Ploy:
Maka Pada Suatu Pagi Hari..

oleh Eric Sasono
Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta

 

Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya: kenapa?

(Sapardi Djoko Damono, Maka Pada Suatu Pagi Hari)

Pukul 5.30 pagi, Wit tiba di Bangkok. Penerbangan 22 jam dari Amerika melelahkannya, tapi ia butuh rokok. Di bar hotel dini hari itu tak banyak orang. Selain Wit dan bartender, ada seorang perempuan muda berambut kribo bercanda mesra dengan seorang lelaki di sebuah sudut. Wit merokok tenangsendirian; sampai kemudian sang perempuan menghampiri.

Nama perempuan itu Ploy. Ia menunggu ibunya yang akan datang dari Stockholm untuk menjemputnya jam 10 pagi. Ploy meminta rokok kepada Wit , selanjutnya merkea berbincang akrab . Ploy memperdengarkan Wit musik dari i-Pod-nya. Musik yang tak dikenal oleh Wit.

Masih ada waktu 4 jam sampai ibu Ploy datang, dan Wit mengajak Ploy ke kamarnya. “Kamu bisa menyegarkan diri dan ada waktu buat tidur sejenak,” kata Wit. Lalu Ploy mengambil tasnya. “Ajak pacarmu,” kata Wit menunjuk ke lelaki muda tadi yang kini sudah tertidur dengan kepala tergolek di meja. “Kenapa kaupikir ia pacarku?” jawab Ploy. Dan mereka pun berjalan berdua ke kamar Wit.

Di dalam kamar, Daeng, istri Wit sedang resah. Ia curiga pada suaminya setelah menemukan selembar kertas lusuh bertuliskan nama seorang perempuan dan nomer telepon di saku jas sang suami. Maka kedatangan Ploy ke kamar mereka sama sekali bukan saat yang tepat. Belum pukul 6 pagi begini dan sang suami kembali sambil membawa perempuan muda dan langsing?

Daeng tak bisa mengerti. Ia ingin protes, tapi Ploy sudah di situ. Daeng memaksa Wit untuk mengusir Ploy , tapi Wit tak mau. Ia malah lekas berbaring di tempat tidurnya sementara Ploy masuk kamar mandi untuk menyegarkan diri. Daeng bagai cacing kepanasan. Bagaimana dengan kecurigaan, kekuatiran, ketidaknyamanan, dan segala perasaan negatif Daeng lainnya terhadap Wit? Ia sedang butuh jawaban dari suaminya, ketika tiba-tiba suaminya membuat perasaannya berada di luar bingkai, padahal ia tetap harus menjadi bagian dari gambar yang ada di dalam bingkai itu.

Ploy karya Pan-Ek Rattanaruang menampilkan sebuah drama dengan latar panjang. Ia berhasil menggambarkan bahwa every relationship is unique pada sebuah situasi di pagi hari yang singkat. Peristiwa dalam film ini memang berlangsung singkat, tapi kita tahu bahwa fragmen –sekecil apapun– lahir dari rangkaian sebab akibat yang terakumulasi dan punya sejarah panjang. Dan Pan Ek seperti punya waktu segudang untuk berasik-asik dengan situasi itu.

Inilah sebuah pilihan estetik yang meletakkan sebab akibat di luar layar. F ragmen sebuah situasi diungkapkan secara mendetail, bukan pada sebab akibatnya. Motivasi karakter jadi semacam latar belakang yang kemudian menjelaskan dorongan impuls bagi tindakan-tindakan atau bahkan khayalan tokoh dalam fragmen situasi itu. Seperti sajak Sapardi Djoko Damono yang judulnya menjadi judul resensi ini dan saya kutipkan di atas.

Kenapa “ia” dalam sajak Sapardi itu ingin menangis sambil berjalan tunduk dan seterusnya di pagi hari itu? Kita tak tahu, dan bukan itu perhatian utama Sapardi. Setiap fragmen situasi yang dihadapi manusia punya latar belakang dan tak semua kita punya kesempatan mengetahuinya dengan baik. Fragmen situasi tetap merupakan fragmen situasi: tak lengkap dan terasa menyimpan hal-hal yang tak terjelaskan.

Namun Pan-Ek merusak sendiri fragmen situasi itu. Ia memberi sebuah penjelasan dalam dialog yang mungkin unik, tapi membingkai cerita ini jadi sempit. Pan-Ek berspekulasi bahwa pernikahan punya expiry date, dan jangan-jangan hal itu sedang terjadi pada pasangan Wit dan Daeng. Padahal kita sudah diberi bahan spekulasi tentang motif Wit mengundang Ploy ke kamar sementara istrinya sedang berada di sana. Apakah Wit sedang mencoba main gila dan melihat seorang Lolita pada Ploy , ataukah ia memang seorang paman baik hati semata? Apa sesungguhnya yang ia pikirkan tentang istrinya ketika mengajak Ploy ke kamar? Dan Ploy? Ia adalah generasi i-Pod Thailand yang tak takut masuk ke dalam kamar seorang yang baru dikenalnya kurang dari satu jam. “Ploy” di luar layar adalah gangguan bagi kemapanan berpikir di Thailand karena perempuan muda – kecuali pelacur – tak mungkin mau bertindak seperti Ploy.

Dan hubungan antar manusia telah melahirkan sebuah situasi-situasi unik ketika orang-orang mengambil resiko; atau ketika mereka terlambat bertanya “kenapa saya berada di sini?” Se misal Daeng yang akhirnya memutuskan keluar kamar hotel dan menerima ajakan seorang asing yang mengenalinya sebagai bekas bintang film terkenal. Daeng yang cantik ini pun ikut tanpa tahu resiko apa yang menunggunya di sana. Celakalah Daeng karena Pan-Ek tidak berbelas kasihan padanya dan memperlihatkan bahwa sebuah situasi macam ini tidak selalu tanpa resiko semisal pada sajak Sapardi. Daeng menjadi korban dua kali: korban suaminya dan korban Pan-Ek.

Bisa jadi kita tak rela. Pertama, menjadikan Daeng sebagai korban adalah sebuah permainan yang agak tak lucu. Pan-Ek sudah membangun simpati kita sepenuhnya pada Daeng dan kekuatirannya –bahkan imajinasi liarnya ketika ia menyorongkan bantal kepada Ploy dengan niatan bukan sebagai alat bantu tidur. Kita tak rela Daeng harus jadi korban, sekalipun ada tebusan baginya.

Kedua, sebenarnya kita tak perlu fakta keras dalam sebuah fragmen situasi seperti ini dan mungkin lebih bisa menikmati saat ketika kenyataan dan suasana hati yang tak bisa dibedakan. Se perti ketika Ploy membayangkan petugas pembersih hotel janjian untuk making love dengan bartender di sebuah kamar hotel yang kosong. Adegan kedua orang ini bercinta menjadi irama dan mood yang menganyam situasi yang dihadapi oleh Wit-Daeng-Ploy. Khayalan dan kenyataan bertumpuk dalam ruang tontonan kita; alangkah nyamannya.

Fakta yang disajikan oleh Pan-Ek telah menarik paksa Daeng ke dalam sebuah frame hubungan segitiga yang tiba-tiba tercipta oleh kehadiran Ploy. Seakan Pan-Ek ingin berkata: inilah akibatnya ketika kau menempuh risiko, bahkan sekadar untuk mencari udara segar di luar kamar ketika kau kesal pada suamimu. Perlukah kita dihadapkan pada tragedi macam itu? Ketika kita sedang berhadapan dengan sebuah fragmen situasi yang sumir biasanya kita tak siap, tapi Pan-Ek tampaknya tak peduli. Ini sebuah pernyataan yang tegas dari Pan-Ek, dan marilah kita menerimanya bersama-sama.

Tapi, siapa yang bisa menerimanya? Terus terang, saya termasuk yang menarik napas panjang sesudah selesai menonton film ini.***

Judul: Ploy (2007). Sutradara: Pan-Ek Rattanaruang. Pemain: Pornwut Sarasin (Wit), Lalita Panyopas (Daeng), Apinya Sakuljaroensuk (Ploy)

Resensi lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org