Dari Cinemasia 2008
Dua Film Indonesia Menutup Festival Cinemasia
oleh Ekky Imanjaya
Redaktur Rumahfilm.org, Amsterdam

 

“Maaf, tiket untuk Quickie Express sudah habis dipesan. Silahkan datang saat hari H, 10 menit sebelum pemutaran” tutur penjaga loket di Rialto Cinema, Amsterdam kepada Rumahfilm. Memang, untuk wartawan, hanya diperbolehkan mengambil tiket sehari sebelumnya. Dan Quickie Express (QE), sang film penutup Cinemasia Film Festival sudah laris manis, padahal tiketnya lumayan mahal. Dan di hari pemutaran, nasib serupa masih menimpa saya. Tapi saya tidak sendiri. Beberapa teman mengirim psan pendek kepada saya dan kecewa karena kehabisan tiket QE.

Untunglah Joko Anwar, penulis skenario Quickie Express dan sutradara Kala yang hadir sebagai tamu, berbaik hati menolong, demikian pula dengan direktur festival Cinemasia Doris Yeong.

Dari dua pertunjukan hari terakhir itu, baik saat Kala (yang diputar pukul 18.00) atau QE, tempat duduk penuh, dan penonton larut ke dalam cerita. Misalnya, saat adegan kecelakaan yang melindas korban di Kala, sontak sebagian penonton menjerit. Atau, saat ikan piranha bergerak-gerak seraya menggigit alat vital Aming di QE, penonton ikut tergelak.

Setelah QE tuntas diputar, walau sudah lewat jam 10 malam, penonton tak juga beranjak. Ada diskusi dengan Joko Anwar. Banyak hal terlontar, mulai dari soal sensor hingga keluhan terjemahan yang memang susah karena humor lokal (misalnya, penyakit tak bisa membedakan antara P dan F yang diidap Piktor). Setelah sesi tanya jawab, penonton pun mendatangi Joko. Ada yang sekadar menyapa dan memuji kedua film itu, bertanya lebih lanjut, hingga minta foto dan tanda tangan. Beberapa pun wartawan mewawancarinya.

Kala adalah film posmodernisme. Saya senang dan puas sekali bisa menontonnya,” ungkap Pamela Pattynama, Professor bidang Dutch East-Indies Literature and Culture dari Universitas Amsterdam yang menjadi pembimbing saya. “Sayang saya kehabisan tiket QE,” sambung dosen kajian film yang pakar representasi gender dan poskolonial itu.

“Film QE sangat lucu dan menyegarkan. Harusnya Belanda belajar dari film seperti ini” ujar Felicitas Speth von Schulzburg, produser dan General Marketing International Performing Arts. “Biasanya film di sini temanya serius dan membosankan” imbuhnya. Aaron Wan, aktor Belanda asal Cina juga tak menutupi rasa puasnya. “Tone-nya terjaga.Tiap angle dipikirkan, “ ungkap pemeran Ayah Winky dalam Waar is het paard van Sinterklaas?

Setelah acara ini, QE diputar di Far East Film Festival di Udine, Italia, dan Joko pun terbang ke sana.

Dua film panjang Indonesia diapresiasi dengan baik oleh penonton Amsterdam. Kini, kedua film itu sedang tur keliling Belanda. Dan harapan saya agar ada festival khusus film Indonesia rupanya diamini oleh Djauhari Oratmangun, Wakil Kepala Perwakilan Kedutaan Besar RI di Belanda, yang bercengkrama dengan RF sesaat setelah semua acara berakhir. “Kami berencana akan membuat festival film Indonesia di Belanda. Mungkin kita akan kerjasama dengan art-house cinema seperti Rialto ini,” ungkap Djauhari yang malam itu juga menyumbang makan kecil jajanan Indonesia dalam pesta penutup. Kita tunggu saja.***

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org