BERBURU SHU QI, MADONNA LARI
Pengalaman Tak Indah Meliput Festifal Film Berlin

oleh Ekky Imanjaya
Redaktur Rumahfilm.org, Amsterdam

Seperti sedang bermain game watch, saya seolah dilatih untuk meliput ajang besar festival film internasional dengan level yang makin lama makin berat. Pertama, International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA) pada November 2007. Lantas, International Film Festival Rotterdam (IFFR) di Januari dan awal Februari 2008. Sepekan kemudian, Berlinale International Film Festival (Berlinale). Yang pertama mungkin terbesar di genrenya, tapi bukan kelas utama di dunia perfestivalan di Eropa. Lokasinya pun persis di kampus saya, jadi sangat memudahkan saya. Kedua, mulai meningkat levelnya, dan berada di luar Amsterdam tempat saya tinggal, yakni di Rotterdam, walau masih di negeri yang sama. Terakhir, benar-benar sebuah festival kelas wahid, di negara dan sistem yang berbeda.

Pengalaman di dua festival sebelumnya, memang sedikit banyak memberikan manfaat untuk beradaptasi saat bertugas di Berlinale, namun sama sekali tidak cukup. Pun dengan pengalaman saya bekerja sebagai jurnalis sejak 1999, rupanya tak mengurangi hambatan.

Pertama, soal peliputan. Berlinale, di banding dua festival sebelumnya, ibarat raksasa, atau hutan rimba yang lebat. Sangat banyak acara dan tempat yang harus didatangi –walau sebagian besar berdekatan. Banyak film dan program yang wajib diikuti, dengan kualitas nomor satu. Banyak sutradara dan bintang film yang berseliweran tapi nyaris tak tersentuh, lengkap dengan ritual karpet merah nan glamor yang tidak ada di IDFA dan IFFR.

Contoh kongkret: wawancara. Di IDFA dan di IFFR, kita bisa dengan mudah bertemu dengan para sutradara. Selain karena mayoritas sutradara belum menjadi selebriti, mereka berkumpul di satu tempat, Atrium atau De Doelen. Sementara di Berlinale, tidak ada pusat, semua tersebar –dari Berlinale Palatz, Hotel Hyatt, hingga Zoo Palatz. Dan hampir semuanya dalam protokoler ketat, tidak bisa ditemui di sembarang tempat. Untuk urusan wawancara tembak langsung, tergantung kegigihan kita membujuk dan juga suasana hati sang narasumber.

Nah , panitia Berlinale bisa menjadi fasilitator untuk wawancara. Tapi, ternyata, mereka hanya memfasilitasi wawancara juri dan seorang tokoh perfilman –itu pun dengan catatan, penerjemah harus dari pihak sang wartawan, atau menyewa mereka. Walhasil, saya membatalkan wawancara dengan Shu Qi. Duh! Padahal saya sudah membayangkan asyiknya mewawancara si seksi ini!

Ada alternatif lain, kata sang petugas yang ramah tapi menyebalkan itu, yakni mengontak langsung humas dari masing-masing distributor film atau –belakangan saya baru ngeh– kordinator programnya. Merepotkan memang, tapi mau bagaimana lagi? Ya sudah, saya coba – tapi jangan harap untuk jumpa sineas besar seperti Michel Gondry atau Andre Wajda. Jadwal mereka sudah penuh sejak sebelum pesta film itu dimulai. Para wartawan senior sudah pesan tempat jauh-jauh hari, sepertinya –mungkin sudah jauh hari mengirim email minta waktu para sineas itu.

Masalah datang. Untuk Wakamatsu Koji (sutradara United Red Army yang menang dua penghargaan), misalnya, saya dikontak “Sore ini bisa, mas? Anda orang keempat ya?” Oke. Namun berita baik itu susul dengan info lain: ”Tapi dia tak bisa bahasa Inggris. Mas bisa bahasa Jepang? Atau ada teman yang bisa? Tolong kabari, ya?” Untuk Majid Majidi, yang sering nongkrong di Hyatt tapi selalu menolak untuk sekadar didekati saking sibuknya, ada sms yang masuk ke ponsel saya memberitahu bahwa wawancara sudah tidak ada lagi karena sudah dialokasikan di empat hari pertama festival.

Cara lain adalah cegat langsung mereka, seperti yang saya lakukan untuk Hana Makhmalbaf (si bungsu dari dinasti Makhmalbaf yang menang dua penghargaan di festival ini), walau saya harus menunggu satu jam lebih. Ada juga usaha saya mencegat usai penyerahan Independent Award, untuk mewawancarai Wakamatsu Koji dan Naoko Ogigami (sutradara Megane). Wah, saya cuma beberapa patah kata karena banyak pihak yang ingin memberikan ucapan selamat atau urusan lain.

Maka, yang terbaik, bagi saya, adalah hadir ke konperensi pers. Jadual sudah tetap, tinggal hadir tepat waktu. Tak apalah wawancaranya tidak eksklusif (dan ternyata banyak juga pertanyaan tak bermutu dari para jurnalis itu) atau merelakan beberapa film bagus. Masalahnya, “tepat waktu” bukanlah kata yang tepat.

Mengejar Madonna, misalnya. Penyanyi yang hadir dengan film pertamanya (Filth and Wisdom), memang salah satu yang paling ditunggu-tunggu. Saya sengaja hadir setengah jam sebelum acara. Saat saya hadir antrian sudah sangat panjang. Dan, sialnya, saat saya sudah di depan pintu masuk, panitia dengan gaya khas Jerman yang tegas dan dingin berkata, ”Sudah penuh. Tidak boleh masuk lagi.” Terpaksa saya menikmati jawaban Material Girl yang cerdas lagi jenaka itu dari televisi besar tak jauh dari ruang konferensi.

Di situ, saya bisa merekam langsung ke speaker. Yah, agak mirip-mirip shalat Jumat deh: walau kita di lantai atas masjid, tidak bersama khatib, namun masih sah karena masih di lokasi yang sama. Jadi, masih “sah”. Pengalaman serupa terjadi saat saya hendak menonton filmnya, baik press screening ataupun untuk publik, semuanya laris manis, walau saya berkali-kali hadir ke Box Office untuk memesan pertunjukan berikutnya –karena wartawan hanya boleh memesan film di public screening untuk hari itu dan besoknya. Walhasil, saya tak berhasil menonton filmnya.

Di tempat konperensi pers itu, kita disuguhi penerjemah berbahasa Inggris, Prancis, dan bahasa asli narasumber—lewat sebuah alat mirip earphone. Terpaksa kita cukup puas dengan waktu yang sangat terbatas, dan berebutan dengan berbagai wartawan yang hanya boleh mengajukan 1-2 pertanyaan saja. Namun masalah lain hadir: foto.

Di Berlinale, akreditasi pers reporter berbeda dengan fotografer. Dan aturan itu sangat ketat. Walhasil, saya dilarang memotret selama konferensi pers. Walau saya foto juga diam-diam, tapi sebagian hasilnya tidak memuaskan. Ada yang nekad memotret dengan kamera digitalnya, dan ditegur oleh petugas. Tanpa kartu identitas fotografer, saya juga tidak punya hak istimewa untuk berada di paling depan dalam setiap event, termasuk red carpet. Di ritual megah itu, saya cuma bisa memotret dari jauh, berjejalan dengan orang awam yang juga sama noraknya dengan saya kala melihat aktor Hollywood.

Untuk acara red carpet, saya juga tidak boleh hadir, untuk menonton atau berada di lingkungan sana. Menurut Garin Nugroho, ada tingkatan-tingkatan para wartawan, dari yang pemula hingga yang all access. Mirip dengan Festival Film Cannes.

Garin hadir di sana sebagai ketua juri Netpac. Dan program yang ia lingkupi adalah Forum. “Semacam Uncertain Regard kalau di Cannes,” ungkap sutradara yang filmnya menang 5 kali di ajang ini. Di tempat untuk tamu Forum, saya diajak nongkrong oleh Garin. Dan di situ, saya seperti berada di IFFR. Saya bisa bertemu dan ngobrol dengan para pembuat film, saat mereka bersantai di sana. Namun, saya masih bersemangat untuk mengejar program Kompetisi atau paling tidak Panorama.

*

Asmayani Kusrini, rekan saya di RF, tepat sekali saat membawa laptop di IFFR. Di Berlinale, wartawan memang disediakan tempat untuk komputer dengan akses internet dan ngeprint gratis. Namun, saya harus bersaing dengan hampir 500 wartawan, sehingga tidak pernah mendapatkan kesempatan, kecuali di komputer yang khusus untuk 15 menit. Sebetulnya, kabel koneksi untuk laptop juga disediakan, sayangnya, karena satu dan lain hal, saya tak membawa laptop. Walhasil, hingga festival berakhir, saya tidak berkesempatan untuk mengirimkan laporan langsung. Harapan saya waktu itu: ”Ya sudahlah, sekarang giliran belanja berita. Paling tidak, saya harus mendapatkan satu wawancara. Saya akan tulis laporannya secepatnya begitu saya tiba di Amsterdam.”

*

Pengalaman adalah guru terbaik. Klise memang, tapi benar. Berlinale, ingat-ingat. Suatu saat saya akan kembali!

Filmsiana lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org