
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
Tribu:
Ebet umurnya mungkin kurang dari 10 tahun. Siang itu, ia menunggu di luar pintu, sementara mamanya berada di dalam rumah-satu-kamarnya. Seorang laki-laki bersama mamanya, dan pasangan itu bersenggama dengan berisik. Sang lelaki memaki-maki dan mengata-ngatai Mama Ebet, sementara penisnya sibuk bekerja. Ia cemburu karena Mama Ebet tidur dengan lelaki lain. Tentu saja Mama Ebet yang pelacur itu mengatai balik si lelaki. Ebet mendengar semua kata-kata kotor itu dari luar. Selamat datang di kultur kekerasan dan seks yang bercampur jadi satu di kawasan Tondo, Manila, Filipina. Kemiskinan dan – kemudian akan kita lihat – akses terhadap senjata adalah paduan yang kita bisa duga kemana arahnya. Juga tak sulit menduga langkah macam apa yang akan diambil anak macam Ebet. Di kampung itu ada banyak geng bersenjata. Anggotanya muda-muda, tak terlalu jauh beda usia dengan Ebet. Thugz Angels adalah yang terdekat, dan Ebet melamar masuk ke sana . Tak mudah memang, tapi bukan tak bisa. Rangkaian pemukulan adalah inisiasi yang wajar buat calon anggota lelaki. Buat calon anggota perempuan ada pilihan: jalan yang menyakitkan atau “ menyenangkan”. Jalan “ menyenangkan” itu nyaris selalu berarti kehilangan keperawanan. Dan di tempat dimana kekerasan dipuja dan dijadikan tiket masuk untuk capaian identitas komunal seperti itu, maka takdir Ebet seperti sudah terbaca sejak semula. Namun sutradara Jim Librian tak ingin membuat prosesnya mudah terduga. Dalam tradisi serupa dengan Goodfellas dan City of God , film Filipina Tribu mengenalkan kehidupan sehari-hari tokoh-tokohnya dalam menjalani dan memasuki kultur kekerasan itu. Dan kita pun terkejut, karena para tokoh itu hidup dalam paradoks. Di satu sisi, mereka adalah anak baik hati yang bersedia repot mengambilkan air untuk orangtuanya. Mereka bergurau dan menggoda orang mereka tua dengan sok berbahasa Inggris (“hi lovers” atau “merry Christmas in this summer!”) seakan mereka parasocial climber di pembukaanWar and Peace Leo Tolstoy yang sok berbahasa Perancis untuk menegaskan status sosial mereka. Tapi kita tahu ini sebuah candaan untuk menegaskan anak-anak muda gemar kekerasan itu cuma manusia biasa; sebagaimana tetangga kita atau malah kita sendiri. Di sisi lain dari paradoks itu, mereka sedang bersiap perang malam untuk sebuah balas dendam. Senjata dikumpulkan dan lagu-lagu rap yang bercerita tentang acara memenggal kepala dinyanyikan bagai tarian perang. Jim Librian dengan menakjubkan membuat kultur itu begitu dekat, bahkan intim. Lalu perang berdarah-darah itu pun terjadi dan kita tak siap dengan apa yang kita lihat. Lupakan beautificaion of violence atau kekerasaan yang diindah-indahkan, karena kekerasan sesungguhnya tidak indah dan nyata. Dengan kamera bergoyang-goyang bagai video amatir dan komposisi yang serba dadakan, kita merasa sedang mengikuti tokoh-tokoh nyata yang sudah kita kenal baik sepanjang siang tadi. Jika mereka di siang tadi tertawa-tawa bergurau dan menggoda tetangga mereka yang cantik, sekarang mereka membawa parang siap menyembelih lawan. Kekerasan jadi nyata, sangat nyata, justru tidak dengan pendekatan carnal. Kekerasan memang berurusan dengan tubuh tapi film tidak harus selalu memperlihatkan hal itu dengan bergaya. Film adalah imaji dan Librian tahu betul bagaimana cara membangun imaji itu. Ia biarkan para tokohnya menjalani kehidupan mereka. Ia biarkan lingkungan mereka hidup sebagaimana adanya. Lihat adegan tukang listrik yang diomeli serombongan ibu berdaster akibat penagihan yang kacau. Semua ini membuat manusia-manusia di Tribu dan di kampung Tondo jauh dari kesan palsu. Sesudah kesan palsu itu hilang sama sekali, maka barulah Librian membiarkan kekerasan itu muncul. Dengan teknik semacam ini, Tribu sudah membuatCity of God yang diagulkan banyak orang bagai audisi American Idol. Inilah sebuahfilmmaking yang tak sekadar bersaksi, tapi terlibat. Librian mengajak penduduk asli di kawasan Tondo untuk bermain dan para pemain amatir itu berakting luar biasa memerankan diri mereka sendiri. Syuting juga dilakukan di jalan-jalan di tempat peristiwa terjadi. Dengan begitu, kenyataan didekati dengan bersahaja dan ini membuat istilah neo-realisme untuk melabel Tribu terasa seperti taksonomi palsu yang hanya berlaku buat orang-orang yang kelewat kesengsem pada teori. Karena hidup anak seperti Ebet dan tokoh-tokoh dalam Tribu adalah hidup yang nyata di tengah kemiskinan dan kekerasan. Hidup mereka terdefinisikan oleh itu dan Jim Librian membuat film tentang mereka sebagai kesaksian terlibat, yang bukan sekadar sebuah kunjungan sambil lalu dan segera pergi seakan-akan mereka adalah obyek dalam rumah kaca. Maka tak mengherankan jika film ini berakhir dengan kepedihan. Bukan karena air mata, tapi karena nasib memang selalu punya jalan yang kejam dan begitu nyata. Maka kekerasan di Tribu bisa jadi terlalu berat buat sebagian penonton yang tak siap melihat kenyataan. Film: Tribu (2007); Sutradara: Jim Librian; Pemain: Havy Bagatsing, Karl Eigger, Honey Concepcion, Mhalouh Crisologo, Gilbert Lozano. |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |