Hayao Miyazaki

Klik gambar untuk memperbesar

65 th Mostra Internazionale d'Arte Cinematografica
Yang Terkenang dari Venesia
oleh Asmayani Kusrini
Redaktur Rumahfilm.org, Venesia, Italia

 

Saya tidak punya bayangan apa-apa tentang Hayao Miyazaki. Bagaimana modelnya, bentuknya, usianya, pribadinya, siapa yang peduli. Saya hanya menonton film-filmnya yang selalu saja menggemaskan: Tonari no Totoro (My Neighbor Totoro), Majo no Takkyubin (Kiki's Delivery Service), Sen to Chihiro no Kamikakushi (Spirited Away), Mononoke Hime (Princess Mononoke), dan tentu saja Howl no Ugoku Shiro (Howl's Moving Castle).

Tapi percayakah kalau saya bilang, Hayao Miyazaki adalah orang tua paling menggemaskan yang pernah saya temui? Rambut Miyazaki yang nyaris semuanya putih dengan mata sipitnya yang lucu dan bahasa tubuh seperti umumnya masyarakat Jepang (terbungkuk-bungkuk hormat setiap kali selesai bicara), sungguh membuat Mayazaki terlihat sama menggemaskan dengan karakter-karakter anak kecil dalam film-filmnya. Saya menyempatkan diri untuk bertemu Miyazaki di konperensi pers di Palazzo Del Casino usai menonton film terbarunya Ponyo On The Cliff By The Sea.

Ponyo membuat saya ingin sekali mencubit gemas Hayao Miyazaki. Bisa-bisanya dia membuat film yang membuat saya lantas merasa jadi anak-anak dan pengen terus jadi anak-anak. Padahal cerita Ponyo bukan cerita baru. Kisah ikan kecil yang ingin menjadi manusia ini diadaptasi dari dongeng karya HC Andersen, Little Mermaid. Tapi tidak seperti Mermaid buatan Walt Disney yang dipenuhi dengan ‘girly stuff’ (model rambut buatan salon, perhiasan centil atau body mermaid yang ala model serta pangeran impian yang tampan dengan badan kekar), mermaid buatan Miyazaki yang bernama Ponyo ini lebih ‘lugu’ dan sang ‘pangeran’ yang bernama Sosuke jauh lebih ‘cute’ dan baru berumur 5 tahun.

Ponyo tidak ditaburi dengan angan-angan romantis yang berbunga-bunga tapi dengan caranya sendiri, Miyazaki mampu membuatnya terasa romantis tanpa kehilangan sentuhan realitas untuk menyampaikan pesan tentang persahabatan, hubungan antara manusia dan lingkungan hidup. Dari segi artistik, pastinya, yang sudah pernah menonton karya-karya Miyazaki langsung bisa mengenali ciri khas dan garis tangan pria kelahiran Tokyo, 67 tahun lalu ini. Dan tentu saja dengan mottonya, no CG touch !

Film lain yang sempat saya tonton di Venesia ini dan meninggalkan kesan yang cukup dalam adalah Achilles and The Tortoise karya terbaru actor-penulis-pelukis-sutradara nyentrik, Takeshi Kitano. Sesuai judulnya, Kitano menggunakan paradoks yang diciptakan oleh filsuf Zeno of Elea, bahwa bagaimanapun Achilles yang terkenal sebagai pelari tercepat itu tidak akan pernah mengalahkan kura-kura jika si kura-kura mulai berlari 100 kaki didepan Achilles.

Paradoks ini digunakan untuk menggambarkan situasi seniman dan dunia seni dalam film Kitano. Walaupun paradoks Zeno ini dikemudian hari tidak berlaku jika menggunakan rumus lain, tapi Kitano rupanya lebih memilih untuk percaya kepada teori ini – mungkin – berdasarkan pengalamannya sendiri.

Machisu – putra seorang pengusaha sutra kaya yang juga seorang kolektor lukisan – punya bakat melukis yang luar biasa diusianya yang belum lagi genap 12 tahun. Bakat dan keinginan Machisu untuk jadi pelukis makin berkobar saat seorang pelukis favorit ayahnya memuji dan menghadiahinya topi pet – yang kemudian tidak pernah lepas dari kepalanya. Dari sini, alur cerita Achilles mulai terasa pahit seiring dengan jalan hidup Machisu yang tragis itu.

Disatu sisi, Kitano jelas memandang kecut terhadap ‘penghuni’ dunia seni (kolektor, pemilik galeri, kritikus, kurator). Tapi disisi lain, Kitano juga seperti putus asa melihat kelakuan – dan dahaga tak henti-henti – para seniman-seniman yang terobsesi untuk selalu menemukan cara baru, gara baru, teknik baru, dan mencipatkan karya orisinil yang belum pernah ditemukan sebelumnya.

Rasa pesimis Kitano juga ditujukan kepada sekolah-sekolah seni yang menurutnya hanya menciptakan seniman-seniman ‘penjiplak’. Ironis memang. Tapi kita bisa percaya bahwa dalam situasi dan kondisi tertentu – khususnya seperti yang ditunjukkan oleh Kitano dalam filmnya – Achilles memang tidak akan pernah menang melawan kura-kura. Apalagi jika menonton lengkap trilogi ‘artistic frustration’ nya ini: Takhesi’s, Glory to The Filmmaker! (pernah diputar di Rotterdam Film Festival), dan Achilles and The Tortoise.

Rupanya, rumor bahwa Marco Muller – direktur festival ini – adalah penggemar film-film Asia khususnya Jepang benar adanya. Tidak hanya menjaring film Hayao Miyazaki dan Takeshi Kitano, tapi Muller juga berhasil menggaet Mamoru Oshii (Ghost in the Shell) dengan karya animasi terbarunya The Sky Crawlers. Bercerita tentang pilot handal yang tidak punya ingatan. Berbeda dengan film Miyazaki yang ‘cute’ atau Kitano yang ‘pesimis’, tema film Oshii sangat ‘kelam’ dan menjinjing beban yang juga berat : immortal warrior yang diciptakan untuk jadi budak perang, masa lalunya dihapus dari memori otak, tapi kemudian mempertanyakan masa depan yang mungkin tidak ada –kecuali sebagai prajurit perang.

Dan tentu saja ada film karya Minoru Kawasaki, Monster X Strikes Back: Attack the G8 Summit. Ketertarikan Muller terhadap Asia tidak hanya terbatas pada Jepang. Dalam daftar film tahun ini, setidaknya ada dua film dari Filipina (Melancholia karya Lav Diaz, Jay karya FX. Pasion keduanya di seksi Orizzonti), satu film dari Thailand (Queens of Langkasuka karya Nonzee Nimibutr di seksi Out of Competition), dari China ada Cry Me A River karya Jia Zhangke di seksi Out Of Competition, Women karya Huang Wenhai dan Perfect Life karya Emily Tang di seksi Orizzonti. Dan sebuah film asal Vietnam, When I’m 20 karya Dang Pi Phan di seksi film pendek.

Festival Termahal

Tentu saja banyak lagi film lain yang sempat – dan harus – saya tonton. Diantaranya Shirin (Abbas Kiarostami), Inju La Bete Dans L’ombre (Barbet Schroeder), Machan (Uberto Pasolini), The Burning Plain (Guillermo Arriaga), dan banyak lagi. Tentu saja juga film-film di program Questi Fantasmi.

Setelah kelelahan menonton film, saya baru menyadari perbedaan mendasar menonton film di Venice dengan menonton film di festival-festival lainnya. Menonton film di Mostra Internazionale d’Arte Cinematografica seperti sebuah beban tersendiri, karena ternyata film festival ini adalah festival dengan akreditasi termahal yang pernah saya kunjungi. Lima puluh Euro untuk sebuah akreditasi pers. (Dengan harga itu, saya bisa menonton 50 judul film di Musee Du Cinema Brussels). Bandingkan misalnya dengan Cannes yang gratis, Rotterdam 30 Euro, atau Berlin dengan program film terbanyak yang mematok harga 40 Euro.

Fakta bahwa berjalan diatas karpet merah pun bisa ‘dibeli’ di Mostra membuat saya sedikit kecewa. Anda bisa melenggak lenggok diatas karpet merah bersama dengan para bintang dan sutradara diiringi hujan kilatan blitz, asal berani bayar 1300 Euro. Walaupun 1300 Euro itu untuk tiket berjalan diatas karpet merah Sala Grande selama 10 hari, tetap saja waktu mendengar jumlah itu, saya langsung pusing. Saya jadi ingat salah satu kalimat difilm Achilles and The Tortoise. Nilai sebuah karya seni itu tidak melulu karena mutu, tapi kadang sangat tergantung dari ‘kemasan’.

Menonton film di Mostra jadinya tidak semurni niat menonton film di Cannes atau Rotterdam atau di festival manapun yang pernah saya kunjungi. Di berbagai festival, mengejar pemutaran film selalu dengan alasan ‘artistik’ entah itu karena sutradaranya, tema filmnya, aktor atau artisnya, dan lain-lain. Di Mostra, pindah dari satu pemutaran ke pemutaran film lainnya diiringi dengan kalkulasi biaya di kepala, penuh perhitungan untung rugi. Belum lagi kenalan-kenalan baru saya di Italia --baik yang yang punya akreditasi atau yang tidak-- terus mengingatkan: Ricordi che i vostri soldi quei avete speso ! (Ingat uang yang sudah kamu habiskan!) ***

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org