Philippe Garrel, Climbing of the Steps of the film Frontier of Dawn © AFP


Klik gambar untuk memperbesar

Festival De Cannes 2008
Akankah Kita Dijajah Lagi?
oleh Asmayani Kusrini
Redaktur Rumahfilm.org, Cannes

 

Tiba-tiba saya merindukan nama-nama Indonesia. Tiba-tiba saya rindu melihat nama Eric Sasono, Arya Gunawan, atau Hikmat Darmawan, atau Krisnadi Yuliawan atau Ekky Imanjaya atau Veronica Kusuma, atau siapa saja yang saya tahu cukup paham tentang film-film Indonesia. Tadi pagi, saya iseng mengamati katalog 47 Semaine International De La Critique Cannes 2008 (International Critics Weeks ke 47). Tak sengaja saya melihat diantara foreign advisor (fungsinya mirip dengan koresponden internasional) ada wakil Indonesia tapi ia berasal dari Italia. Namanya: Paolo Bertolin.

Saya kenal Paolo. Kami pernah bertemu di beberapa festival film. Saya mengenalnya sebagai salah seorang programmer dan konsultan beberapa festival film termasuk Berlin, Venice dan Udine. Saya juga tahu bahwa Paolo pernah dua kali bertandang ke Indonesia. Tapi bahwa di dunia international ia lalu diklaim atau mengklaim diri sebagai penasehat ahli film Indonesia....hmmm...nanti dulu.

Karena setahu saya, yang namanya koresponden adalah orang lokal atau mereka yang tinggal di wilayah tertentu dan diminta membantu institusi tertentu di luar wilayah tempat tinggalnya itu. Untuk ini, Paulo jelas sudah tidak masuk kategori. Ia adalah orang Italia yang tinggal di Italia. Lantas kenapa Paulo?

Saya tidak sedang menuding atau menyalahkan Paulo. Tentu saja, ia beruntung karena punya akses dan punya banyak informasi tentang seluk beluk festival film international. Ajang yang sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan oleh filmmaker kita untuk berkembang. Saya menulis ini sebagai semacam peringatan bagi para filmmaker, intelektual, pemerhati film, atau siapa saja yang peduli. Saya tahu pasti betapa banyak kritikus dan intelektual kita yang namanya lebih pantas untuk disebut sebagai ahli film Indonesia. Selama ini saya sudah cukup muak mendengar bahwa orang asing lebih paham tentang budaya atau perkembangan yang terjadi di Indonesia daripada orang Indonesia sendiri.

Sekali lagi, saya tidak sedang menyalahkan Paulo. Ini hanyalah satu kasus diantara banyak lainnya. Bagi sebagian orang, ini mungkin bukan masalah besar, tapi bagi saya, ada rasa tidak rela ketika membaca bahwa konsultan film Indonesia bagi dunia internasional adalah orang Italia, yang datang beberapa bulan, belajar instan tentang situasi dan kondisi wilayah kita, kemudian lantas terkenal sebagai ahli film Indonesia.

Pertanyaan kenapa harus orang Italia yang jadi koresponden untuk Indonesia inilah yang mengantar saya ke kantor International Critics Weeks di lantai 4 Palais Du Cinema Cannes. Kenapa bukan Eric Sasono misalnya yang jelas-jelas sudah menerima penghargaan sebagai kritikus terbaik di dua kali penyelenggaraan Festival Film Indonesia?

Jawaban dari pertanyaan itu ternyata begitu sederhana. Karena mereka tidak tahu. Lazimnya, para koresponden di Critics Weeks adalah kritikus film dari negeri setempat dan direkrut melalui berbagai cara. Entah itu karena pertemanan, informasi dari mulut kemulut, kredibilitas yang dibuktikan dari keaktifan mereka di berbagai media, dll. “Biasanya kami kesulitan karena kurangnya informasi. Seperti China misalnya, karena persoalan bahasa, persoalan infomasi karena sulit mendapatkan kritikus yang menulis dalam bahasa Inggris, akhirnya kami hanya mengandalkan orang yang tahu meskipun mereka tidak berasal dari China,” kata Jean-Christophe Berjon, direktur artistik di Critics Weeks. (Wawancara lengkapnya tunggu hanya di RumahFilm.org)

Masalah yang sama juga terjadi ketika mereka ingin mencari film-film dari Asia Tenggara termasuk Indonesia. Bahasa menjadi kendala. Ketika mereka membutuhkan kritikus Indonesia misalnya, hal pertama yang dilakukan adalah mencari via internet. Dan hampir tak ada kritikus kita yang menulis dalam bahasa Inggris.

Rupanya ini disadari oleh banyak kritikus asing dan melihat kesempatan untuk menetapkan wilayah keahlian masing-masing dan mulai mendalami sinema dari negeri-negeri jauh secara instan, untuk kemudian diakui di sirkuit festival. Itu fakta. Tentu saja, fakta ini bisa digunakan secara bebas, dan terserah masyarakat film kita menyikapinya. Kita tentu tidak ingin 'dijajah' lagi kan? Mengutip kata kritikus film Thailand Anchalee Chaiworaporn, “Tak ada yang lebih mengenal budaya kita selain kita sendiri”.

Film Kebanggan Perancis

Mungkin kita harus belajar dari Perancis. Betapa mereka bangga akan film sendiri. Film kompetisi La Frontiere De L'aube adalah karya Philippe Garrel yang merupakan salah satu sutradara kebanggaan Perancis yang filmnya baru kali ini terseleksi. La Frontiere diputar di teater utama, Grand Theater Lumiere sebanyak tiga kali di prime time. Ini rekor tentu saja. Biasanya sebuah film diputar di teater utama paling banyak dua kali, selebihnya di tayangkan di teater yang lebih kecil. Kita bisa mengerti, La Frontiere toh film karya anak negeri mereka.

Tapi tentu tak ada yang menduga film ini adalah film terburuk yang pernah masuk seleksi. Film yang sungguh tak pantas masuk seksi kompetisi. Ini bukan hanya kata saya. Sepanjang film, banyak seruan 'booo' berterbangan. 'Booooo' ini diikuti dengan tawa mengejek, karena film ini memang patut untuk menjadi bahan tertawaan. Saya tidak percaya menonton film ini di festival film sekelas Cannes. Satu-satunya yang menyelamatkan film ini adalah pilihan menggunakan gaya klasik hitam putih hingga terlihat nyeni. Selebihnya....boooffff (istilah orang Perancis untuk sesuatu yang tidak layak).

La Frontiere bercerita tentang affair seorang fotografer muda dengan seorang artis yang sudah menikah. Karena putus cinta akhirnya si artis bunuh diri . S i fotografer terus melanjutkan hi dup, tapi hantu si kekasih selalu datang mengganggu. Bahkan adegan hantu yang mendatangi pun terlihat menggelikan ditambah suara ghrrrfffhhhh setiap kali si hantu mau muncul. La Froentiere jelas jadi bahan tertawaan tapi Perancis toh tetap bangga meski film ini ' disikat' habis para kritikus. Saking bangganya mereka ngotot me putar film ini di Grand Theater Lumiere sampai tiga kali.

Untung lah setelah La Froentiere ada Adoration karya terbaru Atom Egoyan ( Where The Truth Lies, Family Viewing, The Sweet Hereafter ). Drama keluarga yang disisipi kekhawatiran sekaligus kekaguman Egoyan terhadap internet. Adoration berisi banyak pesan yang dengan lihai diolah Egoyan sehingga terlihat sederhana. Sayang, Egoyan mengakhiri film ini dengan setumpuk jawaban (yang tidak perlu) sehingga Adoration berakhir klise. Jadi , hingga kini Family Viewing dan The Sweet Hereafter tetaplah jadi favorit saya diantara deretan film-film Egoyan.

Sebetulnya hari ini juga ada La Lecon De Cinema, ajang bagi-bagi ilmu oleh filmmaker pilihan, yang kali ini diisi oleh Quentin Tarantino. Sayangnya, program ini diprioritaskan untuk para pelajar dan mahasiswa bidang perfilman yang jumlahnya tak terbayangkan di Cannes . Jadilah saya memilih untuk menunggu saja film kompetisi selanjutnya, IL Divo karya Paolo Sorrentino asal Italia.

Il Divo adalah film karikatural tentang Giulio Andreotti, yang tiga kali menjabat sebagai Perdana Menteri Italia (1972-1973, 1976-1979, dan 1989-1992) dan beberapa kali menjabat sebagai menteri diberbagai departemen serta terpilih menjadi senator seumur hidup sejak 1991. Dalam Il Divo , Paolo Sorrentino mengkritisi kekuasaan Andreotti serta menyorot keterlibatan Andreotti di jaringan mafia.

Andreotti yang hingga saat ini masih hidup kabarnya sangat berang dengan film yang baru akan dirilis di Italia bulan depan ini . Saya tidak mengerti betul situasi politik di Italia, tapi film ini membuat banyak orang terbahak-bahak. Saya menduga, film ini banyak disisipi guyon-guyon yang hanya dipahami orang Italia. Saya sendiri hanya bisa tertawa geli melihat gambaran sosok Andreotti dan ekspresinya yang dingin tapi lucu. ***

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org