Hancock:
Cerita Macam Hancock hanya Bisa Terjadi di Amerika

oleh Eric Sasono
Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta

 

Ada beberapa alasan yang saya karang-karang.

Pertama, John Hancock adalah perusahaan asuransi Amerika, yang didirikan oleh seorang founding fathers dunia bisnis di sana. Hancock, jagoan yang amnesia itu, dapat nama itu ketika ia ditanya “berapa nomer John Hancock-mu?” Mungkin kalau di Indonesia mungkin yang ditanya adalah nomer Bumiputera-mu, dan julukan “Hancock” menjadi “Boemipoetera” yang musuhnya adalah penjajah Belanda. Kalau ia hidup di masa sekarang dan nyeleneh, mungkin nama asli jagoan itu adalah Abdurrahman Wahid.

Kedua, di Amerika yang namanya opini publik itu esensial, terutama sejak Walter Lippman menulis buku Public Opinion. Tak peduli Hancock menyelamatkan nyawa orang atau menangkap penjahat, kalau opini publik memusuhinya, ia pun harus dapat konsultan PR, supaya tak harus bayar collateral damage akibat aksinya yang sembarangan.

Ketiga, Amerika adalah bangsa yang percaya pada anonymous group untuk mengatasi masalah psikologi. Mulai dari hiu vegetarian di Finding Nemo sampai superhero di film ini harus ikutan kelompok yang menyebut-nyebut kelemahan diri sendiri supaya bisa mengatasi masalah. Padahal, seperti sindiran sinis Chuck Palahniuk dalam Fight Club, anonymous group malah bikin ketagihan ketimbang jadi pengobat. Tak apa, mungkin di Amerika, orang lebih percaya pencapaian artifisial yang diomong-omong ke orang lain ketimbang perubahan jiwa yang tenang dan lebih mendalam.

Keempat, Amerika – seperti kata Umberto Eco – adalah kampung halaman superhero. Superman yang merupakan migran trans-planet saja memilih untuk hidup dan membangun keluarga di Amerika. Cerita tentang superhero pemabuk, pengangguran dan serampangan hanya bisa diterima dalam masyarakat yang memang sangat akrab dengan cerita superhero berperilaku pramuka macam Superman atau yang percaya bahwa “with great power comes great responsibility” macam Spider-Man. Penyimpangan terhadap nilai standar para superhero tentu hanya bisa dilakukan apabila nilai standar itu diterima.

Tak heran kalau kritikus ulung Roger Ebert lumayan suka film ini karena ia selalu dihantui pertanyaan tentang aksi gagah-gagahan seorang superhero: bagaimana dengan kerusakan yang mereka sebabkan? Sepadankah dengan jasa mereka? Siapa yang harus menanggung ganti rugi gedung yang runtuh atau jembatan yang patah akibat terjangan makhluk-makhluk superkuat itu? Pertanyaan Ebert seperti terjawab oleh Hancock, dan senanglah ia.

Amerika memang kesengsem dengan realisme, kata Umberto Eco ketika menjelaskan soal hologram. Maka dongeng-dongeng modern mereka pun perlu dibenturkan dengan kenyataan sehari-hari. Hasilnya tentu semacam logika mismatch yang sudah didahului oleh The Incredibles (superhero menghadapi krisis usia paruh baya), Spider-Man 2 (superhero di masa puber) dan Spider-Man 3 (superhero yang tak pandai memilih model rambut).

Padahal cerita Hancock ini tak seberapa ketimbang Top Ten atau Watch Men-nya Allan Moore atau serial Astro City-nya Kurt Busiek. Kalau saja Ebert membaca komik-komik itu tentu ia akan segera tahu bahwa realisme di Hancock hanya bumbu-bumbu penyedap tak sehat saja buat cerita. Karena dari bumbu ini, sutradara Peter Berg seperti tak bisa menentukan apakah ia akan melucu atau mau membuat perenungan tentang kesepian sejati dan kemanusiaan?

Maka bertahanlah pada aksi yang keren dan ber-attitude cool, attitude yang tak akan lapuk di makan jaman dan sudah jadi suasana hati publik sejak para jagoan jazz di New Orleans memamerkannya di tahun 1940-an. Soal pahlawan yang pemabukan tak perlu dikuatirkan, toh Hancock tak akan merokok di layar lebar, karena rokok sudah lama tak tampil di layar bioskop Amerika – tak seperti di India. Alcoholic anonymous akan menyembuhkannya, dan ia masih punya konsultan PR yang akan jadi pahlawan pribadinya – tipikal Jerry Maguire.

Hancock masih tokoh pahlawan ideal Amerika seperti Rudy Guillani yang menyapa “good job!” sambil menepuk punggung para petugas pemadam kebakaran sesudah mereka bekerja keras membersihkan reruntuhan gedung menara kembar. Ia bukan Michael Moore dalam Sicko yang mendadarkan kenyataan bahwa para pahlawan 11 September itu membayar harga obat gila-gilaan. Dan masih ada Charlize Theron di film itu, yang sepadan untuk dipasangkan dengan Will Smith sebagai pasangan dewa-dewi (kita tahu ia tentu tak akan dipasangan dengan Jason Bateman yang lebih cocok jadi penonton di dunia nyata).

Ini memang film 4 Juli yang tak jauh beda dari film-film 4 Juli belakangan – selalu ada Will Smith di situ. Sejak Independence Day, Will Smith (bukan lagi Tom Cruise atau Tom Hanks atau Bruce Willis) sudah jadi jaminan buat bisnis yang bagus setiap liburan perayaan kemerdekaan mereka. Ini film kelimanya yang dirilis tanggal 4 Juli. Maka pendapatan kotor 107,3 juta dolar openingweekend menandakan bahwa kepahlawanan Amerika sudah pelan-pelan tak lagi terlalu awas terhadap warna kulit. Apalagi sekarang ada Obama.

Maka seperti Titanic, tiba-tiba film ini membangkitkan sesuatu di luar soal-soal film dalam diri saya ketika menontonnya. Saya tetap bisa menikmati setiap aksi dalam film ini. Tapi menerima begitu saja cara bercerita dan segala asumsi-asumsi di dalamnya, kayaknya nanti dulu ya.. ***

Resensi lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org