
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() |
![]() Djenar Maesa Ayu Djenar Maesa Ayu: “Pagiku memang pukul 10,” ujar Djenar Maesa Ayu melalui SMS kepada saya. Kami berjanji akan mengadakan wawancara di rumah Djenar, di sebuah kompleks perumahan yang gayeng di daerah Kembangan, Jakarta Barat. Djenar mengajak saya bercakap-cakap di ruang kerjanya, di lantai tiga rumahnya. Anak bungsunya, Btari Maharani yang ia panggil “Yiyi”, ikut nimbrung berpose saat difoto. “Dia memang banci tampil,” kata Djenar dengan sayang. Di ruang kerjanya, di samping terdapat rak dinding untuk buku-buku, terdapat cermin menempati sebuah bagian tembok ruangan selayaknya di ruang tari. “Anakku yang pertama (Banyu Bening) memang suka menari.” Ada juga beberapa lukisan menarik, tertumpuk di pojok di depan cermin itu. “Itu lukisannya Yiyi,” jelas Djenar. Saya segera meminta still photo adegan dan behind the scene film debutan Djenar itu. Djenar mengeluh, komputer mac-nya sedang rusak, “Keyboard-nya sedang masalah. Saya juga nggak bisa burn ke CD, karena drive-nya tak bisa dibuka.” Berulang kali, Djenar berkomentar, “gue lagi bangkrut, nih! Bangkrut!” “Habis, bagaimana,” jelas Djenar, “menulis.... royaltinya nggak seberapa. Bikin film, modalnya saja belum balik.” Setelah selesai urusan gambar, saya pun mulai melakukan percakapan. RUMAH FILM: Menonton Mereka Bilang Saya Monyet!, saya merasa bahwa dalam pelataran sejarah film Indonesia, film ini kok “anti-Sjuman”, ya? DJENAR MAESA AYU: (Kaget) “Anti-Sjuman”? Maksudnya? RF: Kan Sjuman –apalagi sepulang ia dari Rusia dulu– sangat terobsesi pada masalah-masalah sosial di Indonesia. Sementara film Mereka Bilang Saya Monyet! ini sangat ke “dalam”, ya ...malah agak “self-absorbed”? DMA: Masalah-masalah sosial itu kan ...gini, ya, perkembangan zaman juga sudah beda. Masalah-masalah sosial yang ditangkap oleh Sjuman juga pastinya berbeda dengan yang saya tangkap. Dulu itu ...justru kenapa Sjuman itu dianggap pembelot, lalu salah satu filmnya –Yang Muda Yang Bercinta– itu juga di-banned, nggak boleh keluar…karena dia kan against pemerintahan. Tapi kan isunya waktu itu memang begitu. Kita memang lagi sangat against pemerintah, Orba, yang kayak begitu-begitu. Jadinya, Sjuman ya ke sana. Tapi kan soal tema, ya orang punya obsesinya masing-masing lah... Tapi saya ya nggak anti-Sjuman dong, jangan dong.... (tertawa). RF: Tapi mau tak mau, orang bisa punya kesan itu sih. Kalau melihat sejarah film terdahulu ...Sjuman dengan (karya-karyanya) Si Doel, Si Mamad. Oke, memang ada persoalan zaman telah berbeda. Apa benar-benar berbeda, apakah sekarang ... DMA: Pastinya beda. Sekarang, kultur juga sudah beda... Sudah begitu, gue perempuan, Sjuman lelaki. Pastinya ada obsesi-obsesi yang beda. RF: Apa maksudnya perempuan lebih individualistik, kayak di film itu? DMA: Bukan. Film ini banyak sekali mengangkat isu perempuan, karena gue perempuan. Sjuman laki-laki. Mungkin dia juga saat itu lebih condong pada masalah sosial ... Dia juga punya nostalgia dengan kampung halamannya, dan itu terekam di Si Doel. Si Doel itu anak Betawi dan lalu ia terlalu ke kota....dan itulah Sjuman. Dari dulunya ia tinggal di Purworejo, hijrah ke Jakarta. Setelah itu dia selalu bilang, ‘Gue adalah anak Betawi!’ Padahal dia adalah orang Jawa. “Jakarta”-nya itu sudah sangat kental pada dia. Cintanya pada Jakarta, perubahan kultur dari dia yang ...Itu semua terbawa ke dalam film-filmnya. Gue bukan orang ...nggak pernah tinggal di desa, sudah sangat urban. Begitu lahir, kenalnya, ya udah, masanya sudah urban begini. “Jakarta”-nya sudah bukan “tempo dulu”, tapi sudah sangat modern. Bapak dan ibu juga dulu sudah modern. Mereka bukan “orang kampung” lagi. Jadinya, nggak mungkin lah gue bikin yang tentang perkampungan. Yang jelas, (gue) nggak kepingin membikin sesuatu yang gue nggak tahu. RF: Ada kesan lain yang pasti kelihatan dalam film ini. Mereka Bilang Saya Monyet!, kalau mau digambarkan, “amoral”, “kasar”, dan “self-absorbed”.... DMA: Gue tidak akan mau mengatakan mana persepsi orang. Terserah mereka mau bilang apa. Yang jelas, gue cuma memotret sebuah realita. Gue berkarya berdasarkan referensi. Walau pun yang harus dicatat juga, sebuah karya bukanlah penggandaan realitas. Kalau jadi penggandaan realitas, jadinya jurnal, jadi dokumenter.... Ini kan tetap fiksi. Tapi mengacu dari sana, bahwa “karya bukan penggandaan realitas” ...jadi sebetulnya sebuah karya itu sudah ada dalam dunia tersendiri, sangat individual, sangat personal... RF: Sangat self-absorbed...? DMA: Personal, ya, maksudnya? RF: Film ini sangat “self-absorbed”, artinya, sangat asyik dengan dunianya sendiri, dengan masalah pribadi si pembuat filmnya sendiri.... DMA: Itulah. Film itu kan berdasarkan referensi, ya. Karena ia bukan penggandaan realitas, maka imajinasi menjadi milik yang sangat personal, menurut gue. Jadi, ya... itulah.....begitulah. RF: Tapi, kayaknya Djenar sangat terobsesi dengan masalah realitas. Dalam sebuah adegan, ada diskusi yang menarik, soal “realitas itu apa sih?”.... DMA: Gue memang sangat terobsesi dengan soal itu. Karena sejak awal jadi penulis, banyak sekali orang yang punya kecenderungan ...walau pun gue tidak bisa menyalahkan juga... tapi banyak sekali pembaca atau penonton yang menghubung-hubungkan antara realitas dan imajinasi itu. ‘Benar nggak, sih? Ini cerita asli, bukan sih?’ Di beberapa tulisan gue juga, gue sudah sering banget mengangkat soal ‘apa sih proses kreatif?’ Ya, itu lah, dalam film itu juga gue coba utarakan bahwa ini lho, proses kreatif itu kayak begini.... Kalau mereka bilang, ini sungguhan nggak sih? Ya, apa yang mereka percaya, itulah realitasnya. Iya nggak, sih? Itulah yang kita lihat. RF: Tapi, memang, dari beberapa tulisan Djenar, di beberapa cerpen, disinggung isu ini. Di dalam film ini juga disinggung. Saya jadi berpikir, “Djenar ini, sebagai pencipta, masih belum bisa keluar dari lingkaran persoalan ‘Djenar menulis’, ya....” DMA: Apa pun yang ditulis oleh seseorang, apa pun temanya ...kalau gue, gue tidak terlalu memusingkan masalah topik atau tema, tapi caranya. Cara bertutur. Karena segala tema, mau personal atau mau sosial, tentu semua pernah terjadi, sudah pernah ditulis dan dibuat ...Jadi, tugas seorang creator adalah bagaimana agar kita dapat menyampaikan tema-tema yang sudah ada ini menjadi segar. Jadi, kalau sekarang kita bertutur dengan cara yang sama ...ya udah lah! Orang semua orang juga sudah tahu lah... pengkhianatan, cinta, semua orang sudah tahu lah. Apa lagi sih? Kayak begitu-begitu saja, kok. Hidup ini begitu-begitu saja, kok. Nggak ada yang baru. Jadi, bagaimana kita membuat sesuatu yang baru? Ya, cara bertutur yang baru. RF: Tapi kalau lantas dibilang, film ini “Djenar banget”...lantas, kapan Djenar bisa bicara tentang orang lain, tentang masalah lain? DMA: Siapa yang bilang film ini “Djenar banget”? Kan orang itu sendiri. Jadi, apa yang ia percayai menjadi sebuah realitas. Ya, terserah aja orang mau ngomong apa. Gue kan nggak bisa bilang (menunjukkan mimik lucu), ‘wah bukan, kok, bukan!’ Buat apa? RF: Hal ini juga disinggung dalam film ini juga, ya.... DMA: Ya, itu kan bisa dibilang sebuah statement juga. Atau, jadi hal-hal yang sudah dikonfirmasi sebelum orang nanya, ya kayak gitu.... RF: Ya, kayak adegan di bar itu ...itu kan, serapan Djenar, kayaknya. Bagaimana tidak pribadi, coba....? DMA: (Tertawa) Yaaa ...skenario film itu kan ditulis empat tahun lalu, ya. Dulu sih memang sedang ada isu “sastra wangi”, dan itu kan agak membuat eneg juga.... Nggak ‘panas’, sih. Cuma, (gue) kepingin aja agar orang tahu, apa sih sebetulnya yang dibilang ... Dulu itu, setiap perempuan berkarya, orang nggak pernah percaya begitu aja. Selalu ada embel-embelnya, ‘Alaah, ini paling ditulisin sama mentornya! Alaa, itu kan bukan karya dia.’ Itu kalau perempuan, tapi kalau laki-laki nggak. Bukannya gue nggak siap dengan yang begitu-begitu. Gue sih justru santai banget. Cuma kan bukan berarti gue tidak punya sikap atau mesti diam saja. Kalau memang itu ingin ditampilkan, kenapa nggak. Gue menanggapi isu-isu kayak begitu mah malah ketawa saja, malah gue bikin jadi lelucon aja di film.... RF: Di film itu, ada ucapan “kamu pendendam”. Apa ini ...”balas dendam” dengan film? DMA: (Tertawa) Nggak tahu ...penonton lebih pintar daripada kreatornya, kok! Kadang-kadang kita menulis apa, nanti bisa jadi wacana apa... Itu (saya) amazed. Dan sebetulnya, yang membuat orang akhirnya ketagihan berkarya adalah itu. Mereka juga bisa belajar banyak dari karyanya sendiri. (Mereka) bisa melihat pertumbuhan “anak”-nya ...dia lahir, lalu dia berkembang sudah dengan nasibnya, dan kita memantau nasibnya sebagai “orang tua”...’oh, akhirnya dia sudah berkembang sudah ke arah sana, ke arah sini...’ Proses kreatifnya sebetulnya memang bisa dibilang sudah selesai, tapi perjalanannya panjang sekali. Jadi, andai kata saat ini orang bilang bagus...belum juga kita bisa ambil pakemnya bahwa memang ‘bagus’. Waktu akan menjawab. Dibilang jelek pun, sama juga. Waktu akan menjawab. Banyak sekali karya yang baik tapi pada zamannya nggak diterima, beberapa puluh tahun kemudian bisa jadi masterpiece. Itu yang paling menarik dalam berkarya. RF: Nah, ketika saya sampai ke akhir film, timbul dua pertanyaan di kepala saya. Sebelum pertanyaan yang lebih abstrak, yang kongkret dulu, deh. Di film itu kan ada sosok penulis, Asmoro. Di beberapa bagian ada diskusi dengan penulis itu. Mau nggak mau saya berpikir itu... DMA: ...mengacu ke salah seorang penulis... RF: “Tardjie!” (Maksudnya, Sutardjie Calzoum Bachrie yang memang sempat dikenal sebagai “mentor” Djenar dalam sastra.) DMA: (Tertawa) RF: Kan ada dialog seperti, “...karir lu kan lagi turun! Gara-gara jadi mentor gue, lu dibicarain lagi...!” DMA: (Tertawa makin keras) Wah, gila! Nggak lah, nggak, nggak....Tardjie itu tidak akan pernah turun... (tertawa) dia sudah... dia baru dapat penghargaan... nggak lah.... Begini lah. Tentunya, setiap karya ada ...ah, kita mengambil dari realitas...kita tambahi, kita kurangi, kita campur juga dengan imajinasi.... Sebetulnya nggak bisa juga dikatakan apakah itu Tardji, atau Seno (maksudnya, Seno Gumira Adjidarma), atau Pak Budi Darma. Ya, repot kalau kayak begitu ...marah semua nanti orang-orang sama saya. Atau, itu ibu saya...itu Djenar...itu teman-teman saya....Susah nanti orang berkarya. Iya nggak, sih? Jadinya, terlalu mikirin orang-orang. RF: Satu lagi pertanyaan sehubungan dengan akhir film itu. (**SPOILER ALLERT**) Mungkin berkaitan dengan soal realitas itu. Kalau buat saya yang awam, atau sebagai lelaki yang awam, isu terbesar dalam film itu bagi tokoh utama (Adjeng) adalah penistaan seksual yang dia alami sewaktu kecil. Di situ ada isu perkosaan, pedofilia. Tapi di ujung, justru “tembakan” terakhir justru ditujukan kepada sosok penulis itu. Yang dipilih jadi klimaks justru itu. Apalagi ditambah sebuah trick, yang menarik sebetulnya dalam sejarah film Indonesia, ketika tahu-tahu semua tokohnya, dari masa lalu dan masa kini, muncul dalam satu frame waktu. Tapi buat saya, kok jadinya kayak menghindari isu sesungguhnya? Sepertinya film ini ingin melunakkan realitas itu? DMA: Waduh, kalau soal itu, gue nggak bisa jawab, deh. Maksudnya, gue tidak pernah dengan sengaja ingin melunakkan. Kayak-nya tujuannya nggak ke sana, tuh? (Tertawa) RF: Soalnya, kok (film ini, akhirnya) seperti memalingkan muka.... DMA: Masak sih? Malah gue nggak tahu, itu....Menarik juga untuk ditelaah, buat gue.... RF: Soal penulisan. Ada banyak siasat visual yang menarik dalam film ini... DMA: Iya, memang itu ada beberapa yang nanya, itu di tahap editing atau memang di script-nya memang begitu. Memang dari script-nya begitu. Ganti-ganti orang, atau segala macem, ya itu memang sudah di script.... Kami (Djenar dan Indra Herlambang) menulis script itu dua tahun. Itu kayak-nya draft yang ke-berapa juta, gitu ... (tertawa). Itu pun, pada akhirnya, di bagian opening scene-nya, ada sebelas scene yang dibabat habis. Ganti. Ketika di proses editing, gue lihat lagi ...ini karena ketidakmatangan gue dalam men-direct, jadi ada kesalahan teknis di lapangan, jadi hasilnya kurang memuaskan, ya udah, diganti... Dalam directing, gue juga membebaskan pemain untuk juga ‘menangkap’ tokoh yang diperaninya. Karena, kalau gue terlalu men-direct tanpa membiarkan mereka juga berkontemplasi, itu hasilnya juga, gue yakin, tidak akan pernah baik. Kebetulan sih semua tokoh ini, semua pemain yang memerankan tokoh-tokoh ini, beberapa pemain yang di sudah ada di kepala gue dari awal ...melihat cara dia jalan, melihat dia ngomong, saya bilang, ‘ya, dia si anu...’ Kebetulan ketika ditawari, beberapa langsung mau ...ada juga yang menolak. RF: Diuntungkan juga, ya, oleh jaringan pertemanan... DMA: Sangat. Sangat diuntungkan oleh itu. Dan terima kasih lagi untuk Bung Sjuman. Karena gue sangat yakin bahwa kemudahan-kemudahan selama ini ...misalnya, banyak sekali orang-orang yang mendukung dari tahap membuat script...ada mas Jujur Prananto, ada mas Garin Nugroho, Joko Anwar, Nia diNata, Eddy SS, Enisson...mereka semua gue tanya, nulis script itu kayak apa sih? Dan terima kasih kepada skenario-skenario Bung Sjuman juga. Semuanya tak mungkin ...gue nggak yakin, apakah kalau cuma Djenar aja semua orang akan membantu? Misalnya, Ray Sahetapy juga mau bermain dengan honor yang tidak terlalu mahal. Banyak sekali orang yang tidak dibayar selayaknya film, lah. Tapi semua mendukung, begitu smooth semuanya. Gue rasa, ini adalah sebuah warisan yang lebih besar dibanding (warisan) materi dari Bung Sjuman. Jadi, kebaikan dia yang akhirnya berimbas ke gue. Makanya, special thanks di film itu yang paling atas buat Bung Sjuman. RF: Memang “kekeluargaan” banget, ya, film ini? DMA: (Tertawa) Wong Aksan...Agus Melasz....Dia kan bapak tiriku. Dia suami pertama ibuku, sebelum Sjuman. Aksan. Titi Sjuman. Banyu Bening, anakku juga. RF: Jadi, pilihan menggunakan teknologi digital bagi film ini, apakah itu pilihan estetis, atau kepepet? DMA: Kita semua sudah tahu, bahwa memang sekarang ini eranya digital. Bagaimana kita bisa memaksimalkan ini. Kita punya banyak sekali keuntungan dari digital. Yaitu, menekan budget, ya. Dengan menekan budget, tentunya kita juga bisa, let’s say, nggak terlalu mendengarkan produser... Masih berani lah, kita indie. Kita masih bisa cari uang ke beberapa sumber. Kayak film ini, 700-an juta rupiah ...investornya hanya lima orang, pribadi... Tapi akhirnya kita kan bisa membuat film. Dibandingkan ketika kita membuat film dengan seluloid, harus dengan biaya ber-em-em (bermilyar-milyar rupiah)... aduh, kayaknya jadi mustahil untuk membuat film. Dengan adanya digital, yang dituntut pada seorang kreator adalah kreativitas. Itu yang paling penting. Dan ternyata, sampai sekarang sih cukup berhasil. Kalau nantinya sudah banyak sinema proyektor digital seperti Blitz, berarti kita nggak harus blow up jadi seluloid. Kita nggak harus keluar uang lebih banyak. Ada kesempatan untuk orang-orang “lain”, ya ...mungkin untuk orang-orang yang idealis juga... ya, sudah, kumpulin duit dan mereka membikin film sendiri, misalnya. Jadi, yah, lebih punya warna lah. Jadi, perfilman Indonesia tidak terlalu didikte oleh keinginan para investor. RH: Soal format digital. Kemarin, di LSF (Lembaga Sensor Film), kan sempat ada masalah, mereka tidak mau menyensor film digital...? DMA: Nggak ...(agak bingung) gue nggak tahu ada masalah itu. Kemarin, waktu ke LSF, nggak ada masalah sama sekali. Gue ke sana nggak melakukan apa-apa: kasih film, itu saja. Gue pikir memang akan ada masalah. Waktu itu gue tongkrongin. Jadi, misalnya, kalau ada apa pun, ya, kita bisa saling memberi argumentasi, lah, pada hari itu juga. Yang dikasih pun baru picture lock, dan masih rough cut. Jadi, belum masuk musik. Tadinya gue pikirkan, kalau andaikan ada memang yang dipotong, atau gimana, ketika mixing dengan musik tidak akan mengganggu karena terputus-putus adegannya. Jadi, memang mau “nyikat” dari awal. Dan gue merasa amaze juga, ternyata memang tak ada yang dipotong. Gue juga bingung. RH: Kirain dari awal memang menyiasati supaya tidak ada yang dipotong. Maksud saya, (Djenar) melihat undang-undangnya kayak apa, lalu cari akal.... DMA: Nggak. Justru gue nggak terlalu tahu perkembangan. Yang dipikirkan juga hanya film saja, soal produksi dan segala macem. Kita sudah tahap praproduksi tapi duit belum masuk, misalnya. Jadi memang kita nggak tahu apa-apa kalau ada masalah. Nggak tahunya, (proses di LSF) mudah. Gue juga nggak ngerti. Waktu itu ada ibu Titi Said, Rae Sita, semuanya ada, kok, ada lima orang. Mereka bilang bahwa, ‘kami suka melihat film ini. Kami mengerti apa yang ingin disampaikan. Kami tahu kenapa sex scene di sini memang harus diangkat. Jadi, tak ada yang kami potong.’ Tadinya, saya sudah ‘Semangat empat lima’, siap tempur. Mendengar itu, saya jadi ...(pasang tampang bengong), huh? Yang bener nih? (Tertawa) RH: Oke. Terakhir, rencana berikutnya... DMA: Sekarang sih saya harus mengerjakan novel. Karena, itu kan sudah kontrak, ya. Judulnya, Ranjang. Itu dulu, baru nanti bikin film lagi. Script-nya sudah 40 halaman. Tapi langsung berhenti karena si keyboard gila ini! (Tertawa) Kalau film, (gue) masih belum tahu judulnya. RH: Temanya masih seputar penulisan? DMA: Yang ini, nggak. RH: Seks? DMA: Seks, yah, seks salah satu unsur dalam hidup, ya. Kalau memang harus ada adegan seks, kenapa nggak? Kalau memang nggak harus ada, kenapa harus ada? RH: Bukan dalam adegan, tapi sebagai tema... DMA: Nggak tahu, tuh. Entar kita lihat saja. Masih belum sampai draft ke-jutaan kali, kan? RH: Kalau melihat ‘ramai-ramai’ film Indonesia saat ini, misalnya, soal MFI atau FFI.... DMA: Nggak pusing lah. Berkarya saja.... *** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |