Belitong according to Laskar Pelangi
Commentary on Laskar Pelangi continues. This time our editor, Ekky Imanjaya, who just completed his study in Amsterdam , shares his view on location aspect of Laskar Pelangi. Based on depiction of location that rarely seen in Indonesian film, Ekky elaborates more on two concepts, mental landscape and neo - realism elements of the film.

Perjuangan: Satu Monolog
Mengapa melirik fiksi, dan meninggalkan segala yang nyata? “Di zaman ini sudah sukar untuk membezakan yang mana fiksyen, yang mana reality,” tulis Hassan Muthalib, kritikus film dan esais negeri tetangga, Malaysia. Di zaman ini pula, warisan kedalaman fiksi Indonesia sering lebih dimaknai di negeri asing. Simaklah bagaimana Muthalib meminjam narasi November 1828 dalam renungan untuk memperingati kemerdekaan negerinya.


awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org