
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
Red Cliff:
Salah seorang pengawal Liu Bei melaporkan bahwa para petani yang tengah mengungsi memperlambat gerak pasukan dalam menghadapi lawan. Ia mengusulkan agar mereka disingkirkan saja. “Kalau kita tidak bisa melindungi mereka,” tangkis Liu Bei, “lalu apa gunanya perang ini?” Di hadapan kepemimpinan semacam ini, saya ingin menjura. Ia sadar kehadirannya untuk mengayomi dan melindungi, bukan menggencet dan menjerumuskan. Benturan dua model kepemimpinan inilah yang membikin Red Cliff membara. Saya menonton Red Cliff seperti penonton wayang yang belum pernah membaca Mahabharata atau Ramayana. Bagusnya, John Woo telah menata film yang enak diikuti, termasuk oleh mereka yang belum menyentuh novel atau catatan historis seputar Tiongkok pada periode Tiga Kerajaan, yang menjadi sumber film ini. Dengan bantuan Wikipedia, saya pun bisa memetakannya secara lebih terang. John Woo mencuplik episode ketika dinasti Han mulai keteteran, berfokus pada peristiwa yang dikenal sebagai Pertempuran Karang Merah. Perdana Menteri Cao Cao (Zhang Fengyi) mendesak Kaisar Xian untuk mendepak Liu Bei (Yong You) dan Sun Quan (Chang Chen) di wilayah selatan, yang dituduhnya sebagai pemberontak. Dalam pertempuran Changban, pasukan Cao Cao menggocoh Liu Bei, memaksanya mengungsi dari Xinye. Atas nasihat Zhuge Liang (Takeshi Kaneshiro), Liu Bei mengulurkan tangan persekutuan pada penguasa Wu, Sun Quan, yang awalnya masih ragu-ragu. Secara diplomatis, Zhuge Liang mencari dukungan Zhou Yu (Tony Leung), penasihat utama Sun Quan. Bersekutulah akhirnya Liu Bei dan Sun Quan untuk menangkis serangan lanjutan Cao Cao. Bersusunan seperti kue lapis, film dibuka dengan Pertempuran Changban dan ditutup dengan tahap pertama Pertempuran Karang Merah. Lalu, penyusunan strategi menjelang pertempuran berikutnya, dan film pun dipenggal untuk dilanjutkan Januari nanti. Betul. Untuk publik Asia, film sepanjang empat jam lebih ini disajikan dalam dua bagian. Penonton di luar Asia akan mendapatkan satu versi singkat sepanjang dua setengah jam pada awal 2009. Di antara dua pertempuran itulah tersaji refleksi kepemimpinan inspirasional. Seusai kekalahan di Changban, Liu Bei digambarkan tekun menenun kasut bagi pasukannya, sedangkan anak-anak tetap menjalani pelajaran membaca, menunjukkan ketenangan moril dan pengharapan yang liat di tengah masa krisis. Dan, ini dia: seorang pemimpin yang menyediakan kasut bagi pengikutnya! Kasut rumput itu sendiri nantinya dijemba oleh Zhou Yu, dijadikan simbol kukuhnya kesatuan, dibandingkannya dengan sehelai rumput yang rapuh dan mudah putus. Meskipun kalah jumlah pasukan dari Cao Cao, Liu Bei dikelilingi sejumlah panglima terkemuka yang menaruh hormat pada kepemimpinannya. Pasukan Cao Cao, sebaliknya, lebih mirip gerombolan yang terpaksa patuh karena ditaklukkan, tak bisa ditebak loyalitasnya. Cao Cao bisa jadi menyembunyikan kekaguman dan siapa tahu kecemburuan saat ia melepaskan Guan Yu, salah satu jenderal pendukung Liu Bei, yang nyaris menebasnya dengan parang-kapak. Zhou Yu menampilkan model kepemimpinan yang tak kalah unik. Ia memadukan pelatihan yang disiplin dengan apresiasi musik yang elok. Di tengah latihan, ia berhenti untuk memperbaiki seruling seorang bocah gembala. Jenderalnya, Gan Xing, memohon ampun, merasa gagal mendisiplinkan pasukannya, yang ternyata telah mencuri kerbau si bocah. (Adegan ini, terus terang, membuat saya trenyuh. Bisa dibayangkan kalau ada pejabat teras negeri ini yang memohon ampun atas dosa korupsinya?) Apresiasi musik Zhou Yu dielaborasi lebih jauh saat ia menanggapi bujukan Zhuge Liang untuk berperang: jam session sepasang qin (sitar Tiongkok) yang bergelora ditaburi percik-percik homoerotisme, sekaligus adu seni peran yang memukau. Persekutuan mereka ditandingkan dengan Cao Cao, yang merasa dirinya sebagai rubah tua yang lihai, pongah atas berbagai pencapaian yang telah direnggutnya, dan sudah berpesta sebelum berperang. Ketika ia berniat menatah puisi di Karang Merah, bisa dibayangkan puisi macam apa yang mungkin ditorehkannya. Dan, kita pun tahu kepada siapa kita diajak berpihak. Perbandingan model kepemimpinan itu sekaligus mengingatkan saya pada percakapan di seputar meja ronda di kampung. Seorang tetangga melontarkan analisis menggelitik: berbagai ontran-ontran di negeri ini –terentang sejak G30S sampai aksi terorisme– hanyalah asap dari api intrik perebutan kekuasan antara para politisi dan panglima nun di pusat sana. Pihak yang menang tak hanya memuaskan ambisi pribadinya, namun juga mesti membuka jalan bagi kepentingan negara adikuasa yang mau turut mengeduk keuntungan dari negeri gemah ripah loh jinawi ini. Alhasil, di negeri yang konon sudah merdeka ini, rakyat terus-menerus menjadi pihak yang terpinggirkan. Duh, Cao Cao banget dong! Sosok pemimpin model Liu Bei dan Zhou Yu baru menjadi dambaan. Apa mungkin ya muncul dalam suksesi politik sebentar lagi? Ah, tampaknya saya membaca Red Cliff secara terlalu romantis. Terlalu jauh. Pertempuran Karang Merah menjadi pertempuran menentukan dalam sejarah Tiongkok; Pemilu 2009 gelagatnya masih seperti nyanyian Dian Piesesha, tidak bakal membawa perubahan substansial bagi bangsa ini. Ah, kok jadi melantur... Kembali ke filmnya. Refleksi itu sendiri memang membuat bagian tengah film terasa lumayan lamban, namun sekaligus menjawab pertanyaan yang sempat terlontar, ”Perang macam apa pula ini?” Juga mengisyaratkan, pemenang pertempuran akan menentukan puisi gagrak mana yang bakal terukir di tebing terjal Chibi. Di luar bagian tengah yang lambat-lambat nikmat, dua adegan pertempuran tergarap elok. Tidak membalet syahdu ala Hero atau Curse of Golden Flower, meski diselingi slow motion khas John Woo, penonton langsung disurukkan ke tengah panasnya pertempuran. Pertempuran Changban tampil kompleks dan berlapis dengan memaparkan sejumlah sisi. Ada Zhao Yun yang menyelamatkan bayi Liu Bei; ada Zhang Fei dengan pasukan yang membalikkan perisai untuk menyilaukan lawan; ada pula Guan Yu tadi. Pertempuran di Chibi berlangsung sebagai satu adegan panjang, disorot dari jarak dekat, namun sesekali kamera ditarik menjauh untuk memperlihatkan formasinya dari atas. Dari udara, formasi cangkang kura-kura itu terlihat seperti bentuk geometris ganjil bekas peninggalkan alien. Boleh diduga, Peter Jackson pun akan ngiler melihat koreografi sekolosal ini. Dukungan pemerintah Cina tampak dengan meminjamkan seribu tentara terbayar. Kura-kura hanya salah satu simbolisme binatang yang bertaburan di film ini. Khas Tiongkok, namun sekaligus universal. Ada burung kecil di tangan Kaisar Xian; ada perburuan harimau untuk menepiskan keraguan Sun Quan; ada kuda yang kesulitan melahirkan; ada merpati putih yang dikirim Zhuge Liang untuk mengintip formasi armada Cao Cao. Di luar binatangisme, masih ada Putri Sun ShangXiang (Vicky Zhao) yang lebih galak dan lebih riang dari Zhang Ziyi di Crouching Tiger, Hidden Dragon. Saya tidak tahu apakah saya akan bisa mengakses Sam Kok dalam waktu dekat ini. Yang jelas, saya tak sabar untuk menyelinap kembali ke bioskop saat bagian kedua Red Cliff dirilis.*** Arie Saptaji, tukang nonton. Ngeblog di ariesaptaji.multiply.com |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |