
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() ![]()
Festival De Cannes 2008
Semalam, Cathedral Of Cinema itu gemerlap dan riuh bergemuruh. Mobil-mobil mewah lalu lalang mengantar para tamu dengan pakaian resmi dan gaun-gaun malam karya desainer-desainer kondang. Segala bentuk permata, berlian, dan batu-batu berharga lainnya bertaburan melengkapi gaun para bintang. Dan Katedral itu pun terlihat megah, mewah dan gemilang. Padahal aslinya, gedung ini dijuluki The Bunker karena bentuknya yang memang mirip benteng pertahanan dan tempat persembunyian di jaman perang. Seorang rekan saya lebih kejam lagi menjulukinya ‘buntelan beton’. Secara estetis, gedung baru yang dibuka pada 1983 ini tidaklah fotogenik, jauh dari indah apalagi anggun. Meski mendapat julukan yang serba jelek, tapi harus diakui, bunker karya arsitek Bennet and Druet ini memang memenuhi fungsinya dengan efektif. Selain beberapa gedung teater (Grand Theater Lumiere, Salle Debussy, Salle Bazin, Salle Bunuel dan yang terbaru Salle du Soixantieme), The Bunker juga lengkap dengan fasilitas sirkulasi yang komplit seperti lift, eskalator dan toilet dan beberapa pintu masuk. Selain gedung teater, hampir sebagian besar bagian dalam buntelan ini bisa dibongkar pasang sesuai kebutuhan. Praktis, 'masyarakat film' Cannes tidak pernah meninggalkan gedung sepanjang hari kecuali jika mereka harus berganti ruang teater. Untuk pindah dari Grand Theater Lumiere ke Salle Debussy misalnya, harus keluar pintu, masuk pintu sebelah. Padahal didalam The Bunker, jarak antara Grand Theater dan Debussy hanya beberapa langkah. Tapi begitulah aturannya. Lantai bawah tanahnya digunakan sebagai area utama Marché du Cinema alias Pasar Film yang merupakan salah satu pasar film terbesar didunia. Wajah 'bangunan suci' dunia film ini persis betul merepresentasikan dunia showbiz yang sesungguhnya. Penuh polesan. Saya tidak sedang mengkritisi, hanya ingin menceritakan fakta. Pada malam ketika lampu-lampu blitz terlontar diudara seperti kembang api, ketika Gilles Jacob (Presiden Direktur Festival Film Cannes) serta Thierry Fremaux menyambut para tamu yang tampil seglamour mungkin, hanya dibatasi dinding, ribuan wartawan dibelakang panggung sibuk mengirim berita keberbagai belahan bumi. Sebagian duduk berleha-leha usai melewati hari yang panjang, sebagian ada yang menikmati makan malam melantai, sebagian lagi sibuk mengedit gambar, dan berbagai aktivitas lainnya. Tak ada yang terganggu dengan keriuhan diluar sana. Toh film yang mereka tonton sudah kami tonton pagi harinya. Segala informasi tentang film itu juga sudah atau sedang di proses di laptop-laptop. Namanya juga ritual tahunan, selalu ada prosesi. Karena prosesi itu sudah dimulai resmi semalam, maka pagi ini, masyarakat dari berbagai kasta sudah mulai melakukan 'kewajiban'nya masing-masing. Setiap hari akan dibuka dengan screening film kompetisi jam 8.30 pagi di Grand Theater Lumiere. Sebetulnya setiap film di Official Program akan diputar setidaknya 3 atau 4 kali sepanjang festival ini berlangsung. Pemutaran pagi, siang, sore dan malam. Setiap pemegang kartu bisa memilih tapi tentu saja harus sadar diri. Ingat warna kartu. Selain itu, kita juga harus ingat yang namanya festival, menonton satu film bisa berarti mengorbankan 2 atau 3 film lainnya. Bayangkan berapa film yang akan terlewat jika screening pagi tak dimanfaatkan. Prinsip utama yang harus dipegang teguh dalam setiap film festival, tontonlah film sebanyak-banyaknya yang anda bisa. Untuk bisa menjalankan prinsip itu, tentu saja setiap orang harus bisa mengatur jadwal sebaik-baiknya dan seefisien mungkin. Dengan warna kartu, setidaknya setiap pemegang kartu itu sadar betul berapa lama harus menunggu dalam antrian khususnya untuk film-film dengan nama-nama besar. Karena itu tidak heran jika terlihat ada wartawan tetap bekerja di laptopnya ketika sedang mengantri atau menunggu film dimulai. Karpet Merah dan Angelina Jolie Pagi ini saya berjalan diatas karpet merah. Membayangkan bagaimana rasanya berada dibawah lautan kilatan blitz. Enak juga rupanya. Di televisi nampaknya butuh waktu lama untuk melewati karpet yang tidak lebih dari 50 meter panjangnya. Karpetnya merah kinclong dan lumayan empuk. Saya injak-injak tak juga menyisakan bekas. Setiap pagi karpet merah ini dibersihkan. Kalau mau sombong sedikit, sebetulnya para bintang yang akan lewat karpet merah ini hanya menapaki sisa-sisa jejak kami, para wartawan. Film pertama yang saya tonton pagi ini adalah film kompetisi Leonora karya Pablo Trapero asal Argentina. Premis film ini sebetulnya cukup menjanjikan, tentang hubungan ibu dan anak yang lahir di penjara. Tapi Trapero terlalu bersemangat ingin menampilkan banyak sisi sehingga akhirnya premis filmnya meleleh kemana-mana. Setelah itu, pindah ke ruangan sebelah di Salle Debussy untuk menonton Tokyo!gabungan tiga film pendek dari 3 sutradara Bong Joon-Ho (ingat The Host?), Michel Gondry (ingat Eternal Sunshine of The Spotless Mind?), dan Leos Carax (ingat Les Amants du Pont Neuf?). Film ini masuk dalam seleksi Un Certain Regard. Film ini, lumayan lucu tapi bagi saya tidak istimewa. Sebetulnya, dalam agenda saya ada film Hungerkarya Steve McQueen diseksi Un Certain Regard juga yang berjarak hanya 30 menit setelah Tokyo!Menonton film itu akhirnya batal karena ada ... Angelina Jolie ! Saya hanya sekedar mampir di warung wi-fi lantai tiga untuk mengirim foto ke RumahFilm ketika tidak sengaja saya melihat jadwal di layar TV (yang tersebar dimana-mana dan berfungsi sebagai pengingat jadwal harian untuk para wartawan). Angelina Jolie datang bersama Jack Black dan Dustin Hoffman untuk mempromosikan film terbarunya Kung-fu Panda yang terdaftar di seksi Hors Competition (Out of Competition). Saya bukan penggemar Jolie, tapi saya ingat rekan saya yang pengagum berat cewek berbibir seksi itu. Tanpa sadar, saya sudah berhimpit-himpitan dengan para fotografer berbadan bodyguard untuk bisa memotret Jolie. Akhirnya, Hunger pun lewat sudah. Setelah itu saya menonton Three Monkeys karya sutradara Turki, Nuri Bilge Ceylan. Saya hanya suka ending film ini. Ceritanya sendiri lumayan klise dan mudah ditebak. Film Ceylan sebelumnya, Iklimer (yang juga masuk seksi kompetisi Cannes tahun 2006) menurut saya jauh lebih kuat. Usai menonton Three Monkeys, seperti biasa saat waktu menjelang malam, suara-suara histeris mulai terdengar. Itu berarti, di ruang sebelah, karpet merah sudah digelar kembali dan bintang-bintang mulai berdatangan. Kali ini kelompok Kung-Fu Panda mendapat kehormatan untuk melakukan ritual la monteé des marches. Setelah mengintip sejenak dari atas balkon, rupanya Angelina Jolie menggandeng Brad Pitt. Pantas saja histeria itu tak terbendung. Aturan Mengatur Jadwal “Mengapa kamu tidak menonton Three Monkeys?” tanya Jean-Pierre Tadros, wartawan senior asal Canada yang sudah meliput Cannes sejak tahun 1971. Ia salah satu kawan dadakan saya di Cannes. Hmmm...mengapa saya tidak menonton Three Monkeys? Karena sebelum berangkat ke Cannes, saya sudah melihat poster Kung-Fu Panda yang akan segera dirilis di Belgia, negara tempat saya tinggal. Alasan yang sama kenapa saya tidak akan menonton Indiana Jones and The Kingdom Of The Crystal Skull di Cannes. Ngapain nonton film yang sudah pasti jadwal rilisnya?. Setiap malam, empat screening guide yang berisi jadwal pemutaran film, saya gelar diatas meja. Keempatnya berasal dari seksi yang berbeda: Seksi Kompetisi Utama, Seksi Un Certain Regard, Seksi Director's Fortnight, dan Seksi Critic's Week. Tabrakan jadwal sering tak terelakkan. Kalau sudah begini, berarti ada bunga yang jadi korban. Helai-helai bunga sering jadi andalan, nonton A, nonton B, nonton A, nonton B... dan seterusnya. Atau kalau mau lebih logis, saya biasa bertanya ke roommate saya, Anchalee. Sejauh ini, tentu saja, film seksi kompetisi masih jadi prioritas utama. Mungkin saja ini bisa berubah.*** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |