![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
Hiroshima Mon Amour Saya ingat buku itu. Buku seukuran kantong jaket yang saya temukan di sebuah toko buku yang nyaris musnah dimakan api. Buku-buku yang selamat dan masih layak baca akhirnya dilelang. Dan buku kecil itu salah satunya. Lusuh. Tergeletak tak menarik di antara buku-buku yang bersebaran di atas meja besar. Saya hanya tertarik dengan sampulnya. Foto selembar kertas merah keunguan yang terkoyak dan sedikit sobek. Di atas lembar yang terkoyak itu tertulis: Lui ( Him ): You haven’t seen anything in Hiroshima. Nothing. Elle(Her): J’ai tout vu. Tout. (I’ve seen everything. Everything) Judul buku itu adalah Hiroshima Mon Amour, ditulis oleh Marguerite Duras. Novel Duras sering mengeksplorasi tema tentang trauma. Tapi Hiroshima Mon Amour bukan dimaksudkan untuk menjadi novel, meski sangat kental dengan bahasa sastra yang kadang abstrak dan cenderung puitis. Buku itu adalah skenario film dengan judul sama dan disutradarai oleh Alain Resnais. Kalimat pembuka di awal ceritanya pun persis sama dengan apa yang tertera di sampul buku. Tidak ada nama. Hanya ada Lui dan Elle atau him dan her dalam bahasa Inggris. Tidak sulit untuk mengikuti alurnya karena buku kecil ini ditulis dengan struktur skenario. Banyak 'interupsi' yang ditandai dengan tulisan miring. 'Interupsi' ini biasanya soal gambar apa yang harus dimasukkan ketika lui dan elle sedang ngobrol tentang sesuatu yang khusus. Buku itu seperti sudah mempersiapkan mental saya untuk membayangkan film macam apa Hiroshima Mon Amour itu. Kesan pertama usai membacanya: ceritanya suram terbebani kenangan buruk. Tapi kesuraman itu diimbangi dengan warna yang lebih segar, romantisme yang rada-rada melankolis. Seperti yang ditulis dalam pengantar bukunya, Duras menulis Hiroshima atas permintaan Alain Resnais. Waktu itu, selain tertarik pada film, Resnais juga menunjukkan minat besar pada berbagai bentuk seni lainnya, dari seni lukis, fotografi, hingga literatur. Di saat bersamaan, para penulis muda mulai membuat karya-karya yang kemudian dikenal dengan gerakan Nouveau Roman (atau new novel). Nama-nama di balik gelombang ini antara lain Alain Robbe-grillet, Marguerite Duras, dan Nathalie Sarraute di tahun 1950an. Resnais tidak sekadar tertarik pada literatur tapi juga punya peran yang besar dalam memperkenalkan gelombang Nouveau Roman. Sepanjang karirnya kemudian, Resnais selalu memilih penulis-penulis yang punya nama di dunia sastra khususnya dari kelompok Nouveau Roman untuk menulis skenarionya—di antara karya filmnya yang paling terkenal ditulis oleh dua sastrawan, Duras (Hiroshima Mon Amour) dan Robbe-Grillet (L'anneé Dernière à Marienbad). Kerjasamanya dengan Duras juga bukan kebetulan. Awalnya, Resnais diminta untuk membuat film dokumenter tentang bom atom dan gerakan perdamaian dunia. Sebelumnya, Resnais sukses membuat dokumenter tentang holocaust, Nuit et Brouillard. Tapi Resnais jelas tidak ingin membuat dokumenter dengan pendekatan yang sama dengan Nuit et Brouillard, karena itu ia sempat ragu untuk menerima tawaran membuat dokumenter sejarah lagi. Resnais berubah pikiran saat produser asal Jepang menyodorkan ide untuk membuat film ini dalam perspektif Jepang dan Prancis. Tidak perlu dokumenter murni seperti yang dilakukan Resnais sebelumnya dalam Nuit et Brouillard. Itu berarti juga terbuka kemungkinan untuk meramu sebuah kisah yang lebih berdimensi sekaligus memadukan dua budaya tersebut. Bagi Resnais, tidak ada orang lain yang lebih pantas untuk menulis skenarionya selain Marguerite Duras. Saat itu, Duras adalah tokoh nouveau roman yang banyak meramu tema tentang trauma dan kenangan, khususnya trauma sejarah seputar pendudukan Prancis dan Holocaust. Duras sangat akrab dengan kenangan itu, juga akrab dengan trauma yang mewarnai sebuh periode dalam hidupnya. Suami pertamanya, Robert Antelme, yang juga seorang penulis dideportasi karena keterlibatannya dengan gerakan perlawanan Prancis menentang pendudukan Nazi Jerman pada Perang Dunia Kedua. Antelme dikirim ke kamp konsentrasi Nazi di berbagai tempat di Jerman, kemudian berakhir di kamp konsentrasi Dachau. Antelme kembali ke Paris pada 1945. Duras menunggu ditemani firasat buruk, banyak menduga dan yang pasti terus ketakutan karena tidak pernah menerima kabar pasti tentang suaminya. Trauma kehilangan itu tidak juga hilang bahkan setelah suaminya kembali. Duras mengalami proses panjang untuk bisa mengerti kesulitan suaminya mengatasi trauma serta usahanya untuk berdamai dengan situasi itu. Karena itu, Resnais memilih Duras. Dan pilihan itu tidak salah. Membaca Duras, jelas terlihat kematangannya dalam mendeskripsikan 'trauma'. Itu juga yang terasa ketika membaca skenario Hiroshima Mon Amour. Romantisme yang ditawarkan dalam skenario tidak dangkal. Ceritanya pun tidak sekedar romantisme-berlatar sejarah yang klasik. Terbukanya kemungkinan untuk tidak sekedar membuat dokumenter murni memberi peluang bagi Duras dan Resnais untuk memberi dimensi baru dan perspektif yang lebih luas terhadap peristiwa sejarah Hiroshima. Duras pun punya kesempatan untuk mengeksplorasi tema favoritnya tentang romantisme perempuan yang kadang-kadang melankolis dan dikombinasikan dengan ketertarikan Resnais terhadap dokumenter sejarah. Kalimat pembuka yang sangat 'catchy' seperti tertulis di sampul buku skenarionya adalah jalan pembuka menyusuri jejak sejarah yang makin meluas. Tidak hanya tentang bom atom yang dijatuhkan di atas Hiroshima, tapi juga sejarah 'hitam' periode pendudukan Nazi di Prancis. Ini membuat saya berpikir, betapa romantisnya kisah ini, tapi juga membuat saya khawatir. Bahasa literatur jelas berbeda dengan bahasa film. Ada kesan, Duras mengesampingkan fakta bahwa ia sedang diminta untuk menulis skenario film yang tidak hanya butuh cerita tapi juga butuh kesadaran visual. Sebelum menonton filmnya, saya hanya bisa menduga-duga, entah Duras yang terbebani dengan permintaan Resnais atau sebaliknya Resnais yang akan terbebani dengan cerita Duras ini. ... Kemudian Film Itu Untuk membuat film Hiroshima Mon Amour, sejak awal Duras dan Resnais berangkat dari sebuah pertanyaan dasar, bagaimana menceritakan sebuah peristiwa yang tidak mungkin dimengerti oleh mereka yang tidak pernah mengalaminya? Pertanyaan yang sama pernah diajukan Resnais saat membuat dokumenter tentang kamp konsentrasi, Nuit et Brouillard. Dalam film itu, kamera Resnais menyusuri kamp yang kosong sambil ditemani narasi yang terus mengingatkan kita tentang perlunya kita mengingat tapi juga ketidakmungkinan kita untuk mengerti atau membayangkan horor yang terjadi di kamp itu. Di Hiroshima Mon Amour, Resnais kembali dengan pertanyaan ini. Tapi kali ini, ia mengajak penontonnya menyusuri sejumlah dokumen nyata yang ditempatkan dalam konteks fiksi. Upaya ini adalah hal yang biasa dilakukan dalam mengadaptasi kisah sejarah. Harus saya akui, saya punya ekspektasi macam-macam terhadap film Hiroshima Mon Amour. Selama membaca skenarionya pun, saya sudah punya bayangan bagaimana kemungkinan film ini di layar besar. Maklum, otak saya dipenuhi 'file' film-film cinta berlatar sejarah. Dan bayangan itu melenceng sangat jauh. Struktur cerita Hiroshima Mon Amour dituturkan dengan sangat teliti dan gaya teater yang kental. Sebagai film, tak ada yang bisa memprediksi alur kisah Hiroshima. Meski sinopsisnya terkesan sangat konvensional untuk ukuran jaman sekarang, pendekatan Resnais dalam membuat Hiroshima jauh dari pendekatan konvensional. Seperti yang ditulis Duras, di awal film, kita tidak akan melihat wajah kedua karakter orang ini. Hanya ada kalimat itu: Tu n’as rien vu à Hiroshima. Rien!. J’ai tout vu. Tout. Kita hanya mendengar suara, sebuah narasi tentang keyakinan sang pria bahwa si wanita tidak melihat apa-apa di Hiroshima, sementara si wanita sebaliknya sangat yakin sudah melihat semuanya. Sepanjang percakapan itu, di layar hanya terlihat dua lengan saling silang, berpelukan. Lalu ditimpali dengan shot-shot dokumenter tentang orang-orang yang sekarat, terbakar dengan wajah hancur, anak-anak dengan kulit terkelupas atau wajah setengah hilang menangis mencari ibu, dan banyak lagi adegan mengerikan lainnya. Narasi dengan gaya teatrikal ini berlangsung cukup lama sampai kemudian wajah keduanya terlihat. Kita kemudian tahu, percakapan tentang Hiroshima itu berlangsung saat mereka sedang bermain cinta. Percakapan tentang Hiroshima terus berlanjut, melebar sampai pada waktu-waktu tertentu ada 'interupsi' gambar dari sebuah peristiwa lain: kenangan personal si wanita. Dan adegan demi adegan mengalir membuat kita makin mengenal siapa si lelaki dan siapa si wanita. Narasinya secara sadar dibuat kompleks untuk memberi jarak cukup bagi penonton mengamati sekaligus memahami karakter-karakter dalam Hiroshima. Skenario Duras ini diadaptasi dengan bahasa visual yang tidak biasa, bahkan hingga kini. Resnais memperkenalkan elemen subjektif demi menangkap mekanisme kenangan tentang peristiwa sejarah dan menjadikan filmnya menjadi semacam mediasi yang menghubungkan dua peristiwa (bom atom di Hiroshima dan pendudukan Jerman di Prancis). Hiroshima juga seperti mediasi antara dokumenter dan film fiksi. Dalam Hiroshima, perempuan Prancis ini adalah seorang artis yang berperan dalam sebuah film semi dokumenter yang menggunakan Hiroshima sebagai latar belakang, sebagai lanskap untuk mendokumentasikan sekaligus mereka ulang kejadian mengerikan setelah bom dijatuhkan. Sebuah film dalam film. Pada saat Hiroshima dirilis, Resnais dianggap membuat sebuah terobosan yang menandai karya feature dalam gerakan nouvelle vague atau New Wave Prancis. Hiroshima jelas tidak mengikuti langgam atau jejak-jejak pembuat film pendahulunya. Bahkan tidak juga Vigo atau Rossellini yang banyak menjadi inspirasi para sutradara New Wave. Munculnya Hiroshima membuat kritikus di Cahiers Du Cinema (termasuk Godard dan Truffaut) terpaksa membuat forum khusus untuk mendefinisikan film tersebut. Ada yang menyebutnya sebagai sebuah narasi novel antara William Faulkner dan James Joyce, atau gabungan lukisan Georges Braque dan Picasso, atau bahkan komposisi musik Stravinsky. Godard kemudian menyimpulkan, Hiroshima Mon Amour tidak punya referensi sinematis sama sekali dari film-film atau pembuat film sebelumnya. Campuran antara trauma personal dan mimpi buruk sejarah kala itu dianggap sebagai bahasa baru. Hiroshima menggabungkan semua hal yang tidak ada dan tidak pernah disebut dalam petunjuk membuat film. Segala hal yang tidak seharusnya dilakukan –dalam konteks konvensional– ada dalam Hiroshima. Kombinasi radikal antara nafsu berahi dengan bom atom, masalah yang sangat umum dengan masalah yang sangat khusus, masalah sosial dan masalah politik, semua dicampur aduk dan terpantul dalam hubungan mereka yang terjebak mengikuti kata hati dan obsesi. Pada akhirnya, semua sepakat menyimpulkan, Hiroshima Mon Amour adalah karya orisinal. Setelah menyaksikan film ini, dugaan saya ternyata tidak terbukti. Jelas terlihat, kolaborasi Duras dan Resnais tidak saling membebani. Duras bisa bercerita dengan bahasa literaturnya dan Resnais mampu bercerita dengan bahasa visualnya. Maka jadilah Hiroshima Mon Amour sebagai sebuah film yang merayakan gradasi literatur-visual. Kolaborasi ini kemudian menjadi landmark dalam dunia sinema Prancis, bahkan sinema dunia. *** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |