
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() ![]()
Festival De Cannes 2008
Malam nanti Palem Emas akan diberikan kepada film yang beruntung. Sejak pagi, ibu kos kami di Cannes, Madame Prise sudah sibuk bersiap-siap mengantri tiket di kantor pariwisata. Seperti penduduk Cannes yang lain, Madame Prise tak mau ketinggalan menonton pemenang Palem Emas. Meski gerimis mengguyur Cannes pagi ini, di jalan-jalan banyak terlihat moviegoers mengancungkan kertas atau karton, memohon tiket untuk menyaksikan film-film di seksi kompetisi yang hari ini diputar serempak di berbagai venue. Koran-koran pagi sudah beredar dengan versi Palem Emas nya masing-masing. Media-media Italia memberikan Palem Emas kepada Il Divo. Koran-koran Belgia memberikan Palem Emasnya kepada The Silence Of Lorna. Media Perancis memberikan Palem Emas kepada Entre Les Murs. Min Liu, wartawan dari Movie World Perancis menjagokan The Silence of Lorna, Three Monkeys dan Waltz With Bazir. Tan Chui Mui, sutradara perempuan Malaysia yang juga hadir di Cannes menjagokan Three Monkeys dan The Silence Of Lorna. Gertjan Zuilhof, programmer di festival film Rotterdam, menjagokan Three Monkeys, My Magic, dan Serbis. Alicia Garcia, pemegang kartu putih dari News Agency EFE Spanyol menjagokan Changeling, Leonera dan Adoration. Sementara para kritikus dari Cahiers Du Cinema tak punya suara bulat. Masing-masing punya jagoannya sendiri. Setiap orang menunggu. Rumor-rumor beredar. Kabarnya pihak festival menelpon Dardenne bersaudara yang sudah pulang ke kampung halamannya untuk kembali ke Cannes. Ini berarti mereka akan mendapatkan sesuatu. Sementara berita dari mulut ke mulut yang paling seru adalah permintaan Sean Penn untuk memutar kembali Serbis khusus untuk para juri. Berita yang dilansir oleh AP itu makin membuat suasana menegangkan. POJOK INDONESIA; Sekedar Gengsi ? Mengapa tidak membuat laporan khusus film Indonesia dari Cannes? Pertanyaan sederhana ini diajukan oleh seorang rekan yang membagi dua laporannya dari Cannes. Laporan Festival Film Cannes secara umum, dan laporan dari negerinya secara khusus. Saya ingin sekali membuat laporan khusus tentang Indonesia yang makin saya cintai setelah saya tinggalkan. Masalahnya apa yang harus saya tulis? Saya beri contoh Singapura. Negeri singa itu memboyong sutradara-sutradara muda berbakatnya ke Cannes, diharuskan hadir setidaknya 2 atau 3 jam di booth rumah produksi masing-masing atau di pavilliun Negara mereka untuk menerima tamu. Tiap hari selalu ada kegiatan. Humas masing-masing juga rajin mengirim email ke semua wartawan yang hadir di Cannes, mengundang mereka untuk datang. Undangannya macam-macam, kadang terdengar lucu: Anda tahu Eric Khoo? Filmnya masuk kompetisi tahun ini. Ingin tahu lebih banyak tentang sutradara paling berbakat dari Singapura ini? Silahkan datang ke booth kami. Atau simak email dari booth Jepang: Anda ingin menikmati sake gratis sambil bertemu dengan sutradara-sutradara berbakat kami? Silahkan datang pada jam sekian…dan begitu seterusnya. Email setiap wartawan yang hadir di Cannes masuk dalam daftar para peserta Marché Du Cinema hingga setiap humas cukup hanya membuat satu email dan langsung mengirimkannya ke setiap orang tanpa perlu membuat undangan formal yang tentunya lebih mahal. Dari Thailand pun demikian. Lepas dari perseteruan antara pemerintah dan para filmmaker independen mereka (ikuti wawancara RF dengan Apicatphong Weerashetakul), toh pemerntah Thailand sadar betul akan pentingnya membangun citra di dunia internasional. Sutradara-sutradara plus kritikus asal Thailand diboyong oleh pemerintah, disewakan sebuah apartemen dimana mereka menginap bertumpuk tapi selalu siap berada dilingkungan Palais. Pertimbangannya adalah, hanya mereka yang bisa menjelaskan proyek-proyek film mereka untuk para investor potensial. Daripada mengirim delegasi pemerintah yang hanya tahu soal aturan dan pasal-pasal undang-undang, lebih baik filmmaker nya sendiri yang didatangkan dan disebar untuk mencari dana atau membangun network. Hampir setiap hari rekan saya dari Thailand menghadiri acara-acara yang diselenggarakan oleh negaranya. Sutradara-sutradara asal Thailand digiring kesana kemari untuk bergaul, entah itu diacara-acara yang diselenggarakan oleh festival-festival Internasional atau diacara-acara Masterclass tentang bagaimana mendapatkan dana untuk film-film mereka. Sementara yang datang dari Indonesia? Well… Saya terus terang iri sekali dengan rekan saya itu. Kadang saya menunggu menerima email atau undangan dari pojok Indonesia. Tapi undangan itu tak pernah mampir. Kadang saya pikir, saya kurang gaul karena itu tidak mendapat undangan dari mereka. Setelah tanya sana sini, ternyata memang tak ada kegiatan apa-apa kecuali pemutaran Ayat-Ayat Cinta di Arcades untuk para calon pembeli. Selebihnya, yang ada hanya booth yang berdiri dan terlihat lesu. Sesekali saya lewat dan hanya melihat penjaga booth yang duduk termenung. Mungkin karena booth ini baru berdiri dua tahun, jadi memang belum paham situasi. Tapi kalau melihat nama yang mewakili booth ini: Persatuan Produser Film Indonesia rasanya aneh juga jika mereka tak tahu cara ‘berjualan’. Saya tidak meragukan niat mulia pemerintah kita untuk memperkenalkan budaya Indonesia . Tapi mbok ya yang serius gitu loh! Sudah datang jauh-jauh, mendirikan booth yang harga sewanya tidak murah, tapi kerjanya –maaf-- setengah-setengah. Suatu kali saya datang berkunjung. Saya disodori sebuah majalah, Cinema Belge yang memasang iklan Independent International Film Festival Brussels dengan tema Indonesian New Cinema plus bendera Indonesia di tengah-tengah iklan tersebut. Dengan bangga mereka bilang, “Ini atas upaya kita nih; Kita kan bangga, film Indonesia akan dijadikan fokus di festival ini”. ‘Upaya kita?’. Kepala saya langsung pening. Seingat saya, panitia festival tersebut berani memasang iklan itu berdasarkan sebuah daftar yang pernah dikirim oleh Hikmat Darmawan dan Ekky Imanjaya dari RumahFilm. Dengan daftar itu (yang terdiri dari sekian film feature dan film pendek), plus kredibilitas nama dua orang yang saya sebutkan tadi, penyelenggara festival ini yakin bahwa film-film Indonesia bermutu itu ADA dan bisa diperoleh. Apalagi dengan pengalaman mendatangkan film Berbagi Suami ke Belgia tahun lalu. Maka iklan pun berani mereka dipasang sebelum festival film Cannes agar majalah itu bisa tersebar di Pasar film, dengan harapan bisa mendapatkan semua materi, negosiasi dan berbagai hal-hal detail lainnya di booth Indonesia . Lalu suatu hari, tiba-tiba salah seorang panitia dari Independent International Film Festival Brussels itu menelpon saya dan mengeluhkan bahasa Inggrisnya yang buruk. Karena itu ia minta ditemani untuk berkunjung ke booth Indonesia . Dia panik dan curiga jangan-jangan daftar yang dipegangnya salah tulis judul karena hampir semua film-film itu tak tersedia di booth. Maka kami pun berjanji untuk bertemu di pojok Indonesia itu. Dan tentunya bisa diduga, tak ada salah judul. Daftar yang dipegangnya benar seratus persen. Bayangkan, bahkan film Mereka Bilang Saya Monyet karya Djenar Maesa Ayu yang posternya lumayan besar dipampang juga tak dilengkapi dengan informasi. Tak ada flyer. Tak ada pamphlet. Tak ada informasi tentang sutradara. Tak ada apa-apa. Bahkan tak ada upaya promosi, setidaknya semangat menjelaskan tentang film ini. Hanya poster itu saja dan sebuah trailer yang digabung dengan semua trailer film film hantu keluaran rumah produksi MD; “Bagaimana dengan film-film pendek?” kata panitia festival itu lugu. Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua orang pun pasti berpikir, booth Indonesia berarti menampung semua film-film yang diproduksi Indonesia dan bukan hanya perwakilan dari kelompok tertentu. Saya hanya berusaha menenangkan dan menghibur rekan saya itu dengan bilang bahasa Inggrisnya tidaklah buruk. Hasilnya, dari sekitar 13 daftar film yang ada ditangan panitia tersebut, dia hanya pulang membawa satu buah press kit film The Photograph karya Nan T Achnas. Itupun diberikan oleh Shanty Harmayn sehari sebelumnya. RUANG PUTIH BEBAS KASTA Palais Du Cinema mungkin sebuah dunia kecil yang beroperasi menurut kasta. Tapi, didalamnya, ada sebuah ruang putih yang steril tak mengenal strata. Ruang favorit saya di Festival Film Cannes ini saya juluki warung putih, sebagian orang menyebutnya the white room atau ada juga yang menjulukinya warung wifi tapi lebih populer disebut Press Room. Ruang ini dijaga ketat hingga hanya pemegang kartu warna warni masyarakat Cannes lah yang boleh masuk, alias para jurnalis (dari berbagai media dan medium). Diruang ini, tidak ada istilah prioritas. Hukum rimba berlaku, siapa cepat dia dapat. Ruang ini dianggap sebagai 'rumah kami bersama' tempat pulang ketika segala tugas selesai, atau tempat beristirahat sejenak ketika sedang menanti tugas berikutnya. Ruang besar ini punya banyak bagian. Bagian utama ditata seperti kantor dengan meja-meja diatur berbagai rupa membentuk huruf L, U, atau I . Lalu ada bagian khusus, ditempat yang agak lebih tinggi, sofa-sofa empuk dikumpulkan. Dibagian lain yang jendelanya menghadap ke laut, mejanya diatur seperti bar sehingga setiap orang bekerja menghadap laut lepas. Didekat bar ini ada meja-meja bundar mirip meja makan. Lalu disalah satu sisi bagian utama terdapat bagian khusus tempat para fotografer menyerahkan foto mereka untuk di proses dan di cetak . Setiap orang bisa memilih tempat dengan bebas. Jika tak kebagian kursi atau meja, melantai tak masalah. Kalau sedang lelah dan ingin rebah, sofa-sofa empuk juga bisa digunakan. Motto tak tertulis untuk ruangan ini adalah: silahkan pilih, anggap rumah sendiri. The White Room ini juga dilengkapi dengan mesin fotokopi dan sudut kecil tempat para penghuni warung ini bisa memesan kopi gratis. Tahun ini ada sekitar 4000 wartawan yang datang dari berbagai penjuru angin. Entah itu berstatus penulis, fotografer, kameramen, presenter TV atau Radio. Entah itu jurnalis muda yang baru pertama kali datang ke Cannes hingga wartawan tua yang sudah puluhan tahun bertandang dan jadi pengunjung tetap Cannes . Mereka datang dengan membawa ‘kantor’ masing-masing; Kadang-kadang saya takjub dengan teknologi dan perlengkapan yang mereka bawa. Para fotografer dengan lensa sebesar bazooka tapi dengan isi liputan yang tertumpuk disebuah chip kecil. Atau para jurnalis TV yang mengedit langsung laporan mereka dilaptop mungil, lalu mengirim via satelit hanya dengan mendekatkan telepon genggam mereka ke hidung laptop masing-masing. Bisa anda bayangkan ada 4000 orang berkumpul disatu tempat, 'ngobrol' dengan laptop dan perlengkapan masing-masing, kadang mata saling memandang walau tak fokus, atau mata menerawang keberbagai arah. Boleh percaya boleh tidak, anda akan merasa seperti berada di rumah sakit jiwa. Mereka ini sekelompok manusia aneh yang hidup dalam gelembung masing-masing ketika sudah duduk menulis laporan. M enatap layar laptop masing-masing seperti menatap seorang lawan bicara dengan takzim, dan seperti tak terganggu dengan apapun yang terjadi disekitar. Disaat-saat tertentu, kala laporan sedang dikirim, atau saat foto para fotografer sedang di proses, mereka akan terlihat santai sejenak, berkeliling, saling bertegus sapa, menikmati kopi, atau bergosip. Diruang ini jugalah tempat saling berbagi ilmu, bertukar informasi, berbagi rahasia liputan antar para penghuninya. Dari ruang inilah saya tahu dimana spot yang aman mengambil foto para bintang. Bagi fotografer amatir seperti saya yang tak punya kartu fotografer, nyaris tak ada celah untuk bisa menembus birokrasi. Tapi di ruang putih ini, tips tersebar atas nama solidaritas. Pertemanan dadakan sudah jadi hal lazim. Cerita-cerita lucu dari para fotografer juga menjadi hiburan diwaktu senggang saat mereka baru selesai melakukan sesi foto. Mulai dari cerita Michelle Williams butuh peniti saat sesi foto, hingga soal para juri yang ngumpet entah kemana meski sudah dibuntuti sejak subuh. Nasehat dari para sesepuh juga bisa didengarkan disini. Kritikus film favorit saya, Jan Timmerman dari De Morgen misalnya memberi nasehat agar saya tak perlu menguber-uber Jean-Pierre dan Luc Dardenne. “Kita bisa ngobrol santai sambil minum kopi di rumah mereka di Liege,” kata Timmerman. Masuk akal juga. Dardenne bersaudara ini memang sangat mudah ditemui di Liege, kota kelahiran sekaligus tempat tinggal mereka sekarang. Menurut Timmerman, para sutradara-sutradara favorit di Cannes ini biasanya memang sengaja dilindungi berlapis-lapis untuk menambah prestisi. Bagi wartawan senior seperti Timmerman, hal-hal seperti ini sudah dilewatinya bertahun-tahun. Pengalaman mengajarkannya, lebih baik bikin janji diluar Cannes daripada sepanjang festival film berlangsung. “Bisa-bisa waktu kita habis hanya untuk menunggu,” katanya. Lebih baik nikmati pesta ini sepuas-puasnya. Di ruang putih inilah sebetulnya pusat dari energi positif festival film Cannes –setidaknya menurut saya--. Meski rasa kesal mewarnai suasana hati sepanjang hari, di ruang putih ini semua bisa reda. Semangat yang ditunjukkan oleh para senior yang sudah uzur jelas mempengaruhi semangat juang yang lebih muda. Walaupun setiap orang terlihat hidup di dunia masing-masing tapi rasa solidaritas tumbuh kuat tanpa disadari. Dan energi inilah yang membuat festival film Cannes bisa tetap segar diusianya yang ke 61. Solidaritas yang menjadikan hal-hal mengesalkan tak lagi berarti dan membuat sebagian besar mereka terus kembali setiap tahun. And The Winner is...
Detik-detik menunggu pengumuman itu menegangkan. Ruang putih yang tadinya tenang tiba-tiba seperti diserbu suara tawon. Wartawan-wartawan yang tadinya tenang mengetik atau mengirim foto, tiba-tiba serentak riuh saat layar televisi menayangkan langsung apa yang terjadi di ruang seberang. Para jurnalis lantas terlihat siap dengan blocknote ditangan, laptop yang sudah siap sedia menerima ketikan, para presenter TV yang gelisah mengoreksi make-up atau dandanan. Semua orang terlihat gelisah, tegang dan sibuk. Semua mata sepertinya tertuju ke layar televisi yang ada di ruang putih layaknya penggemar bola menanti tendangan penalty. Diluar sana , angin kencang bertiup tapi tak mempengaruhi suasana meriah. Thierry Fremaux terlihat sibuk menerima tamunya. Dibelakang, kami berdebar-debar. Satu-satu wajah para sutradara yang filmnya masuk nominasi tampil dilayar, mengikuti prosesi la montée des marches dengan wajah tegang. Dan pemenangnya adalah : Palme D'or Entre Les Murs oleh Laurent Cantet. Film Perancis yang diputar di hari terakhir festival. Ketika film ini disebutkan, sejumlah wartawan Italia ngedumel : politik ! apapun itu maksudnya. Entah ada hubungannya atau tidak, saat ini di Perancis memang sedang melakukan perombakan terhadap system pendidikan bagi imigran-imigran dan Entre Les Murs adalah sebuah gambaran bagaimana system pendidikan itu diterapkan dan apa dampaknya bagi siswa maupun bagi guru mereka. Gomorra oleh Matteo Garrone. Film Italia yang tak banyak disebut selama festival berlangsung tapi lantas membuat para wartawan Italia diruang putih bersorak kegirangan seperti ketika kesebelasan sepak bola mereka memenangkan pertandingan. diberikan kepada Catherine Deneuve ( Un Conte De Noel ) dan Clint Eastwood ( Changeling ) atas dedikasi mereka terhadap dunia perfilman. Hadirin terdiam maklum. diberikan kepada Nuri Bilge Ceylan untuk film Three Monkeys ; Para wartawan saling berpandangan lalu angkat bahu sambil bergumam: 'keputusan yang aneh'. Il Divo oleh Paolo Sorrentino. Lagi-lagi wartawan Italia bersorak girang. diberikan kepada Benicio Del Toro dalam film Che. Akhirnya seluruh wartawan serempak bertepuk tangan. Rupanya, untuk yang satu ini, semua sepakat. diberikan kepada Sandra Corveloni untuk aktingnya dalam Linha De Passe (salah satu film favorit saya). Saya bersorak girang sendiri, yang lain tak menanggapi. diberikan kepada teman sekampung dari Belgia, Jean-Pierre and Luc Dardenne untuk film The Silence Of Lorna; Selain itu juga diumumkan penghargaan lain yang sayangnya tidak semua saya tonton. Sean Penn nampak terlepas dari beban berat. Ia sendiri mengaku kesulitan menonton film secara marathon lalu harus memilih yang terbaik. . “I’m not a cinephile,” katanya usai acara penutupan malam itu. Secara pribadi, tuan Penn mengaku baru kali ini menonton film sebanyak itu. D an ia tak bisa menerima ide tentang film pemenang yang dianggapnya aneh. Jadi juri memang tak selamanya enak. *
Pesta itu usai sudah. Satu per satu masyarakat film meninggalkan Cannes . Karpet merah menuju katedral itu kotor tapi pasti akan segera digulung dan dibersihkan. Ruang putih mulai hening. Penghuni tetapnya selama dua minggu ini saling berpelukan, beberapa meneteskan airmata, mengucapkan terima kasih, selamat tinggal dan sampai ketemu tahun depan. *** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |