Klik gambar untuk memperbesar

Festival De Cannes 2008
Bienvenue à Cannes !
oleh Asmayani Kusrini
Redaktur Rumahfilm.org, Cannes

 

Sore, 13 Mei 2008.

Tempat: Kereta TGV, gerbong 6, kursi nomor 74 disebelah jendela

Teriakan kencang melengking “bienvenue...bienvenue...bienvenue” tak henti-henti itu membangunkan saya dari tidur singkat. Perjalanan ini sebetulnya tidak melelahkan, tapi duduk ditempat yang sama dengan kereta langsung dari Brussel ke Cannes sepanjang kurang lebih 5 jam membuat saya tidak bisa menahan kantuk.

Suara ribut-ribut dari dua bocah kecil yang duduk dibelakang saya terpaksa membuat saya tegak kembali di tempat duduk. Pemandangan di luar sudah berganti. Dari daerah dengan tanah yang cenderung rata, ke daerah Mediterania yang berkontur dan berbukit-bukit terjal. Nun jauh, di antara bukit-bukit terlihat rumah-rumah warna tanah menyembul diantara rimbun belukar.

Kadang terlihat jejeran ladang-ladang anggur-anggur yang berbaris rapi, lalu berganti dengan daerah berbatu-batu. Tak lama kemudian, setelah melewati stasiun kereta St. Raphael, nun dikejauhan sana, cahaya matahari terpantul-pantul, berkerlap kerlip diatas air. Di beberapa tepinya terlihat jajaran yacht mewah, sementara agak jauh ketengah, kapal-kapal pesiar yang lebih besar tertambat menyebar dan seperti titik-titik putih dibatas horison. Cannes sudah didepan mata.

Rasanya tidak percaya, RumahFilm terdaftar di festival bergengsi ini. Tahun lalu, saya ingat, RumahFilm masih dalam kandungan. Ide untuk membuat sebuah situs khusus yang serius membahas segala hal tentang film, masih sebatas diobrolkan via pesan singkat alias sms. Waktu itu masih ada keraguan, situs di dunia maya masih dianggap media kelas dua dan cenderung terlihat gampangan dibanding media cetak yang pastinya diolah lebih serius.

Tapi di Festival Film Cannes tahun lalu saya membuktikan, bahwa situs dunia maya pun bisa dianggap serius dan –apalagi jaman sekarang-- jauh lebih efektif. Tahun itu, mereka kemudian memberikan kurang lebih 30% akreditasinya kepada media-media online. Dan bahwa media online pun bisa dianggap sebagai media kelas satu, juga bisa terlihat di Cannes.

Dan seperti ibu hamil pecah ketuban, Festival Film Cannes adalah peristiwa 'pecah ketuban' untuk RumahFilm. Mungkin tidak hanya RumahFilm tapi juga banyak media lain yang lahir dipicu oleh fakta bahwa Cannes –yang bisa jadi tolok ukur trend perkembangan media-- ternyata membuka ruang lebih lebar lagi bagi situs-situs film serius. Dan menjawab pertanyaan Direktur Jakarta International Film Festival, Lalu Rosiari, “RumahFilm sudah bisa terakreditasi di Cannes?”. Jawabannya, Bisa, dengan B kapital. BISA.

Bocah kecil yang tadi membangunkan saya terus saja berteriak-teriak “Bienvenue... bienvenue... !”. Saya berbalik kearahnya, sambil mencubit pipi tembemnya, saya bilang, “Merci beaucoup !”.

Putih, Merah, Biru, Kuning

Berada dalam antrian pre-akreditasi Cannes juga adalah pengalaman yang menegangkan. Dalam hati setiap wartawan yang ada dalam antrian pasti punya pertanyaan sama, “Warna kartu apa yang akan diterima tahun ini?”. Bukan rahasia lagi kalau Festival Film Cannes menentukan posisi setiap wartawan (dan juga media) seperti strata dalam masyarakat Hindu: golongan Brahmana, Ksatria, Waisa atau Sudra.

Masuk dalam golongan Brahmana ditandai dengan kartu putih. Mereka adalah para kritikus kelas satu yang sudah punya nama, macam Roger Ebert. Selain itu, para penerima kartu ini juga berasal dari media-media hiburan dan film bernama besar seperti Variety, The Hollywood Reporter, Cahiers Du Cinema, atau Positif.

Sementara masuk dalam golongan Ksatria adalah para penerima kartu merah (atau lebih tepatnya jambon). Dalam golongan ini antara lain para wartawan dari media harian dengan oplah besar (pada umumnya koran harian). Wartawan masuk dalam kelas ini sangat ditentukan dengan jumlah oplah medianya dan seberapa produktif mereka menulis. Arya Gunawan dari Indonesia yang sudah lima belas kali ke festival ini untuk berbagai media seperti Harian Kompas dan BBC biasanya mendapat kartu ini.

Lalu golongan Waisa alias masyarakat biasa tapi diperlukan kehadirannya diberi kartu berwarna biru. Kartu ini diberikan pada umumnya kepada media-media mingguan, bulanan, atau situs online. Penentuan ini ditentukan juga dari oplah dan jumlah hit, plus seberapa produktif wartawannya menulis tentang Cannes.

Dan tentu saja ada kelompok Sudra yang ditandai dengan kartu kuning. Setiap wartawan dalam antrian juga pasti punya doa yang sama, “Tuhan, jangan sampai saya mendapat kartu kuning”. Kartu kuning tidak jelek juga sebetulnya. Kartu ini diberikan kepada teknisi-teknisi televisi, wartawan-wartawan dari media-media kecil atau media gosip dengan oplah kecil dan produktifitas kecil. Kartu kuning juga diberikan kepada media-media baru yang masih dalam penjajakan seberapa efektif mereka memperkenalkan festival ini kepada pembacanya.

Seperti juga dalam strata masyarakat Hindu, makin tinggi golongan, maka makin tinggi juga prioritas dan kesempatan untuk selalu bertemu para 'dewa' dan 'raja', yang dalam hal ini para sutradara dan bintang-bintangnya. Karena itu warna kartu menjadi sangat penting.

Kartu putih berarti para dewa dan para raja biasanya justru mengharapkan kehadiran anda di meja makannya. Kartu jambon dan biru berarti anda harus melewati sejumlah proses dan kadang butuh waktu, tergantung situasi dan suasana hati para dewa dan raja serta penasehat-penasehatnya (para penghubung media dari masing-masing rumah produksi), dan tidak lupa keberuntungan juga berperan.

Kartu kuning bisa berarti jangan mimpi untuk mendapat waktu bertemu. Dan bisa juga berarti mendapat kesempatan paling belakang dan paling lama menunggu dalam setiap acara press screening, press conference, pesta, dan acara-acara khusus lainnya.

Yang paling apes adalah mereka yang 'diturunkan derajatnya'. Di Festival Cannes, naik turunnya derajat adalah hal biasa. Seorang wartawan asal India mengomel tak habis-habisnya karena 'turun derajat', dari warna jambon ke warna biru. 'Penurunan derajat ini bisa diartikan sebagai peringatan, “menulislah lebih banyak lagi”. atau juga bisa berarti para ahli media di Cannes menganggap media anda tidak cukup produktif memuat artikel tentang Cannes yang dicek lewat artikel-artikel yang wajib anda kirimkan saat mendaftarkan diri.

Ada lagi bentuk kartu dan warna yang lain tapi tidak masuk dalam strata 'masyarakat film' ala Cannes. Seperti kartu oranye untuk fotografer, kartu biru terang untuk industri, dan kartu abu-abu untuk filmgoers dari sekolah-sekolah film, atau institusi khusus. Untuk fotografer dengan kartu oranye bisa berarti anda tidak punya akses untuk menonton film (kecuali sesi khusus yang jarang terjadi). Sementara kartu lain, biasanya mereka diberi jadwal sendiri dengan daftar film-film yang juga terbatas dan tidak tergabung dalam strata utama.

Dan ketika giliran saya hampir tiba, kartu kuning terbayang-bayang dikepala mengingat RumahFilm masih merupakan media baru dengan jumlah hit yang tentu tidak bisa menyamai jumlah hit Variety Online, misalnya. Kartu jambon apalagi putih tentu jauh dari jangkauan. Tapi saya berusaha menghibur diri, menghitung-hitung berapa banyak artikel yang saya tulis tahun lalu. Dan saudara-saudara sekalian....RumahFilm mendapat kartu BIRU! Sama dengan Thaicinema.org olahan kritikus Thailand yang terkenal di Negara-negara Asia Tenggara, Anchalee Chaiworaporn. Saya akhirnya bisa bernafas lega dan pasang senyum dimana-mana. Bayangan antri dibawah terik matahari setiap kali menghadiri sebuah acara, langsung hilang.

Sehari sebelum acara pembukaan resmi, kota Cannes belumlah terlalu padat. Poster-poster raksasa masih dipasang, kios-kios sementara masih dibenahi, area Marché Du Cinema alias pasar film juga masih berantakan. Sejumlah apartemen yang persis menghadap Grand Palais juga masih dihias. Spanduk-spanduk baru mulai dibentangkan dari setiap teras. Kamera-kamera televisi sedang diatur dari berbagai sudut-sudut diketinggian. Cannes sedang siap bersolek untuk acara pembukaan besok malam.***

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org