Manu Rewal

Wawancara Manu Rewal, sutradara independen India:
“Saya Tidak Ingin Uang Mereka....”
oleh Asmayani Kusrini
Redaktur Rumahfilm.org, Brussel

Apa yang paling berkesan bagi kita, orang Indonesia, ketika berurusan dengan birokrasi? Apa yang terbayang, ketika kita mengurus surat-surat, mengajukan permohonan izin, dan segala hal yang harus melalui suatu instansi pemerintah. Hampir semua kita sepakat, jawabannya: RIBET ! Tapi, kenapa ya jarang sekali pembuat film Indonesia yang menyorot tema ini? Bukankah ini tema yang sangat akrab?

Dan rupanya, tidak hanya di Indonesia kekisruhan birokrasi ini terjadi. Soal ini juga membikin gerah sutradara independen India, Manu Rewal. Jadilah film Rewal, Chai Pani, etc. (atau Love, Bribes, Etc) terasa seperti menengok pengalaman sendiri ketika berurusan dengan birokrasi di Indonesia.

Temanya tentang India yang katanya sudah 60 tahun jadi negeri penganut sistem demokrasi. Toh, seperti juga banyak negeri dengan sistem yang sama, termasuk Indonesia, India tidak pernah benar-benar bersih dari ‘penyakit’ lama yang berakar: KKN alias Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Inilah yang harus dihadapi oleh  Satya, tokoh utama di Chai Pani, etc..

Satya adalah sutradara muda idealis yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di Amerika. Ia pulang dengan banyak mimpi membuat film dokumenter yang nantinya bisa memperkenalkan India ke dunia International. Proyek pertamanya adalah membuat dokumenter tentang kota kuno, Jaisalmer di Rajashtan, perbatasan India-Pakistan.

Semangatnya yang menggebu terbendung oleh para birokrat hipokrit yang selalu saja menghadang langkahnya. Dari jajaran staf paling bawah hingga ke yang lebih tinggi. Perjuangan Satya meloloskan idealisme inilah yang membuat banyak penonton tertawa geli. Bagi penonton Barat, mereka tertawa karena lucu. Bagi penonton Asia, kami tertawa karena deskripsi yang dituturkan oleh Rewal dalam film ini terasa sangat akrab.

Chai Pani, etc. juga punya subplot tentang kehidupan pribadi Satya. Bagi mereka yang asing dengan India, film ini secara ringkas dan padat mencoba memotret generasi muda India yang juga makin bergeser dari budaya ‘kolot’ ke budaya ‘campuran’ hasil godokan globalisasi.  Hasilnya, Chai Pani, etc. memang terasa kagok ketika mencoba menuturkan pergeseran ini. Manu Rewal juga tidak mencoba menutup-nutupi kekagokan itu.

Secara keseluruhan, Chai Pani, etc. bukan film yang neko-neko, baik dari segi tema, struktur cerita dan penyajian visual. Tentu saja, film ini tanpa adegan kejar-kejaran di antara pohon-pohon. Atau menari borongan dan main umpet-umpetan. Bahwa film ini mengalir dengan lancar juga karena pilihan Rewal yang tidak ingin terlalu serius membicarakan tema yang serius ini. Chai Pani, etc. lebih  terlihat seperti  ingin menertawai kegaguan diri sendiri.

Chai Pani, etc. adalah film panjang  Manu Rewal yang pertama. Sebelumnya, Rewal banyak membuat film dokumenter arsitektur. Film-film dokumenternya –seperti Mandu, Lutyens New Delhi, Le Corbusier in India –banyak menerima penghargaan dari festival-festival film internasional. Film pendeknya, Hollywood Ki Pukar, diputar pertama kali di Cannes 2002,  pada seksi Director’s Fortnight.

Sosok Rewal seperti merepresentasikan filmnya yang santai dan ringan. Sutradara bertubuh tambun berusia 40 tahun ini selalu terlihat dengan tas ransel bututnya, jeans belel, dan sepatu kets. Rewal juga terlihat cepat akrab dengan lawan bicaranya. Berikut, wawancara Rumahfilm dengan sutradara keturunan India-Prancis ini di Pusat Kebudayaan Jacques Franck usai pemutaran filmnya di International Independent Film Festival Brussel, pada tengah November 2007 lalu. Chai Pani, etc. menerima Special Award Of The Jury di festival ini.

Saya baru saja menonton film Anda. Langsung mengingatkan saya pada kampung halaman. Saya sering sebal dengan situasi seperti dalam film itu. Tapi menonton film Anda, saya tak bisa tidak tertawa.

Saya memang suka menertawakan hal-hal serius. Apa yang Anda lihat di Chai Pani, etc. adalah guyonan sehari-hari di antara teman-teman saya. Saya pikir, jika kita menghadapi isu serius dengan serius, maka hasilnya pasti menjadi berat. Dan kalau tidak hati-hati, bisa jadi terlihat seperti sedang berkhotbah. Karena itu saya memilih gaya satire dan humor. Anda melihat bahwa karakter-karakter di Chai Pani, etc. tidak sedang melucu tapi tetap membuat orang tertawa, karena mereka melihat sesuatu yang nyata.

Anda belajar di Amerika, kemudian kembali ke India. Apakah Anda sempat mengalami culture shock juga?

Mungkin sedikit. Saya setengah India setengah Prancis. Ibu saya orang Prancis. Waktu kecil, saya sering berkunjung ke Prancis kemudian kembali lagi ke India, kemudian Prancis kemudian India lagi. Jadi saya tidak pernah benar-benar mengalami culture shocked. Tapi Anda juga benar. Saya lahir di India, dan tumbuh remaja di India. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, saya belajar di Prancis. Segalanya sangat berbeda dengan India. Mulai dari sistem pendidikan, gaya hidup, dan itu membuat saya butuh waktu untuk bisa beradaptasi.

Sebagai anak yang dibesarkan dalam dua budaya yang berbeda, apakah Anda merasa punya nilai lebih dalam hal menilai dan menikmati medium film?

Saya rasa begitu. Ada kelebihan dan kekurangannya juga. Tapi saya mebih banyak mengambil keuntungan…hahahah. Sederhananya begini. Saya selalu merasa lebih mudah bagi saya bekerja di wilayah Eropa untuk urusan birokrasi. Tapi juga karena saya tumbuh di dua wilayah yang berbeda budaya, saya lebih paham bahwa sesungguhnya, semua tidak tergantung darimana kita berasal, tapi tergantung dari seberapa baik dan seberapa profesional Anda di bidang yang Anda tekuni. Itu yang jauh lebih penting. Jika Anda datang ke seorang produser film, dia tidak akan melihat apakah Anda orang India, Prancis atau Amerika, tapi apakah Anda memang layak dipercaya bisa mengerjakan produksi film atau tidak.

Apakah itu juga mempengaruhi cara Anda melihat dan menilai sebuah film?

Saya pikir, film yang bagus, oleh sutradara manapun, darimanapun dia berasal, entah itu dari India, Indonesia, Eropa, darimanapun, tidak pernah menentukan film bagus atau tidak. Film bagus selalu bicara tentang bahasa emosi atau bahasa gambar yang menurut saya sangat universal. Film yang bagus melampaui batas-batas teritori.

Jadi apa artinya film buat Anda? Lepas dari bagus atau tidak.

Bagi saya, dari semua medium seni, film adalah medium paling lengkap dan kompleks. Film bisa berbicara, menyentuh emosi, menyampaikan cerita tentang dunia tempat Anda hidup. Selain itu, film juga bisa menghibur sekaligus menyampaikan pesan pembuatnya tentang apa yang dilihatnya tentang hidup. Karena itu setiap pembuat film selalu punya cara bertutur yang berbeda, dan di situlah keasyikan bermain dengan medium ini.

Ayah Anda seorang arsitek. Karena itu Anda memulai dengan membuat dokumenter arsitektur?

Saya pembuat film yang banyak membuat dokumenter tentang arsitektur. Tapi saya tetaplah pembuat film, bukan arsitek. Selain itu, arsitektur dan seniman, khususnya pembuat film, tidak sama. Arsitek selalu butuh klien yang memberikan order. Mereka tidak bisa hanya sekadar berkarya. Mereka bekerja untuk orang lain. Tidak seperti pelukis, yang ketika dapat ide langsung bisa berkarya meski di atas selembar kertas tisu. Arsitek tidak bisa menghantui pikiran orang lain. Dengan film, itu bisa dilakukan.

Dengan mulai sebagai pembuat film dokumenter, apakah itu berpengaruh banyak dengan cara Anda membuat feature?

Saya rasa tidak. Saya (dulu) lebih banyak berurusan dengan bangunan. Lebih banyak benda mati. Sementara di feature, saya lebih banyak berurusan dengan manusia yang pastinya tidak diam kaku. Jadi, pendekatan yang saya lakukan berbeda.

Tapi mungkin dokumenter yang saya buat berpengaruh pada cara saya mengedit. Saya mengerjakan hampir semua editing sendiri. Saya tidak pernah takut untuk memotong film-film saya. Jika saya mendapati sebuah footage yang tidak cocok, walapun footage itu sayang untuk dibuang, saya akan membuangnya dan tidak pernah berpikir untuk menggunakannya lagi.

Banyak pembuat film yang sangat terpesona dengan apa yang mereka rekam sampai kadang mereka berat untuk memotong. Yang saya pelajari dari banyak membuat dokumenter adalah kadang hasilnya jauh lebih baik jika kita memotong daripada tetap menggunakan footage yang tidak perlu. Percayalah, jika Anda merasa ada yang tidak beres dengan sebuah adegan, lebih baik dibuang. Saya belajar untuk lebih kuat dan lebih kejam terhadap film-film saya. Itu yang saya pelajari dari dokumenter.

Soal Chai Pani, etc., sepertinya itu pengalaman sendiri? Terutama soal menembus birokrasi di India?

Ceritanya fiksi, tapi tentu memang pernah saya alami. Tapi, sekali lagi, itu tetap fiksi. Seperti kesimpulan dari 10 tahun hidup Anda di atas beberapa lembar kertas. Saya mengubah banyak hal, memodifikasi. Soal birokrasi, tentu saja itu terjadi. Ketika masyarakat India menonton film ini, banyak orang memberi komentar bahwa apa yang saya tampilkan di film itu masih kurang dengan apa yang sebetulnya terjadi. Kenyataannya lebih sadis lagi.

Oh ya? Bagaimana reaksi mereka, khususnya pemerintah?

Chai Pani, etc. mendapat sambutan baik di India. Tapi memang saya harus berhadapan dengan badan sensor kurang lebih 7 bulan demi meloloskan film ini. Mereka ingin saya memotong beberapa bagian. Setelah 7 bulan berargumen, akhirnya saya berhasil meloloskannya dari sensor dan mendistribusikannya. Masyarakat India menyukai film ini, dan setiap orang mengidentifikasikan diri dalam Chai Pani, etc..

Bagian mana di film ini yang harus dipotong?

Mereka tidak suka dengan adegan ciuman dan merokok. Mereka gila. Tapi saya rasa itu hanya alasan biar mereka terlihat bekerja. Berapa banyak film India dengan adegan ciuman dan merokok beredar? Masa hanya film saya yang harus memotong. Dan mereka tahu saya tidak akan pernah setuju untuk memotong bagian yang mereka minta itu.

Mungkin Anda tidak menonton film film India komersial belakangan ini. Jika Anda menontonnya, Anda pasti paham, bagaimana film Bollywood yang sesungguhnya. Saya rasa, Chai Pani, etc. sangat sopan, sangat ringan dibandingkan film-film Bollywood yang sekarang banyak menampilkan artis nyaris telanjang bahkan kadang-kadang melakukan striptease. Tak ada satu pun dalam film saya yang pantas dipotong karena alasan moral.

Bagaimana aturan sensor di India?

Sensor di India adalah sesuatu yang sangat absurd. 60 tahun kami menganut sistem demokrasi tanpa interupsi. Kami memiliki free press. Umur 18, kami sudah bisa memilih dalam pemilihan umum. Tapi pemerintah kami masih saja risau untuk memutuskan apa yang bisa dan tidak bisa ditonton oleh masyarakatnya. Sementara mereka tidak sadar, sekarang semua bisa dilihat lewat internet. Menggelikan, jika saya harus memotong adegan cium.

Bahkan banyak orang mengakui bahwa aturan sensor di India memang sangat absurd. Secara personal banyak staf pemerintah mengakui bahwa aturan sensor di India memang bodoh. Tapi tidak ada seorang pun dari mereka ingin mengubahnya. Sungguh bikin frustrasi, kadang-kadang.

Bagaimana dengan skenario Chai Pani, etc.?

Hahaha…saya memang butuh waktu yang sangat lama menyelesaikannya. Saya membuat 15 versi. 1/5 versi itu saya selesaikan dalam waktu 5 tahun. Saya selalu menulis ulang, lagi, dan lagi. Chai Pani, etc. adalah film feature panjang saya yang pertama jadi saya ingin membuatnya sebaik mungkin. Tapi di antara waktu lima tahun itu, saya juga membuat beberapa dokumenter tentang arsitektur dan tentang warisan budaya India. Kadang, saya menulis selama 2 hingga 3 bulan, lalu meninggalkan skenario itu, mengerjakan dokumenter selama 6 bulan, lalu kembali lagi ke skenario yang saya tinggalkan.

Bagaimana hasilnya menurut Anda sendiri?

Well …tentu saya saya senang akhirnya saya bisa membuat dan merealisasikan Chai Pani, etc. Tapi, seperti manusia normal lain, saya tidak pernah 100% puas. Jika saya menontonnya lagi, saya merasa banyak hal yang bisa saya lakukan untuk membuatnya lebih baik dan lebih baik lagi. Saya sadar bahwa apa yang saya tulis diatas kertas tentu tidak akan pernah sama betul dengan apa yang tersaji di layar. Apalagi, di layar, Anda sangat tergantung dengan aktor, artis, pencahayaan, kostum, dll. Tujuan saya adalah agar emosi yang ingin saya sampaikan bisa sama dengan apa yang tertulis di atas kertas dan apa yang tersaji di atas layar.

Bagaimana dengan aspek estetika di film Anda. Sepertinya Anda tidak bisa lepas dari cara penyajian documenter arsitektur?

Banyak crew yang bekerja sama dengan saya mengatakan itu. Mungkin juga. Saya memang tidak ingin bermain-main dengan teknik estetis, baik itu melalui kamera, efek dll. Bagi saya, isi lebih penting. Cerita harus tersampaikan dengan baik. Karena itu saya ingin selalu menulis skenario saya sendiri. Saya merasa bahwa aspek estetis terbentuk dari cara mengeskpresikan apa yang dirasakan oleh sutradara tehadap skenario. Karena itu, penting bagi saya menulis sendiri cerita yang akan saya sutradarai. Bagi saya, gaya bertutur dan aspek estetis terbentuk sendiri melalui apa yang saya tulis dan saya coba memproyeksikannya di atas layar. Saya tidak mungkin menggunakan gaya Orson Welles atau Coen Brothers di film saya. Nggak nyambung…hahahah.

Ketika cerita saya jadi, mulailah saya berpikir bagaimana gerakan kamera nanti, bagaimana close ups, bagaimana komposisi untuk adegan tertentu, dll. Maka terbentuklah aspek estetis itu. Jadinya, seperti yang ada lihat, realistis. Memang tidak 100% realis karena saya mencoba bergaya komedi satire.

Bagaimana dengan rencana film selanjutnya?

Lagi-lagi saya masih akan membuat film komedi realis, dengan sedikit sentuhan satire. Tapi, saya masih mencoba mencari dana. Seperti biasa. Masalah yang sama setiap saat. Untuk lebih jauh lagi, saya juga ingin sekali membuat film tentang sejarah India, karena kami punya banyak kisah menarik di masa lalu yang jarang disentuh.

Anda adalah bagian dari sutradara independen India yang jauh dari Bollywood. Bagaimana Anda bisa bertahan di tengah-tengah megaindustri film India itu?

Saya pikir, “independen” dalam arti bahwa membuat film ini tidak melulu soal duit. Mungkin terdengar klise dan idealis, tapi bagi saya, dalam membuat film, dana bukanlah masalah paling penting. Beberapa pembuat film memilih untuk membuat film sesuai permintaan untuk memenuhi standar komersil demi uang.

Artinya, alasan utama mereka membuat film adalah uang. Bagi saya, yang paling utama adalah membuat film yang baik. Seperti juga orang lain, tentu saja saya akan sangat senang jika film saya bisa menghasilkan uang, tapi itu bukan prioritas. Ini berhubungan dengan sikap dan pendekatan terhadap pembuatan film.  Dan ini dimulai dari konsep cerita hingga cara mendistribusikan film.

Apakah sebagai pembuat film independen, Anda pernah mengalami konflik dengan industri?

Bisa dikatakan begitu. Ketika saya mencoba untuk mendistribusikan sendiri film saya, memang tidak mudah. Di Delhi, kota tempat saya tinggal, saya bisa mendistribusikan sendiri. Tapi di Bombay, jauh lebih sulit. Kadang-kadang, saya harus bertengkar dengan sinema setempat karena mereka mengganti jadwal pemutaran film tanpa pemberitahuan lebih dulu walaupun saya sudah memegang kontrak. Kadang film saya diputar pagi-pagi jam 10 atau tengah malam. Mereka jarang memberikan saya waktu strategis.

Mereka juga tidak mengizinkan film saya diputar di bioskop besar. Dan banyak lagi gangguan teknis yang disengaja. Industri di India merasa bahwa jika pembuat film tahu cara mendistribusikan film mereka sendiri, maka bisa jadi para pembuat film independen lain mengikuti jejak tersebut dan mereka akan kehilangan pekerjaan. Industri film di India banyak mengekploitasi kekurang-pahaman para pembuat film mendistribusikan film.

Padahal, dari apa yang saya pelajari dari pengalaman, ternyata tidaklah begitu sulit mendistribusikan sendiri. Yang saya temukan malah, proses produksi 100 kali lebih sulit dibandingkan mendistribusikannya. Jika Anda bisa memproduksi film, maka itu berarti Anda juga bisa mendistribuskan. It’s a piece of cake. Percayalah. Tentu saja, memproduksi dan mendistribusikan adalah dua profesi yang berbeda, kita memang harus memelajari caranya seperti juga kita belajar hal-hal yang lain.

Apakah menurut Anda pemerintah bisa melakukan sesuatu untuk mengatasi dominasi industri Bollywood?

Saya tidak pernah berharap mendapat dukungan apa-apa dari pemerintah. Saya tidak pernah berharap mereka mau memberi dukungan dana. Saya tidak ingin uang mereka, karena saya paham betul, berharap dana dari pemerintah sama saja mengumpankan diri ke jaring birokrasi yang menghisap tenaga bahkan uang. Jadi tidak pernah terlintas untuk meminta bantuan pemerintah.

Tapi, saya berharap mereka membuat peraturan yang tidak makin menjatuhkan eksistensi pembuat film independen seperti saya. Pajak, misalnya. Kami dikenai pajak sangat tinggi. Ada yang disebut pajak entertainment, yang membebani 50% jumlah dana produksi. 50% sisanya, harus dibagi lagi. 70% dari 50% sisa itu diambil oleh distributor, jadi kami hanya menerima 30% dari 50% sisa itu. Hampir tidak mungkin untuk bisa bertahan hidup di pasar.

Film adalah industri yang sangat rentan bagi pembuat film independen non-Bollywood. Saya tidak peduli berapa pajak yang dibebankan kepada industri raksasa itu. Tapi aturan itu juga berlaku bagi pembuat film macam saya. Jadi saya berharap mereka membiarkan pasar film bekerja tanpa campur tangan petugas pajak yang mengendus kesana kemari. Jadi kami bisa bersaing dengan film buatan industri besar.

Saya sih berharap India akan menerapkan sistem seperti di Eropa, misalnya, yang bebas pajak. Jika ada seorang investor yang ingin berinvestasi di film, maka uang investasi itu bebas pajak, karena film adalah produk budaya. Segala produk budaya di Eropa bebas pajak. Inilah susahnya di India, segalanya serba dipajak, bahkan untuk produk budaya, dan itu membuat orang malas memberikan dana. Jangan bicara soal duit. Saya tidak ingin duit dari pemerintah. Lebih baik mereka membuat peraturan yang bisa membuat kami bernafas lebih lega.

Bagaimana dengan kritikus film di India? Apakah juga membantu ?

Hahahaha…untuk hal ini, saya harus bicara lebih hati-hati. Saya akan mengatakan begini. Di India, jujur saya katakan nyaris tidak ada kritikus yang bisa menulis sesuatu tentang seni film. Banyak kritikus India yang menulis sesuatu yang mereka pikir diharapkan oleh penonton film. Bagi saya ini sangat bodoh. Karena itu bukan pekerjaan kritikus film.

Saya pikir, kritikus film yang baik seharusnya menulis apa yang mereka sukai dan menjelaskan mengapa sebuah film itu bagus atau jelek. Dan untuk ini, kritikus harus punya kapasitas untuk itu. Artinya, paling tidak, dia paham soal apa itu film, sejarah film, dan tentu saja banyak menonto film. Saya banyak menemukan kritikus yang tidak paham, bahkan hal hal dasar tentang film. Banyak juga kritikus yang tidak punya perspektif sama sekali.

Saya bukannya ingin membandingkan dengan Eropa atau Amerika, tapi di sana, mereka punya standar dan selera yang baik terhadap film. Kritikus-kritikusnya juga adalah orang-orang yang paham betul apa itu film. Sebagian dari mereka paham entah karena belajar teori di universitas, entah itu otodidak dan hanya fokus pada film, ada juga yang mencoba membuat film sehingga paham betul apa itu medium film, sehingga mereka lebih paham dan mengerti tentang sinema. Jadi, ketika mereka membahas sebuah film, para pembuat film bisa lebih paham juga tentang nilai lebih ataupun kekurangan film yang dibuatnya. Di India, situasi ini jelas belum terbentuk. Banyak kritikus hanya berusaha menjatuhkan karya pembuat film dan tidak merasa bertanggung jawab untuk menjelaskannya.

Apakah menurut Anda kritikus bisa memengaruhi film industri?

Di India, kritikus yang baik bisa memengaruhi cara pandang penonton terhadap film yan mereka tonton. Saya berharap kritikus bekerja sebagai pendidik bagi penonton. Jika Anda punya kritikus film yang benar-benar fokus, paham betul apa itu sinema, dan punya media untuk mengutarakan apa yang dipikirkannya, ini akan sangat membantu mendidik penonton film.

Dengan penonton film yang terdidik, maka standar selera menonton film juga akan meningkat. Tentu saja ini sangat teoritis dan mungkin tidak praktis, tapi saya berharap ada kritikus seperti ini di India. Toh film yang bagus akan tetap bagus. Saya akan sangat menghargai seorang kritikus yang banyak menonton film, dan tentu saja mencintai film. Anda tidak menonton film karena keharusan atau perintah dari redaktur Anda atau karena sekedar untuk mengisi kekosongan halaman di koran. Jika Anda menonton banyak film, berbagai macam genre, dan menonton film karena memang Anda tergila-gila dengan film, maka saya yakin, apa yang Anda pikirkan tentang sebuah film akan sangat berbeda dengan mereka yang menonton film karena wajib. Entah Anda setuju atau tidak, bagi saya, seorang kritikus harus punya passion terhadap sinema.***

Wawancara lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org