Bulan Film Nasional 2008
Film Suzanna diputar di Kineforum Dewan Kesenian Jakarta

Siaran Pers

Sejarah adalah Sekarang

Melanjutkan program Sejarah adalah Sekarang tahun 2007, tahun ini kineforum kembali mengadakan rangkaian kegiatan yang terdiri dari pemutaran film Indonesia klasik dan kontemporer yang dikumpulkan oleh para kurator muda, pameran Sejarah Bioskop Indonesia selama bulan Maret 2008 untuk merayakan Hari Film Nasional.

Retrospektif Lintas Dekade Karya Pekerja Film: Suzanna

Pada tahun ini kineforum menampilkan aktris Suzanna, yang telah menghasilkan film dari berbagai genre yang sangat berbeda sejak tahun 1950-an sampai 1990-an. Kekuatan seorang aktor dapat dilihat dari ragam peran yang ia bawakan. Suzanna setelah film terakhirnya pada tahun 1991 (Perjanjian di Malam Keramat), berhenti muncul dalam film Indonesia. Saat itu ia dikenal sebagai ratu film horor. Hanya sedikit penonton film yang tahu bahwa Suzanna adalah aktor yang cukup banyak menerima penghargaan dalam berbagai peran yang tak tanggung-tanggung ragamnya.

Pada awal karirnya sebagai aktor, Suzanna menerima penghargaan sebagai aktris cilik terbaik dalam film Asrama Dara (1958). Penghargaan ini tidak hanya ia terima dari Festival Film Indonesia 1960, tapi juga dari Festival Film Asia pada tahun yang sama. Dalam film drama seperti Asrama Dara yang disutradari Usmar Ismail, ia membawakan peran Ina, gadis remaja yang menghadapi perpisahan ayah dan ibunya. Sejauh penelusuran saya, ia adalah aktor anak pertama dari Indonesia yang pernah memenangkan penghargaan nasional dan internasional sekaligus melalui film yang sama.

Melalui Bernafas dalam Lumpur (1970) arahan sutradara Turino Djunaidy ia menerima penghargaan Runner Up I aktris terbaik versi Persatuan Wartawan Indonesia (1970-1971). Dalam film ini ia berperan sebagai perempuan desa yang berangkat ke kota dan terjebak kehidupan keras di kota. Film ini sempat dilarang diputar oleh Kodim Bandung karena penggunaan kata-kata kasar di dalamnya. Melalui film ini citra Suzanna berubah seiring pertambahan usianya, dari aktris cilik ia menjadi salah satu simbol erotisme perempuan dalam film Indonesia.

Meskipun sudah bermain dalam film horor sejak tahun 1971, karir Suzanna sebagai bintang cerita hantu baru dikukuhkan pada tahun 1980-an. Kisah-kisah seram yang dimainkannya, seperti yang diingatkan seorang kawan kepada saya, selalu saja punya basis legenda lokal. Karenanya peran apapun yang dibawakan Suzanna, baik sebagai Ratu Kidul, Calon Arang maupun Nyai Blorong – dengan mudah meresap ke dalam ingatan penonton sebagai hantu perempuan yang selalu meremangkan bulu kuduk. Untuk perannya dalam Ratu Ilmu Hitam (1981), Suzanna menjadi salah satu Unggulan FFI 1982 untuk pemeran utama wanita.

Menjelang kembalinya Suzanna ke dunia film Indonesia, ada baiknya kita tinjau lagi karir aktris ini. Ia barangkali satu di antara sedikit sekali aktris Indonesia yang mampu menguasai ingatan penonton dengan peran apapun dan citra apapun yang ia tampilkan.

Jadwal Pemutaran Lintas Dekade Suzanna

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org