
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() Jennifer Lynch ![]()
Festival De Cannes 2008
Terima kasih untuk Apichatpong Weerashetakul. Atas undangannya saya bisa masuk ke ruang-ruang mewah Hotel Majestic, salah satu hotel paling mahal sepanjang pantai Croisette, Cannes. Di ruang-ruang berkarpet mahal dan wangi itu yang dipenuhi foto-foto artis aktor ternama, saya tiba-tiba gelisah tak tahan ingin segera keluar. Maklum, saya merasa berada di dunia yang lain. Ujung-ujung jempol saya terasa berdenyut-denyut protes karena kaki saya hanya beralaskan sendal. Ruang-ruang hotel dengan pintu bergagang emas itu memang membuat saya merasa terintimidasi. Tapi sekali lagi saya mengucapkan terima kasih untuk Weerashetakul karena atas desakannya untuk ngobrol disalah satu teras cafe di Majestic itulah saya tak sengaja bertemu dengan Jennifer Lynch, putri David Lynch. Sayangnya , saya tidak kebagian menonton film Lynch, Surveillance di seksi Out Of Competition. Jadinya kami ngobrol tentang hal-hal lain, tentang bagaimana rasanya jadi putri David Lynch, proses kreatifnya, tekanan yang dirasakan tumbuh di lingkungan film, tentang Cannes , dan lain-lain. Untungnya , Jennifer wanita menyenangkan. Tipikal anak gaul Amerika yang bisa ramah terhadap siapa saja. Ia rupanya tak tahu soal aturan di Cannes . Dan saya dengan semangat bergosip tinggi karena sakit hati, bercerita bagaimana Cannes memberlakukan sistem kasta dan diskriminasi terhadap film-film kecil. Asyiknya lagi, Jennifer terlihat antusias mendengarkan sehingga bolak-balik bilang 'Oh really?' atau'I can't believe that' atau'you gotta be kidding me' atau'no, you're joking'. Dan terima kasih untuk Brillante Mendoza. Atas undangannya untuk bertemu dan melakukan wawancara di La Diva, sebuah dock kecil bagian dari cafe tepi pantai Noga Beach; Dock atau dermaga kecil ini adalah tempat berlabuhnya kapal-kapal motor yang mengantar para tamu-tamu dari yacht mereka yang ditambat agak ketengah laut ke tepi pantai Croisette. Untungnya para anak milyader yang lalu lalang ditempat itu juga pada umumnya bersandal dan berdandan ala remaja jalanan. Jadi ditempat ini saya bisa lumayan santai. Ditempat ini juga pesta diadakan setiap malam. Para paparazzi dan wartawan-wartawan majalah hiburan sering menjadikan tempat ini sebagai lokasi photo session. Dan disini pula para agen-agen model dan artis yang belum punya nama berkeliaran mencari perhatian. Sore itu misalnya, saat beberapa photografer sedang bersantai dan membuat tes foto, tiba-tiba seorang pria ganteng dengan dandanan mentereng yang baru saja turun dari kapal boat datang menghampiri. “Anda tahu gadis yang baru saja lewat itu adalah ... (saya tidak ingat namanya), supermodel yang pernah main di film ... (saya juga tidak ingat judulnya). Kalau anda tertarik jangan lewatkan kesempatan ini untuk memotretnya, mumpung dia belum sibuk,” kata si cowok mentereng seperti layaknya salesman. Rupanya para fotografer ini sudah terbiasa dengan agen-agen tersebut jadi dengan kalem salah seorang dari mereka menjawab, “OK, Sekarang kami ada sesi pemotretan. Nanti kalau masih ada waktu pasti kami potre t;”. Fotografer asal Belanda ini lalu bercerita bahwa sepanjang festival, Cannes tidak hanya bertaburan bintang-bintang tenar tapi juga artis artis amatir yang pengen tenar. Tidak heran, sepanjang malam ada saja gadis-gadis belia –pada umumnya anak-anak miliader yang punya akses ke pesta-pesta glamour-- yang berdandan semenarik mungkin dan bertingkah segila mungkin untuk menarik perhatian hanya sekedar untuk tampil dihalaman salah satu tabloid. “Apalagi di pesta-pesta tengah malam, mereka berjamuran datang bersama agen mereka, berebutan menarik perhatian dan berharap nongol di halaman koran atau majalah walaupun hanya dilatar belakang,” kata Phillip Van DeRock, fotografer senior yang bekerja untuk sebuah agensi foto itu. Well... kekayaan ternyata tak cukup bagi sebagian orang. Untungnya saya tidak perlu berlama-lama melihat tingkah para elit itu karena harus mengejar screening Che karya Steven Soderbergh. Che adalah film kompetisi yang paling banyak ditunggu seperti juga No Country For Old Men tahun lalu. Antrian sudah sangat panjang ketika saya tiba di teater Salle Debussy padahal waktu screening masih 2 jam lagi. Kadang saya tidak mengerti kenapa orang-orang ini mau bersusah payah mengantri. Memperlakukan film seperti memperlakukan resolusi hidup mereka. Harus diburu dan diperjuangkan. Kadang saya berdoa agar mereka menyerah saja dan melakukan hal lain. Tapi hampir setiap hari saya menemukan pemandangan yang sama dan antrian yang sama. Karena itu saya sering sebal dengan para pink dan putih yang datang terlambat dan masih bisa lenggang kangkung, tak merasa bahwa keterlambatan mereka berarti waktu menunggu makin panjang bagi para biru dan kuning. Ingin rasanya membuldozer mereka...huh; Tapi menonton film Che memang pantas untuk diperjuangkan. Seperti Kill Bill, Che juga terdiri dari dua film yang akan dirilis terpisah. Hanya di Cannes film ini diputar seluruhnya sehingga menjadi film panjang berdurasi 4 jam 28 menit. Bagian pertama film ini adalah periode revolusi Cuba. Kisahnya dikonstruksi berdasarkan wawancara Che Guevara oleh seorang jurnalis ketika berkunjung ke Amerika. Bagian pertama ini lebih beragam dari segi teknis dan struktur cerita (warna, shot, lokasi, peristiwa, alur kilas balik). Sementara bagian kedua adalah periode revolusi Bolivia yang cenderung monoton karena fokus pada perjuangan dan pertempuran kelompok Che di hutan-hutan Bolivia. Tapi sebagai film yang utuh, Che jelas adalah salah satu film terbaik Soderbergh sebagai sutradara. Benicio Del Toro berperan sebagai Che dengan sangat meyakinkan apalagi dengan wajahnya yang mendukung hingga saya nyaris percaya bahwa Che Guevara hidup kembali. *** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |