
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() Ukus Kuswara (kiri), Damoo Punjabi (tengah) dan Gope T. Samtani (kanan) ![]()
Festival De Cannes 2008
Saya tidak pernah segembira ini melihat poster film. Seperti orang lapar dapat makanan, begitulah perasaan saya saat melihat poster film Ayat-Ayat C inta. Bayangkan, diantara ribuan poster asing yang tergantung hampir disetiap sudut Cannes, tiba-tiba ada nama dan bahasa yang saya kenal. Ayat-Ayat Cinta. Otak saya tidak perlu repot-repot mentranslasinya. Iklan film Ayat-Ayat Cinta juga muncul di majalah Variety, Screen, dan mungkin juga majalah lain yang tidak sempat saya lihat. Posternya ditemani kalimat yang cukupcatchy: A Beautifully Portrayed Islamic Love Story, Highest Grossing Film In Indonesian Cinema History danThe No.1 Hit Movie That Broke All Time Records. Gara-gara poster ini, saya dengan berat hati hanya bisa menonton dua film hari ini dan mengorbankan dua film lainnya untuk berkeliling Marché Du Film sambil menjenguk ' warung' Indonesia. Marché Du Film dibagi menjadi dua kawasan . Satu bagian di lantai bawah Palais Du Cinema (biasanya disewa oleh rumah-rumah produksi atau distributor), dan satu bagian di area terbuka dimana tersedia tenda-tenda putih yang disebut paviliun. Walaupun namanya terdengar keren, Marché Du Film di lantai bawah Palais tidak jauh beda dengan Glodok atau Mangga Dua, pasar yang selalu bikin saya tersesat tak tahu jalan keluar. Kalau anda sering ke Mangga Dua, pasti tahu maksud saya. Kios-kios berjejer, ditata semenarik mungkin dan poster-poster dipajang seterang mungkin dengan arus sirkulasi mirip labirin. Berkelok-kelok. Sementara paviliun diatur lebih mirip desa kecil dengan jalan utama . Paviliun biasanya disewa oleh pemerintah dan menjadi 'rumah' khusus yang tidak hanya memperkenalkan film masing-masing negara tapi juga lokasi-lokasi khas sebagai lokasi syuting – saat ini beberapa lokasi di Thailand paling banyak dilirik oleh produksi asing untuk membuat film horor . Sayangnya, berbeda dengan negeri lain, pemerintah Indonesia rupanya belum merasa perlu untuk menyewa paviliun. Jadilah yang ada cuma k ios Indonesia di lantai bawah. Kios Indonesia ini terletak di salah satu sudut pasar dan tidak jauh dari jalan masuk sehingga mudah ditemukan. Untuk terlihat menarik dipasang wayang golek sebagai penyambut tamu. “Orang-orang singgah tuh ya mikir wayang ini yang dijual,” kata Christina Windiyani, staff kedutaan yang sedang bertugas disitu. Tentu saja ia bercanda. Tapi wayang-wayang itu memang menarik , bahkan dari jauh. Dan firasat saya benar , hampir semua orang Indonesia yang berada di Cannes hari itu berkumpul di booth yang luasnya tidak seberapa itu. Selain seorang mahasiswa Indonesia, ada Lalu Roisamri dan Shanty Harmayn dari Jiffest yang saya jumpai sedang mendengarkan dengan hikmat Ukus Kuswara, Direktur Perfilman Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Ukus hadir untuk melihat situasi kios itu. Disampingnya, nampak raja sinetron Indonesia, Raam Punjabi. Pojok Indonesia ini sehari-harinya dijaga oleh Gope T. Samtani, yang mewakili Persatuan Produser Film Indonesia dibantu oleh beberapa staf dari kedutaan Indonesia di Perancis. Tak lama ikut bergabung Arya Gunawan yang baru tiba malam sebelumnya. Setelah itu bergabung saudara Raam, Damoo Punjabi. Keluarga Punjabi datang mengawal booth MD Pictures yang letaknya tak jauh dari pojok Indonesia. Menurut Shanty, sutradara wanita Nan Achnas juga sedang berada di Cannes dan kemungkinan Nia Dinata akan menyusul. Tahun ini, hanya dua booth itulah yang mewakili Indonesia . Pojok Indonesia yang dibiayai pemerintah itu ber jualan 21 film, sedangkan di booth- nya MD datang memboyong 8 film produksinya. Jadi secara keseluruhan ada 28 film Indonesia dijual di pasar Cannes . Film-film ini antara lain Ayat-Ayat Cinta, Nagabonar Jadi 2, Mereka Bilang Saya Monyet, Love is Cinta, Lost in Love, Get Married, Kala, dan tentu saja film-film horor. Selain itu ada juga film yang dibawa produser independen seperti Shanty Harmayn yang membawa sendiri filmnya The Photograph . Perkembangan produksi film dalam negeri dan seberapa besar apresiasi pemerintah sebuah negara terhadap film sebetulnya bisa diukur dari booth -- saya lebih suka menyebutnya warung atau kios karena memang besar ruangnya sangat terbatas-- yang ada di Pasar film. Sebagai perbandingan, negeri tetangga kita Thailand, punya 5 booth di pasar dan 1 paviliun yang disewa oleh pemerintah Thailand di Village International. Di paviliun inilah biasanya diadakan pesta-pesta kecil dengan mengundang berbagai kalangan industri dan seniman untuk saling mengenal perkembangan dunia film di negaranya. Dari Asia tahun ini yang paling giat adalah Singapura. Apalagi ada film karya Eric Khoo muncul di seksi kompetisi utama. Makin giatlah mereka mengundang . Biaya membuat kios memang lumayan mahal untuk mata uang rupiah. Harga sewa satu kios berkisar antara 10.000 hingga 20.000 Euro tergantung besaran dan desainnya ( ini hampir sama dengan biaya pasang iklan Ayat-Ayat Cinta di tiga majalah entertainment terbesar di dunia seperti yang saya sebutkan diatas). Tapi kalau ingat penghasilan Ayat-Ayat Cinta sebagai the highest grossing film in Indonesian cinema history , jumlah itu bukanlah angka yang seberapa bukan? Toh , kita patut bersyukur, karena kios Indonesia sudah berdiri sejak dua tahun terakhir ini. Pemerintah sudah berjanji akan membiayai kios ini sampai 3 tahun. Janji ini diucapkan oleh Jero Wacik, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang 2 tahun lalu berkunjung ke Cannes dan menyaksikan negara-negara As ia Tenggara -- termasuk Vietnam -- punya ruang untuk menjual film. Sementara Indonesia belum punya kios kecuali rumah-rumah produksi yang berinisiatif sendiri. Sejak krisis moneter, industri film Indonesia memang berhenti jualan film di pasar Cannes mengingat harga sewa kiosnya yang tidak murah. Dengan kunjungan Jero Wacik kala itu , akhirnya Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) berhasil membuat pemerintah mengucurkan dana agar setidaknya Indonesia punya kios. Uniknya , menurut pengakuan Gope T. Samtani, setelah berdiri, kios ini belum berhasil menjual satu film pun. “ Tapi peminat banyak,” kata Samtani. Tahun lalu misalnya selama pasar berlangsung, pengunjung kios ini sekitar 70 orang walaupun belum ada film yang terjual. Tahun ini, hingga hari kedua setidaknya tercatat ada 8 orang pengunjung menyerahkan kartu nama. “ Tapi tahun ini jualan memang sepi, bukan hanya di booth kita, di booth lain juga,” keluh Samtani. Hanya berselang satu kios diseberangnya, kioa MD Pictures yang lebih kecil dari kios Indonesia digawangi oleh Mita Nurani sebagai sales representatif. Senada dengan Samtani, Mita berujar peminat film-film MD lumayan banyak. Sudah ada yang terjual? “Peminat sudah ada, tapi kan kita tidak pernah deal disini. Biasanya disini mereka hanya nonton dulu, setelah itu kami email-emailan lagi, negosiasi lagi,” kata Mita sambil menawarkan permen rasa kopi buatan Indonesia . Sambil bercanda, pak Damoo menambahkan bahwa Ayat-Ayat Cinta akan mendapat penghargaan dari Muri sebagai film terlaris sepanjang masa sekaligus film terbanyak yang dibajak. Saya hanya senyum-senyum tapi mikir juga. Aneh juga ya Pojok Indonesia yang dibangun atas nama PPFI berdiri bersamaan dengan kiosnya MD Picture. Bukankah orangnya itu-itu juga?...hmmm, tau' ah. Gelap. Saya mau menonton film lagi... Animasi dan Film Lainnya Maaf, rasanya saya belum bercerita tentang film kompetisi Waltz With Bashir karya Ari Folman. Saya menonton film itu sebelum pembukaan hingga saya lupa menyebutnya lebih jauh. Agak mengejutkan bahwa film ini adalah film animasi dokumenter tentang perang. Pernahkah ada film dokumenter animasi? Rasanya belum. Jika dugaan saya benar, maka Waltz With Bashir mungkin film pertama dalam kategori ini. Waltz sendiri mengingatkan saya dengan komik atau novel grafis karya Joe Sacco, Palestine dan teknik animasi rotoscope ala Waking Life-nya Richard Linklater. Waltz adalah pengalaman personal tentang perang yang digambar sendiri oleh si pemilik cerita. Untuk Folman, Waltz adalah rekonstruksi kenangan buruk tentang perang Israel- Lebanon pada 1982. Struktur cerita Waltz disusun seperti permainan puzzle. Seperti pada umumnya dokumenter biasa, Waltz juga terdiri dari sejumlah wawancara dengan orang-orang yang pernah satu tim dengan Folman dalam perang itu terutama peristiwa pembantaian oleh tentara Israel di kamp penampungan Sabra dan Shatila. Semua orang yang diwawancarai digambar oleh Folman sendiri tapi muncul di layar dengan suara asli orang tersebut. Folman jelas tidak ragu-ragu mengemukakan statemen anti-perangnya yang blak-blakan. Menurut Arya Gunawan, kemungkinan besar film ini akan menang salah satu penghargaan utama mengingat pernyataan tegasnya soal perang dan Sean Penn sebagai presiden juri yang anti-Bush. Yang jelas, Waltz akan tercatat sebagai salah satu dokumenter perang yang tidak biasa dan biasanya prediksi Arya jarang meleset. Film lainnya yang sudah saya tonton adalah Un Conte De Noel karya Arnaud Desplechin di seksi kompetisi. Film yang bertabur bintang-bintang tenar Perancis antara lain Catherine Deneuve dan putrinya Chiara Mastroianni, Jean-Paul Roussillon, dan Mathieu Amalric (yang tahun lalu juga berakting gemilang di Le Scaphandre et e Papillon). Cerita kompleks tentang konflik antara keluarga besar yang ceritanya mengingatkan saya akan film Festen (The Celebration) karya Thomas Vinterberg. Un Conte De Noel bercerita tentang sebuah keluarga besar berkumpul untuk merayakan natal dan menemani ibu mereka yang sedang sekarat karena kanker. Hubungan tak akur antara orang tua dan anak-anak mereka menjadi inti cerita. Banyak dialog-dialog lucu dan acid serta permainan gemilang aktor dan artisnya yang menjadi nilai positif film ini. Sayangnya saya tidak bisa begitu menikmati film ini karena beberapa hal yang tidak saya mengerti. Kebencian Elizabeth terhadap saudaranya Henri, atau subplot cinta segitiga Sylvia, Simon dan Ivan yang terasa terlalu mengada-ada. Dan lagi-lagi saya 'melanggar' aturan dengan menonton Vicky Cristina Barcelona karya Woody Allen diseksi Out Of Competition. Lagi-lagi, Woody Allen membuktikan diri sebagai 'master' dalam mengolah hubungan pria dan wanita. Dibintangi oleh artis aktor ternama Hollywood seperti Scarlett Johansson, Rebecca Hall, Penelope Cruz dan Javier Bardem. Dan, masya Allah, anda tidak akan pernah menyangka betapa Javier Bardem (yang berperan sebagai psikopat bengis di No Country For Old Man itu) bisa juga berperan sebagai playboy. *** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |