Juno

Yang Tergeser Keluar Layar
oleh Asmayani Kusrini
Redaktur Rumahfilm.org, Brussel

 

“Apa? Kamu tidak suka film Juno?”

Seruan itu datang serempak. Lalu saya pun mendapati tatapan mata membelalak seperti anak panah siap ditembak – dengan saya sebagai sasaran. Tiba-tiba saja saya merasa sudah duduk di kursi tertuduh dengan tuduhan : tidak punya selera humor, tidak tahu film bagus, sudah terlalu tua untuk mengerti, dan sederet tuduhan pidana bidang film lainnya.

Saya hanya bisa nyengir sambil menawarkan gula-gula ke teman-teman saya yang seperti kena serangan jantung. Toh itu tidak bisa mengalihkan perhatian mereka ke topik utama hari itu. Satu-satunya yang mendukung dan mengerti kenapa saya tidak suka dengan film Juno hanya Nathalia. Teman asal Rusia yang sebal dengan nama aslinya, Nathasa, itu yang paling bersemangat membela. “Bener Rin. Kan saya bilang juga apa, Sex and The City jauh lebih bagus !”. Gantian saya yang melongo.

Sore itu saya berhasil menghindari tuntutan mereka untuk memberi penjelasan lebih lanjut. Saya memang termasuk orang yang malas memberi penjelasan. Tapi tak urung, protes mereka terngiang-ngiang terus dibenak saya. Kenapa saya tidak suka dengan film itu?. Gara-gara pertanyaan itu, saya terpaksa menonton Juno lagi. Saya ingin memastikan bahwa mungkin memang ada yang terlewat dari pengamatan saya.

Apa sebetulnya yang saya cari dari film Juno ?

Saya setuju, Juno adalah film yang unik. Ia membuat masalah yang berat itu – kehamilan remaja atau kehamilan tak diinginkan – jadi terasa enteng. Setidaknya, saya menemukan beberapa hal penting yang ingin disampaikan oleh Juno. Pertama: jangan takut untuk hamil, semua akan baik-baik saja. Kedua: adopsi lebih baik daripada aborsi. Saya setuju, karena saya anti-aborsi.

Saya juga setuju, Juno adalah film yang diperlukan saat ini. Di Amerika, data menunjukkan setiap tahun setidaknya ada kurang lebih satu juta remaja belia hamil. Hampir setengah dari jumlah itu memilih aborsi sebagai jalan keluar. Selebihnya memilih melanjutkan kehamilan untuk kemudian menyerahkan anaknya untuk diadopsi, dan sedikit dari mereka memberanikan diri untuk membesarkan sendiri.

Karena itu, Juno adalah sebuah film yang hadir disaat yang tepat. Apalagi Juno dikemas tidak dalam bentuk ‘khotbah’. Saya kagum dengan Juno yang bersikap sewajarnya ketika tahu ia hamil. Juno tidak histeris, apalagi menangis. Ia hanya terkejut, dan mungkin takjub. Kalaupun ia cemas atau takut, jelas Juno lihai menyembunyikan.

Dan saya kagum dengan orang tua Juno ketika mendengar anaknya hamil. Mereka menerima juga dengan sewajarnya. Bagi saya, dijaman ini ketika aib menjadi kata usang, begitulah seharusnya orang tua bersikap. Tidak perlu ada umpatan apalagi kutukan. Kehamilan itu saja sudah cukup mengguncang bagi Juno.

Tapi justru sikap ‘wajar’ inilah yang begitu lihai digarap agar penonton yakin bahwa aborsi itu pilihan salah, dan adopsi adalah jalan yang terbaik. Disini saya mulai ragu dengan premis yang dijanjikan Juno. Tapi saya berusaha mencari kemungkinan Juno menawarkan sesuatu yang lebih ‘dalam’, bahwa seperti aborsi, adopsi juga masih bisa dipertanyakan dalam konteks moral. Benarkah adopsi adalah jalan terbaik bagi semua pihak?

Dunia ideal Cody

Saya kemudian teringat, bahwa apa yang saya tonton adalah dunia ideal ciptaan seorang Diablo Cody, penulis skenario sekaligus pencipta karakater-karakter dalam film Juno. Entah kenapa, saya tak sanggup menahan godaan untuk memplesetkan semua karakter didalam film Juno menjadi Diablo Cody.

Perhatikan semua dialog one-liner – biasanya kalimat yang diucapkan dengan cepat dalam satu tarikan nafas – ala sitcom itu membuat semua karakter dalam film Juno seperti dari satu karakter dengan dandanan berbeda-beda. Dan karena itu, mereka menanggapi kehamilan Juno juga dengan reaksi dan ekspresi yang nyaris sama. Juno pun bisa ‘melucu’ dengan mulus nyaris tanpa konflik.

Ketimbang mikir yang berat-berat, Juno disibukkan dengan tugas mencari orang tua lewat iklan yang mirip biro jodoh biar ada kesan setidaknya ia bertanggung jawab mencari orang tua asuh yang cool buat si jabang bayi. Hanya dengan membayangkan Diablo Cody sebagai Juno, Leah, ayah, ibu, penjaga klinik aborsi bahkan Paulie lah saya bisa tertawa. Bagi saya, satu-satunya karakter yang bisa diciptakan Cody tanpa Cody hanyalah pasangan Mark dan Vanessa.

Tapi saya curiga, karakter Mark dan Vanessa ada sekedar untuk ‘melindungi’ Juno agar tidak dihadapkan pada persoalan-persoalan yang terlalu rumit. Mereka disediakan sebagai jawaban dengan sedikit konflik. Diablo Cody memang sedang ingin menanggapi masalah kehamilan remaja yang bikin pusing masyarakat Amerika dengan menghadirkan Juno sebagai sosok ideal.

Cody jelas berhasil menciptakan Juno sebagai ‘pahlawan’ baru. Maka saya tidak heran ketika minggu lalu saya membaca di koran De Morgen tentang sekelompok remaja 17 an yang janjian hamil dengan pacar masing-masing. “Its cool, you know !” kata mereka rame-rame. Mereka bahkan akan membuka butik khusus untuk remaja hamil yang tetap ingin tampil funky.

Lantas, apa yang saya cari dalam film Juno?

Sebetulnya saya sedang mencari sebentuk rasa prihatin. Bukan terhadap kehamilan itu, tapi terhadap si bayi yang akan lahir. Saya kecewa. Diablo Cody sudah berhasil menciptakan dunia ideal buat Juno dengan segala pernak perniknya. Tapi ia dengan enteng menghalau atau menghindari pembicaraan tentang konsekuensi pilihan Juno. Kalaupun ada, keprihatinan itu sekedar numpang lewat dan terlupakan.

Cody membuat mahluk hidup yang akan lahir itu dibicarakan seperti benda seni yang disiapkan dan dirawat dengan baik agar bisa dilelang dengan harga tinggi. Juno lebih khawatir terhadap nasibnya daripada bayinya ketika bertanya : bagaimanakah orang bisa bersama selamanya, atau paling tidak, beberapa tahun sajalah?. Daripada menyodori Juno dengan pertanyaan tentang nasib sang bayi, Cody malah sibuk menyuapi mulut Juno dengan kalimat-kalimat one-liner yang catchy.

Salah satu yang berhasil diciptakan Cody dilontarkan oleh Juno: “ You should've gone to China, you know, 'cause I hear they give away babies like free iPods.” Juno yang imut itu kemudian lincah berkotbah soal bayi-bayi yang dibuang di Cina tanpa sadar, bahwa ia juga sedang melakukan hal yang sama. Tidak perlu jauh-jauh ke Cina. Juno toh, sadar atau tidak sadar, sedang menciptakan trend free iPods juga.

Saya mau tidak mau jadi ingat Dora, salah seorang teman keponakan saya. Dora gadis kecil yang murung, saya menjulukinya begitu. Dengan mata sipit dan rambut hitam-lurus-jabrik, Dora jelas merasa berbeda, bukan hanya dengan teman-teman sekolahnya, tapi juga dengan ayah dan ibunya yang berambut pirang bermata biru. Dora adalah free iPods yang diceritakan Juno itu. Tak ada yang bisa membuatnya tertawa. Bahkan Vivian, psikiater anak yang menangani Dora, juga sadar tidak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kerusakan permanen dalam jiwa Dora.

Vivian tentu saja mengerti betul kondisi Dora. Ia juga punya luka permanen yang sama. Vivian adalah anak ‘Juno’. Ibunya masih 16 tahun ketika berlibur ke Indonesia. Pulang ke Belgia, ia kedapatan hamil. Seperti Juno, ibu Vivian menyerahkan Vivian ke keluarga yang mampu, setelah itu ia menghilang dari kehidupan Vivian. Vivian kemudian menjadi psikiater anak yang terobsesi untuk bisa menyembuhkan ‘luka jiwa’ anak-anak terbuang.

“Saya memang tidak kekurangan apa-apa. Tapi tetap saja seperti ada lubang besar disini,” kata Vivian sambil menepuk-nepuk dadanya ketika ia bercerita kepada saya tentang niatnya untuk menelusuri jejak sang ayah yang kebetulan orang Indonesia. Dan jika ia beruntung, bisa menemukan jejak sang ibu. Sepanjang 35 tahun hidupnya, Vivian terus bergulat dengan ‘lubang besar’ itu.

Adakah Juno pernah berpikir soal ini? Benarkah keputusan untuk memutuskan semua hubungan dengan si bayi adalah yang terbaik? Terbaik untuk siapa? Keprihatinan terhadap si bayi inilah yang digeser keluar layar di film Juno . Mereka sibuk membicarakan kehamilan itu – karena takut dituduh membunuh si bayi yang katanya sudah punya kuku-- tapi lupa terhadap ‘perasaan’ si bayi. Padahal kesempatan untuk membuatnya jadi bahan pikiran terpampang lebar tanpa harus jadi berat.

Film Juno malah berusaha ‘ ngeyel ’ dengan menampilkan Juno yang imut berusia 16 tahun dengan wajah tak berdosa sehingga penonton seakan tak tega untuk membebaninya dengan pertanyaan moral. Penonton pun dibuat maklum saat Juno akhirnya lega –sepertinya aborsi maupun adopsi tidak lagi penting-- dan duduk bermain gitar dengan Paulie. Mungkin karena Juno tidak pernah bertemu Dora. Tidak pernah bertemu Vivian.***

Esai lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org