Klik gambar untuk memperbesar

Kota Pertama:
Gerilya 3 Cities Short Film Festival di Pontianak

oleh Amin Sabhana
Pegiat Boemboe Forum

Mengawali pelaksanaannya dari ujung barat Borneo, traveling film festival dua tahunan Boemboe yang dikenal dengan 3 Cities Short Film Festival (selanjutnya ditulis dengan 3 Cities) akhirnya berhasil terlaksana di Pontianak. Di kota yang dibangun oleh Syarif Abdurrahman pada 1192 Hijriah ini, 3 Cities yangdilaksanakan pada 15-16 Maret 2008 terpusat di PKM Universitas Tanjungpura, yaitu universitas negeri terbesar di Pontianak. Festival ini bekerja-sama dengan mitra lokal, Yayasan Bidar, organisasi komunal yang didominasi anak muda dan berkonsentrasi pada pengembangan seni, kesusasteraan, sosial, budaya, dan pendidikan bagi masyarakat di Pontianak.

Banyak hal menarik terungkap selama pelaksanaan dua hari festival, yang menggambarkan secara faktual minat dan respon masyarakat lokal terhadap kegiatan film di propinsi ini.

Pelaksanaan Festival

Sebelum 3 Cities resmi dibuka sore hari pada hari pertama, panitia lokal membuat sesi tambahan berupa pemutaran film pendek lokal yang dimulai pada pukul 10 pagi. Meskipun tidak termasuk program 3 Cities, pemutaran ini tidak saja dimaksudkan sebagai ajang unjuk gigi filmmaker lokal dalam memperkenalkan karya terbaru mereka, tapi juga sebagai ruang dialog imajiner antara karya film pendek lokal Pontianak dengan karya lainnya yang diputar selama festival.

Selain program tambahan tersebut, panitia lokal juga adalah memutar bumperKalimantan Film Festival 18-20 Juli 2008 selama pelaksanaan 3 Cities. Hal ini tentunya positif guna menciptakan suasana festive selama 3 Cities berlangsung.

Hari pertama festival di tandai dengan hujan deras dan angin kencang yang melanda Pontianak sejak pukul 15.00 hingga 21.00 malam. Walaupun mundur satu jam, festival diputuskan tetap dibuka oleh Amin Shabana dari Boemboe pada pukul 16.00 WIB. Tanpa bermaksud menyalahkan gejala alam sebagai kendala, pengaruh cuaca ini tidak hanya memengaruhi jumlah penonton, tapi juga kualitas karya yang diputar.

Saat itu, suara hujan dan angin seakan berlomba dengan audio yang keluar dari setiap karya yang diputar di gedung yang berkualitas akustik lemah. Alhasil, penonton kesulitan memahami adegan yang sarat dengan dialog-dialog panjang. Setelah program pertama Surat dari Jawa selesai diputar, seluruh penonton tampaknya sulit dimobilisasi untuk datang kembali di sesi berikutnya yang didahului dengan break hampir satu jam. Melihat kondisi yang sulit ini, akhirnya Boemboe dan panitia lokal sepakat untuk mengubah jadwal dua program berikutnya keesokan harinya.

Hari kedua diwarnai dengan serunya dua acara Bedah Film. Bedah Film pertama dimulai pagi hari, sebagai bagian dari sesi tambahan festival yang diadakan oleh Yayasan Bidar. Dua orang pembuat film asal Pontianak hadir saat pemutaran film. Mereka adalah Rendy dengan filmnya Loper the Lover, dan Debby dengan film berjudul Ganteng. Pemutaran karya dari setiap pembuat film dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan seluruh penonton yang hadir. Dari kedua karya fiksi tersebut terlihat adanya sebuah gaya komedi kocak pada film-film Pontianak yang mungkin akan menjadi gaya khas film pendek kota ini.

Sementara bedah Film kedua dilaksanakan setelah pemutaran program film Rasa Internasional. Bedah film ini menjadi acara pamungkas dan penutup 3 Cities di Pontianak dengan menghadirkan dua pembuat film sebagai pembicara yang karyanya turut diputar di festival ini. Mereka adalah Perdana Kartawiyudha (Surabaya) yang kini sedang kuliah di FFTV IKJ; dan Rayhan Bayu Wicaksono (Pontianak) dengan filmnya, Belajar (Bukan Lelucon). Pembuat film kedua asal Pontianak ini membuat karya dengan kamera digital yang copy-master-nya berupa memory card. Bersama Retno sebagai moderator (Yayasan Bidar) dan Lulu Ratna (Boemboe), sesi diskusi ini menjadi sesi yang cukup efektif dalam mengeksplorasi denyut perkembangan film pendek di Pontianak.

Bedah Film mengangkat berbagai pertanyaan serius tentang bagaimana sebenarnya film Pontianak dapat menyuarakan isu lokal serta mengenai hak cipta lagu yang digunakan sebagai ilustrasi film Pontianak. Kedua topik ini cukup terbahas, terutama dengan hadirnya kawan-kawan dari Canopy, sebuah lembaga yang giat membuat film dokumenter di Pontianak. Hasil yang kami peroleh dari kota pertama Pontianak, walaupun tidak terlepas dari berbagai kekurangan, membuat kami cukup optimis memasuki kota kedua Banjarmasin pada 20-21 Maret 2008 nanti.

Merasakan Denyut Film di Pontianak

Terlepas pengaruh gejala alam selama berlangsungnya acara, pelaksanaan 3 Cities memberikan deskripsi kontekstual terhadap pertumbuhan dan perkembangan produk seni dan budaya yang dikenal dengan nama film di kota equator, Pontianak.

Meskipun tidak sebesar 2 kota pelaksana 3 Cities lainnya (baca: Banjarmasin dan Balikpapan), Pontianak cukup beruntung karena memiliki bioskop jaringan 21 di jalan protokol Ahmad Yani. Saat ini, tampaknya bioskop tersebut menjadi lokasi yang paling strategis bagi publik lokal dalam menyaksikan karya film yang bernilai komersial tinggi. Meskipun penonton lokal cenderung memilih karya film dari negeri sendiri, namun demikian angka penonton film di kota ini masih jauh dari potensi yang dimilikinya.

Rasa estetika dalam mendorong minat publik dalam menonton suatu karya film di bioskop sangat dipengaruhi oleh popularitas karya yang dibangun pencitraannya oleh media lokal. Selebihnya, publik lebih memilih membeli karya bajakan yang tersebar di berbagai sudut kota Pontianak. Kondisi ini ini juga umum terjadi di kota lainnya.

Di luar bioskop (yang menciptakan film sebagai produk dagangan yang memiliki nilai ekonomis tinggi), tampaknya geliat kegiatan film di Pontianak masih terbilang minim. Sampai saat ini, kegiatan film di luar mainstream masih terhitung dengan jari. Indikator lain yang terlihat adalah hanya beberapa komunitas yang secara konsisten menggiatkan denyut perfilman di kota ini. Seperti diketahui tanpa adanya dukungan yang maksimal dari pemerintah pusat dan daerah, komunitas film merupakan medium yang efektif dalam menggerakkan perkembangan film di daerah-daerah. Lihat saja bagaimana maraknya minat publik terhadap film di Jogjakarta karena didorong oleh komunitas film yang jumlah puluhan itu. Di Pontianak sendiri, sampai saat ini dua organisasi komunal yang dikenal cukup aktif dalam menularkan minat publik lokal terhadap dunia film adalah Yayasan Bidar dan Canopy Indonesia.

Salah satu alasan pemilihan Yayasan Bidar sebagai mitra lokal penyelenggara 3 Cities adalah ambisi besar yang dimiliki dalam menyelenggarakan festival film lokal terbesar di Pontianak. Ternyata ambisi ini diwujudkan dengan melaksanakan festival film dua tahunan, yang dikenal dengan nama Kalimantan Film Festival sejak tahun 2006 lalu. Harapan terhadap festival ini tentunya dapat menjadi menjadi tolok ukur dalam mengevaluasi perkembangan film lokal dan kualitas pembuat film lokal terhadap daerah lainnya di Indonesia. Selain itu, festival yang ditujukan sebagai ruang budaya alternatif bagi para pembuat film, komunitas film, dan publik lokal diyakini sangat efektif dalam menemukan lokalitas dan identitas masyarakat Kalimantan melalui film. Rencananya, di tahun ini festival ini akan mengundang film dari Malaysia dan Brunei.

Selain Yayasan Bidar, gerilya dalam mensosialisasikan film di Pontianak juga dilakukan oleh Canopy Indonesia. Berbeda dengan Yayasan Bidar, aktualisasi yang dilakukan Canopy Indonesia adalah melalui kegiatan produksi film dokumenter, film pendek, dan penyelenggaraan workshop audio-visual sejak tiga tahun belakangan ini. Meskipun terbilang tidak mudah, namun beberapa workshop dan kegiatan film berhasil dilaksanakan secara gerilya.

Canopy Indonesia sendiri diisi oleh filmmaker lokal yang cukup berhasil menunjukkan eksistensinya dalam ajang festival film Dokumenter, EAGLE AWARD yang dilaksanakan oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional di Indonesia. Selama ini kegiatan film yang dilakukan di Pontianak berlokasi di ruang-ruang budaya, seperti museum dan taman budaya dengan agenda yang tidak rutin.

Dampak dari situasi ini adalah denyut kegiatan film di Pontianak masih sangat minim. Hal ini terbukti dengan jumlah penonton yang datang ke acara 3 Cities selama dua hari. Meskipun demikian, melihat minat beberapa filmmaker lokal (yang sebagian masih SMU) yang berpartisipasi dalam 3 Cities bukan tidak mungkin kondisi ini dapat berubah.

Karya lokal dapat dijadikan sebagai indikator keberhasilan gerilya yang dilakukan oleh Yayasan Bidar dan Canopy Indonesia dalam mengembangkan film di daerah mereka. Itu artinya penularan “demam” membuat film yang disertai dengan kegiatan apresiasi (berupa pemutaran) merupakan proses awal yang tidak saja menjadi pekerjaan rumah bagi Yayasan Bidar dan Canopy Indonesia saja, tetapi juga bagi semua pihak yang mengharapkan film tidak hanya sebagai produk dagangan semata, akan tetapi sebagai identitas lokal masyarakat Pontianak kepada publik di luar kota ini.

Mari….

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org