
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
|
Catatan dari 35 th Festival International du Film Indépendant
Anehkah kalau saya bilang, kita, orang Indonesia, ternyata bukan penonton film yang antusias? Mungkin saya salah. Entahlah. Saya tidak pernah begitu menyadari ini sampai minggu lalu, di International Film Festival Independent di Brussels, Belgia, dari 4-9 November 2008. Festival ini tidak besar, tapi unik. Sepanjang sejarah festival ini berlangsung, penontonnya tidak pernah lebih dari 50.000 orang. Lepas dari persoalan sponsor dan kurangnya dana, festival ini berani memutar film untuk umum secara gratis sambil tak lupa memanjakan penontonnya dengan terus menerus menyediakan minuman dan cemilan yang juga gratis. Pihak penyelenggara sadar betul, bahwa tanpa harus membeli tiket pun sulit untuk mendatangkan penonton lebih dari jumlah yang saya sebutkan di atas. Pertama, karena tidak pernah ada ‘nama besar’ –setidaknya menurut standar penduduk Brussels– di festival ini. Kedua, karena film-film yang diputar sebagian besar berasal dari negeri-negeri ‘berantah’ dengan jejeran nama-nama sutradara yang juga bikin para Bruxellois –sebutan untuk penduduk Brussels– kepleset lidah sambil mengerutkan kening. Ketiga, karena direktur festival, Robert Malengreau, tidak pernah mau membuat festival ini jadi komersial. Segala fasilitas dan sponsorship sepanjang festival ini jarang dinegosiasikan dengan duit, tapi murni karena ikatan pertemanan. Malengreau juga juga tidak pernah kapok untuk terus mendatangkan film-film dari ‘luar sana’. Salah satu upayanya untuk membuat festival ini terus berlangsung meski punya masalah dengan dana adalah dengan mengajak perwakilan-perwakilan dan pihak kedutaan dari berbagai negara yang filmnya diputar untuk berpartisipasi secara aktif dalam bentuk apa pun. Misalnya, mendatangkan para pekerja film yang terlibat, mengundang pembicara untuk presentasi tentang kondisi perfilman, serta kritikus untuk berpartisipasi dalam penjurian film-film dari negeri mereka. Bahkan berpartisipasi dalam bentuk menyediakan minuman dan makanan kecil untuk penonton. Dan, tentu saja, panitia selalu mengajak masyarakat dari negeri muasal sebuah film dari luar yang bermukim di Belgia dan sekitarnya untuk turut meramaikan festival ini. Nah , tahun ini, festival film yang sudah menginjak usia 35 tahun menghadirkan Indonesia sebagai negeri fokus. Artinya Indonesia mendapat tempat lebih dari negara-negara lain dalam hal jumlah film sekaligus juga mengajak pemerintah Indonesia untuk ikut menjadi sponsor acara. Di sinilah hobi baru saya untuk mengamati penonton bermula. Saya beruntung –sekaligus ketiban pulung– diajak berpartisipasi dalam festival tahun ini. Sebetulnya, tugas saya hanya sekadar memberi saran dan informasi kepada panitia. Informasi tentang film-film keluaran terbaru di Indonesia, siapa-siapa saja yang bisa diundang untuk menjadi juri atau pembicara, dan pekerja film yang diajak hadir di festival ini. Tugas ini akhirnya menjadi panjang dan lebar karena di minggu-minggu terakhir sebelum dimulainya festival, pihak kedutaan Indonesia di Belgia menyatakan tidak bisa mengundang para sutradara, aktor dan artis maupun pembicara untuk hadir meramaikan acara. Alasan utama mereka: karena waktu yang sudah terlalu mepet untuk mengurus visa dan dokumen lainnya. Padahal, praktis, pihak kedutaan kita itu tak perlu repot terlalu banyak. Daftar sineas dan orang film sudah diberikan sejak lama, biaya yang harus dipikul pun hanyalah tiket saja karena akomodasi ditanggung panitia. Inilah cermin birokrasi kita. Malengrau bersikeras untuk “play it by the book”, taat aturan, sehingga tak mau jalur belakang langsung ke duta besar. Sejak kemenangan Nia Dinata di festival ini tahun lalu, dan diputuskan Indonesia jadi fokus festival tahun ini, saya mengemban amanat untuk kasak-kusuk bekerjasama dengan kedutaan melalui jalur resmi. Banyak janji diberi, tapi saat pelaksanaan malah tak ada yang terwujud. (Duta besar sendiri, tampak kaget di malam penghargaan, karena negara lain mendatangkan sineas dan insan film mereka, dan ia tak tahu-menahu bahwa insan film kita diundang juga.) Ndilalah , semua rencana dan susunan acara untuk program Indonesia terpaksa dirombak total. Dampaknya, panitia harus memutar otak agar masyarakat Indonesia di Belgia tetap hadir dan bersemangat meramaikan festival ini walau tanpa embel-embel ‘bisa bertemu langsung dengan Garin Nugroho, Riri Riza, Aryo Danusiri, Nicholas Saputra dll. Caranya, memberikan tiket kepada kedutaan kita di sana. Kemudian, pihak kedutaan akan mendistribusikannya langsung kepada masyarakat Indonesia di Belgia. Siapa saja yang pernah menyelenggarakan acara pemutaran film pasti paham betapa pentingnya kehadiran penonton. Tapi sebagai orang Indonesia, saya sadar, kita tidak bisa dimasukkan kategori sebagai masyarakat penonton film. Jadinya, selama acara festival ini berlangsung, jantung saya terpaksa bekerja lebih cepat dari biasanya. Apalagi setiap menjelang jadwal pemutaran film Indonesia, mulai dari Opera Jawa, 3 Hari Untuk Selamanya, Playing Between Elephant, dan dua film pendek Dalam Diam serta Seperti Ikan. Sebagai negeri fokus, masyarakat Indonesia di Brussels mendapat tempat 20-30 % dari total kapasitas ruang utama atau sekitar 200 penonton –pemegang paspor hijau di Belgia berjumlah kurang lebih 1500 orang. Dengan adanya penonton Indonesia berada di tengah-tengah penonton lain, panitia berharap akan ada interaksi antarpenonton untuk menjelaskan tema film yang ditonton. Apalagi dengan tidak hadirnya pekerja film Indonesia di tengah-tengah acara, setidaknya ada yang bisa menghidupkan suasana. Ternyata, bahkan dengan tiket gratis pun, penonton Indonesia yang datang untuk menonton film Indonesia tidak pernah lebih dari 15 orang, yang biasanya terdiri dari staf kedutaan dan satu dua orang mahasiswa atau ekspat Indonesia. Bandingkan dengan pemutaran film Mesir The Baby Doll Night atau film asal Maroko, Les Jardin de Samira. Pemutaran dua film yang juga dihadiri oleh sutradara dan bintang utamanya tersebut terpaksa melibatkan polisi untuk berjaga-jaga karena penonton yang menyemut hingga membuat jalanan macet di depan gedung. Mereka bahkan rela duduk menonton film di tangga karena kursi yang sudah penuh. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pembuat film itu, The Baby Doll Night adalah film yang bisa bikin sakit kepala, dan Les Jardin de Samira bukanlah film yang istimewa. Tapi usai pemutaran film, ruangan terasa bergetar-getar dengan gempita tepuk tangan –bahkan standing ovation– yang lama, diikuti dengan gumaman berbahasa Arab. Penonton-penonton lain yang bukan berasal dari Mesir atau Maroko akhirnya ikutan bertepuk tangan dengan semangat meski tidak mengerti. Panitia terpaksa ‘mengusir’ penonton agar mengosongkan ruangan untuk pemutaran film selanjutnya. Usai diusir pun, penonton asal Mesir dan Maroko masih menyemut di ruang aula yang lain tempat sejumlah makanan kecil khas Mesir serta teh khas Maroko disediakan oleh pihak kedutaannya. The Baby Doll Night dan Les Jardin de Samira jadi terasa istimewa karena antusiasme mereka menanggapi film-film itu. Meski tidak semeriah penonton-penonton Arab, penonton asal Filipina pun tak kalah bersemangat. Merekalah yang bertepuk tangan paling keras di akhir film ketika penonton lain masih ragu-ragu untuk memberikan applause. Tahun ini, dua film asal Filipina, Torototkarya Maryo J De Los Reyes serta Brutus karya sutradara muda Tara Illenberger ikut meramaikan festival ini. Kedua sutradara ini datang bersama aktor-aktor serta produser mereka. Sementara, film-film Indonesia selalu mendapat sambutan ragu-ragu dari satu dua orang yang juga tidak yakin. Untung saja suasana lesu yang dibawa oleh penonton Indonesia ini selalu terselamatkan dengan sambutan dari penonton-penonton lain. 3 Hari Untuk Selamanya, misalnya, mendapat teriakan “Bravo!” dari penonton; dan Playing Between Elephant serta dua film pendek Dalam Diam dan Seperti Ikan menghadirkan gelak tawa dari yang hadir malam itu. Dalam hal penonton, yang paling membuat saya khawatir tentu saja Opera Jawa. Film Garin Nugroho ini jadi film pembuka festival dan penontonnya pun penonton dengan undangan khusus. Saya tidak peduli dengan tanggapan penonton lain karena saya sadar, seperti yang pernah ditulis rekan saya Hikmat Darmawan, memang sukar menikmati Opera Jawa. Tapi, betapapun membosankannya Opera Jawa bagi sebagian orang, saya sempat optimis dengan penonton Indonesia malam itu. Pertama, karena Opera Jawa diputar di malam pembukaan yang dihadiri juga oleh sejumlah undangan dari kantor kedutaan-kedutaan asing. Saya berharap ada rasa solidaritas antar sesama masyarakat Indonesia untuk memeriahkan sekaligus menghargai kehadiran film ini di Brussels. Seperti kata sutradara asal Filipina, Tara Illenberger, “Saya bangga sekali film saya ada dalam daftar festival ini bersama dengan Opera Jawa. Film ini film langka dan sangat terkenal.” Sayangnya, penghargaan Tara dan optimisme saya terpaksa kandas. Kenikmatan acara pembukaan itu terganggu dengan teriakan anak-anak yang merengek minta pulang, sinyal-sinyal jaringan telepon seluler yang berseliweran, sampai mereka yang asyik ber-SMS-an serta ngobrol. Yang paling membuat sedih, dua dari staf kedutaan Indonesia yang duduk di jejeran kehormatan keluar dari ruangan sebelum film berakhir sambil meninggalkan suara gedebuk tanda kursi yang ditinggalkan. Semangat rekan saya Eric Sasono, yang bilang bahwa f ilm punya nilai penting secara budaya dan film lahir dalam sebuah setting besar yang dihadapi oleh para pembuatnya, rasanya masih jauh dari pertimbangan mereka. Untung saja Duta Besar RI untuk Belgia, Nadjib Riphat Kesoema betah menonton hingga akhir dan bahkan memberikan tepuk tangan yang pertama usai film berakhir. Setidaknya ini sedikit menghibur. Kalau tidak, mungkin saya sudah membenturkan kepala saya ke tembok. *** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |