
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() Ironman Iron Man:
Majalah Lexean terbitan Singapura pada edisi bulan Juli 2007 membuat sebuah laporan utama, yang bagi saya, rada iseng: superhero. Selain melihat siapa saja manusia sekarang ini yang patut disebut sebagai “pahlawan” (mereka menyebut antara lain Oprah Winfrey dan Vladimir Putin sebagai superhero dunia nyata), mereka juga bermain-main dengan pengandaian. Seandainya superhero yang dikenal dalam dunia komik benar-benar hidup, siapa kiranya yang sungguh-sungguh akan berguna bagi keadaan dunia saat ini? Superman jelas ya, karena dengan kekuatannya, ia bisa membantu mewujudkan ‘perdamaian dunia’. Batman juga berguna, karena kemampuan detektifnya mungkin bisa digunakan untuk melacak uang para koruptor kelas dunia. Hulk bukanlah superhero yang berguna karena ketidakstabilan emosinya; dan seterusnya. Rasanya Lexean tidak memasukkan Iron Man dalam daftar mereka itu, saya lupa. Pengandaian yang dilakukan oleh Lexean itu dilakukan oleh film Iron Man, superhero dari perusahaan komik Marvel itu. Jika Iron Man sungguhan hidup di jaman sekarang, seperti inilah kepahlawanannya; demikian kiranya semangat Hollywood bicara mengenai idealisasi dan relevansi khayalan mereka. Ceritanya mirip lagu lirik dangdut lama “kau yang mulai, kau yang mengakhiri”. Tentang seorang milyarder bernama Tony Stark (Robert Downey Jr.) yang kekayaannya berasal dari pabrik senjata warisan ayahnya. Ia seorang playboy yang pada morning after lupa nama perempuan yang diajaknya tidur malam tadi. Namun ia punya uang banyak, kuasa besar dan otak pintar. Menjadi seenaknya sama sekali bukan masalah baginya. Sampai tiba saat ketika ia diculik di Afghanistan sesudah memamerkan senjata terbarunya. Sekelompok orang bersenjata menahannya dan memintanya membuat senjata pamungkas: rudal Jericho. Alih-alih, Tony membuat baju besi yang menjadi purwarupa (prototype) bagi Iron Man. Dibantu seorang insinyur Afghanistan bernama Yinsen, Tony bisa menyelesaikan misinya dan kabur dari tahanan itu. Untuk menemukan kenyataan bahwa ia harus mengubah dunia. Pertemuannya dengan Yinsen membuatnya sadar bahwa ia tak boleh menyia-nyiakan hidupnya. Jadilah ia kemudian seorang pahlawan super dengan baju besi (bukan besi, tepatnya, tapi logam hibrida yang digunakan satelit militer dan disepuh warna emas dan merah yang seksi), beterbangan kesana-kemari menghancurkan apa yang pernah ia bangun dengan bangga. Hollywood seperti menangkap semangat orang-orang partai Demokrat Amerika sekarang ini. Perang yang mereka mulai harus diakhiri dengan segera agar mereka bisa berkata bahwa ‘inilah legasi Amerika buat dunia’ (dan bukan yang itu –yang sekarang tampak di Irak dan Afghanistan). Tampaknya memang film selalu bisa jadi jalan buat menggambarkan apa yang tak terjadi di kehidupan nyata –atau mungkin yang belum terjadi. Karena di Amerika, sampai orang Demokrat menjadi presiden, tentara Amerika di Timur Tengah masih di sana, dan perlawanan dari dalam negeri masih ada. Dalam kisah Iron Man, masih ada war mongering dan war profiteering yang mengambil keuntungan dari berjualan senjata dan ilusi kekuasaan yang lahir darinya. Nama yang disebut dalam film Iron Man adalah Obadiah Stane (Jeff Bridges), mitra dari ayah Tony Stark yang ikut mendirikan Stark Industries. Obbie yang botak dan berbadan besar itu tak rela keuntungan yang didapat dari perang, musnah begitu saja. Bahkan ia yang memang sejak awal berencana menghabisi Stark dan mengambil alih singgasananya. Obbie lantas bisa mendapat purwarupa baju besi yang pernah dibuat oleh Stark dan membuat baju perangnya sendiri. Bertempurlah Iron Man yang seksi dengan baju buatan Obbie yang monstrous dalam sebuah pertempuran terakhir. Tak sulit sama sekali mengira siapa yang menang. Bahkan mungkin tak sulit-sulit amat menerka pertempuran itu akan berjalan seperti apa dan apa peran yang bakal dimainkan Pepper Potts (Gwyneth Paltrow) dalam pertarungan dua senjata dahsyat itu. Amerika memang sedang mengulang-ulang cerita lama. Tak ada yang baru sama sekali dalam dongeng ilusif mereka ini, kecuali mungkin pada sensasi-sensasi fisikal yang disebut oleh ahli film asal Australia, Geoff King, sebagai spectacular narrative. Sandaran film-film Hollywood sekarang ini bukan sekadar pada elemen naratifnya, tapi pada elemen naratif yang spektakuler. Jika tidak spektakuler, lupakan saja dan berharaplah pada keuntungan perjudian yang mirip main jackpot (sesekali film macam Juno menang jackpot macam ini). Elemen naratif spektakuler itu mungkin tepat didapatkan dari daftar film seperti: The Day After Tomorrow, Spiderman, Transformer, dan kini, Iron Man. Ledakan bola api setinggi bukit, sensasi terbang di antara dua pesawat jet Hornet F-22 dan pandangan mata yang bisa menganalisis obyek yang kita lihat, semuanya adalah sensasi yang spektakuler buat penonton. Soal tema, rasanya film Hollywood sedang mengalami apa yang sedang dialami Indonesia: mengulang-ulang apa yang pernah dibuat dengan formula yang sudah sangat ketebak. Bisa jadi sedang ada kejenuhan, dan Iron Man bukan sekadar menyelamatkan dunia dalam fiksi tapi sedang memperpanjang napas industri dalam fakta. Maka superhero macam Iron Man mungkin akan bertahan beberapa tahun ke depan di layar lebar bersama fantasi, sekuel, dan remake film-film Asia. Hollywood dan Amerika masih merasa bahwa menonton bioskop adalah sensasi fisik yang heboh-hebohan macam itu. Bersama dengan pengulangan-pengulangan itu, kita juga bisa melihat bagaimana method acting para aktor Hollywood mencapai puncak kematangannya dalam film ini. Bahkan untuk film superhero yang tak membutuhkan akting terlalu hebat, kita bisa melihat bagaimana Robert Downey Jr. benar-benar menjadi Tony Stark dan Jeff Bridges benar-benar menjadi Obadiah. Keduanya terasa seakan tak berusaha sama sekali untuk masuk ke dalam peran mereka, sama wajarnya dengan mengedipkan mata. (Catatan: Jeff Bridges disebut oleh mendiang kritikus Pauline Kael sebagai the most effortless actor on screen.) Sebagai pengingat saja, bahwa kata kunci method acting adalah: menjadi karakter yang mereka perankan seakan mereka wadah kosong yang siap diisi. Semakin bening mereka sebagai wadah, semakin berhasil akting mereka. Apalagi ketika karakter yang mengisi itu begitu sulitnya seperti misalnya kasus Charlize Theron di Monster (2003) atau Hilary Swank di Boys Don’t Cry (1999). Film Iron Man ini menegaskan bahwa Hollywood ternyata menjadi tempat menuai panen method acting yang mungkin tak pernah diperkirakan sebelumnya oleh para pencetusnya seperti Stanislavski. Menyaksikan akting kedua pemain laki-laki itu, ditambah imbangan dari Gwyneth Paltrow atau rintisan jalan dari Terrence Howard (kita tunggu peran besar bagi aktor ini untuk menjadi Denzel Washington baru), kita seperti diingatkan bahwa departemen yang satu itu sedang masuk ke puncaknya (dan, apakah selanjutnya akan turun seperti nasib elemen naratif film-film Hollywood?). Iron Man bisa jadi merupakan titik balik positif bagi Robert Downey Jr. dan Jeff Bridges (bandingkan misalnya dengan peran Bridges sebagai The Dude di The Big Lebowsky) Maka bicara soal warisan atau legacy sebagaimana yang disebut-sebut terus dalam film ini, kita punya peribahasa lama yang bisa dimodifikasi. Harimau mati meninggalkan belang, Tony Stark mati meninggalkan senjata pamungkas hebat, Amerika mati meninggalkan dongeng ilusif tentang rasa bersalah yang selalu ingin bisa mereka tebus. Judul Film : Iron Man; |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |