Werner Herzog (kiri)

Werner Herzog:
Filmmaker Sekarang Lebih Banyak Mengeluh

oleh Asmayani Kusrini
Redaktur Rumahfilm.org, Brussel

 

Suatu kali kritikus-yang-menjadi-sutradara François Truffaut menyebutnya ‘the most important film direcor alive’. Ken Burns menjulukinya ‘the great film artist of our time’. Peter Wintonick, sutradara Manufacturing Consent: Noam Chomsky and the Media and Cinema Vérité:Defining the Moment menganggapnya sebagai suhu. Hubert Sauper, sutradara Darwin’s Nightmare datang mengadu padanya ketika mengalami masalah. Dialah satu-satunya orang, satu-satunya sutradara yang sudah membuat film di 7 benua.

Itu saja sudah cukup membuat saya tidak bisa tidur ketika suatu kali mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Werner Herzog, sutradara dengan kurang lebih 50 film --15 Features, termasuk film pendek dan selebihnya adalah dokumenter. Beberapa diantara filmnya masuk kategori ‘Film Terbaik Sepanjang Masa’ –Aguirre The Wrath Of God, Fitzcarraldo, Stroszek---, harus mulai darimana ngobrol dengan orang ini?

Belum lagi rumor-rumor yang beredar bahwa Herzog adalah orang Jerman yang sangar dan galak. Dan tentu saja eksentrik. Kita tentu tidak akan lupa dengan dokumenter karya Les Blank: Werner Herzog Eats His Shoe dimana Herzog benar-benar memakan sepatunya sendiri karena kalah bertaruh. Demi sahabatnya, Lotte Eisner (kritikus film Jerman dan sempat menjadi penulis tetap di Cahiers Du Cinema) yang sekarat, Herzog pernah pula berjalan kaki dari Munich ke apartemen Eisner di Paris. Herzog melakukan semacam ‘deal’ dengan Tuhan, jika ia berhasil tiba di Paris dengan berjalan kaki, maka umur Eisner akan lebih panjang.

Belum lagi kegilaannya yang lain; mengarak kapal ribuan ton menyeberangi gunung di Fitzcarraldo atau melepas puluhan ribu tikus di kota Delft, Belanda demi syuting film Nosferatu. Ia selalu menolak melakukan syuting di studio. Satu-satunya film yang menggunakan studio adalah Rescue Dawn, ‘Itupun hanya adegan saat helikopter meledak’, tegasnya.

Herzog adalah teladan untuk para pembuat film independen. Beberapa film diawal-awal karirnya disyut dengan menggunakan film kadaluarsa yang akan dimusnahkan. Dari awal, ia sangat mandiri. Film pertamanya dibuat dengan kamera ‘pinjaman’. Film keduanya dibuat dengan hadiah kemenangan film pertama.

Film ketiganya dibiayai dari bekerja sebagai tukang las. Pada film keempatnya –Signs Of Life yang juga film feature pertamanya-- ia mulai mencoba mencari produser yang mau membiayai film berikutnya. Gagal mendapat produser, Herzog membuat perusahaan filmnya sendiri dengan bermodal kamar kontrak sebagai kantor, sebuah telepon, mesin ketik dan tekad.

Meski Signs Of Life dinobatkan sebagai Film Terbaik di National Film Award (Bundesfilmpreis) di Jerman dan juga Silver Bear di Berlin Film Festival, perjalanan karir Herzog tidak langsung mulus. ‘Saya diundang untuk berbicara di screening Signs Of Life disebuah sinema di Jerman dan hanya 9 orang yang menonton film itu.’ kata Herzog.

Tentu saja, sekarang, hal itu tidak lagi membuat Herzog kebat-kebit. Jaman sekarang, film-film Herzog selalu ditunggu. Retrospeksi dan workshop nya selalu penuh. Tak terkecuali di Intenational Documenter Film Festival Amsterdam (IDFA). Selama delapan belas tahun festival film dokumenter ini mengundang Herzog untuk datang. Selama delapan belas tahun itu pula, Herzog tidak pernah bisa dihubungi langsung. Entah itu dia sedang sibuk syuting di hutan Afrika, atau di rimba Asia, atau di Himalaya, atau juga di ladang minyak Kuwait. Barulah tahun 2007 ini Herzog berhasil didatangkan. Itu juga karena kebetulan pria kelahiran Munich 1942 ini baru pulang syuting dari Antartika dan menyelesaikan film dokumenter terbarunya Encounters At the End of the World.

Karena itu, penyelenggara IDFA langsung memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Selain memutar Encounters –yang melengkapi petualangannya syuting film di tujuh benua--, banyak program acara menghadirkan Herzog sebagai pembicara, termasuk Q&A, Masterclass, Conversation With Herzog, debat dan workshop.

IDFA 2007 adalah pertemuan kedua saya dengan Herzog. Pertemuan pertama saya dengan Herzog murni karena keberuntungan saya semata. Herzog berkunjung ke Belgia (Brussel dan Antwerpen) dalam sebuah retrospeksi karya-karyanya Januari 2007 lalu. Seperti biasa, jika berharap pada birokrasi, nyaris tidak mungkin mendapatkan waktu wawancara dengan pria ini.

Toh tidak sengaja kami bertemu di sebuah cafe di gedung tempat acara retrospeksinya akan dilangsungkan. Herzog datang 2 jam lebih awal. Di cafe itu tidak ada siapa-siapa kecuali pelayan cafe dan seorang panitia yang langsung pasang wajah galak ketika saya masuk. Untungnya, Herzog tidak keberatan. Segala kekhawatiran langsung lenyap. Herzog ternyata tidak sesangar yang saya bayangkan. Ia jauh dari galak apalagi eksentrik.

Hanya saja dia keberatan untuk diwawancara di dalam café tersebut. Kala itu saya memang masih bekerja sebagai pemagang di sebuah stasiun radio Jerman. Saat melihat mikrofon dengan logo radio tersebut, ia langsung mengajak saya keluar ruangan. Alasannya, ‘Anda dengar musik itu?’ sambil menempatkan jari telunjuknya di bibir. Dalam ruang itu, memang sayup terdengar musik. “Itu ada copyri ght -nya. Kecuali kalau anda berani jamin bahwa anda akan membayar copyright musik tersebut, saya bersedia diwawancara di sini. Tapi kalau tidak, lebih baik kita cari tempat yang tenang, tanpa musik,”.

Pertemuan kedua saya dengan Herzog di IDFA jauh lebih ringan, karena saya tidak lagi gelisah. Tentu saja, Herzog tidak ingat saya, tapi ingat stasiun radio bekas tempat saya bekerja. Apalagi saya memperkenalkan diri dengan membawa nama baru, RumahFilm.

Khusus untuk RumahFilm, Herzog menyediakan waktunya dalam dua kali kesempatan yaitu usai diskusi tentang masa depan film dokumenter di Compagnietheater, Amsterdam, dan usai diskusi tentang dokumenter asli atau palsu di Tuschinski 2, pada akhir November lalu. Dengan pengalaman 50 tahun berkutat menjadi sutradara, Herzog tentu punya banyak cerita, tapi tentu saja percakapan ini tidak bisa merangkum seluruh apa yang diceritakan Herzog.

Kepada RumahFilm, Herzog bercerita banyak hal, termasuk sikapnya terhadap cinema vérité dan tentu saja film terbarunya, Encounters at the End of the World.

Anda beberapa kali membuat statemen bahwa para pendukung cinema vérité adalah pecundang. Kenapa sih anda begitu menentang cinema vérité ini?

Karena memang itu hal yang bodoh. Cinema vérité selalu menganggap dokumenter sebagai ‘hak’nya. Kata ‘dokumenter’ itu perlu digunakan dengan hati-hati. Saya selalu bilang, ‘dokumenter’ digunakan oleh penulis, kritikus, atau setiap orang hanya karena ingin memudahkan kategorisasi. Konsep cinema vérité dokumenter itu tidak akan pernah bisa menembus jauh kedalam kebenaran yang ingin dicapai. Untuk bisa menembus dalam, sebagai pembuat film, kita perlu membuat taktik, menyusun strategi, mempersiapkan latar belakang yang tabu bagi para pendukung vérité.

Bagi saya, cinema vérité itu adalah konsep para pembuat film yang pemalas. Apa bedanya mereka dengan para turis yang menenteng kamera. Pulang kerumah, kamera itu dihubungkan dengan TV kemudian menonton apa yang sudah mereka syut sepanjang hari, lalu puas dan kemudian berkesimpulan, film sudah jadi, tinggal memberi judul. Itu kan tidak mungkin. Apa gunanya jadi pembuat film?

Bagi saya, membuat film itu seperti membuat puisi. Dalam membuat puisi, satu kalimat sederhana bisa berarti banyak hal dan artinya bisa tidak sesederhana seperti yang terbaca. Sudah menjadi sifatnya untuk bisa memaparkan banyak sisi dan dimensi sebuah kebenaran yang lebih dalam dari sekedar ‘kebenaran’ dangkal cinema vérité. Dimensi inilah area subur yang harus dimanfaatkan oleh para pembuat film.

Tapi bukankah anda banyak menerapkan teknik cinema vérité dalam membuat film? Anda bilang, anda tidak suka kalau kameramen anda menghabiskan banyak waktu untuk mencari angle yang puitis. Dalam setiap film dokumenter, anda juga sering jadi narator yang berjarak dengan objek-objek yang anda syut, yang dalam istilah vérité sebagai unobtrusive observer, imparsial dan sebagai outsider. Bukankah cara kerja cinema vérité juga seperti itu?

Wow. Kalau begitu anda salah menilai saya. Saya selalu terlibat sangat dalam setiap film-film saya. Oh ya, dan saya sangat terganggu dengan klaim anda soal kategori ‘dokumenter’ itu. Saya memang tidak suka kalau kameramen saya menghabiskan waktu hanya untuk menunggui sunset misalnya.

Tapi saya selalu tiba lebih awal disebuah lokasi, biasanya dua atau tiga hari lebih awal. Dan saya serta kameramen akan berkeliling menjiwai dan merasakan lokasi itu dulu tanpa kamera. Jadi tepat pada hari syuting dimulai, kameramen saya biasanya sudah paham, angin bertiup darimana, cahaya datang darimana, dan sebagainya.

Jadi dia tidak akan menghabiskan waktu mengintip dan menemukan angle yang pas. Saya hanya tahu apa yang saya butuhkan di lokasi itu. Dan saya memang selalu membiarkan kamera saya menangkap apa saja tanpa merencanakan sudut pengambilannya. Jika tiba-tiba ada hujan dilokasi, saya tetap akan menyalakan kamera saya, memfilmkan kepanikan crew meski itu tidak ada dalam skenario.

Saya selalu terbuka terhadap improvisasi seperti itu; Tapi apakah itu vérité? Tentu tidak. Karena footage-footage itu dikomposisikan, dimanipulasi lagi sehingga sesuai dengan alur yang pas. Pada akhirnya editor saya yang akan mengomel, dan film saya yang rencananya jadi X hasilnya bisa jadi Z.

Dan dalam film-film saya, yang anda bilang dokumenter itu, seperti Land of Silence and Darkness, Bells From The Deep, Little Dieter Needs to Fly, saya sangat terlibat dengan karakter-karakter saya. Bagaimana mereka mau bercerita kepada saya kalau saya berjarak dengan mereka? Vérité itu sesuatu yang tidak mungkin. Saya tidak setuju dengan cinema vérité karena tujuannya hanya menyentuh level paling banal untuk mengerti segala sesuatu disekeliling kita.

Karena itu juga anda tidak suka dengan klasifikasi film fiksi dan film dokumenter?

Bagi saya pembatasan kategori antara fiksi dan dokumenter itu tidak pernah eksis. Semuanya adalah film. Setiap film selalu terdiri dari fakta seberapapun kadarnya, karakter, cerita dan sebagai pembuat film, kita bermain dengan elemen-elemen itu dengan cara yang sama. Bagi saya, dengan membuat penegasan yang jelas antara ‘fakta’ dan ‘kebenaran’ di dalam film-film saya, saya bisa mendalami berbagai strata ‘kebenaran’ yang tidak semua pembuat film menyadarinya.

Kebenaran yang mendalam di dalam sinema dapat ditemukan tanpa perlu ketegasan birokrasi, politis apalagi matematis. Dengan kata lain, saya mulai menciptakan dan bermain dengan ‘fakta’ lewat imajinasi, lewat fabrikasi, lewat rekaan, saya menemukan tingkat kebenaran dengan cara yang alami. Bagi saya fiksi, non fiksi, fantasi, dan apapun lagi namanya dalam pembuatan film, adalah zona perdagangan bebas.

Contohnya?

Anda sudah menonton dua film saya? Little Dieter Needs to Fly dan Rescue Dawn? Yang mana yang fakta dan yang mana yang rekayasa, yang bisa anda bedakan antara –yang anda bilang dokumenter—Little Dieter Needs To Fly dan Rescue Dawn? (Keduanya bercerita mengenai Dieter Dangler, seorang pilot Amerika dalam perang Vietnam yang harus bertahan hidup di hutan di Laos – red.)

Hahaha…Anda balik mewawancarai saya?

Tidak. Saya akan mengembalikan bola kepada anda. Saya hanya ingin tahu apa yang anda pikirkan tentang kedua film itu.

Yang jelas, Little Dieter menampilkan Dieter Dengler yang asli sebagai narator karena itu masuk kategori dokumenter; sedangkan Rescue Dawn adalah feature dimana Dieter Dengler diperankan oleh Christian Bale. Dan saya harus akui, keduanya sama-sama meyakinkan sebagai dokumenter, sekaligus sama-sama meyakinkan sebagai feature.

Nah, anda sekarang paham kenapa saya tidak suka pengkategorian film-film saya. Rescue Dawn –yang anda bilang feature itu—benar-benar disyut di hutan yang sama, nun jauh di belantara Thailand. Saya tidak berani bilang, bahwa Christian Bale hanya berakting di film itu. Faktanya adalah, dia bener-benar takut dan panik dengan hutan perawan di Asia. Sama seperti kepanikan yang dialami Dengler ketika terjebak di hutan itu, benar-benar bergidik dengan binatang-binatang tropis.

Sedangkan dalam Little Dieter, saya mengikuti Dengler, menfilmkan kesehariannya, dan membawanya kembali ke hutan demi menjiwai esensi pengalamannya. Demi menemukan ‘kebenaran’ teror yang dialaminya. Kedua film itu adalah hasil keterampilan merekayasa dan mengolah fakta.

Memangnya di Little Dieter ada rekayasa?

Hahaha…anda masih tidak yakin juga. Ketika saya datang menemui Dieter Dengler, di rumahnya banyak pajangan lukisan. Dan salah satu yang menarik perhatian saya adalah semua lukisan pajangan itu selalu ada pintu yang terbuka. Ketika saya tanya soal itu, dia baru memperhatikan. Dengler juga tidak menyangka dan tidak menyadari soal itu. Saya kemudian meminta Dengler untuk membuka dan menutup pintu dan jendelanya, berkali-kali. Itu adalah dramatisasi dan improvisasi, -- hal yang tabu dalam cinema vérité -- atau seperti yang anda bilang, rekayasa. Tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai seni film.

OK, Saya mengerti. Mari kita bicara soal lain

Ya, cinema vérité sudah seharusnya masuk museum. Hahaha…

Soal film dokumenter….hmmm…film terbaru anda, Encounters at the End of the World. Anda masih menggunakan metode yang sama dengan film-film sebelumnya?

Maksud anda metode yang sama?

Setahu saya, anda bukan pembuat film yang duduk merenung lama demi menciptakan sebuah kisah. Anda yang pergi mengembara, mencari, dan menemukan cerita. Apakah Encounter juga anda temukan dalam salah satu pengembaraan itu.

Encounters tidak berbeda dengan film saya yang lain. Saya berkunjung ke Antartika tanpa skenario, tanpa rencana, dan tanpa bayangan film macam apa jadinya nanti. Saya bahkan tidak punya bayangan orang-orang seperti apa yang akan saya temui nanti.

Untuk film ini, saya harus berterima kasih kepada Henry Keiser yang juga membuat musik soundtrack untuk film saya sebelumnya, Grizzly Man. Saat mengerjakan musik itu, Keiser menunjukkan kepada saya beberapa footage yang diambilnya ketika berada di Antartika. Sebagian footage-footage itu juga saya gunakan dalam film saya sebelumnya Wild Blue Yonder. Perlu anda tahu, Keiser juga adalah fotografer khusus bawah laut.

Setelah Wild Blue Yonder, saya menyatakan rasa penasaran saya untuk berkunjung ke Antartika. Keiserlah yang kemudian menyarankan saya mendaftar ke US National Science Foundation untuk mengunjungi pos kerja mereka di McMurdo Station, Antartika. Saya berangkat berdua dengan kameramen saya Peter Zeitlinger.

Berapa lama anda butuhkan waktu sampai menemukan cerita yang anda inginkan?

Setiba di sana, modal kami hanya bergaul. Kami tinggal selama 7 minggu disana. Satu minggu khusus untuk latihan bertahan hidup di belantara salju. Selebihnya saya gunakan untuk syuting. Selama itu, saya ngobrol dengan semua orang disana. Lama-lama saya sadar, setiap orang punya cerita yang unik. Antartika adalah ujung dunia dimana tidak semua orang ingin kesana dan pada umumnya saya menemukan cerita-cerita personal yang membuat saya tertawa geli mendengarnya. Dalam tiga hari, saya sudah menemukan cerita apa yang saya butuhkan dan hari-hari berikutnya kami sudah punya tujuan yang pasti.

Kabarnya, anda sempat berjanji tidak akan memfilmkan penguin?

Hahahaha…iya, saya memang sesumbar, saya bilang kepada teman-teman saya, saya berjanji tidak akan membuat film tentang penguin lagi. Setibanya di sana, tidak sengaja saya mendengar tentang seorang ahli penguin yang bertahun-tahun hanya bergaul dengan penguin dan karena itu kehilangan kepekaan untuk berkomunikasi dengan manusia.

Tentu saja saya ingin tahu, orang macam apa dia. Jadilah saya mengunjunginya juga. Dan ternyata benar. Terus terang saja, saya sempat kehilangan akal bagaimana bisa membuatnya ngobrol dengan saya, dan itu tidak mudah. Karena itu pulalah saya akhirnya memfilmkan penguin sebagai representasi orang ini. Hasilnya tidaklah terlalu jelek bukan?

Tentu tidak. Menurut saya, adegan penguin itu justru sangat lucu. Apakah Encounters, adalah pernyataan anda untuk ikut kampanye lingkungan hidup seperti yang dilakukan Al Gore atau Leonardo DiCaprio?

Oh tidak. Saya pembuat film, bukan aktivis lingkungan. Ada film yang lebih baik merepresentasikan kekhawatiran tentang lingkungan hidup. Tentu saja saya menyadari bahwa lingkungan hidup kita sekarang sedang terancam. Untuk itu diperlukan orang-orang yang memang punya dedikasi seperti Al Gore. Tapi Encounters jelas bukan sebuah pernyataan terselubung politis apalagi kampanye lingkungan hidup. Encounters adalah cerita tentang sekelompok orang yang bertemu di satu titik di ujung dunia dengan alasannya masing-masing.

Encounters melengkapi petualangan anda di 7 benua. Sampai saat ini, dari semua film-film anda, ada satu kesamaan dasar, tentang hidup yang penuh obsesi. Apakah obsesi anda sudah terpenuhi?

Obsesi saya hanya membuat film. Saya bukan salah satu dari para intelektual yang sibuk berpikir tentang filosofi atau struktur sosial untuk membuat film. Saya tidak pernah berpikir untuk mengilhami film film saya dengan referensi filosofis. Bagi saya, film saya lebih banyak tentang kehidupan nyata daripada referensi filosofis. Semua film saya dibuat tanpa perenungan. Kontemplasi itu baru ada setelah film saya selesai, itupun dibuat oleh para kritikus atau penulis film.

Kenapa anda selalu mencari lokasi-lokasi yang bisa dibilang jauh dari peradaban, terpencil?

Lokasi-lokasi di kota besar saya rasa lebih cocok untuk Woody Allen. Kan kasihan kalau Allen disuruh syuting di tengah hutan. Selain itu dia pasti bikin repot. Saya harus tahu diri dan minggir ke alam.

Di Encounters lagi-lagi anda bertindak sebagai multiple staff. Sebagai sutradara, penata cahaya, penata suara .

Seperti saya bilang, bayangkan kalau Woody Allen yang jadi sutradara. Bisa jadi New York dipindahkan ke Antartika…Hahaha. Encounters praktis dikerjakan oleh empat orang, saya, Peter Zeitlinge, kameramen, Henry Keiser, produser dan Joe Bini, editor. Itu juga salah satu alasan saya suka membuat film dokumenter. Saya terbiasa bekerja dengan kru yang sangat kecil.

Sekarang anda tidak lagi kesulitan mendapatkan produser. Bukankah anda mulai membuat Werner Herzog Filmproduktion karena putus asa mencari produser?

Sekarang memang tidak. Tapi juga butuh waktu lama hingga orang menganggap saya ada. Saya ingat, waktu itu umur saya sekitar 17 t ahun, dan diundang oleh seorang produser. Saya pikir, dia berbeda dari produser yang lain yang selalu memandang saya dengan sebelah mata hanya karena umur saya. Begitu masuk ke ruang produser itu, salah seorang dalam ruangan itu berkata; ‘The Kindergarted is trying to make films nowadays!’.

Setelah itu saya langsung kabur dan berjanji pada diri saya sendiri, saya tidak akan lagi menghadapi perlakuan seperti itu. Setelah itu saya dengan segala apa yang saya punya mendirikan Werner Herzog Filmproduktion. Sejak itu, saya membuat film saya sendiri.

Saya menyewa sebuah apartemen kecil yang berfungsi sebagai kantor sekaligus sebagai tempat tinggal di Munich, yang dilengkapi dengan pesawat telepon dan mesin ketik. Ruang tamunya saya jadikan ruang editing sekaligus ruang tidur.

Saya belajar, bahwa untuk memproduksi film, anda hanya butuh telepon, mesin ketik, mobil dan tekad. Walaupun hingga saat itu saya hanya berhasil mendapatkan uang dari kemenangan film-film saya di festival dan sejumlah screening, toh akhirnya 20 th Century Fox tertarik untuk menjadi co-produser film saya berikutnya Nosferatu.

Mereka mengundang saya ke Hollywood, tapi saya menolak dan mengundang mereka datang ke Munich. Mereka datang berempat, saya menjemput mereka dengan VW tua saya di bandara dan mengajak mereka berjalan-jalan dengan VW itu.

Anda pernah mendapat beasiswa untuk belajar film di Amerika. Tapi kemudian kabur?

Periode itu orang masih percaya dengan ijazah. Saya sudah menyelesaikan 3 film pendek ketika itu dan ketiganya memenangkan berbagai penghargaan. Saya bahkan sudah memenangkan sejumlah uang untuk skenario yang saya tulis, tapi tetap saja tidak ada yang mau membiayai produksinya.

Waktu itu saya pikir, mungkin lebih baik saya sekolah dulu. Maka saya pun menerima tawaran beasiswa itu dan memilih Universitas Pittsburgh. Tapi pilihan saya salah. Universitas itu ternyata tidak sesuai yang saya bayangkan. Saya hanya bertahan 3 hari, setelah itu saya menyatakan diri DO, saya mengembalikan beasiswa tersebut dan akhirnya menggelandang di Pittsburgh dan ketahuan tidak punya visa tinggal kecuali kalau saya berstatus pelajar.

Mengapa anda tidak suka sekolah film?

Saya tidak pernah terlalu percaya dengan sistem pendidikan. Saya percaya, segala sesuatu yang anda pelajari karena terpaksa disekolah akan segera anda lupakan begitu saja. Tapi segala sesuatu yang anda pelajari karena pengalaman tidak akan pernah anda lupakan. Itu adalah pelajaran awal paling vital bagi saya.

Memutuskan untuk menjadi pembuat film berarti harus siap dengan segala hal tak terduga. Para pembuat film sekarang lebih banyak mengeluh. Mengeluh karena kekurangan dana, mengeluh karena kru yang tidak bisa diatur, mengeluh karena produser yang tidak tepat janji, dan lain-lain. Orang-orang yang banyak mengeluh karena persoalan-persoalan seperti itu rasanya tidak cocok untuk masuk ke dunia film.

Prinsip saya, semua bisa dipelajari. Apalagi sekarang, semua serba mudah, film bisa dibuat dengan biaya sangat minim. Sudah terbukti dimana-mana, peralatan teknis tidak lagi jadi masalah. Karena itu tidak ada alasan untuk mengeluh bagi para pembuat film muda dijaman ini.

Jika ada sesuatu yang bagi saya terlihat rumit, saya akan melakukan percobaan, jika saya tetap tidak dapat menguasainya maka saya baru akan menyewa seorang teknisi. Dan hal-hal seperti ini, tidak akan anda dapatkan di sekolah film. Sekolah hanya akan menjadikan anda teknisi. ‘For academia is the death of cinema. It is the very opposite of passion.***

Wawancara lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org