PERJUANGAN: SATU MONOLOG
oleh Hassan Abd Muthalib

 

Wahai muridku, kamu bertanya: Apakah itu PERJUANGAN?

Apakah ianya berbaris mengibar bendera? Melaungkan deklamasi? Atau berdemonstrasi? Atau pun reformasi?

Kamu keliru. Aku tidak salahkan kamu. Hari ini banyak perkara yang mengelirukan. Media dan politikus mungkin lebih keliru dari kamu.

Alihkan pandanganmu. Lihatlah butiran bintang di langit biru. Pandanglah kepada mereka - manusia seni, manusia yang bergelar pengkarya. Masihkah kamu keliru?

Kamu bertanya – mengapa mahu lihat pada fiksyen dan tidak pada yang nyata? Muridku, di zaman ini sudah sukar untuk membezakan yang mana fiksyen, yang mana realiti. Adakalanya fiksyen lebih dekat dengan realiti.

Mari, aku ajak kamu melihat hasil kerja seorang pengkarya dari antara beribu pengkarya yang tidak pernah keliru tentang perjuangan. Lihat kisah dalam filem NOVEMBER 1828, kisah perjuangan orang Muslim dan Hindu di Indonesia menentang Belanda - buah tangan STEVEN LIM TJOE HOCK (bergelar TEGUH KARYA), seorang karyawan Cina beragama Kristian pada tahun 1979.

Antara adegan adalah tradisi tarian dan nyanyian orang Jawa yang bersan-darkan Selawat:

     (Musik Selawat).
     Bapa Pucung, jangan bingung.
     Hidup di zaman ini, harus punya pekerti.
     Jangan lupa pada Yang Maha Kuasa.

     (Rebana).
     Sayang, sayang, orang kaya tidak sembahyang.
     Orang kaya mana? Bahkan yang terkaya
     Nabi Sulaiman, rajin sembahyang.

     Sayang, sayang, orang gagah tidak sembahyang.
     Orang gagah mana? Bahkan yang tergagah
     Nabi Yusuf, rajin sembahyang.

     Sayang, sayang, orang miskin tidak sembahyang.
     Orang miskin mana? Bahkan yang termiskin
     Nabi Yunus, rajin sembahyang.

     Sayang, sayang, orang cantik tidak sembahyang.
     Orang cantik mana? Bahkan yang tercantik
     Zulaekha, rajin sembahyang.

     Sayang, sayang, orang tua tidak sembahyang.
     Orang tua mana? Bahkan yang tertua
     Nabi Nuh, rajin sembahyang.

     Sayang, sayang, orang pangkat tidak sembahayang.
     Orang pangkat yang mana? Bahkan
     Sultan Agung, rajin sembahyang

SENTOT PRAWIRODIRJO, ketua pemberontak, utuskan surat kepada KAPTEN BELANDA, penuh sopan tapi nadanya tetap sebagai seorang pejuang:

     Assalamualaikum warahma tullahi wabarakatuh.
     Bismillah hir Rahman nir Rahim..

     Tuan-tuan mesti mengetahui bahawa tanah di
     mana saat ini tuan berdiri adalah tanah Jawi,
     negeri leluhur kami.

     Atas bantuan Allah, mudah-mudahan dalam
     waktu dekat ini, kami sudah akan bisa memiliknya
     lagi dan membebaskan orang-orang kami
     yang ditangkap. Nyawa kami adalah taruhannya.

     Amin, amin, ya Rabbal Alamin. Dikirim oleh
     SENTOT ALI BASYA ABDUL MUSTAFA PRAWIRODIRJO.

Seorang pejuang beragama Hindu, KROMOLUDIRO, difitnah KETUA KAMPONGnya sendiri. Dia diseksa Belanda agar akan mendedah tempat persembunyian SENTOT PRAWIRODIRJO. KAPTEN BELANDA menegaskan, ramai lagi orang Jawa yang akan membantu Belanda.

     KROMOLUDIRO: Tidak mungkin! Tidak ada
     sebuah negeri yang semua penduduknya terdiri
     dari pengkhianat! Tidak ada!

     Kalau betul ada menurut tuan Kapiten, saya rasa
     mereka sudah lupa diri! Mungkin lupa diri,
     tertutup oleh pangkat atau kekayaan yang kalian
     limpahkan sehingga mereka tidak bisa melihat
     lagi kebesaran nenek moyangnya!

     KAPTEN: (Sinis). Jadi – kamu lebih memilih
     kecintaan pada tanah air daripada diri mu atau
     keluarga mu? Kamu tidak mencintai anak-anak kamu?

Bila gagal, Belanda hantarkan LARAS, anak perempuan KROMOLUDIRO, untuk mempengaruhi bapanya.

     LARAS: Ibu sangat menderita.

     KROMOLUDIRO: Bodoh! Itu yang diharapkan
     pasukan Belanda. Jangan kasih lihat pada mereka.
     Penderitaan ini tidak seberapa. Kesulitan adalah
     guru! Yang bisa membuatkan kamu semua bijaksana.

     LARAS: Kami semuanya gelisah.

     KROMOLUDIRO: Sebentar lagi akan lewat.
     (Menghibur). Kamu akan kahwin dan mempunyai
     anak. Teman hidup mu mesti seorang satria, yang
     bisa menjaga praya keluarga kita.

     Lelaki yang bisa mendahulukan kewajipan daripada
     kepentingannya sendiri. Kerana orang seperti
     itu yang tidak makan suap apalagi menjual bangsanya.

     Dari seorang satria akan lahir anak-anak yang baik.
     Kamu jangan kaget jika mereka nakal-nakal. Itu biasa.
     Yang penting, asal mereka jangan berani mencuri atau
     ingin harta orang lain. Supaya besarnya jangan jadi
     pencuri. Hindarkan perbuatan seperti itu dari
     keluarga kita.

     Sebuah pademangan yang terdiri dari banyak maling
     (pencuri), akan membuat sebuah kabupaten tidak bisa
     berdiri. Sebuah kabupaten jika terdiri dari banyak
     maling, tidak bisa membuat sebuah kepatihan berdiri.
     Sebuah kepatihan yang terdiri dari banyak maling tidak
     bisa membuat sebuah kesultanan berdiri kokoh.

     Jika penduduk sebagian besar terdiri dari maling, maka
     lebih baik pulau Jawa ini tenggelam ke dasar laut!

KROMLUDIRO bermula seperti seorang bapa yang menasihati anaknya. Kemudian sebagai seorang guru yang mengajar muridnya. Akhir sekali sebagai seorang pejuang yang bertegas kepada rakyat negaranya.

Muridku, di mana langit dipijak, di situ langit dijunjung. Tanah di mana tumpahnya darah, tanah itu penuh keramat dan bermakna. Terpisah dengan negera sendiri walaupun buat seketika adalah sesuatu yang amat menyiks-kan.

Mari lihat perasaan seorang gadis remaja di saat terpisah dengan kampong halamannya kerana mahu melanjutkan pengajian. Mari lihat cerpen FATIMAH BUSU, THE CHILDREN OF KG PASIR PEKAN (1975), yang disampaikan dalam bahasa penjajah yang tidak kurang indahnya dengan bahasa ibunda:

     Tears rolled down Timah's cheek. A few drops fell into the
     puddles on the paddy fields with the keli, puyu and haruan,
     finally blending with the drops of dew that clung to the ripe
     golden yellow grains of paddy. A few more drops fell on
     Kahir's watermelon patch, Succouring the green creeping plant.

     And her tears would also fall on Adil's barn, bringing
     happiness to the unborn buffalo calves. The tears would
     certainly fall into the large pot of curry being cooked near
     Siah's house. The curry would taste sweet and salty and
     would light up the faces of the newlyweds, Gani and Siah.
     It would not be long before Siah would conceive her first child.

     At the same time, Kahir's sister, Jenah, would deliver her
     first son. The soft breeze would blow the baby's cry throughout
     the kampung together with the chatter of squirrels, the
     twittering of birds and the fluttering of butterflies. Her
     mother's paddy seedlings would flourish with new shoots
     sprouting all over the place. The durian, seta, rambutan and
     langsat trees that were in flower would blossom into fruit.

     (Translated by Hamdan Yahya).

Wahai muridku. Bumi ini bukan sembarangan. Bumi inilah yang melahirkan kamu, ibu bapamu, nenek moyangmu. Bumi ini juga tempat semadinya kamu nanti sebagaimana ia semadikan mereka itu semua.

Muridku, kenalilah bumi ini dengan rata-rata. Dampingilah mereka yang bijaksana. Rapatlah dengan manusia bergelar pengkarya.

Sentiasa ingat pada Yang Maha Esa. Kebesaran nenek moyangmu jangan dilupa. Lahirkan generasi yang lebih sempurna, Yang akan menyenangkan hati ibu dan bapa. Anak-anak yang akan memajukan bangsa,

Bukan yang akan menjadi maling, Bukan yang akan memalukan negara.

Itulah PERJUANGAN.

MERDEKA!

(Monolog ini dipersembahkan di MALAM LAGU, PUISI & KOPI II di Fakulti Artistik & Kreatif, UiTM, Puncak Alam pada 29 Ogos 2008. Terima kasih, SENIMAN ABD GHAFFAR IBRAHIM atau AGI, yang memberikan peluang menyampaikan monolog ini - satu pengalaman baru dalam hidup saya yang sudah lanjut ini).

Esai lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org