
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() ![]()
Festival Film Internasional Berlin: 1. Untuk urusan berhadapan dengan para selebriti, masyarakat umum Berlin tak jauh beda dengan Jakarta. Mereka terpesona, berteriak, membawa poster berisi pujian, bunga dan foto untuk ditandatangani, dan mengantre berjam-jam hanya sekadar untuk berinteraksi (langsung atau tidak langsung) dengan idolanya yang sedang berjalan di karpet merah. “Ich liebe dich, Natalie Portman!”; “Apa kabar, Scarlett Johanssson!” Begitulah jerit mereka saat kru Other Boleyn Girl hadir di Berlinale Palatz untuk pemutaran premiere. Hal itu berlaku pula untuk The Rolling Stones, Penelope Cruz, anggota juri Shu Qi, Madonna, Tilda Swindon, Simon Yam, Eric Bana, Willem Dafoe, Ben Kingsley, Shahrukh Khan, Daniel-Day Lewis, Julia Roberts, dan banyak lagi. Antrean itu panjang, tapi tertib. Sesekali juru kamera televisi yang bertugas siaran langsung menegur mereka karena menghalangi pandangan. Polisi sibuk berjaga-jaga. Tapi hal itu tak mengurangi semangat para pengagum untuk sekadar melihat dari jauh. Orang Asia sudah pasti kesulitan menikmati ajang itu karena tinggi badan orang Eropa yang menghalangi mata. Dan semua itu terjadi tiap malam, pada Film Festival International Berlinale, yang digelar 7-17 Februari lalu. Masyarakat awam diberi ruang berekspresi. Tapi sesungguhnya ini adalah juga pesta bagi pencinta film sejati. Mereka disuguhi berbagai film kelas dunia yang sudah terkurasi dengan baik, di berbagai program –mulai dari Kompetisi Utama, Panorama, Forum, hingga Generation K-plus. Mereka bisa memilih film sesuai selera mereka. Tempat pemutaran film-film itu pun tak berjauhan. Pusatnya adalah Berlinale Palatz. Tak jauh dari sana, hanya jalan kaki 5 menit, ada Cinemaxx. Menyeberang sedikit, sudah sampai Cinestar dan Kino Arsenal (yang ternyata punya jalan tembus bawah tanah dari Film Haus). Memang ada beberapa tempat yang agak jauh. Misalnya Delphi, Zoo Palatz, dan Urania di bekas Berlin Barat (yang menjadi pusat kegiatan festival ini sebelum kemudian dipindah ke timur). Tapi, transportasi umum di Jerman sangat mudah dan cepat, serta nyaman. Dan untuk acara-acara tertentu, seperti Berlinale Talent Campus atau European Film Market, ada shuttle bus yang siap mengantar tiap 20 menit. Bagi yang hendak mencari informasi dan berita terkini, akses mudah didapat. Selain di situsnya, beberapa majalah terkemuka seperti Variety, Screen, dan Hollywood Reporter menurunkan wartawan mereka untuk mengelola dan menerbitkan majalah harian secara gratis bagi para pengunjung. Sebagian besar sutradara yang filmnya diputar, hadir di sana. Maka, kita akan melihat –walau kecil kemungkinan kontak dalam jarak dekat, kecuali ada keberuntungan– Martin Scorsese (mengantar film Shine A Light yang menjadi pembuka festival), Andre Wajda (Katyn), Errol Morris (Standard Operation Procedures), Michel Gondry (Be Kind Rewind, film penutup), Mike Leigh (Happy-Go-Lucky), Majid Majidi (the Song of Sparrow), Paul Thomas Anderson (There Will be Blood), Jonnie To (Sparrow), Yoji Yamada (Kabei), Francisco Rossi (di program retropektif), juga Fatih Akin dan Wim Wenders. Di usianya yang ke-58, dan dukungan kuat dari para sponsor, wajar bila festival terbaik di dunia (bersama dengan Festival Film Venisia dan Cannes) ini mampu menghadirkan para sutradara dan kru filmnya dari seluruh dunia. Daftar di atas belum termasuk para sutradara dan kru dari berbagai belahan dunia yang juga hadir serta berbagi dengan penonton dan pers. Seperti Wakamatsu Koji (United Red Army) dan Naoko Ogigami (Megane/ (Glasses) dari Jepang, atau Manijeh Hekmat (3 Zan/3 Women), dan Hana Makhmalbaf (Buda Az Sharm Foru Rikht/Buddha Collapsed Out of Shame) dari Iran—keduanya mewakili generasi yang berbeda. Atau Antonello Grimaldi (Caos Calmo/Quiet Chaos) dari Italia yang sukses membesut Nanni Moretti. Patut dicatat, dua aktris dunia, Madonna dan Isabelle Rosselini, menyumbangkan film perdana mereka: Filth and Wisdom dan Green Porno (yang berdurasi semenit). Semangat festival adalah berpesta, merayakan dan menikmati pencapaian dan prestasi. Juga menjalin dan memelihara kerjasama antar sineas dari berbagai dunia. Misalnya, di tempat tamu khusus Forum (“Ini program yang sebandinglah dengan Un Certain Regard di Cannes,” jelas Garin Nugroho kepada RF), semua sineas berkumpul dan bersantai bersama. Kita bisa menyaksikan Garin (ketua juri NETPAC) ngobrol dengan John Torres, Liew Seng Tat, Wakamatsu Koji, dan Tan Pin Pin. Semua kalangan terakomodasi. Dari masyarakat umum, penggila film, hingga para sineas yang ingin saling kerja sama. Yang luar biasa, apresiasi dari kalangan anak-anak begitu menggebu-gebu.
2. “Aduh, masak saya dikasih hadiah berbentuk popcorn. Lain kali, kasih tahu dulu ya, saya mau dikasih apa. Saya tidak mau budaya popcorn berkembang di sini,” seloroh Direktur Berlinale International Film Festival, Dieter Kosslick, saat diberi bingkisan sebelum pidato pembukaan untuk penyerahan piala Independent Jury Awards, di Ministergarten, Berlin, Sabtu (16/2) pukul 12.00. Sebuah sentilan yang kocak, juga politis. Sebelumnya, Christoph Terhechte, kepala International Forum of New Cinema, menyatakan bahwa bukan kebetulan jika penyerahan piala Independen itu berada dalam kompleks Memorial to the Murdered Jews of Europe. “Kita dikelilingi oleh bangunan dan memori bersejarah. Agar kita tidak lupa. Dan semangat kemerdekaan itu hadir dalam film-film yang akan kami beri anugerah ini,” ungkapnya. Suasana saat itu santai tapi formal, penuh canda, namun nuansa politis dan nuansa sejarah tak terhindarkan. Memang, Berlin diliputi oleh masa lalu yang gelap, dari Nazi hingga tembok Berlin. Karena itu, atmosfer sejarah itu masih terasa, termasuk dalam ajang penyerahan dan pemilihan film. Dan humor adalah penetralisirnya. Penghargaan di luar kompetisi utama itu, empat jam sebelum penyerahan pemenang untuk Beruang Emas digelar, bukanlah acara minoritas. Sang direktur festival datang langsung membuka dan menyaksikan. Dan film-filmnya bukanlah sinema kelas dua. Yang menarik, berbagai kategori disajikan, mulai dari kru perempuan terbaik, film HAM terbaik, hingga film Asia terbaik. United Red Army , misalnya, yang meraih Netpac Prize, sangat politis dan historis –gerakan mahasiswa anti kapitalisme dunia dari 1960-an. Menurut Garin Nugroho, yang menyerahkan piala, film ini begitu kuat konsepnya, ada kebaruan, dan berjiwa muda. Film garapan sutradara senior Wakamatsu Koji itu begitu mencekam dan tidak membosankan, walau berdurasi lebih dari tiga jam. Pengalamannya sebagai pionir genre pinku (genre film porno lunak) di Jepang membuat adegan penyiksaan begitu realistis, walau sang sutradara menolak hal itu. “Tidak ada pengaruh. Dan saya tidak membedakan antara pinku dengan lainnya. Itu pekerjaan wartawan,” ungkapnya kepada RF. Cerita seputar para mahasiswa komunis radikal yang berdemonstrasi dengan kekerasan itu terbagi dalam tiga gaya: dokumenter di bagian awal, suspense dan horor di tengah, dan film laga di belakang. Amnesty International memberikan anugerah untuk Sleep Dealer (Alex Rivera) yang adalah film fiksi sains. The Peace Film Award 2008 jatuh pada Buda Az Sharm Foru Rikht (Buddha collapsed out of shame)karya Hana Makhmalbaf. Film yang sangat keras mengkritik kebijakan Taliban dengan sudut pandang anak-anak itu diputar di Generation K-Plus, walau sebenarnya isinya kurang sesuai bagi penonton muda (tunggu wawancara RF dengan Hana). Film ini juga meraih Cristal Bear untul Film Panjang Terbaik program Generation K-plus. Piala Manfred-Salzgeber-Prize –namanya diambil dari pendiri Panorama yang bertujuan “melebarkan pembatasan film hari ini”, diberikan kepada Megane (sutradara: Naoko Ogigami), sebuah film yang mengandalkan mood dan tanpa konflik. “Profesor saya waktu saya kuliah memarahi saya karena tidak ada konflik di film saya. Saya jawab: mengapa tidak?” ujarnya kepada RF. Film ini mengharukan, sekaligus kocak, bercerita tentang kehidupan sekelompok ‘orang aneh’ di sebuah pulau eksotis. Untuk wanita, tersedia piala khusus. Femina Film Prize diberikan untuk Maria Gruber, sang desainer latar di Revance (sutradara: Gotz Spielmann). Pemenang kedua adalah Isabelle Baumgartner, sang desainer kostum untuk Teenage Angst (sutradara: Thomas Stuber). Di bagian kompetisi utama, aroma politik (juga sejarah dan humor) lebih terasa. Peraih Golden Bear untuk film terbaik adalah Tropa de elite (The Elite Squad) karya by José Padilha dari Brazil. Inilah film fiksi pertama sang sutradara dokumenter. Ia bercerita tentang kebrutalan polisi di negaranya. “Polisi di sana, kebanyakan korupsi, atau melakukan kekerasan,” tuturnya saat konperensi pers. Pemenang Jury Grand Prix lebih keras lagi. Standard Operation Procedures dari Errol Morris itu bercerita tentang kehidupan gelap di penjara Abu Ghurayb, Irak. Sayang sekali, Katyn, film politis --menurut sutradaranya, Andre Wajda, ini adalah film personal –yang mengungkap pembunuhan ratusan intelektual Polandia oleh Rusia yang selama ini digelapkan (dan Nazi sebagai kambing hitamnya) tidak masuk kompetisi dan karena itu tidak turut berlomba. There Will Be Blood meraih dua piala, untuk sutradara Paul Thomas Anderson dan skor musik (Jonny Greenwood). Namun Daniel-Day Lewis kalah oleh Reza Najie yang berperan sebagai ayah yang polos dalam film kocak The Song of Sparrows (Majid Majidi, Iran). Film komedi hitam lainnya, Happy-Go-Lucky (Mike Leigh) menyabet piala aktris terbaik untuk Sally Hawkins. Francesco Rossi mendapatkan piala Penghargaan atas Dedikasi Seumur Hidup. Humor, sejarah, dan politik memang tak lepas dari keseharian kita. Tidak juga di Berlinale. Mari kita simak humor sang direktur festival saat penutup pidatonya. Ia bercerita soal kandidat presiden AS Romney (“atau siapa pun namanya lah, tidak penting, karena dia juga tidak bakalan jadi presiden,” ujarnya). Saat itu Romney bilang kepada istrinya:”Hingga saat ini, saya tidak percaya bisa menjadi kandidat presiden AS. Istriku, apa mimpi terliarmu kalau aku terpilih?” Sang istri, kata Kosslick, menjawab:”Sayangku, dalam mimpi terliarku, kamu tidak ada.” *** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |