, What On Earth Have I Done Wrong ?! yang masuk seksi Sturm und Drang.

Meski berbeda dengan karakter Sun ciptaannya, film What On Earth lagi-lagi bercerita tentang orang yang selalu menenteng kamera. What On Earth bercerita tentang seorang filmmaker (yang diperankan sendiri oleh Chen-Zer) yang sangat ingin membuat film pertamanya. Ia kemudian pergi menghiba-hiba kepada banyak pihak, dari politisi hingga mafia demi menciptakan film impiannya itu. Meski What On Earth masuk kategori mockumentary (fake documentary) tapi ceritanya yang sangat personal membuat semua orang yang menontonnya langsung paham bahwa What On Earth adalah pengalaman pribadi Chen-Zer.

Dan malam ini, saat semua pembuat film berkumpul di ruang Willem Burger Zaal De Doelen, saya melihat wajah-wajah mereka yang sudah mewujudkan impian untuk bercerita diatas layar perak. Ada Chen-Zer, John Torres, Shingo Wakagi, Tan Chui Mui, Liew Seng Tat dan banyak lagi sutradara muda lainnya. Meski tak semua mendapat penghargaan, tapi seperti kata Shingo Wakagi, “Film saya ditonton banyak orang saja sudah jadi penghargaan yang sangat tinggi bagi saya”.

Malam itu, Chen-Zer kemudian mendapatkan penghargaan NETPAC Award untuk filmnya What On Earth Have I Done Wrong ?!.Lalu berturut-turut pemenang diumumkan. Pemenang Tiger Award masing-masing akan mendapat 15.000 euro dan hak tayang eksklusif di VPRO TV mulai dibacakan satu-satu.

Pertama adalah, Go with Peace Jamil karya Omar Shargawi asal Denmark. Banyak yang mengerutkan kening ketika film ini disebut sebagai pemenang. Bisik-bisik di antara para jurnalis, film ini menang karena ketua jurinya adalah Jafar Panahi yang akrab dengan isu Syiah-Sunni di film itu. Kemudian Wonderful Town karya Aditya Assarat. Saya langsung melambai kearah John Badalu yang duduk menyimak dengan kalem. Ia langsung angkat jempol. Terakhir Flower in the Pocket karya Liew Seng Tat, dan kami semua yang menjagokan film itu pun bersorak riuh. (Tunggu ulasan redaktur RumahFilm, Hikmat Darmawan, untuk film Flower in the Pocket ini).

Dan saya bersyukur, sudah jadi saksi bagi mereka yang sudah dan sedang akan mewujudkan mimpi untuk berbagi cerita dalam bentuk film. Selamat untuk semua filmmaker. Sampai jumpa ditahun-tahun mendatang.***

Artikel lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org