
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
Menampik Stereotipe, Menjadi Cermin ![]() Sejak lama Vietnam dikenal unggul di sektor pertanian. Tapi sinema negeri paman Ho Chi Minh ini belumlah seharum beras Saigon. Di layar perak, orang-orang Vietnam hanya kebagian peran sebagai objek semata. Sineas-sineas Hollywood mengeksploitasi citra mereka habis-habisan, bahkan jauh setelah para serdadu Amerika terbirit-birit meninggalkan Saigon, bulan April 1975. Tengok saja film macam Missing in Action (1984) atau Heaven and Earth (1993), penduduk setempat identik dengan gerilyawan bersenapan, berbaju silat serba hitam berikut topi capingnya. Yang jelas posisi mereka selalu berada di pihak antagonis hanya lantaran paham komunis keluar sebagai pemenang di negeri itu. Stereotipe ini boleh jadi muncul lantaran kurangnya literatur tentang sinema Vietnam itu sendiri. Selama ini kita memang dicekoki oleh produk-produk budaya buatan Barat, termasuk juga film dan kajian tentangnya. Jika ditinjau lebih jauh, setelah sekian lama merdeka, potensi perfilman Vietnam cukup menjanjikan harapan besar. Kurang lebih, itulah yang coba diungkap oleh Ngo Phuong Lan, kritikus film alumnus Jurusan Kajian Film dari Universitas Nasional Sinematografi (VGIK) di Uni Soviet lewat buku ini. Saat ini, Ngo masih berdinas di Departemen Sinema Vietnam sekaligus menjabat Ketua Dewan Teori dan Kritik Seni Vietnam. Tak heran, jika peraih titel Ph.D di bidang Sejarah Seni dan Budaya dari Institut Kebudayaan dan Informasi di Hanoi, Vietnam, pada 2005 ini cukup khatam tentang seluk-beluk dunia film di negaranya. Latar belakang akademis yang disandang sang penulis buku sangat berpengaruh terhadap pola penulisannya. Layaknya sebuah karya ilmiah, buku ini dirancang runut, sistematis, dan penuh dengan landasan teori. Sejak awal, pembaca sudah diajak untuk berkelana ke masa lalu. Embrio sinema Vietnam dirintis dari sekadar dokumentasi perang, sehingga jelaslah bahwa sinema merupakan anak kandung revolusi. Pada 1953, delapan tahun pasca kelahiran Republik Demokrasi Vietnam, presiden Ho Chi Minh menandatangani pendirian Vietnam National Cinema and Photography Company. Inilah momen yang menandai kelahiran kiprah perfilman di negeri pertanian itu. Ngo mengambil konsep modernitas dan nasionalitas sebagai titik berangkat dari kajiannya. Ada banyak definisi tentang modernitas yang dituturkan di dalamnya, namun maknanya yang paling sederhana adalah bagaimana proses penciptaan mampu menangkap semangat yang muncul pada zamannya. Proses yang dimaksud termasuk pemikiran kreatif dan cara-cara ekspresi. Konsep modernitas sangat membantu para sineas untuk merekam kehidupan secara nyata. Sedangkan nasionalitas sendiri dirasa sudah jelas maknanya, tersebab Vietnam adalah bangsa yang tercabik-cabik oleh imperialisme. Nasionalisme dalam film mutlak diperlukan sebagai alat pemersatu anak bangsa (Vietnam), begitu amatan Ngo. Tak kurang dari sepuluh judul film menjadi bahan amatan penulis. Delapan judul film cerita menjadi representasi berbagai periode, mulai dari era kolonisasi 1953-1975, era reunifikasi 1975-1986, hingga era Doi Moi (pembaharuan) pada 1986. Kemudian, masih ada satu buah film fokumenter dan satu lagi animasi yang dikaji. Tak ketinggalan, dituangkan pula kupasan terhadap karya sineas Vietnam yang bermukim di luar negeri, yakni milik Tran Anh Hung. Kritik yang dilontarkan Ngo tentu istimewa posisinya. Buku ini tak hanya menunjukkan semangat untuk merevisi stereotipe tentang masyarakat Vietnam yang identik dengan serdadu Vietcong yang masih berkeliaran di tengah rimba buas. Bahkan lebih dari itu, dengan cerdas Ngo memaparkan eksistensi sinema di negerinya yang sudah berkembang jauh ketimbang alat propaganda rezim sosialis semata. Banyak sudah karya sineas anak negeri yang berbicara di berbagai festival mancanegara macam Pusan, Rotterdam, atau Berlin dengan beragam cara ungkap. Yang justru menarik dalam kajian ini adalah salah satu karya Tran Anh Hung, The Vertical Ray of The Sun (2000). Film yang sempat diputar di Festival Sinema Prancis 2001 ini menceritakan keseharian tiga kakak beradik perempuan Vietnam. Keresahan-keresahan mereka tergambar secara jelas di sana. Terkadang mereka terkenang pada orang tua yang sudah tiada. Layaknya perempuan Vietnam yang lazim, mereka mendambakan cinta, kebahagiaan, dan ”naluri keibuan”. Hal-hal tersembunyi di benak kaum hawa macam inilah yang konon merupakan identitas budaya orang Vietnam dan berhasil dikuak oleh sineas yang lama bermukim di Prancis ini. Tran menjadi salah satu sosok unik yang membawa wajah baru bagi Vietnam. Sebagai sineas diaspora, ia tetap menyuguhkan karya yang berlatar belakang tanah kelahirannya. Lama bermukim di negeri orang justru tak membuatnya mengalami dekadensi, bahkan ada semacam kerinduan yang diungkapkan lewat karyanya. Tak ayal, inilah yang membuat khazanah sinema negeri asalnya jadi lebih kaya. Dengan meminjam lokasi dan pemain lokal, Tran malah bisa melihat hal-hal unik dari kebudayaan leluhurnya dan kemudian mengungkapkannya kepada dunia. Buku Ong ini baik dibaca sebagai perbandingan. Paling tidak, kita diingatkan kembali, betapa sedikitnya buku-buku kajian tentang film kita yang konon punya sejarah panjang ini.***
Judul: Modernity and Nationality in Vietnamese Cinema Penulis adalah wartawan film, lama bekerja di matamata.com. Saat ini sedang sibuk di sebuah media baru, dan masih aktif meliput berbagai segi dunia film Indonesia maupun internasional. Tinggal di Jakarta. |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |