Berbagi 'KARMA' dengan Penonton Film Indonesia
Siaran Pers

 

Credo Pictures (PT. Credo Cine Arts) adalah salah satu anak perusahaan dari PT. Elang Perkasa Film yang telah berdiri sejak 1972. Elang Perkasa Film bermula sebagai perusahaan yang memproduksi film layar lebar di tahun 70an sampai awal 90an (Cinta Pertama, Arini, Lupus, Ramadhan dan Ramona). Perubahan pada industri film nasional di awal tahun 90an membuat Elang Perkasa Film beralih menjadi perusahaan rental film equipment yang sekarang menjadi perusahaan rental terbesar di Indonesia. Elang Perkasa Film kini menaungi dua perusahaan lain yang juga bergerak di bidang film yaitu, Mitra Film Laboratory dan Digital Arts Pro (Film Post Production).

Dengan kembali maraknya industri perfilman nasional, Elang Perkasa Film memutuskan untuk kembali aktif dalam memproduksi film nasional dengan membentuk Credo Pictures. Credo Pictures akan memperkenalkan diri kepada pecinta film Indonesia lewat film mereka, KARMA dengan waktu rilis Juli 2008. Film bergenre horror thriller ini disutradarai oleh Allan Lunardi dan diproduseri oleh Elvin Kustaman dengan penulis skenario Salman Aristo.

KARMA mengisahkan tentang kematian-kematian yang misterius dalam Keluarga Guan. Salah satu keturunan mereka, Armand (Joe Taslim) jatuh cinta pada Sandra (Dominique Agisca). Sandra adalah anak satu-satunya dari keluarga yang cukup berada. Di tengah-tengah kacaunya situasi negara pada Mei 98, Sandra diungsikan ke Melbourne, Australia. Di sinilah ia bertemu dengan Armand, anak lelaki dari istri kedua Phillip (Hengky Solaiman), ayahnya, anak pertama dari kakeknya,Tiong Guan (H.I.M. Damsyik).

Ibu Armand meninggal secara misterius setelah meahirkannya. Begitu pula istri pertama ayahnya setelah melahirkan Martin (Verdi Solaiman), kakak tirinya, dan istri-istri kakeknya juga meninggal secara misterius setelah melahirkan anak pertama.

Armand yang merindukan figure wanita di kehidupannya pun jatuh cinta pada Sandra. Namun hubungan mereka tidak disetujui keluarga Sandra. Armand yang begitu mencintai Sandra menjadi kekuatan hidupnya yang baru. Maka ketika akhirnya ia mengandung anak Armand di luar nikah dan diusir oleh keluarganya, Sandra tidak peduli dan pulang ke Indonesia karena janji Armand untuk menikahinya. Sandra tidak sabar untuk menikmati menjadi bagian dari keluarga Armand dan perempuan satu-satunya di keluarga Guan.

Di awal cerita akhirnya, Armand memperkenalkan Sandra kepada anggota keluarga Guan. Kakek Armand, Tiong Guan (H.I.M. Damsyik) yang sudah lumpuh karena stroke, menyambut mereka dengan lemparan gelas hingga pecah berantakan. Lalu, ada kakak tiri Armand, Martin (Verdi Solaiman); yang ibunya pun meninggal secara misterius, terlihat agak sinting dan selalu mengurung diri di kamar.

Kejadian-kejadian aneh muncul sejak malam pertama Sandra tinggal di rumah keluarga barunya itu. Suara gemerincing gelang kaki yang membuat bulu kuduknya berdiri sering sekali terjadi saat ia seorang diri. Setelah itu, Sandra selalu dihantui oleh sosok seorang wanita berpakaian pengantin Cina kuno dan suara-suara yang menyuruhnya pergi dari rumah itu. Karena cintanya pada Armand dan keadaannya yang tengah hamil 6 bulan, Sandra pun bersikeras untuk tetap tinggal dan mencari tahu misteri apa yang ada di balik malapetaka yang terjadi pada semua perempuan di keluarga Guan, walaupun keselamat-an dirinya terancam.

KARMA boleh jadi akan menjadi satu-satunya film ber-genre horror/thriller yang meman-faatkan mitos berlatar belakang etnis Tionghoa, dengan jajaran aktor dan aktris yang no-tabene memiliki latar belakang keturunan. Film ini menawarkan kengerian yang bisa kita alami sendiri, suatu kengerian yang menyusup secara emosional, secara psikologis. Selain itu, musik scoring dari film ini direkam secara live dan diproses dengan menggunakan Dolby 5.1. dan sengaja didesain untuk menciptakan atmosphere yang bukan hanya mem-pengaruhi penonton secara emosi tapi juga psikologis. Opening sequence film KARMA juga mendapat treatment khusus untuk membawa mood dan emosi penonton langsung dari awal film.

Scoring film yang juga mencekam dikerjakan dengan ciamik oleh Aksan Sjuman yang sudah mumpuni menciptakan scoring untuk film-film nasional (beberapa di antaranya The Photograph, Dunia Mereka, Hantu, Maya Raya Daya). Namun khusus untuk KARMA Aksan sengaja mengerjakan scoring dengan pendekatan live scoring di mana musisi memainkan score demi score sembari melihat gambar di film di layar. Tidak main-main, Aksan memakai string kwartet, piano dan gamelan untuk menambah kentalnya suasana mencekam dan nuansa etnis yang merupakan nyawa dari film KARMA.

Film KARMA akan dirilis nasional Juli 2008.

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org