
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() American Splendor IMHO – 10 Film Komik Non-Superhero Terbaik
Komik tak seluruhnya tentang superhero. Karenanya, tak seluruh film adaptasi dari komik melulu dari komik superhero. Ada cukup banyak film komik non-superhero, beberapa terhitung film-komik terbaik sepanjang masa (bahkan, satu dua, bolehlah disebut termasuk film-film terbaik yang pernah ada). Mendampingin resensi Eric Sasono atas Iron Man, saya mencoba menyusun daftar film-komik non-superhero terbaik menurut saya (IMHO). Saat mencoba mengingat-ingat film-film adaptasi komik yang pernah saya tonton dan berkesan buat saya sejak kecil hingga kini, saya menemukan ada 1844 lema film “based on comics” di IMDB.com. Ini angka yang membuat saya harus rendah hati. Jelas bahwa: (1) saya belum menonton semua film-komik yang semestinya saya tonton (walau, saya berani bilang, ternyata saya juga telah nonton cukup banyak) – dan banyak yang saya belum tonton, saya curiga, memang bagus sekali (seperti, Always San-chome No Yuhi, Bigco 2: Return of The Meek, atau Ella Cinders); (2) perlu ada pemilahan dan pemilihan, apa boleh buat. Maka dalam daftar 10 terbaik film-komik non-superhero ini, saya harus mendepak (1) film-film animasi, (2) film-film pendek, (3) film-film yang belum saya tonton (tentu saja!). Oh, dan saya terpaksa tak menyertakan film-komik dari Indonesia –ini, hemat saya, butuh daftar tersendiri, karena saya menerapkan “penilaian tersendiri” untuk film Indonesia. Karena itu, jelaslah daftar berikut adalah subjektif, tak lengkap, masih bisa berkembang. Tak apa. Anda pun kami undang untuk membuat daftar sendiri. Nah, inilah daftar saya, diurut dari belakang.... 10. Astérix & Obélix: Mission Cléopâtre (2002, sutradara: Alain Chabait) Apakah Asterix dan Obelix pahlawan super? Dari sudut tertentu, iya. Mereka memang memiliki kekuatan super gara-gara ramuan ajaib dukun mereka. Tapi, genre superhero adalah genre komik yang “sangat Amerika”, sehingga penggunaan kekuatan super di dalam komik non-Amerika akan memiliki ciri dan pakem sangat beda dengan komik superhero Amerika (kecuali jika memang diniatkan untuk menjiplak atau memarodikan pakem komik superhero Amerika, seperti yang dilakukan komik-komik superhero Indonesia). Film ini jauh mengatasi sekuel pertamanya, terutama karena humor-humornya lebih canggih dan “kena”. The great Gérard Depardieu, seperti biasa, tampil luar biasa sebagai Obelix sang raksasa lugu dan imut. Monica Belucci benar-benar moi sebagai Cleopatra. Alain Chabait sang sutradara juga bermain sebagai Julius Caesar. Penuh dengan komedi fisik yang lahir dari tradisi akting/teater non-Hollywood, akrobat logika yang sebetulnya agak terlalu intelektual (untungnya, masih lucu), plus efek animasi komputer yang lumayan ciamik. Spektakuler? Yup. Tapi juga: cute. 9. History of Violence (2005, David Cronnenberg) Film ini banyak dipuji kritikus di Amerika, tapi menurut saya film ini hanya cukup saja bagusnya. Keberatan saya, film ini didaku Cronnenberg bukan film-komik sepenuhnya karena ia menolak untuk membaca komiknya, novel grafis karya John Wagner dan Vince Locke, sebagai perbandingan. Toh, ini film Cronnenberg, yang selalu menarik bahkan dalam gagalnya. Di film ini, ia cukup berhasil menggambarkan sebuah kebenaran yang ditekan, disembunyikan di bawah permukaan. Kebenaran yang mengandung kekerasan. Dan ketika kekerasan itu terdedah, alangkah degilnya kekerasan! Keberhasilan untuk menggambarkan kebenaran yang ditekan itu, yang menghasilkan gaya ungkap yang low key (bernada rendah), sayangnya, sekaligus jadi kelemahan film ini. 8. Azumi (2004, Ryuhei Kitamura) Sebuah ulasan bilang, kostum rok pendek si samurai-cewek ABG Azumi, dimainkan dengan sedap oleh Aya Ueto, menampakkan cikal sejarah dari kegandrungan film erotis Jepang terhadap rok mini seragam sekolah. Mungkin yang sebenarnya justru sebaliknya: ini adalah kostum “sejarah” yang diinspirasi oleh kegandrungan pada rok mini sekolah ABG dalam film-film Jepang. Sebab, Ryuhei (tipikal, jika melihat film-filmnya seperti Versus dan Alive!) memang memilih gaya eklektisme-posmodern macam Kill Bill-nya Quentin Tarrantino. Ini adalah kekisahan-spektakuler juga. Bedanya dari kekisahan-spektakuler Hollywood yang lazim, gaya beginian di Jepang lebih memerhatikan pendalaman karakter. Malah, boleh jadi, bukan adegan laga spektakuler yang royal darah itu yang kita tunggu-tunggu, tapi bagaimana reaksi seorang tokoh terhadap sebuah dilema atau kejadian. Apa tidak merinding, melihat betapa Bijomaru Ogami (Jo Odagiri) tampak begitu menikmati pembunuhan sadis terhadap korban-korbannya? 7. Battle Royale (2000, Kinji Fukasaku) Film “sakit”, tapi kita tak bisa menampik kekuatannya sebagai film –persis bahwa kita juga bisa tak bisa menepis kekuatan filmis Pemberontakan G 30 S PKI (Arifin C. Noor) yang melekatkan mimpi buruk kita tentang adegan-adegan penyiksaan para jenderal, betapa pun kita tak setuju politik film itu. Battle Royale adalah film ultrakeras, bahkan sejak premisnya. Sekelompok pelajar yang dianggap pelanggar tatanan dikumpulkan di sebuah pulau, dan dipaksa untuk terlibat permainan maut: saling membunuh, hingga tinggal satu pemenang yang selamat. Jika mereka tak mau berpartisipasi, mereka akan mati juga oleh kalung monitor mereka. Jika setelah 72 jam masih ada lebih dari satu orang selamat, kalung pun meledak. Para pelajar itu dipaksa jadi pembunuh sadis dan biadab, dan film ini (karya ke-60 Kinji Fukasaku, dari komik karya Koushun Takami & Masayuki Taguchi) lama-lama menyodorkan pertanyaan tentang kultur menonton itu sendiri: mengapakah kita bisa menyukai sadisme itu? 6. Sin City (2005, Robert Rodriguez & Frank Miller) Film ini sangat “film” sekaligus sangat “komik”. Pada satu syuting, Frank Miller, yang komik seri Sin City-nya diadaptasi film ini, bilang ke Rodriguez, mbok siluetnya berwarna hitam. Kata Rodriguez, ngapain? Kan lebih bagus kalau kayak di komiknya, putih dengan latar justru hitam. Dan kita pun mafhum, memang film ini ingin keluar dari dunia nyata serta mencipta dunia (visual)-nya sendiri. Rodriguez hanya nyeleweng dalam hal menjahit tiga komik seri Sin City sekaligus dalam satu cerita film ini (sekuel pertama): Sin City-The Hard Good Bye, The Big Fat Kill, dan That Yellow Bastard. Memang, dalam bentuk komik pun, potensi menjahit cerita jamak itu sudah ada, karena, misalnya, ada tokoh-tokoh yang sudah mati di Sin City-The Hard Good Bye tapi muncul kembali di That Yellow Bastard. Lewat film ini, dengan efek dan teknik pembuatan digital, Rodriguez menegaskan kapasitas film untuk mencipta dunia dan logikanya sendiri. 5. Oldboy (2003, Park Chan-Wook) Diangkat dari sebuah manga karya Garon Tsuchiya (cerita) dan Nobuaki Minegishi (gambar), inilah sebuah kisah pamungkas untuk film tentang balas dendam. Saat ini, kita mungkin sudah sangat akrab dengan premis luarbiasa film ini: Oh Dae-su diculik begitu saja suatu malam, dan disekap dalam sebuah kamar mirip kamar hotel murahan selama 15 tahun! Entah siapa penculiknya, dan apa motifnya. Dari TV dalam kamar, ia kemudian tahu bahwa istrinya mati dibunuh secara brutal dan sidik jari Oh ada di TKP. Putrinya diadopsi di Swedia. Dari TV itu pula Oh menyaksikan sejarah bergerak: keruntuhan dinding Berlin dan komunisme, matinya Lady Di, peristiwa 9/11. Secara rutin, kamarnya digas-bius dan Oh dicukur, didandani, setiap kali ia pingsan. Oh yang mulanya seorang pemabuk gemuk tak berguna, karena amarah dan memupuk dendam, tumbuh jadi seorang keras secara fisik dan mental di dalam kamar itu –dan membuat Min-sik Choi, pemeran Oh, dipuja sebagai aktor total yang nekad. Dan tiba-tiba, ia dibebaskan. Ia diminta mencaritahu siapa dan, terutama, mengapa ia diculik selama 15 tahun, dalam 3 hari, atau ia mati. Dan cerita pun bergerak. Pada akhirnya, jawaban misteri ini ada di masa SMA Oh. Sebuah perbuatan kecil yang telah ia lupakan ternyata membuat Oh jadi sasaran dendam itu –disekap, istrinya dibunuh, dan sebuah rencana lain di akhir film yang membuat film ini dianggap setara dengan tragedi Yunani. Cerita ini bahkan lebih “sakit” dari Battle Royale. 4. Dick Tracy (1990, Warren Beatty) Dari komik strip karya Chester Gould, yang merupakan warisan budaya pop Amerika sejak 1930-an. Walau bukan komik superhero, seri Dick Tracy mengilhami galeri “rogues” atau penjahat bebuyutan yang serba-aneh seperti yang kita lihat pada kisah Batman. Keanehan nama, sifat, dan terutama fisik itu ditiru mentah-mentah lewat seni make-up yang piawai dalam film ini. Misalnya, Al Pacino sebagai Big Boy Caprice yang menjijikkan; dan Dustin Hoffman yang berbibir mencong sebagai Mumble. Warren Beatty jadi sutradara sekaligus bermain sebagai Dick Tracy. Beatty bahkan memberi film ini warna-warna jreng seperti kuning terang dan merah dan hijau dan segala warna blok serbakontras. Jelas, Beatty sedang memarodikan film-komik, menghidupkan kembali corak campy seperti pernah dimunculkan pada seri Batman 1960-an. Salah satu film bertampilan paling imajinatif sepanjang masa, pendahulu Sin City dan 300. 3. Ghost World (2001, Terry Zwigoff) Nihilistik. Pesimis. Imut. Itulah dunia cerewet Enid (Tora Birch) dan Rebecca (Scarlett Johanson). Sebetulnya, yang sangat cerewet adalah Enid. Dia adalah seorang misfit, dan kita diajak masuk ke dalam dunia Enid yang biasa-biasa saja selayak hidup di sebuah kota kecil Amerika yang monoton, di sisian budaya konsumtif yang, menurut film ini, jadi arusutama budaya besar Amerika. Tapi “biasa-biasa”-nya Enid dan Rebecca sang misfit adalah agak abnormal. Dan di sekeliling mereka, banyak juga misfit lain: orang-orang yang jika kita temui dalam keseharian kita akan kita gosipkan sebagai orang aneh dan mungkin segera kita jauhi. Diangkat dari novel grafis Daniel Clowes yang banyak dipuji karena dianggap berhasil menampilkan dunia anak muda Amerika 1990-an yang penuh angst (perasaan mutung tak jelas juntrung-nya), dan film ini cukup setia pada semangat itu. Film/cerita kecil tentang hal-hal kecil, yang sekaligus membuat kita curiga bahwa ada makna di balik semua ini (memang! Tapi, apa, ya?). 2. Muno No Hito atau “Noowhere Man” atau “Manusia Tanpa Keterampilan” (1991, Naoto Takenaka) Boleh jadi terasa lebih nihilistik dan pesimistik daripada Ghost World, karena satu hal: jika Ghost World cerewet, film ini minim-kata dan penuh gambar sunyi yang menekan. Bagi Anda yang terbiasa atau sangat menyukai film-film bernaratif spektakular, sebaiknya menghindari film ini sebisa mungkin karena kemungkinan besar Anda akan diselimuti kantuk berat menonton film yang sering absurd tak keruan dalam ketenangannya ini. Naoto Takenaka, sutradara film ini, adalah juga aktor yang telah membintangi 118 film. Di film ini, ia berperan sebagai Sukezo Sukigawa, seorang mangaka (pembuat komik Jepang) yang tak laku. Tak ada pekerjaan, ia kemudian memutuskan jadi tukang penjual batu. Dasar ia “manusia tanpa keterampilan” (kecuali membuat komik), dengan “brilyan” ia membuka kios batu di tepi sungai kering yang penuh batu. Mengapa istrinya tetap mendukungnya? Entahlah. Mungkin itulah istri Jepang. Mungkin itulah keanehan hidup. Mungkin itulah manusia, selalu tak terduga. Di akhir film, Sukezo membuat sebuah manga, sureal dan penuh citarasa seni. Dan, tentu saja, tidak laku. Itukah hidup? Bahwa saya menempatkan film ini di nomor dua daftar terbaik saya, jangan-jangan karena saya agak pesimis dan nihilis juga. 1. American Splendor (2003, Shari Springer Berman & Robert Pulcini) Salah satu film paling inovatif dari pelataran film Amerika –melanjutkan tradisi inovasi bahasa film/visual dari Annie Hall, American Splendor mencuatkan akting menawan Paul Giamatti sebagai Harvey Pekar. Dan dalam satu adegan, Paul Giamatti menyelesaikan sebuah adegan, keluar dari set, lalu bicara dengan Harvey Pekar yang sesungguhnya! Harvey Pekar adalah komikus yang sejak 1976 menerbitkan secara swadaya seri komik otobiografis American Splendor. Seri itu perlahan mendapat tempat terhormat di dunia seni komik underground Amerika. Pekar sendiri sempat jadi tamu tetap acara David Letterman. Tapi Pekar adalah Pekar: penggerutu, cerdas tapi pegawai rendahan, dan selalu mawas terhadap hal besar atau kecil yang melintasi dirinya dan mencatatnya dalam seri komiknya itu. Komik-komiknya, selain jadi kisah hidup dan pikiran-pikirannya, kemudian jadi cermin bagi the other America atau Amerika yang lain daripada yang kita sering cerap dari media massa umumnya. Dan film ini berhasil mengudar semangat komik alternatif itu dalam berbagai akrobat bahasa visual yang asyik: campuran fakta dan fiksi, sisipan animasi, juga komik secara bulat-bulat, berbagai siasat naratif yang ganjil tapi kok terasa pas dan enak ditelan. |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |