Foto oleh:Steve Pillar Setiabudi

Menggiring Babi ke Kandang Macan, (Semacam) Catatan dari Pusan Film Festival 2008
oleh Prima Rusdi
Penulis skenario dan salah satu penggagas Proyek Payung yang memproduksi “9808” Antologi 10 tahun Reformasi

 

Hari itu tepat pukul 5 sore, Edwin menggiring “Babi”-nya untuk world premiere di ‘kandang macan’ penggila film, Pusan International Film Festival (PIFF) ke-13 yang berlangsung dari tanggal 2 hingga 10 Oktober silam. Sudah 30 menit lebih Edwin meladeni pertanyaan dari penonton filmnya, Babi Buta Yang Ingin Terbang (babibutafilms, 2008), di teater nomor enam, Megabox sore itu, 3 Oktober 2008. Ia menyangka pertanyaan penonton sudah habis, tapi ia salah.

“Saya masih belum jelas, kenapa harus pilih lagu Stevie Wonder?” tanya salah seorang penontonnya. Edwin, ‘veteran festival’, yang sudah punya jam terbang mengatasi kondisi serupa ini, tampak berpikir sambil memegang pengeras suara. “Maksud saya, kalau hanya mau cari lagu yang cocok dengan tema film Anda, soal ‘harapan’, kan banyak lagu lain?” Akhirnya Edwin menjawab, “Film saya berkisah soal impian kalangan ‘minoritas’. Lagu itu saya pikir cocok, kenapa? Selain soal syairnya, Stevie Wonder menurut saya mewakili kemenangan kalangan ‘minoritas’ itu tadi. Dia bukan saja berkulit hitam, tapi juga buta, jadi dia itu seperti minoritas bahkan di kalangan minoritas sendiri, namun dia lalu sukses. Wajar kalau Stevie Wonder, bagi saya, jadi seperti simbol harapan buat kaum minoritas.”

Sejumlah penonton yang tadi melemparkan pertanyaan seputar pilihan Edwin menggunakan lagu hits Stevie Wonder itu kini tampak mengangguk-angguk. Edwin jelas lega, dan dengan tersenyum lebar menambahkan, “Satu hal lagi, lagu itu kan pernah populer sekali? Saking terlalu seringnya diputar dimana-mana, jadi sebetulnya saya sebel banget sama lagu itu.” Usai kalimat itu diterjemahkan ke penonton dalam bahasa Jepang dan Korea, ternyata masih ada yang mengajukan pertanyaan. Edwin mengusap kepalanya. Dari bangku penonton terlihat ekspresi wajah Edwin seolah mempertanyakan, “Apa lagi sih soal lagu itu yang belum jelas?” Moderator dan penerjemah sesi itu kini menoleh ke Edwin sambil tersenyum-senyum, menyampaikan apa yang dikatakan si penonton yang barusan bicara dengan serius dalam bahasa Korea, “Edwin, bisa tolong nyanyikan “I Just Called to Say I Love You”? Dan, mau tidak mau, Edwin, si penggembala “Babi” menyanyi dengan menerapkan strategi karaoke massal, melibatkan para penontonnya untuk ikut berdendang.

Penonton Festival Tercerdas di Dunia..

Kualitas penonton di festival ini konon adalah salah satu yang tercerdas di dunia. Itu diakui oleh para programer serta sejumlah festival director festival-festival kelas dunia lainnya, seperti yang disampaikan Christian Jeune (Cannes Film Festival, Festival Director) kepada Park Ki-Yong dekan AFA (Asian Film Academy) yang tersenyum lebar mendengar kisah perjuangan Edwin dan juga para sutradara “9808” yang bak mahasiswa mempertahankan skripsi di sidang terbuka pada sesi tanya jawab kedua film yang dua-duanya melibatkan nama Edwin itu.

“Ah, 45 menitan Q & A? Untuk dua film kalian? Total baru 90 menit kan?” komentar Park Ki-yong dengan santai sambil menyajikan daging bakar Korea ke piring-piring para tamunya malam itu. “Belum ada yang memecahkan rekor Q & A PIFF tahun 2003. Empat jam!” Astaga..

Kedua film diputar berurutan di hari yang sama. Sebagai tambahan catatan, secara strategis tim Babi Buta dan 9808 agak terlalu ‘berani’ karena tiba di Pusan tepat pada hari pemutaran. Dan akibatnya, begitu tiba di hotel, kedua tim harus segera berlarian lagi ke gedung pemutaran.

Meski kedua tim jadi bersemangat saat melihat poster Babi Buta yang Ingin Terbang (judul bahasa Inggrisnya Blind Pig Who Wants to Fly) berjajar dengan film-film dari berbagai negara yang termasuk di dalam segmen kompetisi (New Current) lainnya. Poster itu menghadap ke Grand Hotel, tempat kami menginap. Babi Buta adalah satu dari tujuh film Indonesia yang terpilih oleh PIFF selain 3 Doa/3 Cinta (sutradara: Nurman Hakim), Jermal (Sutradara: Ravi Bharwani), 9808 (Sutradara: Anggun Priambodo, Ariani Darmawan, Edwin, Hafiz, Ifa Isfansyah, Lucky Kuswandi, Otty Widasari, Steve Pillar Setiabudi, Ucu Agustin, Wisnu Suryapratama), Fiksi (Mouly Surya), Perempuan Punya Cerita (Fatimah Tobing, Lasja Fauzia, Nia Dinata, Upi), The Conductors (Andibachtiar Yusuf).

PIFF tampaknya mencerminkan keseriusan ambisi Korea untuk menjadi pusat perfilman Asia. Tahun ini, PIFF mencatat rekor penonton sejumlah 198, 818 ribu. Dengan total 315 judul film dari 60 negara, PIFF kali ini mengadakan 827 kali pemutaran. Lalu, siapa yang dianggap sebagai ‘bintang’ tiap kali PIFF berlangsung? Jawabannya: para sutradara. Adalah tradisi festival ini untuk tiap tahun mengeluarkan poster khusus bergambar wajah para sutradara yang hadir. Jangan heran bila urusan sutradara ‘mempertanggung-jawabkan karya’ di ajang Q & A bukanlah urusan main-main. Apalagi, siapa saja yang hadir di sesi tanya jawab ini kerap sulit ditebak. Selain pecinta film, kerap programer festival, media, maupun distributor juga ikut menyaksikan ketangkasan sutradara di forum-forum Q & A sepanjang festival berlangsung.

“Gue ditanya penonton, apa sih obsesi kamu?” cerita Mouly Surya (sutradara Fiksi). Ini karena si penonton ‘menangkap’ isu soal obsesi yang terlihat dari film Fiksi. “Apa makna politik menurut kalian?” itu pertanyaan yang diajukan kepada Anggun Priambodo, Edwin, Ifa Isfansyah, Lucky Kuswandi dan Steve Pillar Setiabudi di ajang Q & A usai pemutaran pertama 9808 Antologi 10 Tahun Reformasi. “Saya mau tanya ke Steve Pillar, sudah sampai mana proses hukum terhadap pelaku korupsi di film Anda?” itu pertanyaan dari penonton yang lain, masih di ajang Q & A 9808. Bahkan, meski tidak ikut ke Pusan, ada titipan pertanyaan buat Wisnu Suryapratama yang menyutradarai Kucing 9808: Catatan Seorang Mantan Demonstran, yang jadi bagian dari antologi 9808, “Ada yang bisa bantu jawab? Bagaimana sikap Wisnu Kucing hari ini soal politik? Apa dia jadi apolitis?”

Bukan Karena Lebih Tahu, Apalagi Sok Tahu..

Lalu adakah buku pintar untuk menghadapi penonton cerdas seperti di PIFF? Jawabannya:tidak ada. Tapi sepanjang festival kita bisa menduga-duga jenis pertanyaan yang bisa dipilah ke dalam beberapa kelompok. Semuanya mencoba menggali lebih dalam soal keseriusan sutradara dalam membuat filmnya. Kelompok pertanyaan pertama adalah soal relevansi/kedekatan sutradara dengan tema filmnya, contoh, pertanyaan soal obsesi buat Mouly Surya atau pertanyaan untuk Nurman Hakim (3 Doa/3 Cinta), “Apakah karakter utama film Anda ditulis sebagai semacam biografi dari Anda sendiri?”

Kelompok pertanyaan kedua berkaitan dengan soal motivasi, contoh, simak lagi pertanyaan buat Edwin soal lagu Stevie Wonder. Kelompok pertanyaan soal konteks cerita, contoh, pertanyaan buat Ravi Bharwani (Jermal), “Kita melihat para karakter sibuk menjaring ikan, lalu mengumpulkan ikan-ikan itu ke dalam keranjang-keranjang. Tapi, sesudah itu ikan-ikan itu diapakan? Siapa yang membelinya?”

Kelompok pertanyaan lain lagi berhubungan dengan interpretasi sutradara yang terlihat melalui bahasa visual mereka, contoh, sekali lagi dari forum tanya jawab 9808:”Saya mau tanya ke Edwin. Di film Trip to the Wound, Carlo dan Shilla naik bus. Sebetulnya bus itu maksud Anda menggambarkan apa?”

Dan ada juga kelompok pertanyaan yang ingin tahu ‘masa depan’ para sutradara, dan ini termasuk pertanyaan yang paling sering muncul di semua forum diskusi, “Apa proyek Anda setelah ini?”

Di luar kelompok-kelompok pertanyaan di atas, masih ada sejumlah pertanyaan yang ‘nyeleneh’ meski tidak kurang ajar. Contoh? Ya seperti waktu Edwin diminta menyanyi, atau waktu penonton yang dulu pernah tinggal di Indonesia mempertanyakan kenapa baru sekarang ia bisa melihat karakter Indonesia keturunan Cina yang digambarkan tidak kaya, atau ada juga yang kerap mengunjungi orang tuanya yang bekerja di Jakarta dan tidak pernah tahu ada tempat untuk pemutaran film-film Indonesia seperti yang ia lihat di Pusan dan ujung-ujungnya ngotot minta alamat KINEFORUM, lengkap dengan kode posnya.

Yang menarik dan patut dicatat adalah, tidak ada pertanyaan keminter alias sok pinter yang bersifat tehnis seperti, “Kenapa tidak pakai lensa wide?”, “Kenapa tidak pakai metode pendekatan X?” Saat bertanya, penonton dengan tulus memang merasa perlu tahu, bukan unjuk kekuatan untuk memperlihatkan seolah-olah mereka lebih tahu daripada si pembuat filmnya.

Dan Pelajaran ‘Moralnya’ Adalah…

Kecuali waktu sudah sangat mepet karena masih ada pemutaran berikutnya, moderator biasanya tidak akan membatasi jumlah pertanyaan penonton. ‘Masalahnya’, antusiasme penonton juga tidak dibatasi oleh waktu, sehingga kalau sebuah film diputar di malam hari, dan memperoleh giliran paling akhir di jadwal, belum tentu penonton jadi malas bertanya. Lebih gawat lagi, justru karena ada keleluasaan waktu, lamanya forum diskusi hanya bisa ditentukan oleh stamina penonton. Kita hanya bisa menduga barangkali itulah yang terjadi pada film pemegang rekor Q & A PIFF yang berlangsung selama empat jam di tahun 2003 itu.

Mengakhiri catatan ini, menyaksikan sejumlah sesi tanya jawab sepanjang Pusan International Film Festival 2008, kita seakan diingatkan bahwa fungsi utama festival film idealnya adalah sebagai forum yang mempertemukan pembuat film dengan para penonton. Keberpihakan PIFF kepada para penonton terlihat jelas. Bahkan para pembuat film sendiri pun harus punya karcis untuk hadir di pemutaran film yang dibuatnya. Intinya, dan barangkali ironisnya, justru itulah yang kerap kita (baca: sebagian pekerja film) sering lupa, bahwa kita bekerja buat penonton. Dan festival semacam PIFF ini menjadi penting, karena bisa mewajibkan para pembuat film ‘membayar harga’ dari pilihannya untuk menjadi pekerja film.***

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org