
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() Phillip Seymour Hoffman ( Synecdoche, New York ) ![]()
Festival De Cannes 2008
Bukannya saya tidak tertarik dengan kehadiran Madonna di Cannes. Tapi belakangan , saya punya kecurigaan terhadap aksi-aksi kemanusiaan yang dilakukan para bintang tenar. Di Cannes, Madonna hadir untuk mempromosikan film dokumenter terbarunya I Am because We Are, tentang anak-anak penderita AIDS di Malawi -- kebetulan Madonna mengadop seorang anak Malawi , maka boleh jadi ia merasa punya kepentingan --. Dalam film ini, Madonna menjadi eksekutif produser, penulis skenario sekaligus pengisi suara. Nathan Rissman , sutradaranya, adalah tukang kebun Madonna. Saya bukannya ingin merendahkan status tukang kebun yang kemudian menjadi sutradara. Tapi saya miris mendengar Madonna menempatkan Rissman sebagai sutradara tapi toh yang berkeliling kemana-mana adalah Madonna. Yang berbicara dimana-mana adalah Madonna. Maksud saya , kenapa tidak sekalian saja Madonna yang jadi sutradara? tak perlu 'sok mau mengangkat status' tukang kebun segala . Belum lagi klaim bahwa niat membuat dokumenter ini adalah untuk membuat orang peduli tentang penderita AIDS di Malawi sekaligus mengumpulkan dana untuk membangun sekolah-sekolah di negeri bagian tenggara Afrika itu. Hellowwww. .. kita bicara tentang Madonna yang kekayaannya sanggup membeli Malawi. Yang membuat saya makin skeptis adalah di malam yang sama, sebuah mega pesta diselenggarakan di salah satu hotel termahal di Croisette yang sewa tempatnya saja 40.000 hingga 150.000 dollar Amerika per-meja. Disitu, Madonna ngumpul dengan teman se-geng nya seperti Sharon Stone, Christian Slater, Diane Kruger, Dennis Hopper dan banyak lagi selebriti dunia lainnya. Mega pesta berjudul Cinema Against Aids gala itu juga mengundang hampir 60% wartawan yang hadir di Cannes, menghabiskan ratusan botol champagne dan banyak makanan yang harga keseluruhannya bisa membangun 2 atau 3 sekolah keren di negara miskin. Di Cannes, 'aksi kemanusiaan' dan acara pengumpulan dana selalu jadi salah satu agenda utama. Tapi, s epertinya para bintang menunggu festival film Cannes untuk berbuat mulia. George Clooney misalnya pernah melelang ciuman seharga 350.000 dollar –lagi-lagi-- untuk membantu masyarakat miskin di Afrika. Dengan honor jutaan dollar, tuan Clooney rupanya masih merasa perlu 'melacur' atas nama kemanusiaan. Saya tidak menentang pengumpulan dana atas nama kemanusiaan. Itu adalah aksi mulia. Tapi perlukah gegap-gempita-gemerlap ini dilakukan? Kalau ingin berbuat baik, ya berbuat baik aja. Tidak perlu menunggu Cannes. Tidak perlu pasang gaya untuk di foto lalu mendapat judul setengah halaman. Karena itu ketika mendapat undangan untuk hadir di pesta Cinema Against Aids, saya tidak sanggup pergi meski dengan embel-embel bisa bertemu Madonna langsung. Perdana Kaufman, Kebanggaan Singapura, dan Kembalinya Wenders Tahukah anda mengapa Charlie Kaufman memilih judul Synecdoche, New York untuk debut pertamanya sebagai sutradara? “Karena nyebutnya asyik,” kata Kaufman sambil menarik-narik rambut ikalnya. Synecdoche, New York seperti Ethernal Sunshine Of The Spotless Mind adalah salah satu dari sedikit film dengan alur cerita rumit yang saya sukai. Sebetulnya, Synecdoche tidak rumit-rumit amat. Kalau harus menyimpulkannya dengan singkat, film ini tentang kegelisahan hidup, dan tentang kesepian yang sangat. Karakter utama Caden Cotard , diperankan oleh Phillip Seymour Hoffman , adalah seorang sutradara teater yang kebingungan dengan hidupnya. Istrinya membawa lari putri mereka satu-satunya. Ia menderita alergi yang aneh. Kehidupan cintanya tak berjalan mulus sehingga ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyiapkan sebuah pertunjukan teater spekatkuler yang membutuhkan waktu seumur hidup untuk diselesaikan; Dititik inilah -- seperti umumnya scenario- skenario Kaufman sebelumnya -- Kaufman bermain-main dengan struktur dan bentuk. Antara realita dan panggung teater. Jangan tanya Kaufman tentang hal-hal filosofis dalam filmnya. Karena jawabannya selalu 'tidak tahu'. Kaufman adalah tipikal pemikir yang menuliskan apa saja yang terlintas dipikirannya kemudian menyusunnya menjadi se buah cerita tanpa mau terbebani masalah logika. Oh... dan ada film Singapura My Magic karya Eric Khoo tentang pesulap yang harus berjuang mendapatkan kepercayaan anaknya kembali. Dibandingkan Synecdoche , My Magic jauh lebih ringan dan mudah dicerna. Seperti juga Be With Me film Eric Khoo sebelumnya , My Magic adalah film manis yang menyentuh meski tidak istimewa. Dan akhirnya ada film terbaru Wim Wenders, The Palermo Shooting yang didedikasikan untuk Ingmar Bergman dan Michaelangelo Antonioni; Gabungan antara Seventh Seal (Bergman) tentang kematian dan Blow Up (Antonioni) tentang fotografer dipadu dengan kegilaan Wenders menggunakan elemen-elemen kontemporer plus musik rock 'n roll sepanjang film. Satu kata saja dari saya untuk film ini : wooooowww ! Eh, ternyata ada juga film Perancis yang tidak tipikal Perancis (yang suka sok nyeni dan sok intelek) di seksi kompetisi; Judulnya Entre Les Murs ( Between Walls atau The Class ) karya sutradara Perancis Laurent Cantet. Film ini tidak pretensius dengan subjek yang jarang disentuh sutradara Perancis lain , yaitu pendidikan di sebuah sekolah di pinggiran Paris dengan murid beragam ras, agama dan warna kulit. Siapa Yang Menang? Semua film kompetisi sudah dipertontonkan. Dan tibalah saatnya menebak-nebak. Ini adalah kebiasaan menjelang festival berakhir. Spekulasi mulai beredar, Palem Emas akan diberikan kepada siapa? “Film favorit saya tidak punya kesempatan menang.” atau “Film favorit saya tidak akan menang”. Atau “Saya rasa film A akan menang karena blah...blah...blah...”. Begitu percakapan yang mewarnai hari terakhir sebelum acara penutupan besok malam. Sebetulnya saya tidak punya kapasitas untuk menebak-nebak. Sejauh ini, sebagian film-film favorit saya terjungkal di ujung pena para kritikus. Mulai dari Linha De Passe, Delta hingga Serbis yang dibantai habis (kecuali Jean-Michel Frodon dari Cahiers Du Cinema yang secara mengejutkan memprediksi Serbis akan mendapat Palem Emas). Sepertinya saya tidak punya intuisi untuk hal-hal seperti ini. Jadi saya hanya akan bercerita soal fakta sejarah dalam hal penjurian. Mengingat Sean Penn sebagai presiden juri, banyak yang memprediksi bahwa film-film berlatar politik bakal diuntungkan . Sejauh ini Waltz With Bashir karya Ari Folman yang kental dengan seruan anti perangnya adalah kandidat utama. Prediksi ini wajar dan terasa mudah ditebak karena sikap politik Sean Penn. Tidak mudah hilang dari ingatan ketika Quentin Tarantino menjadi presiden juri ditahun 2004 dan ia menyerahkan Palem Emas kepada Michael Moore untuk dokumenternya Fahrenheit 9/11. Kala itu 'ejekan' sinis beredar di Perancis, tak perlu Tarantino yang jadi juri, siapapun yang mendukung kampanye John Kerry tahun itu tentu akan memberikan Palem Emas kepada Michael Moore yang jelas-jelas mengancungkan telunjuknya ke hidung George W. Bush. Nah tahun ini, mungkin saja hal semacam berlaku lagi mengingat karisma Sean Penn sangat menonjol di deretan juri. Selain Palem Emas, selebihnya penghargaan akan dibagi merata. Sej ak peristiwa Roman Polanski menganugerahkan 3 penghargaan untuk Barton Fink karya Coen bersaudara pada 1991 -- yang membuat Lars Von Trier ngambek berat -- festival fil m Cannes menetapkan aturan baru: Sebuah film hanya boleh mendapat paling banyak 2 penghargaan. Dua penghargaan inipun tidak boleh dibagi sembarangan. Jika film A mendapat Palem Emas maka penghargaan kedua hanya boleh diberikan untuk Artis atau Aktor Terbaik di film yang sama. Toh, a turan ini pernah dilanggar oleh Patrice Chereau (sutradara film dan teater) yang memberikan Palem Emas sekaligus Sutradara Terbaik bagi Gus Van Sant untuk film Elephant pada 2003. Konon, i tu karena Chereau mengancam akan mengundurkan diri sebagai presiden juri kalau keputusannya untuk memberikan dua penghargaan utama kepada film favoritnya itu dibatalkan. Para juri juga bisa memutuskan dua pemenang untuk satu penghargaan jika mereka tidak bisa mendapatkan kata sepakat untuk dua film yang sama kuat. Ah, tapi FIPRESCI sudah menetapkan pemenang yang diumumkan tadi sore: Delta karya Kornel Mundruczo ditetapkan sebagai pemenang di seksi kompetisi. Untuk seksi Un Certain Regard, pemenangnya diberikan kepada Hunger karya Steve McQueen sementara di seksi Quinzaine Des Realisateurs (Director's Fortnight), FIPRESCI award diberikan kepada Bouli Lanners utnuk filmnya Eldorado . *** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |