
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() Foto:afff.nl “Tet! Tet! Autobus!!!”
Awalnya, saya agak sedikit bingung ketika petugas Pathe Tuschinski, Amsterdam, menghadang saya yang mau memasuki pintu gerbang bioskop tertua di Belanda itu. “Tolong tas dan jaket dititipkan dulu di sebelah saja,” ujarnya sambil menunjuk sayap kanan yang berubah menjadi tempat penitipan barang. Saya sejenak berpikir, “ada apa ini?” Bukankah saya cuma mau menonton saja? Setahu saya, penitipan barang di negeri ini hanya untuk konser musik, sepakbola, dan masuk ke museum. Begitu saya masuk Zaal 1, studio terbesar dengan dua tingkat balkon, baru saya ngeh. Bersama sutradara Joko Anwar (yang mentraktir saya malam itu) dan kontributor Jakarta Post, mahasiswa Phd Universitas Amsterdam Alpha, Amirrahman, saya merasakan pengalaman menonton yang berbeda dari yang pernah saya alami sebelumnya. Acara itu bernama The Night of Terror, bagian dari tradisi Amsterdam Fastastic Film Festival, sebuah ajang menonton empat film bergenre fantasi (horor, fiksi sains, anime, cult, fantasi, dan thriller) semalam suntuk, bahkan hingga pukul 08.00 pagi. Sekilas, saya teringat tradisi old and new di Jakarta masa 1980-an sampai 1990-an, untuk merayakan malam tahun baruan. Saat jam menunjukkan pukul 00.30, Minggu, 13 April 2008. Begitu panitia keluar untuk membuka acara, suasana riuh. Teriakan membahana dari berbagai penjuru. Rol tisu toilet yang panjang-panjang berseliweran di udara, dari mana-mana, kertas-kertas sobekan berkilauan dilemparkan. Pemandu acara berusaha meneruskan pembicaraannya, tapi apa daya gemuruh suara mengalahkannya, walau dia sudah memakai mikrofon. Selama lebih dari lima menit, MC mencoba bicara tapi tetap tertelan keramaian. Baru setelah seorang panitia datang membawa mikrofon yang suaranya lebih keras dari kerumunan itu, baru ia bisa menjelaskan jadwal acara dan lainnya. Tapi, tetap saja, para penonton, yang sebagian berpakaian aneh-aneh, tetap melanjutkan cemoohan dan makian. Sebuah film pendek pemenang kontes menjadi korban “huuuuu” pertama. Kegiatan lainnya, Scream Queen Contest, tentu juga terkena dampaknya. “Di Jakarta, saat Screamfest, penontonnya juga antusias seperti itu,” ujar Joko. Tapi saat pemutaran film pertama, [REC] ( Jaume Balagueró, Paco Plaza, 2007 –film zombie dengan pendekatan seperti Diary of the Dead, Cloverfield, atau Blairwitch Project), penonton tak menunjukkan tanda-tanda mereda, Joko melanjutkan pendapatnya,”…tapi kalau film diputar, kita harusnya diam. Ini mah sudah tahap menganggu,” lanjutnya. Tapi kami lama-lama memaklumi tradisi itu. Dua film lainnya, Hatchet (Adam Green, 2006, komedi-slasher) dan, yang terbaik, Inside ( Alexandre Bustillo, Julien Maury, 2007, thriller tentang wanita hamil tua yang diteror psikopat yang menghendaki anaknya), juga diperlakukan sama. Tentu saja mereka akan bertepuk tangan dan berteriak kesenangan kalau ada adegan seru seperti pembantaian, pembunuhan, atau hadirnya sosok antagonis. Teriakan-teriakan cemoohan itu antara lain, "Achter je! Homo!" (“Di belakangmu! Homo!”), “Pas op dat schaap!" (“Hati-hati domba itu!”), serta “Sterf dan Hoer!” (“Matilah kau pelacur!”). Yang paling sering adalah makian berbau diskriminatif, “Homo!”, yang membuat saya heran, mengingat Amsterdam adalah ibukota gay dunia dan pernikahan sejenis legal di sana. Ada juga suara-suara suitan dan peluit yang mengeluarkan suara erangan bayi. Tetapi yang mengganggu adalah klakson terompet yang berbunyi keras macam yang ditiup para hooligan sepakbola. “Tet! Tet!”. Dan, setiap orang yang mendengar ini, sepertinya ada kewajiban tak tertulis untuk menjawabnya:”Autobus!”. “Ini adalah tradisi kebanggaan kami,” ungkap salah seorang relawan yang menyebarkan angket di hari penutupan. Tradisi ini berawal 23 tahun lalu, saat Weekend of Terror bermula di Alhambra Theater, bilangan Weteringschans. Itulah kali pertama para penggemar film-film slasher berkumpul dan dengan serius menikmatinya, sedangkan para jurnalis dan pencinta film seni mengacuhkannya. Bahkan mereka punya situs tidak resminya di Situs: weekendofterror.nl. Kegilaan hooligan film fantasi ini sudah dari awal terlihat. Misalnya, saat sutradara Tim Burton hadir dan memberikan tanda tangan, banyak juga yang datang dengan kostum sesuai karakter di film-film Burton. Sayang, kasus saya dengan Madonna di Berlinale terulang, Burton harus pergi ke konperensi pers di saat saya (yang mengantri sejak 45 menit lalu) sudah tinggal menunggu sekitar 7-10 orang untuk berhadapan dengan dia. “Saya bertemu dengan Depp di sebuah coffeeshop,” ungkapnya saat Q&A sesaat sebelum Edward Scissorhands diputar. Dan penonton pun tertawa, dan itu membuat Burton melanjutkan kalimatnya:”…tapi bukan coffeeshop yang ada di sini, lho...” Maklum, coffeeshop di Belanda adalah tempat untuk menghisap hashish dan ganja sepuasnya secara legal (setelah membayar tentunya). “Tapi tentu saja kami juga beberapa kali melakukan hal-hal seperti di coffeeshop di sini,” imbuhnya. Film Burton lainnya yang diputar adalah Ed Wood dan Sleepy Hollow. Setelah Inside, kami sepakat untuk pulang, mengingat di hari itu ada pemutaran dua film Indonesia di penutupan Cinemasia, dan Joko menjadi pembicara di situ. Waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi, subuh belum lagi tiba. Inilah sebuah pengalaman fantastis sebagai bagian dari hooligan film fantasi Belanda. “Tet! Tet!” “Autobus!!!!” |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |