
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() |
![]() Gertjan Zuilhof Gertjan Zuilhof:
Suatu kali Gertjan Zuilhof menolak kesempatan untuk mengkuratori film-film Asia. Alasannya: “Karena saya tidak pernah ke wilayah itu dan tidak tahu bahasanya.” Dan ia menyesal. “It was very stupid of me,” katanya. Terbukti, kendala bahasa bukan halangan untuk mengenal jauh budaya lain. Untuk menebus ‘kesalahan’ itu, ketika kesempatan kedua datang, Zuilhof tidak ragu-ragu lagi. Zuilhof kemudian membuat ruang khusus di International Film Festival Rotterdam (IFFR) untuk film-film dari Asia tenggara. Program yang dibuatnya diberi nama SEA Eyes (South East Asia Eyes) pada tahun 2005, sebuah ‘tempat khusus’ untuk mengamati perkembangan dunia sinema di wilayah itu . Pria lulusan Sejarah Seni di Leiden ini juga mulai rajin berkunjung ke negeri-negeri asia tenggara, mencari dan menemukan para pembuat film independen yang selama ini ‘tak kelihatan’. Dan Zuilhof menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu dalam film-film Asia Tenggara yang tentu tidak ditemukannya di film-film Eropa. Apa itu? Berikut petikan obrolan RF dengan programmer yang bergabung dengan IFFR sejak 1990 ini: Anda menjadi kurator di IFFR sejak 1990, tentunya anda mengikuti perkembangan film-film Asia yang masuk ke festival ini. Tapi saya tidak mengikuti sinema Asia sejak awal. Saya mulai dengan experimental film, film-film Eropa, khususnya film-film berbahasa Jerman. Seingat saya, saya baru mulai menaruh perhatian sekitar 4 atau 5 tahun lalu, jadi bagi saya, Asia khususnya Asia tenggara masih menjadi wilayah baru, saya masih berusaha mengenali wilayah ini lebih dekat. Kenapa tiba-tiba tertarik dengan sinema Asia Tenggara? Tidak bisa dibilang tiba-tiba juga. Dulu waktu pertama kali bergabung di IFFR, saya sudah ditawari untuk fokus ke Asia. Saya menolak karena saya tidak tahu sama sekali tentang Asia kecuali bahwa Belanda pernah menjajah Indonesia…hahaha. Selain itu saya pikir, jika ingin mengkuratori film Asia, orang harus jadi ahli di wilayah itu, paling tidak bisa bahasanya. Sementara saya hanya bisa bahasa Eropa jadi saya lebih merasa nyaman di wilayah Eropa. Tapi saya menyesal. It was very stupid of me, karena kemudian saya menyadari bahwa orang lain so-called ahli sinema Asia ternyata juga tidak bisa salah satu bahasa Asia. Mereka berkunjung ke China, Jepang, Indonesia, Filipina, hanya dengan berbekal bahasa Inggris. Andai saya melakukannya dari awal.. Untungnya datang kesempatan kedua saat Simon Field yang dulu rajin berkunjung ke festival festival film di Asia kemudian meninggalkan IFFR, tempatnya kemudian kosong. Akhirnya saya mengajukan diri untuk membuat sebuah program besar dan khusus untuk Asia Tenggara, yang kemudian berlangsung tahun 2005, SEA Eyes. Dengan membuat program ini, saya berkesempatan untuk berkeliling di negara-negara itu. Dua tiga kali saya berkunjung ke Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan lain-lain. Sampai sekarang pun saya masih menemukan hal-hal baru disana. Apa yang anda temukan? Kesan pertama apa yang anda dapat? Awalnya saya hanya menonton film-film yang dikirim ke IFFR, dengan tema yang beragam, kualitas yang beragam. Lalu saya menyadari bahwa ada sesuatu dalam dunia sinema yang sedang tumbuh berkembang di wilayah Asia Tenggara saat saya melihat karya James Lee, Room To Let. Saya pikir, orang ini tidak mungkin sendirian. Dia bisa membuat sebuah film yang tidak biasa, absurd dan berani menggunakan banyak referensi tapi dengan ‘tulisan tangan’nya sendiri. Dugaan saya benar, dia tidak sendiri. Dialah yang kemudian memperkenalkan saya kepada Ho Yuhang, lalu Tan Chui Mui, hingga Liew Seng Tat, dan begitu seterusnya. Demikian pula dengan perkenalan saya pada dunia sinema Indonesia. Awalnya saya hanya tahu Garin Nugroho yang sering datang ke IFFR, lalu kemudan saya mengenal Edwin dari film pendeknya. Saya pikir anak ini juga pasti tidak sendiri, pasti ada sesuatu yang lebih di Indonesia sana, lalu dari dia kemudian saya berkenalan dengan banyak lagi termasuk Tintin Wulia, Lulu Ratna, dan yang lain. Mungkin karena saya terlalu lama bergelut mengamati film-film Eropa sehingga saya tak menyangka bahwa ada sesuatu yang juga tidak biasa di Asia Tenggara. Melihat karya-karya mereka, saya seperti menemukan ‘darah segar’, sesuatu yang sangat hidup dan bergairah. Maka rajinlah saya kesana. Anda menemukan kesamaan yang jelas? Pada pendekatan mereka terhadap media film? Ada beberapa kesamaan tapi tentu saja lebih banyak perbedaannya. Kesamaan ini misalnya antara Malaysia, Indonesia atau juga Filipina yang lebih pada soal cuaca dan budaya. Di film-film mereka ada aura kesamaan yang berhubungan dengan elemen ini. Maksud saya, mereka berbeda misalnya dengan China atau Jepang. Asia tenggara sangat menonjol dengan budaya jalanan, orang-orang makan dihalaman rumah, mereka punya cara interaksi yang juga berbeda. Selebihnya, saya menemukan perbedaan yang sangat sangat besar dalam pendekatan mereka terhadap medium film. Dan ini berhubungan dengan budaya, agama, dan politik. Misalnya saja, sutradara-sutradara muda asal Bangkok, Thailand, lebih berorientasi ke dunia internasional, ke Amerika atau Eropa. Kadang saya juga tidak menyangka kalau mereka lebih Amerika, seperti lebih tahu apa yang terjadi di New York misalnya daripada apa yang terjadi di negara tetangganya. Filipina juga berbeda lebih karena sejarah kolonial seperti Indonesia, politik dan agama memegang peranan yang cukup besar sehingga membuat situasi mereka berbeda. Di Vietnam juga begitu karena sangat terpengaruh dengan komunisme dimana pemerintah mengontrol studio-studio film. Sinema independen di negeri itu tidak seantusias di negara-negara tetangganya karena ada sistem yang mengontrol. Anda bilang ada perbedaan yang sangat besar dalam pendekatan terhadap media film di Indonesia karena pengaruh politik dan agama? Saya belum melihat banyak film-film Indonesia yang baru dirilis dan mungkin saja ada yang berubah. Tapi sepanjang yang saya lihat, karena sensitivitas agama akhirnya banyak yang harus disembunyikan, ini membuat spontanitas mereka tertekan. Saya tidak tahu seberapa tajam gunting sensor di Indonesia, tapi saya rasa pada umumnya pembuat film banyak berkompromi dengan situasi itu. Selain itu, saya melihat pada umumnya juga menyesuaikan dengan pasar lokal, dan ini saya rasa juga terjadi di negara-negara lain. Film-film mainstream yang nyaris tidak ada bedanya dengan opera sabun TV. Tapi seperti pada umumnya produk untuk pasar lokal, sebagian besar tidak ada yang mau berkaca pada budaya sendiri. Dan tentu saja bagi audiens internasional, jadi tidak menarik lagi. Tapi bagi pada umumnya filmmaker di negara besar seperti Indonesia dan China, ini sepertinya tidak masalah. Dengan jumlah penduduk yang begitu banyak dan komunitas yang begitu besar, mereka memang kemudian jadi lebih fokus ke dalam. Seperti China misalnya. Bagi mereka, China sudah cukup besar bagi mereka, dan mereka tidak butuh keluar kandang. Audiens yang sudah pasti membuat mereka tidak butuh tambahan penonton, mereka nyaman dan bangga dengan audiens yang sudah ada. Dan sepertinya, ini juga yang terjadi di Indonesia. Kebanyakan berada di ‘area nyaman’ dan memilih untuk tetap disitu. Ini tentu saja pilihan masing-masing. Ini berbeda dengan negara yang lebih kecil seperti Malaysia misalnya, khususnya filmmaker dari golongan minoritas. Mereka tidak punya pilihan, tidak punya akses ke peralatan studio, tidak punya akses ke 35mm. Golongan minoritas ini tidak mendapat dukungan sama sekali di negeri mereka, dan mereka sangatlah kecil, ini membuat mereka tidak punya pilihan lain kecuali keluar. Mereka ‘terpaksa’ mencari dukungan dari luar, dan ‘terpaksa’ mengirim film mereka ke festival film. Tentu saja selalu ada pengecualian. Dan selalu ada pilihan. Garin misalnya, sekarang bisa dibilang setelah melalui proses panjang, ia sudah berada di comfort zone dibandingkan dengan sutradara independen lain. Tapi, ia memilih untuk terus mengeksplorasi, dan saya pikir kita bisa berharap sama terhadap Edwin dan teman-temannya. Apakah gerakan sinema independent yang mulai muncul nyaris bersamaan sekitar 10 tahun belakangan ini saling mempengaruhi satu sama lain? Ada semacam network antara para pembuat film muda, khususnya para pembuat film pendek. Tapi saya belum tahu pengaruhnya seperti apa, dan apa dampaknya terhadap perkembangan mereka. Tapi ini menarik untuk diamati, karena film-film pendek justru lebih banyak berbicara dan lebih lebar membuka ruang yang lebih tentang Asia Tenggara. Film feature panjang tidak terlalu menarik? Saya tidak bilang begitu. Hanya saja, menurut saya pada umumnya film pendek dari Asia tenggara lebih solid dalam segala hal, ide, struktur, pendekatan. Di IFFR makin membuka ruang terhadap film-film personal. Secara umum, kami tidak menutup kemungkinan untuk genre movie. Kami bahkan punya program khusus untuk film genre horor dan fantasi, tapi harus sesuatu yang istimewa. Misalnya film karya Hitoshi Matsumoto, Dainipponjin yang sebetulnya masuk kategori genre komik, manga dengan banyak elemen, monster gila, dan lain-lain, tapi diolah dengan framework yang berbeda. Ia menggabungkan adegan-adegan realis disela-sela genre itu, dan konstruksi yang dilakukan Matsumoto membuat film ini jadi menarik dan istimewa. Disini kami mencari pengembangan baru yang sebetulnya tidak bisa diprediksi. Seperti art movie misalnya, ada rentang waktu 10 hingga 15 tahun belakangan ini tidak ada perkembangan berarti. Yang sekarang menarik justru film-film yang berada di batasan antara seni visual dan budaya pop yang ekstrim yang dekat dengan games, comic strip. Tapi untuk seksi kompetisi, memang kami membuka ruang lebar untuk film personal. Film yang blak-blakan, statemen pribadi atau opini sutradaranya terhadap berbagai hal. Tidak perlu selalu berhubungan dengan kehidupan sutradaranya. Kecenderungan personal ini bisa saja dilihat dari cara bertutur dengan gayanya sendiri, pendekatan sendiri dan ‘tulisan tangan’nya sendiri. *** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |