Freddy Krueger (A Nightmare on Elm Street)

Sosok Ngeri itu Bernama Freddy
oleh Donny Anggoro
Kontributor Rumahfilm.org, penulis dan wartawan

 

Monster ciptaan Dr. Frankenstein, pangeran kegelapan Dracula, Werewolf si manusia serigala, bocah setan Damien Omen, dan seabrek varian tokoh psikopat pun serial killers yang sudah diawali kehadirannya oleh Norman Bates di Psycho adalah ikon-ikon kengerian yang monumental dalam sejarah perfilman Hollywood.

Tapi setelah ikon-ikon tersebut mulai mengalami kejenuhan, Hollywood kehabisan ikon baru yang selain mampu mencekam penonton, mampu pula mendulang dolar berjilid-jilid sehingga genre horor dapat terus berlanjut dengan kelebihannya menangkap seraya mengekspresikan ketakutan dan keingintahuan manusia terhadap dunia lain selain dunia yang kita jalani sekarang.

Impian tersebut berhasil terwujud berkat ciptaan Wesley Earl Craven, seorang profesor bidang psikologi yang lantas berkarier di dunia sinema. Pria yang lebih dikenal dengan nama Wes Craven ini pada tahun 1984 menelurkan A Nightmare on Elm Street yang berhasil mencekam penonton sekaligus mendulang sebanyak $ 25.500.000 dalam pendapatan box office.

Jauh sebelum Freddy Krueger muncul memang sudah ada Michael Myers ciptaan John Carpenter yang beken lewat Halloween (muncul pertama kali tahun 1978), Jason Vorhees ciptaan Victor Miller dan Sean S. Cunningham dalam Friday The 13 th (1982) dan Leatherface ciptaan Tobe Hooper dalam Texas Chainshaw Massacre (1974). Ketiga ikon horor yang masuk dalam varian slasher horor penerus Psycho ini segera meramaikan jagat horor yang sudah jenuh dengan monster dan makhluk alien.

Walau sosok setan berwajah rusak terbakar, mengenakan sweater garis merah-abu-abu, topi kusam dan tangan bercakar besinya ini muncul belakangan, kehadiran Freddy Krueger di jagat horor benar-benar fenomenal. Selain melejitkan karier Wes dalam dunia sinema dan membuahkan pendapatan box office yang cukup besar, dalam sejarah horor baru Freddy Krueger yang mampu menjadi ikon dan franchise laiknya tokoh superhero dengan filmnya yang dibuat berjilid-jilid serta diproduksinya pula pelbagai action figures (boneka). Cakar besi, sweater, topeng berwajah Freddy dan topi cokelatnya yang kusam menjadi merchandise film Nightmare selama bertahun-tahun.

Kekuatan Karakter

Pertanyaan mengusik, apa sebab ikon horor satu ini mampu menjadi franchise yang digemari laiknya tokoh komik dan superhero? Kalau bicara kengerian, jauh-jauh hari orang sudah menjerit jika disuguhi karakter psikopat dan belepotan darah dalam Texas Chainshaw Massacre, kebringasan zombie dalam Night of The Living Dead-nya George Romero, kengerian Suspiria dan Inferno karya “The Italian Hitchcock” Dario Argento pun kisah-kisah horor yang ditulis Stephen King dan Clive Barker. Memang di antara ikon dan kisah horor abad 20 lainnya, masing-masing juga berhasil menjadi cult hingga mempunyai banyak fans yang fanatik. Tapi, sekali lagi sangat jarang seorang tokoh sentral mampu menjadi ikon monumental setenar Dracula, Werewolf, Norman Bates dan Hannibal Lecter sekalipun.

Sekali lagi apakah yang membuat ikon bernama Freddy Krueger ini menjadi monumental? Jawabnya tak lain adalah kekuatan karakter. Karakter? Bukankah karakter yang kuat sudah ada pada era horor klasik? Tunggu dulu. Baiklah kita tengok satu per satu komponen apa yang melatarbelakangi karakter Freddy Krueger.

Pertama, wajah. Jika diperhatikan pelbagai simbol yang melekat pada karakter Freddy Krueger adalah perwujudan dari macam-macam ikon horor sebelumnya. Karakter wajah rusak seperti Freddy sudah dapat ditemui sebelumnya dalam monster Frankenstein berwajah persegi dengan bekas jahitan di pipinya atau karakter Leatherface di Texas Chainshaw Massacre. Bedanya wajah seram Freddy bukan karena bekas jahitan dan sayatan, melainkan bekas luka bakar.

Kedua,gadget (atribut). Peralatannya berupa cakar besi (terbuat dari sarung tangan yang di bagian keempat jarinya ditambahkan potongan besi yang diruncingkan) sudah ada pada tokoh dan karakter genre slasher horor (mempergunakan senjata tajam) yang (lagi-lagi) sudah diawali di Psycho, Friday The 13 th dan Halloween. Model topi cokelatnya yang kusam tentu saja tak jauh-jauh bermaksud menjadi “kostum resmi” seperti Dracula dengan leher kerahnya yang tinggi.

Ketiga, pola membunuh. Pola membunuh Freddy adalah kegilaannya mempermainkan calon-calon korban sebelum dibunuh hingga menjadi kesenangan tersendiri sudah ada pada film Psycho dan Suspiria.

Adapun Freddy sebelum sepenuhnya menjadi iblis, di dunia nyata sudah terkenal sebagai serial killer di Elm Street dengan kesenangannya membunuh anak-anak kecil dan remaja.

Keempat, setting.Setting pembunuhan sebagai “taman bermain” Freddy adalah alam mimpi di mana penonton dibawa ke dunia “antah berantah” yang ganjil. Penonton dibawa bolak-balik antara mimpi dan kenyataan. Pola demikian sudah ada pada The Evil Dead (1983) besutan sutradara penghasil Spider-Man, Sam Raimi dan The Exorcist (1976) karya sutradara William Friedkin yang diangkat dari novel William Peter Blatty. Memang The Exorcist “hanya” menghasilkan figur setan yang muncul dalam tubuh gadis cilik yang diperankan Linda Blair. Tapi figur inilah yang baru pertama kali divisualkan berganti-ganti antara wujud manusia biasa dengan sosok iblis. Kalau dalam The Exorcist dunia gaib hanya muncul sesekali lewat tubuh seorang gadis cilik, Nightmare menggantinya dengan lebih ngeri: setelah bersua dengan sang iblis yang tak lain adalah si Freddy, penonton sekaligus dibawa ke setting kekuasaan Freddy, yaitu alam mimpi.

Tipe-tipe tersebut dikumpulkan Wes Craven menjadi satu bak struktur susunan teks sastra yang pernah dikemukakan Julia Kristeva dalam buku Structural Poetics susunan Jonathan Culler (London:Roudledge & Kegan Paul, 1977). Dalam buku tersebut tertulis bahwa setiap teks sastra sebenarnya hanyalah merupakan mosaik kutipan-kutipan dan merupakan penyerapan serta transformasi dari teks-teks lain. Dengan kata lain, tak ada karya teks sastra di dunia ini yang tidak terpengaruh karya orang lain, demikian pula karya seni lain seperti lukisan dan film. Wes berhasil mengumpulkan mosaik-mosaik tersebut ke dalam karakter yang disusunnya ke bahasa visual dalam satu karakter bernama Freddy Krueger.

Hal demikian tak dapat dipungkiri lagi jika melongok perjalanan kariernya sebelum menciptakan Freddy Krueger, Wes juga bersahabat dengan produser film Friday The 13 th, Sean S. Cunningham. Persahabatan inilah yang menjadi bibit-bibit tersemainya tokoh Freddy Krueger. Friday The 13 th yang melejitkan Jason Vorhees, tokoh psikopat dengan goloknya yang mematikan itu tentu saja menjadi satu dari sekian karakter yang menjadi inspirasi pria kelahiran Cleveland, 65 tahun lalu dalam menciptakan Freddy. Adapun film yang menjadi debut penyutradaraannya di genre horor, Last House on The Left (1972) tak lepas dari supervisi Sean S. Cunningham.

Ikon yang Menjadi Cult

Kemunculan setan fenomenal Freddy Krueger segera membuat tiap sequelnya menjadi cult, alias menuai popularitas dan fans yang fanatik. A Nightmare on Elm Street mendadak menjadi cult movie. Cult movie adalah istilah untuk film yang semula dilecehkan namun tak bisa begitu saja dilupakan. Istilah ini pertama kali muncul dari kritikus film kondang Roger Ebert dalam ulasannya di Chicago Sun-Times.

Menurut Ebert, tipikal cult adalah ketika film itu ditayangkan pengaruhnya begitu besar kepada masyarakat, entah itu dari filmnya sendiri yang memang dapat dipertanggungjawabkan dari segi estetik sehingga mampu memberi pengaruh pada genre film sesudahnya, sekaligus punya penggemar fanatik bahkan menjadi trendsetter.Cult movie sendiri memang dimaksudkan sebagai bentuk film yang tertarik pada benda-benda sehari-hari sebagai cermin dari dunia industri sehingga menyimpan semangat yang kurang lebih serupa dengan yang dilakukan pengamat dan pengkaji seni rupa Inggris, Lawrence Alloway tatkala membuat istilah pop art sebagai penamaan kesadaran baru dari sekelompok pelukis dan cendekiawan Inggris akan perlunya alternatif baru.

Uniknya, cult movie tak berarti harus berlaku pada film-film kategori “A” seperti Taxi Driver atau Apocalypse Now sekalipun. Film yang dibuat dengan naluri menghibur semata (bahkan bujet ringan atau masuk kategori “B” movie sekalipun) tetap saja bisa menjadi cult movie asal punya penggemar fanatik dan sangat bersuara pada zamannya, yaitu zaman ketika film itu dirilis.

Orang-orang di zaman 1970 dan awal 1980-an pasti tak akan melewatkan film-film seperti King Kong, Saturday Night Fever, Grease, atau yang paling tua adalah film Big Boss-nya almarhum Bruce Lee (dan juga judul lain seperti Game of Death, Enter The Dragon), film-film laga yang dibintangi Chuck Norris, film-film ninja sampai era spaghetti western yang dibintangi Franco Nero. Pendek kata, orang bisa saja menyebut film-film seperti Big Boss, film-film laganya Chuck Norris, film tari Breakdance (yang merupakan epigon Flashdance),spaghetti western sampai King Kong dan film-film silat Mandarin keluaran Shaw Brothers sebagai film kacangan hingga tak layak diapresiasi secara kritis. Tapi tak bisa dipungkiri kehadiran film-film tersebut adalah pertanda bahwa di zaman itulah selera budaya massa muncul dalam satu bahasa: punya penggemar fanatik hingga menjadi trendsetter. Bolehlah orang tak menganggapnya sebagai film bermutu, tapi dunia hiburan memang sedang berkembang dengan adanya film-film seperti itu. Cerita yang sangat hitam-putih, busana yang mungkin dilihat di zaman sekarang terlihat norak dan teknologi “seadanya” (beberapa sutradara film menyiasati agar teknologi “seadanya” itu tersamarkan karena memang di zaman itu tipuan kamera dan digital belum maksimal) tak jadi soal.

Cult menjadi tanda-tanda zaman di mana dunia sinema telah merambah ke dalam selera massa yang lebih universal alias mampu menjangkau tipikal penonton manapun. Ini beda dengan era film-film kolosal macam Ben Hur, The Mutiny on The Bounty, romantika macam Gone With The Wind atau Casablanca pada tahun 1960-an yang selain dimaksud sebagai selera massa juga, namun masih terlihat lebih terasa adorateur bourgeois-nya dengan mengedepankan romantisme sebagai resep utamanya.

Sineas Quentin Tarantino yang belum lama ini mendapat kehormatan menjadi ketua juri Festival Cannes dalam karya terakhirnya, Kill Bill adalah salah satu contoh sineas yang begitu terpengaruh dengan film-film kategori cult movie sebagai inspirasinya. Mulai dari film kungfu almarhum Bruce Lee, film samurai yang diperankan aktor Jepang, Sonny Chiba sampai film silat keluaran Shaw Brothers semuanya menjadi satu dalam Kill Bill. Jackie Brown (1996) adalah karya Tarantino lainnya yang mencoba mengangkat genre blaxploitation yang sangat populer dan notabene menjadi cult di tahun 1970-an dimana film-film dalam genre ini mempunyai karakter yang melibatkan seluruh pemain dan awak produksinya adalah warga Afro-Amerika. Dari genre ini muncul film cultShaft, film-film yang dibintangi Pam Grier dan film laga yang dibintangi aktor Fred Williamson. Dari serial teve muncul serial keluarga Jeffersons dan tentu saja yang paling populer adalah The Cosby Show yang diproduksi hingga awal 1990-an.

Nightmare dengan tokoh sentral Freddy segera menambah daftar film-film cult movie dari genre horor dan fantasi yang sudah diwakili Dracula, Werewolf, Frankenstein sampai King Kong dan Godzilla. Nightmare memang bukan film horor yang elegan dan masuk kategori “A” seperti The Exorcist, Rosemary’s Baby, Carrie, dan Psycho sekalipun. Tapi ia punya ciri khas tersendiri bak superhero. Ini sebuah keunggulan yang baru dicapai ikon horor setelah Jason Vorhees, Michael Myers dan Leatherface.

Sebagai ‘syarat’ lain sebuah film menjadi cult, Roger Ebert juga menjadikan pengaruh yang mampu menjadi epigon setelah film tersebut punya penggemar fanatik. Epigon Freddy Krueger yang juga populer bisa disebut Pinhead, setan botak yang wajah dan kepalanya ditusuk duri dalam film Hellraiser. Hellraiser muncul di akhir tahun 1980-an. Dan seperti ikon horor lainnya, Hellraiser juga dibuat berjilid-jilid. Epigon Freddy Krueger lainnya bisa disebut Maniac Cop karya William Lustig dari “kerajaan B movie”. Jagat perfilman nasional sendiri pernah terang-terangan mengadopsi setan alam mimpi dalam film Ranjang Setan (1985). Seperti tipikal film horor Indonesia lainnya dengan mengetengahkan hantu perempuan, Ranjang Setan juga mengganti sosok yang diinspirasikan dari Freddy Krueger dengan sosok setan perempuan yang diperankan Chintami Atmanegara.

Sukses di layar lebar, franchise Freddy dikembangkan pula ke serial televisi Nightmare’s Café ( a.ka. Freddy’s Nightmare) hingga tak pelak lagi ikon horor satu ini terbilang paling populer dibandingkan ikon-ikon sebelumnya. Jason Vorhees, Leatherface, dan Michael Myers bisa saja terus dihidupkan jilid demi jilid dalam tiap sequelnya. Namun, untuk menyebut ikon horor yang selain sudah diproduksi berjilid-jilid kemudian lantas merambah ke layar gelas laiknya ikon superhero macam Batman, Superman, Hulk, dan Spider-Man hanya dapat menyebut satu nama yaitu Freddy Krueger.

Freddy Krueger sendiri pernah tampil sebagai cameo dalam episode serial kartun The Simpsons. Fred tampil di awal kartun ciptaan Matt Groening dengan duduk bersama Jason Vorhees. Matt Groening dan tim kreatifnya bahkan memparodikan beberapa adegan film Nightmare di The Simpsons episode Halloween Special.

Dari Teknologi “Seadanya” sampai Musik Soundtrack

Resep sex, violence and crime yang disusun Wes dari pelbagai karakter ikon horor diaduknya menjadi satu. Suasana tegang digabungkannya dengan perwujudan visual gila-gilaan sehingga mampu mengaduk emosi antara humor dan rasa ngeri bagi yang menontonnya. Memang, A Nightmare on Elm Street demikian kuat unsur mistisnya. Tapi, Wes tetap tampil elegan dengan memperlihatkannya bergantian dalam suasana suspens sehingga di beberapa scene ia melakukan kompromi dengan menyiasati teknologi yang memang baru “seadanya”. Walau “seadanya” dalam Nightmare jilid pertama ini menyimpan adegan fenomenal yang barangkali paling sadis sekaligus menjijikkan di antara sequel Nightmare lainnya. Tengoklah ketika seorang pemuda yang diperankan Johnny Depp terhisap ke dalam ranjang. Permukaan ranjang tersebut bergumpal-gumpal, seolah mengunyah tubuh Johnny Depp. Beberapa saat kemudian ranjang itu menyemprotkan gumpalan darah bak air mancur, sampai ke atas dinding kamar. Titik-titik gumpalan darah yang jatuh ke lantai dibuat seperti air hujan…

Pada adegan awal pembukaan A Nightmare on Elm Street, penonton langsung dibawa dalam bebunyian yang mencekam dimana sosok Freddy muncul samar-samar. Hanya tawa dan bunyi cakarnya yang menggores besi dan kain terdengar menyayat. Baru di sequel selanjutnya tatkala teknologi spesial efek mulai berkembang, sosok Freddy muncul “tak malu-malu” lagi, bahkan nyaris tanpa prolog seperti jilid pertamanya. Freddy yang pandai bermalih rupa ke berbagai bentuk menjadi raksasa, menjadi traktor, atau speedometer sepeda motor yang mendadak menjadi kepala Freddy adalah contoh teknologi spesial efek di Nightmare yang mulai lebih dimaksimalkan.

Tadi sudah disinggung pelbagai aspek di belakang keberhasilan Nightmare hingga ia mampu menjadi cult movie. Bagaimana dengan aspek lainnya? Tahun 1987 tatkala popularitas Freddy Krueger semakin memuncak, perusahaan New Line Cinema yang selalu memproduksi franchise Nightmare mencoba mensinergikan efek kengerian horor dengan raungan musik rock yang hingar bingar. Hasilnya tak sia-sia. Pada soundtrack Nightmare on Elm Street 3: The Dream Warrior terlihat sejumlah musisi dan grup rock independen di bawah label Roadrunner Records. Walau bukan major label, Roadrunner banyak melahirkan grup rock kondang yang sangat bersuara pada zamannya sebagai perlawanan terhadap musik rock era hair metal seperti Poison, Motley Crue, White Lion dan Guns N’ Roses. Sepultura dan Obituary adalah dua grup trash metal kondang yang pernah bergabung di bawah label ini. Perkawinan musik rock dengan film horor secara total baru dilakukan dalam soundtrack Nightmare yang kemudian melahirkan banyak epigon sampai kini. Sebutlah film antihero semi horor Spawn, The Crow, dan Blade yang musik soundtrack-nya diramaikan dengan pelbagai varian musik rock mulai dari trash metal, speed metal, heavy metal, industrial sampai techno. Berbekal terobosan itulah, Nightmare layak menjadi cult dalam industri soundtrack.

Setelah musik, mungkin baru pada film horor Nightmare yang dalam satu sequelnya diramaikan para pesohor yang rela menjadi cameo. Rocker veteran yang terkenal dengan atribut horornya di panggung, Alice Cooper selain menyumbangkan lagunya dalam soundtrack Freddy’s Dead: The Final Nightmare (1991) ia tampil pula sebagai cameo, bersama Roseanne Barr, Tom Arnold, dan Johnny Depp. Kebetulan cameo yang dikumpulkan dalam sequel keenam Nightmare ini notabene fans berat Freddy.

Uniknya, Wes Craven “hanya” terlibat sebagai sutradara dan penulis skenario di tiga film Nightmare. Ia terlibat di Nightmare pertama (1984), ketiga (tahun 1987, produser pelaksana dan skenario) dan Wes Craven’s New Nightmare (1994) yang sengaja dibuat sebagai akhir dari legenda Freddy yang monumental itu. Nightmare sendiri sampai kini sudah dibuat sebanyak 7 sequel, di luar variannya yang paling gres, Freddy Vs. Jason (2003). Selebihnya, di pelbagai sequel maupun serial teve Nightmare, Wes Craven hanya terlibat sebagai konsultan seraya menerima royalti yang diterimanya.

Menuai Kegagalan

Bicara tentang Freddy Krueger tentu saja tak lepas dari kreatornya, Wes Craven. Profesor bidang psikologi yang terjun ke dunia film ini seperti melampiaskan nafsu bengisnya habis-habisan lewat “boneka” bernama Freddy Krueger.

Latar belakang kehidupan Wes Craven sendiri terbilang sangat bertolak belakang dengan kariernya sebagai sineas horor. Kepada Sean M. Smith dari majalah Premiere, pengikut aliran Baptis fundamental ini mengaku terusik tatkala aliran tersebut menganggap karya seni bernama film adalah perangkat setan. Justru lewat film horor ia berkesempatan merepresentaskan sisi ketakutan sebagai aspek psikologis manusia ke dalam bentuk seni.

Ketertarikannya pada film sebenarnya tak diawali dengan film horor. Seperti umumnya sineas, Wes juga pernah banyak membuat film-film dari berbagai genre mulai dari drama , komedi hingga laga. Baru pada tahun 1977 ia menemukan jati dirinya sebagai sineas horor setelah menyutradarai The Hills Have Eyes. Di sini ia melakoni tiga peran sekaligus: sutradara, penulis skenario dan editor. Setelah itu, berbagai film-film horor muncul dari tangannya. Walau rata-rata dibuat dengan bujet murah, seperti Stranger in Our House (1978) dan Summer of Fear (1978, keduanya dibintangi Linda “The Exorcist” Blair) perlahan namanya mulai menanjak hingga ia mendapat tawaran untuk menyutradarai beberapa episode serial teve horor misteri varian Alfred Hitchcock Presents yaitu The Twilight Zone. Selain Wes Craven, dalam serial teve The Twilight Zone juga pernah menjadi tempat berlabuh sutradara Tobe Hooper yang kemudian melejit lewat film horor The Texas Chainshaw Massacre dan Poltergeist (1982) yang diproduksi Steven Spielberg.

Tahun 1982 karier Wes Craven mulai diperhitungkan setelah menulis skrip film yang diangkat dari komik, Swamp Thing (1982). Swamp Thing yang diantaranya dibintangi akris seksi Heather Locklear ini sukses besar dan merambah pula ke layar gelas.

Tapi, pasca Nightmare dan Freddy Krueger nyaris film-film yang dibuat Wes kurang berhasil. Walau dalam segi pendapatan dan hasilnya cukup lumayan, beberapa filmnya sendiri gagal melambungkan tokoh setan jahat yang menjadi monumental lagi. Dalam situs resminya, wescraven.com, Wes Craven sendiri terlihat gerah dengan popularitas ikon Freddy Krueger yang diciptakannya sendiri. Hal ini bisa dilihat pada bagian F.A.Q, dimana pada bagian tersebut mensyaratkan kepada penggemarnya bahwa Wes tidak melayani permintaan dan pertanyaan perihal bagaimana caranya mendapatkan merchandise maupun atribut Freddy Krueger.

Kegerahannya tersebut membuat Wes Craven berkeras menciptakan sebuah ikon baru yang muncul dalam Shocker (1989), sebuah film campuran horor, suspens thriller dan fantasi yang agak lain dari Nightmare. Dalam Shocker yang dibuat dengan bujet tinggi ini Wes mencoba melejitkan seorang ikon baru di dunia horor bernama Horrace Pinker. Tapi walau Pinker yang dimainkan begitu baik oleh aktor Mitch Pileggi (ia juga bermain sebagai atasan Mulder dan Scully dalam serial teve The X-Files), tak kalah kuat karakternya dengan Freddy yang diperankan Robert Englund, ternyata gagal menjadi ikon baru. Padahal karakternya tak beda jauh dengan Freddy; suka bergurau (dengan caranya sendiri yang terasa black comedy) dan demikian sakti alias bisa bermalih rupa ke pelbagai bentuk setelah menjadi iblis. Sebelum menjadi iblis Pinker adalah pembunuh serial yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang servis teve. Korban-korbannya tak lain adalah para pelanggannya. Kalau Freddy yang sebelum menjadi iblis dibakar ramai-ramai oleh penduduk setempat, Pinker malah tertangkap dan kemudian dijatuhi hukuman mati di kursi listrik. Tapi, listrik-listrik yang semula membunuhnya malah memberinya energi baru hingga ia menjadi iblis dengan kekuatan listrik yang dahsyat.

Sayang, Shocker gagal menjadi ikon dengan tak ada satupun sequel yang diproduksi. Padahal, sebagai karya Shocker cukup mencekam, bahkan bumbu komedi dan fantasi menambah nilai lebih film ini secara artistik. Soundtrack-nya yang melibatkan sejumlah musisi rock kenamaan seperti Paul Stanley (Kiss), Alice Cooper, Desmond Child (produser dan pencipta lagu-lagu Bon Jovi), Vivian Campbell (Def Leppard) sampai grup metal Megadeth membuat film ini terlihat dipersiapkan habis-habisan sebagai babak baru dalam penciptaan ikon horor Wes setelah Freddy Krueger.

Entah kenapa, film ini gagal walau secara artistik sangat menghibur dan terlihat lebih “halus” ketimbang sequel Nightmare yang “boros” memuncratkan darah. Pada saat launching-nya saja, Wes sengaja menyiapkan diri tampil di depan publik berfoto bersama dua ikon horornya, Freddy Krueger dan Horrace Pinker. Apa boleh buat, dalam film yang juga menampilkan aktris Heather Langengkamp pemeran utama Nightmare jilid pertama ini sebagai cameo ternyata gagal. Hal demikian, seolah membuktikan “kutukan” terhadap film-film yang maunya dibilang cult. Dalam sejarah perfilman, memang tak ada satupun sineas maupun produser memaksudkan dirinya membuat film-film agar menjadi cult. Pelbagai film cult yang berhasil selalu semula dimaksudkan hanya untuk produksi saja, tak kurang tak lebih.

Dengan kata lain sempat muncul pemeo di kalangan sineas jika ingin filmnya layak dibilang cult “pasti tak akan tercapai”, atau jika tercapai “pengalaman seperti itu hanya terjadi satu kali saja dalam hidupmu.” Oleh pengamat film Fredric Dannen, penulis buku kajian film Hong Kong yang menjadi lahan inspirasi Hollywood, Hong Kong Babylon, pemeo demikian nyaris dianggap sebagai kebenaran dengan banyak gagalnya film-film (kebanyakan genre horor, fiksi ilmiah, dan laga) yang dimaksudkan sebagai cult kebanyakan gagal di pasaran.

Wes Craven adalah salah satu contoh sineas yang tentu saja tak pernah menyangka karyanya menjadi cult dengan melejitkan tokoh Freddy Krueger menjadi ikon. Contoh lain, tentu saja disambut hangatnya film-film produksi Cannon Films. Nyaris ketika duet produser Israel Menahem Golan dan Yoram Globus masih aktif, film-film perang Vietnam-nya seperti trilogi Missing in Action (1982-1987) hanya dianggap sebagai hiburan semata dibandingkan film sejenis seperti The Deer Hunter yang sarat permenungan atau Rambo sekalipun yang dibuat dengan semangat “film kategori A”. Begitu era keemasan mereka berlalu, dunia mulai sadar hadirnya cult movie seperti itu sangat bersuara pada zamannya. Masyarakat seketika merasa seperti mempunyai “ikatan batin” dengan film-film semacam itu, walau mungkin pada masa film tersebut sedang beredar, karena adalah hiburan pelipur lara saja bisa jadi ia tidak menontonnya!

Untung kegagalan Shocker masih bisa ditebus lewat Vampire in Brooklyn (1995) dan tentu saja trilogi Scream (1996-1999). Untuk Vampire in Brooklyn yang dibintangi komedian Eddie Murphy, ia bahkan terlihat memamerkan kekuatannya memadukan komedi, fantasi dan horor yang sudah ditampilkannya dalam Shocker dan (tentu saja walau sedikit) di Nightmare. Vampire in Brooklyn sendiri dibuat Wes dengan mengusung semangat blaxploitation, genre yang nyaris jarang disentuh kebanyakan sineas, apalagi yang sudah punya nama dalam genre horor.

Kegagalan Wes Craven yang nyaris serupa dengan Shocker adalah Dracula 2000 dan Wishmaster. Walau Wes tak terlibat sebagai sutradara (ia menjadi produser pelaksana) dua film tersebut yang dibuat dengan bujet tinggi itu gagal lantaran karakter dan kisahnya tak lagi mengundang pesona. Kedua film tersebut dikalahkan ikon horor baru seperti Candyman dan Jeeper’s Creepers selain Hollywood sendiri yang tengah mengalami pergeseran tren dengan ramai-ramainya mengangkat tokoh komik dan video game ke layar lebar atau kembali mengangkat tema-tema binatang (Anaconda, They Nest) atau disaster (kecelakaan/bencana alam) seperti Daylight dan Dante’s Speak.

Sedangkan dalam Scream, nama Wes Craven baru terbilang berhasil mengulang sukses kedua kalinya secara fenomenal yang belum ditandingi sutradara spesialis horor lain. Dalam Scream ia berkolaborasi dengan penulis skrip Kevin Williamson yang juga menulis skrip I Know What You Did Last Summer.

Lewat trilogi Scream ia disebut-sebut sebagai pengangkat genre teenage movie ke dalam aroma horor dan suspens yang mencekam. Scream yang sarat dengan aktor-aktris muda seperti Neve Campbell (Party of Five), Jerry O’ Connell (My Secret Identity, Sliders, Joe’s Apartment dan Stand By Me) , Skeet Ulrich, dan Jada Pinkett ini pun illustrasi musiknya pun bergaya MTV sehingga banyak menuai epigon seperti Valentine, The Craft, Buffy The Vampire Slayer, Charmed, I Still Know What You Did Last Summer dan banyak lagi.

Kesuksesan Scream seolah mematahkan pemeo bahwa untuk membuat film yang mampu menjadi cult hanya terjadi satu kali dalam kehidupan seorang sineas dan produser film. Wes berhasil mengulang sukses kedua kalinya walau dalam Scream ia tak punya ikon lagi seperti Freddy Krueger dan Horrace Pinker. Kepada Sean M. Smith dari Premiere, Wes berujar, “Apa yang menakutkan saya adalah jika terbangun saya menemukan kesuksesan Scream hanya mimpi saja,”

Sukses Scream membuat Wes untuk “kabur” sejenak ke film drama Music of The Heart. Music of The Heart (1999) dibintangi aktris kondang Meryl Streep, Aidan Quinn, Gloria Estefan dan Angela Bassett. Usaha Wes tak sia-sia. Film ini berhasil menyabet 2 nominasi Oscar untuk Meryl Streep aktris terbaik dan original song.

Nama Wes Craven sendiri sebagai sineas bolehlah tak sebanding dengan Martin Scorcese, Francis Ford Coppola atau Steven Spielberg yang selalu mendapatkan piala di pelbagai ajang film-film internasional, pun James Cameron, Sam Raimi, dan Ridley Scott yang setelah mengawali kariernya di film-film hiburan kemudian mendapat tawaran menangani pelbagai proyek film “raksasa”. Tapi untuk menyebut jagat horor yang sampai mengalami 2 kali masa keemasan dengan hadirnya ikon (Freddy Krueger/Nightmare on Elm Street) dan tren remaja (trilogi Scream) hanya bisa menyebut Wes Craven.

Memang Wes tak sampai menggondol piala Oscar ataupun penghargaan Palem Emas di Cannes, tapi ia telah mengukir prestasi tersendiri yang ternyata belum dicapai sineas horor lain seperti John Carpenter, Dario Argento, Sean S. Cunningham/Victor Miller, George Romero dan Tobe Hooper. Nama Wes Craven bahkan lebih tepat disejajarkan dengan Alfred Hitchcock yang juga mengukir prestasi tersendiri dalam genre horor dengan menuai pelbagai pujian dari kritikus kondang sekelas Roger Ebert dan Harry Knowles, walau tak satupun piala Oscar pernah diraihnya.

Kutukan Freddy di Dunia Nyata

Kalau Wes Craven kondang sebagai sutradara dan kreator Freddy, bagaimana dengan Robert Englund, aktor yang menghidupkan Freddy? Ternyata walau sekilas nasibnya sepertinya sukses, karier keaktoran Englund nyaris terbelenggu oleh Freddy. Film-film lainnya nyaris tak pernah dibicarakan walau Wes sudah menempatkannya sebagai aktor kesayangan dengan mengajaknya ke dalam Dracula 2000, Wishmaster dan berbagai film lain. Kesuksesan Nightmare nampaknya secara tak langsung “membelenggu” sehingga ia nyaris “hanya” diterima jika tampil sebagai Freddy! Nampaknya aktor yang kini sudah berusia 55 tahun ini harus puas “menerima takdir”nya sebagai Freddy Krueger seperti Christopher Reeve yang sangat berhasil menghidupkan Superman, Peter Weller yang menghidupkan karakter Robocop, pun Mark Hamill yang berperan sebagai Luke Skywalker dalam Star Wars. Mereka cenderung dilupakan jika tampil dalam film lain.

Nasib serupa juga dialami Heather Langenkamp, pemeran Nancy dalam jilid pertama dan ketujuh Nightmare. Aktris cantik yang kini berusia 39 tahun ini sempat dinobatkan majalah Empire sebagai “ratu horor” seperti halnya Linda Blair yang sukses lewat The Exorcist, Jamie Lee Curtis di Halloween, Neve Campbell dalam Scream dan Sigourney Weaver dalam Alien. Sayang, nasibnya kurang lebih sama dengan Robert Englund sehingga ia tak bisa lepas dari karakter Nancy. Padahal Heather cukup aktif dengan banyak terlibat di film-film teve. Kepada Reuters ia mengaku bosan disebut-sebut sebagai Nancy. Uniknya, dalam Wes Craven’s New Nightmare, kebosanannya tersebut benar-benar diutarakannya ke dalam film itu. Dalam film tersebut Heather blak-blakan bilang ingin main film drama saja. Ya, Heather memerankan dirinya sendiri. Dalam film tersebut dikisahkan Wes Craven tengah mengumpulkan beberapa aktor-aktrisnya untuk membuat kembali New Nightmare. Tapi kengerian yang diciptakan di studio ternyata menjadi kenyataan. Suami Heather yang kebetulan bekerja sebagai pembuat spesial efek tewas. Freddy Krueger bangkit ke alam nyata menghantui pemeran Nightmare sesungguhnya.

Wes Craven’s New Nightmare memang dimaksudkan Wes Craven episode paling akhir dari legenda terror Freddy Krueger. Ia mengolahnya sebagai fiksi dalam fiksi, sebuah kengerian yang subtil dan mengejutkan.

Satu-satunya aktor yang lepas dari “kutukan” Freddy Krueger adalah Johnny Depp. Padahal perannya kurang berarti sehingga penonton cenderung lebih teringat pada Heather Langenkamp dan Robert Englund saja. Johnny Depp perlahan menjadi aktor kelas satu setelah tampil di serial teve 21 Jump Street yang benar-benar melejitkan namanya dan film-film box office seperti Heathers, Edward Scissorhands, Sleepy Hollow, From Hell, Donnie Brasco, dan Pirates of Caribbean.

Heather Langenkamp dan Robert Englund boleh saja mengeluh kariernya terbelenggu gara-gara main dalam Nightmare. Tapi hal itu tak berlaku pada Johnny Depp. Bahkan sebagai “tanda terima kasih” kepada Nightmare ia bersedia menjadi cameo dalam Freddy’s Dead: The Final Nightmare yang disutradarai Russell Mulcanny. Perusahaan New Line Cinema yang memproduksi Nightmare pun memasang nama Johnny Depp dengan besar, sebesar nama Heather Langenkamp dan Wes Craven di dalam DVD A Nightmare on Elm Street dengan mencantumkan “featuring the stars: Johnny Depp”.***

Filmsiana lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org