Christine Aimé


Klik gambar untuk memperbesar

Festival De Cannes 2008
Pagar Betis dan Penduduk Cannes
oleh Asmayani Kusrini
Redaktur Rumahfilm.org, Cannes

 

Maradona kembali bikin sensasi. Bukan di lapangan bola, tapi di ajang Festival Film Cannes. Meski lama tak muncul di publik, nama Maradona masih punya daya magis. Apalagi jika digabung dengan nama Emir Kusturica (anggota kelompok eksklusif pengoleksi 2 palem emas penghargaan Cannes). Maka lengkaplah rasa penasaran orang. Saya sendiri punya kenangan pribadi dan masih sering deg-degan jika mendengar atau melihat nama Kusturica. Ia adalah sutradara asing pertama yang saya wawancarai.

Jadi wajar kalau film Kusturica tidak pernah saya lewatkan. Nah di Cannes tahun ini, Kusturica datang membawa film dokumenter berjudul Maradona sekaligus memboyong si Diego Armando Maradona. Maradona ini sendiri adalah proyek lama yang dimulai sejak 2006. Karena kesulitan memperoleh hak menggunakan footage permainan bola Maradona, film ini terlambat diselesaikan. Kusturica malah sempat menyelesaikan sebuah film (Promise Me This yang tahun lalu masuk seksi kompetisi) ditengah-tengah proses membuat Maradona.

Karena itu pula Maradona menjadi salah satu film yang ditunggu-tunggu kehadirannya di Cannes dan saya men jadi salah seorang yang mengantri untuk bisa menonton pemutaran perdana film ini. Dan seperti biasa, sistem kasta jadi masalah. Kapasitas teater ternyata tidak mampu menampung semua antrian yang dimulai sejak 2 jam sebelum pemutaran itu; Merasa diperlakukan tak adil, ada juga yang tidak tahan dan kemudian protes.

Perkelahianpun tak terelakkan. Moviegoers berang, bodyguard tak kalah garang. Sayang saya tidak menenteng kamera, karena momen ini sangat seru untuk diabadikan. Ribut-ribut yang seru itu mengalihkan perhatian antrian yang tak juga bubar meski tanda 'Complete Full' sudah dipasang. Saya pun jadi malah asyik menonton adegan seru itu. Kejadian ini sering terjadi di Cannes, saat para moviegoers yang sudah lama mengantri mengamuk karena tak kebagian tempat. Jadi maaf bagi penggemar Maradona, saya tidak menonton film ini tapi justru asyik mengamati peristiwa amuk kecil ditengah-tengah massa itu.

Kalau sudah begini, akan ada satu orang yang akan turun dari tangga, dikelilingi bodyguard, berdiri didepan para 'protestan' dan berkacak pinggang dengan kalem, kemudian berkata dengan galak: “Anda tidak tahu artinya complete full? artinya tidak ada tempat lagi. Silahkan menonton film lain atau mencoba screening berikutnya”. Perkenalkan: namanya Christine Aimé. Wanita manis yang jangkung ini adalah kepala Departemen Pers di Festival Film Cannes. Sesuai jabatannya, Aimé (dalam bahasa Inggris bisa juga berarti lovely) bertugas mengurusi sekitar 4000 jurnalis yang terdaftar di Cannes.

Aimé dan timnya juga bertindak sebagai mediator antara 'masyarakat film Cannes –pemegang akreditasi-- dengan para tamu agungnya. Selain itu, Aimé juga bertugas mengurusi hal-hal kecil dari mendengarkan keluhan 'masyarakatnya' hingga menjadwalkan waktu wawancara. Sebagai kepala bagian pers, harusnya tugas Aime membantu kemudahan akses bagi para wartawan. Tapi di Cannes, Aimé lebih berfungsi sebagai 'pagar betis' agar para tamu agung terhindar dari kejahilan para wartawan bandel yang tak kenal menyerah.

Untuk menanggapi permintaan wawancara misalnya, Aimé akan memperingati layaknya seorang ibu menetapkan disiplin untuk anak bandelnya. Ketika saya meminta petunjuk untuk mewawancarai Thierry Fremaux, direktur artistik Cannes, misalnya, Aimé bilang: “Saya tidak tahu jadwal Fremaux, tapi kalau dia tidak punya waktu jangan diganggu. Dan jangan asal serobot,” kata Aimé tegas. Itu berarti untuk urusan wawancara, setiap wartawan harus mencari tahu sendiri.

Semua jurnalis tentu saja kenal dengan Aimé yang mulai bergabung dengan Festival Film Cannes sejak 1989 ini. Kantornya bersebelahan dengan warung wi-fi khusus untuk wartawan. Tiap pagi dia selalu mondar mandir melihat 'warganya' sedang bekerja atau menyambut tamu-tamu agung di depan pintu ruang pers.

Tidak mudah memang mengurusi para wartawan berdedikasi tinggi yang tahu betul cara mendapatkan berita. Setiap tahun, begitu banyak wartawan yang harus diladeni, jumlahnya rata-rata diatas 3500 hingga 4000 orang. “Wartawan melakukan tugasnya dengan baik, tapi saya juga harus melakukan tugas saya dengan baik, dan tugas saya adalah mengatur agar aktivitas kalian terkendali,” katanya kalem.

Aimé tak menyangkal bahwa Festival Film Cannes membutuhkan kehadiran wartawan sama dengan membutuhkan kehadiran para bintang dan sutradara papan atas. Tanpa dua kelompok ini, Cannes bukanlah apa-apa. Wartawan hadir karena ada bintang. Bintang hadir karena ada wartawan. Dan Aimé harus berdiri diantara dua kelompok yang sama-sama terkenal sulit diatur ini.

Tapi rupanya, Aimé sudah paham bagaimana mengatasi 'keliaran' warganya; Buktinya, setiap kali ada ribut-ribut, pasti Aimé keluar kantor, turun tangga dan berbicara, setiap kali itu pula situasi tenang kembali. Para wartawan pun terbiasa. Setiap kali melihat Aimé diujung tangga, itu berarti ada wartawan yang membandel. Ia seperti guru taman kanak-kanak yang menyeret murid-muridnya setiap kali melangkah keluar pagar.

Sudahkah saya bercerita bahwa Festival Film Cannes tidak memutar film untuk publik kecuali penduduk dengan kartu identitas Cannes? Rasanya belum. Seorang kawan pernah berniat untuk berkunjung ke Cannes dan berharap bisa menonton film seperti layaknya festival lain. Segala persiapan dilakukan termasuk memikirkan gaun malam dan sepatu hak tinggi untuk mengikuti prosesi la montée des marches .

Belakangan, baru lah ia sadar bahwa ternyata Cannes tidak terbuka untuk umum kecuali mereka yang terakreditasi (entah itu wartawan atau mahasiswa sekolah-sekolah film dan institusi khusus atau para pekerja industri film yang juga punya kartu khusus). Satu-satunya kelompok publik yang boleh menonton film adalah penduduk Cannes sendiri yang bisa mengambil tiket gratis dengan menunjukkan KTP Cannes.

Tapi ada juga moviegoers nekat. Tanpa akreditasi , tanpa KTP Cannes mereka turun ke jalan, membuat poster kecil dengan tulisan: INVITATION S.V.P (invitation please) memohon ada yang berbaik hati mau memberikan tiket untuk mereka. Kecuali pemegang kartu warna-warni yang sudah pernah saya ceritakan (untuk menonton mereka hanya perlu menyodorkan kartu mereka untuk di scan ), penduduk Cannes harus punya tiket masuk yang dibagikan secara gratis di kantor pariwisata. Tentu saja tiket ini sangat terbatas mengingat jumlah mereka yang terakreditasi jauh melampaui kapasitas teater-teater di Cannes. Jadi soal perkembangan film-film terbaru, mungkin penduduk Cannes lah kelompok paling beruntung. Dan Cannes beruntung punya masyarakat yang juga gemar menonton film. Tanpa antusias yang mereka tunjukkan, mungkin Cannes hanya jadi festival yang hambar.

Eastwood Kembali, Murid Bela Tarr dan Boooooo

Everybody loves Clint Eastwood . Dan semua orang makin cinta kepada sutradara kelahiran San Fransisco setelah menonton film terbarunya Changeling yang masuk dalam seksi kompetisi Cannes tahun ini. Seperti film-film terdahulunya (Million Dollar Baby, Flags Of Our Father, Letters From Iwojima), Changeling diceritakan dengan rapi, dan dikemas dengan sinematografi apik.

Diangkat dari kisah nyata tentang seorang ibu yang kehilangan anak lelakinya. Saat anak itu ditemukan kembali, sang ibu menyadari ternyata anak yang ditemukan itu adalah anak yang berbeda. Untuk ini, saya harus mengakui Angelina Jolie yang berperan sebagai ibu adalah artis sejati. Totalitas nyonya Pitt di film ini melebihi aktingnya di A Mighty Heart . Mungkin juga karena status Jolie sebagai ibu dari 4 anak yang sedang menunggu kelahiran anak kandung keduanya; Jolie jadi terlihat sangat menghayati bahkan lebur kedalam karakter ibu yang terus berharap anaknya masih hidup.

Setelah Changeling yang mengawali pagi itu, saya menapaki karpet merah untuk menonton film kompetisi Delta karya sutradara muda Hungaria, Kornel Mundruczo. Seorang rekan wartawan Perancis, Jerome Vermelin tak sadar bergumam, 'Oh Tuhan, tidak!', ketika layar dibuka dengan ucapan terima kasih kepada Bela Tarr, sutradara Hungaria yang sekarang jadi role model bagi para sutradara muda asal Hungaria.

Bela Tarr tahun lalu memang sempat membuat penonton 'trauma' karena long take- nya yang seperti siput di film The Man From London . Jadi setiap kali ada nama Bela Tarr, setiap kali itu pula orang bersiap untuk menonton film lambat. Tapi Delta ternyata lain walaupun jejak Tarr terlihat; Delta berkisah tentang hubungan terlarang antara dua bersaudara yang tentu saja ditentang oleh komunitas masyarakat sekitar.

Lokasi syuting diatas delta sungai disebuah wilayah tak bernama membuat film ini terlihat lebih eksotis daripada film-film Bela Tarr yang cenderung suram. Tapi seperti film Tarr, Delta juga mengalir kalem dengan dialog minim. Film ini jauh berbeda dari film Mundruczo sebelumnya Johanna (versi unik legenda Joan Of Arc), sebuah film musikal noir yang menurut saya versi Joan Of Arc terbaik dan terunik sepanjang menekuni hobby saya sebagai penonton film. Delta tentu tidak bisa menyamai kekaguman saya terhadap Johanna , tapi yang pasti saya akan terus menonton dan mengikuti perkembangan karya-karya Kornel Mundruczo selanjutnya.

Setelah Delta , saya ikut arus antrian film kompetisi lainnya La Mujer Sin Cabeza karya sutradara wanita Lucrecia Martel. Film yang bercerita tentang kegelisahan seorang wanita yang terus dihantui perasaan bersalah karena merasa sudah menabrak mati seorang tak dikenal. Masalah yang tidak jelas, akting yang tak asyik, dan alur cerita yang sangat lambat membuat film ini memecahkan rekor film pertama yang membuat saya tertidur nyenyak di dalam bioskop. Saya terbangun ketika mendengar 'boooooooo' panjang saat film berakhir. Artinya saya bukan satu-satunya.***

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org