
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() ![]()
Festival De Cannes 2008
Tentu saja setiap orang punya selera film yang berbeda. Setiap kali usai menonton film, ratusan filmgoers (entah berstatus wartawan, kritikus film, atau cinephile) keluar dari teater seperti semut, bertemu sejenak, saling pandang, atau melambai tangan bagi yang kenal, lalu bertukar kode, kemudian berjalan ke arah berlawanan, ke teater tujuan masing-masing. Kodenya macam-macam. Untuk film yang tidak sesuai selera, kode yang digunakan bisa bibir mencibir, jempol terbalik, kepala digelengkan, atau sekedar angkat bahu. Untuk film yang sesuai selera, kodenya bisa jempol tegak berdiri, jempol dan jari telunjuk membentuk huruf 'O' sambil mata merem melek, atau sekedar bertukar kata, 'excelent', 'perfect' atau 'Ilovedit'! Kode-kode ini dibuat karena sepanjang festival film Cannes moviegoers jadi mahluk paling sibuk sejagat, pindah dari satu teater ke teater lainnya, dari satu screening ke screening lainnya hanya dalam jarak hitungan menit hingga tak ada waktu untuk ngobrol lama. Para moviegoers ini terlihat sudah nyaris seperti orang kesurupan. Bahkan hujan deras yang mengguyur Cannes beberapa hari ini, tak menghalangi ritual harian merek: mengantri, menonton, mengantri lagi, menonton lagi, sampai sudah tak ada lagi yang bisa ditonton hingga keesokan harinya. Dan kesurupan ini menular. Saya jadi ikut-ikutan juga. Cannes memang selalu bisa mengumpulkan ribuan manusia-manusia 'weirdo'. Kembali ke soal kode, beberapa hari ini saya banyak mengumbar kode angkat bahu. Lelah juga sebetulnya. Namun, setelah beberapa hari lewat tanpa ada film yang benar-benar menggugah hati, akhirnya film dambaan itu muncul juga. Judulnya Linha De Passe karya Walter Salles dan Daniela Thomas. Salles adalah sutradara Brazil yang pernah mengecewakan saya lewat The Motorcycle Diaries. Tapi dengan Linha De Passe Salles membuktikan diri bisa 'bermain-main' dengan gaya realis. Linha De Passe berlatar area miskin di kota megapolitan Sao Paulo. Bercerita tentang empat karakter bersaudara (semuanya laki-laki) yang masing-masing punya cita-cita tapi terpenjara oleh batasan-batasan sosial. Mereka miskin. Ibu mereka hanya pembantu rumah tangga yang tengah hamil anak ke 5 dari ayah yang tak ketahuan siapa. Impian empat orang ini sederhana. Dario ingin jadi pemain bola profesional tapi sudah ketuaan. Denis, si playboy, sebetulnya ingin punya pekerjaan tetap tapi tidak punya kesempatan. Dinho ingin berada di jalur agama yang menurutnya merupakan jalan keluar dari segala masalah tapi tidak punya cukup keyakinan (ditambah kondisi hidup yang menuntutnya lebih realistis), dan Reginaldo, anak paling kecil, berkulit hitam sendiri, yang selalu gelisah ingin menemukan ayahnya. Mereka adalah warga marginal di kawasan terbengkalai di Sao Paulo. Mereka --plus kota Sao Paulo-- adalah karakter yang menarik untuk dikembangkan tanpa perlu masuk ke analisis psikologis yang rumit. Satu momen efektif yang menjadihighlight dari film ini adalah ketika Denis berkata: “Just look at me. Did you look at me. Really look at me?” kepada seorang pria kaya yang mengira Denis akan menembaknya. Adegan ini membuat saya sadar, bukankah kita lebih cenderung memalingkan muka terhadap masyarakat pinggiran seperti mereka?. Kolaborasi Salles dan Thomas berhasil mengatasi resiko dramatisasi yang tak perlu sehingga Linha terus berada dijalur realis dan konsisten hingga akhir. Dan inilah yang mendorong saya untuk akhirnya menemui Salles dan... minta tanda-tangan! Seumur hidup, baru kali inilah saya minta tanda tangan dari orang lain selain tanda tangan orang tua saya. Sebetulnya Linha De Passe bukanlah film extraordinare yang membuat saya harus memburu-buru Salles untuk minta tanda-tangan. Maksud saya, kalau memang disuruh memilih, saya lebih memilih tidak minta tanda tangan siapa-siapa. Hanya saja, Salles ternyata sutradara yang benar-benar berbicara dan melihat anda dengan tulus bukan sekedar basa-basi. Di Cannes, --kecuali anda masuk dalam jajaran bintang dan sutradara besar--, nasib anda hanyalah seperti karakter-karakter dalam Linha , marginal. Jadi ketika Salles tersenyum, berbicara dan benar-benar melihat ke mata saya seperti seorang teman lama, tak sadar, tangan saya merogoh buku dan pulpen. Setelah menemui tim Linha De Passe , saya kemudian ke acara screening sore film 24 City karya Jia Zhangke yang juga dihadiri sang sutradara. 24 City adalah film dengan gaya ala dokumenter. Saya bilang ala dokumenter karena Zhangke mendokumentasikan sebuah pabrik raksasa yang kemudian dihancurkan untuk membangun sebuah kawasan mewah bernama 24 City ; Zhangke mewawancarai sejumlah orang yang ada hubungannya dengan pabrik tersebut sambil meminta mereka berpose seperti layaknya akan dipotret. Ada beberapa ekspresi spontan yang menarik dan Zhangke berhasil merangkai cerita mereka dengan meyakinkan sampai kemudian muncul artis tenar China, Joan Chen dan Tao Zhao –artis yang sering muncul di film-film Jia Zhangke--. Saya suka film dokumenter. Bagi saya, --lepas dari kontroversi defenisinya-- dokumenter adalah model yang pas untuk memotret realitas. Hingga saat Joan Chen dan Tao Zhao muncul di layar, 24 City menjadi dokumenter yang menarik dengan menyisipi sejumlah puisi dan berbagai lagu tradisional China. Semuanya dirusak dengan kehadiran dua orang ini. Apalagi ketika Joan Chen yang dalam film itu 'berperan' sebagai mantan pekerja pabrik bilang: “Banyak orang bilang saya mirip Joan Chen.” Oh....please! Alasan kreatif apapun yang diajukan Zhangke tetap tidak bisa membuat saya menyukai film ini. Saya merasa tertipu. Untunglah ada film Serbis karya Brillante Mendoza asal Philipina yang hingga hari ini menjadi film terfavorit saya. (Posisi kedua diisi Linha De Passe ). Serbis menjadi film yang sempurna dengan segala 'kekurangan'nya. Hampir semua elemen di film ini (aktor, artis, gedung, suara bising, keramaian, dll) menjadi karakter-karakter hidup. Gaya yang digunakan Mendoza hampir sama dengan film sebelumnya Foster Child (atau John John yang tahun lalu terseleksi di program Director's Fortnight). Saya akan membahas Serbis lebih lanjut nanti dilengkapi dengan wawancara Brillante Mendoza. Lucu juga karena film Philipina ini justru mengingatkan saya pada Jakarta dan bioskop-bioskop yang terbengkalai. Saya jadi ingat kala me liput bioskop-bioskop ece-ece lusuh dan nyaris tutup di kawasan Senen dan Pasar Minggu beberapa tahun lalu . Kondisinya mengenaskan dan -- maaf-- bikin mau muntah. Di Serbis, saya menemukan itu semua. Hampir 99% film ini disyut di dalam bioskop nyaris bangkrut yang juga berfungsi sebagai tempat tinggal seluruh keluarga pemilik bioskop. Setting di bioskop kumuh ini memperkokoh bangunan cerita Serbis yang pada dasarnya sudah kuat. Serbis memotret setiap detail-detail kecil yang sering ditutupi di film-film lain. Belum lagi detail-detail 'ciptaan' seperti bisul di pantat, kambing masuk bioskop, dan banyak lagi lainnya yang menyatu utuh dengan seluruh cerita. Semuanya disempurnakan dengan permainan aktor artisnya yang melebur ke dalam karakter masing-masing. Tidak ada upaya ber- acting, mereka menjadi karakter itu sendiri. Realismenya yang total (yang sudah tidak pernah saya temukan lagi dalam film-film Indonesia era reformasi) membuat saya merinding usai menonton. Menurut saya, inilah 'pure cinema' yang sesungguhnya. Masih ada belasan film yang akan saya tonton hingga akhir festival, tapi saya yakin, film ini akan menjadi favorit saya tahun ini. *** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |