
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() |
![]() Béla Tarr Béla Tarr:
Walaupun saya mulai menonton film sejak jaman Ira Maya Sopha jadi Cinderella, toh saya baru ‘melek film’ dua-tiga tahun terakhir ini. ‘Melek’ film artinya sekarang saya tidak lagi bingung ketika ditanya, Willy Dozan itu aktor laga dari Hongkong atau Magelang. Sekarang saya tidak lagi bisa ‘dikibuli’ ayah saya --yang penggemar film silat-- bahwa Bruce Lee itu kakak tertua Stephen Chow, dan Jet Li itu adik bungsunya, dan Andy Lau itu sepupu mereka. Meskipun begitu, toh, kecenderungan ‘menyamaratakan’ masih belum bisa lepas juga. Dan Béla Tarr adalah salah satu ‘korban’ penyamarataan itu. Dulu, bagi saya, semua film hitam putih itu adalah film klasik. Dan semua sutradara film klasik, pada umumnya sudah wafat. Berkali-kali saya menganggap, bahwa Béla Tarr sudah berstatus almarhum gara-gara anggapan naïf ini. Saya memang teledor dan sudah berkesempatan untuk minta maaf langsung. Tapi saya punya alasan. Ketika menonton salah satu filmnya, berjudul Karhozat (Damnation) disebuah bioskop kecil di Budapest beberapa tahun lalu, saya pikir, ini pasti salah satu film klasik yang sering lupa disebut oleh teman-teman saya para maniak film. Saya membayangkan, sutradaranya pastilah satu angkatan dengan Andrei Tarkovsky atau bahkan Sergei Eisenstein. Struktur ceritanya, --tentang cinta dan penghianatan—membuat film ini sebetulnya bisa masuk kategori genre film. Tapi jauh lebih tepat menyebutnya sebagai art film. Sekuen-sekuennya kaya dengan detail-detail visual yang hanya mungkin dilakukan dengan gerakan kamera yang seperti siput - sangat lambat. Film hitam putih ini tak bisa lepas dari ingatan karena pesimisme yang kental terhadap hidup. Tapi dalam salah satu katalog, saya sempat membaca komentar Susan Sontag tentang film ini: “Some of the very few heroic violations of cinematic norms of our times”. Saya sudah lupa soal Damnation ketika suatu kali seorang kawan saya mengajak menonton sebuah film berdurasi 7 jam 30 menit dengan judul seram: Satantango (Satan’s Tango). Saya sempat menolak karena teringat Shoah, film dokumenter karya Claude Lanzmann yang juga berdurasi panjang dan tidak pernah berhasil saya tonton tuntas. Tapi karena semangat teman saya yang bilang bahwa Satantango adalah salah satu film terbaik sepanjang masa, saya tertarik juga. Apalagi, untuk menonton film itu, teman saya menyiapkan diri seperti akan pergi camping, beberapa botol minuman ringan, coklat batangan, kue-kue, plus snack. Meski tidak sadar bahwa sutradara Satantango adalah sutradara Damnation juga, kesan saya tetap sama. Dia pastilah seangkatan Eisenstein. Menonton Satantango seperti sedang mengikuti prosesi spiritual visual. Usai menonton film yang tak sedikitpun bikin saya mengantuk itu, saya nyeletuk: “gile ya, sutradara jaman-jaman dulu emang nggak tertandingi”. Dan saya pun menerima sejumlah omelan. “Jaman dulu ? Nenek moyangmu?. Film ini buatan 1994, loenyebut jaman dulu itu kayak sebelum Perang Dunia ke-2 aja,” kata teman saya. “Sutradaranya emang masih hidup?”, tanya saya. Begitulah. Sampai kemudian saya menyadari bahwa Damnation, Satantango (masuk dalam daftar 1001 Movies You Must See Before You Die-nya Stephen Jay), dan kemudian Werckmeister Harmonies (masuk dalam daftar Great Movies-nya Roger Ebert), lalu Almanac of Fall, The Outsider, Family Nest, dihasilkan oleh sutradara yang sama, bernama Béla Tarr. Nama dan film-filmnya yang jarang terdengar, juga bukan tanpa sebab. Sebagai perbandingan, Roger Ebert saja, baru menonton film Béla Tarr pertama kali di tahun 2007 lewat Werckmeister Harmonies, itupun dalam format DVD. Nama Béla Tarr didengarnya dari mulut kemulut dan dari buku 1001 Movies You Must See Before You Die. Béla Tarr sendiri juga bukan orang yang rajin mondar-mandir ke pesta-pesta film. Apalagi, ia pernah ‘terusir’ dari Hungaria dan terpaksa harus mengungsi kesana-kemari. Saat ini, Hungaria sudah memintanya kembali pulang. Waktunya lebih banyak dihabiskan di sebuah dusun kecil tak tercantum dalam peta dekat Budapest. Karya-karya awalnya hanya beredar disekitar komunitas seniman di Hungaria. Film-film masterpiece-nya beredar hanya sekitar festival di Eropa. Satantango sendiri baru dibawa ke Amerika sekitar tahun 2000-an. Film-film Béla Tarr yang menuntut banyak kesabaran penonton memang bukan jenis film yang diminati bioskop-bioskop mainstream. Tapi seperti kata Roger Ebert, jika anda bisa sabar menonton filmnya setidaknya 20 menit pertama, maka yakinlah anda pasti akan menontonnya hingga menit terakhir. Atau seperti kata Susan Sontag --yang rupanya juga pengagum karya Tarr-- tentang Satantango: Devastating, enthralling for every minute of its seven hours. I’d be glad to see it every year for the rest of my life. Dan, ya, saya beruntung akhirnya bisa bertemu dengan Béla Tarr. Ia turun gunung untuk menemani film terbarunya: The Man From London pada Festival Film Rotterdam lalu. Rotterdam adalah salah satu festival yang bisa dibilang turut andil dalam mewadahi kreatifitasnya diawal-awal karir sebagai sutradara. Béla Tarr langsung mengingatkan saya pada film-filmnya. Wajahnya murung kalau tidak bisa dibilang muram. Tapi mata biru-hijau-keabu-abuan itu menatap setiap lawan bicaranya seperti sedang mengamati dengan intens. Bicaranya pelan, nyaris satu demi satu kata diucapkan dengan tekun, persis seperti shot-shot di film-filmnya. Dan terus terang saja, Béla Tarr agak susah untuk diajak ngobrol. Bagaimana pengalaman sutradara ini tentang karirnya sebagai pembuat film? Berikut petikan obrolan saya dengan sutradara kelahiran Pecs, Hungaria pada 21 Juli 1955 ini: The Man From London agak berbeda dengan film anda sebelumnya seperti Satantango atau Damnation, walaupun tidak ada yang bisa terkecoh, The Man adalah film Béla Tarr. The Man, sepertinya jauh lebih pesimis. The Man memang lebih dramatic, nyaris tidak ada subplot, tidak ada aksi. Yang kedua, karena saya makin hari makin tua dan ilusi saya makin berkurang. Ide-ide di kepala saya juga mengering. Rasanya saya tidak lagi romantis dalam hal merangkai film. Maksud anda, tidak lagi romantis akan ide penolakan formal terhadap konvensi sinematis? Oh tidak. Saya tidak lagi berpikir soal konvensi sinematis. Saya hanya berpikir tentang nasib dan keyakinan manusia. Saya hanya ingin bercerita tentang bagaimana mekanisme hidup itu bekerja. Lewat karakter dalam The Man, saya hanya ingin bercerita tentang seorang pria diatas usia 50 tahun, yang punya kehidupan monoton dan bagaimana ia harus bersikap ketika tergoda pada sesuatu. Tidak seperti film anda yang lain, yang kental dengan kombinasi spiritual dan efek dari kekuatan jahat, di The Man, aspek spiritualnya sepertinya memudar, dan membuat The Man makin terasa pesismis. Sulit untuk mengatakannya, karena saya tidak merasakan apa-apa. Segalanya terjadi secara natural, berdasarkan situasi saat kami membuat film. Film ini mungkin memang sebuah pengecualian. Anda tahu, kami mulai syuting pada 2005, dan kami tidak bisa menyelesaikannya karena produser kami meninggal (bunuh diri –red). Kami harus berhenti dan terpaksa membongkar set yang sudah kami bangun berbulan-bulan. Kami harus mengatur ulang post produksi dan kami kehilangan banyak hal selama satu setengah tahun, ditambah lagi dengan masalah legal, masalah dana, dan lain-lain. Ketika kami akhirnya bisa melanjutkan produksi, suasana hati saya sudah lain. Dan ketika film itu akhirnya selesai, saya merasa sangat sangat lelah. Saya merasa….kata yang tepat buat saya adalah mengering. Saya mengering. Saya tidak punya ilusi lagi. Jadi pada dasarnya, The Man tidak punya storyline. Ambisi saya terhadap film ini adalah menunjukkan wajah manusia sesungguhnya, yang bertindak secara natural terhadap situasi sulitnya masing-masing. Saya berikan waktu kepada karakter-karakter saya di depan kamera, saya berikan mereka ruang yang seluas-luasnya, dan hal-hal kecil lainnya yang bagi saya lebih penting dari sekedar mengikuti storyline. Bagaimana dengan script? Saya tidak pernah menggunakan script, apalagi storyboard. Storyboard itu pekerjaan yang buang waktu dan bodoh. Saya atau juga penulis skenario hanya menuliskan dasar-dasar pondasi filmnya. Selain itu, alur cerita bagi saya hanya bagian kecil dari sebuah film. Ada yang lebih penting dari sekedar alur cerita. Perkembangan emosi karakternya, waktu yang dibutuhkan agar keberadaannya sebagai karakter bisa terasa eksistensinya, ritme, lokasi. Bagi saya, waktu dan lokasi juga adalah karakter sendiri. Selain itu yang terpenting adalah tahu bagian mana yang tidak boleh dipotong di ruang edit. Apa yang membuat anda begitu sedih sebetulnya. Apakah akibat dari kematian produser anda? Tidak. Hidup itu berat. Dan saya melihat dan mengalami bagaimana beratnya. Bukan hanya saya sesungguhnya, hidup makin berat juga bagi semua orang, bukan? Ya, tentu saja. Tapi jangan bilang anda akan berhenti membuat film. Oh tentu saja tidak. Itu satu-satunya harapan saya untuk terus hidup. Syukurlah. Bisa ceritakan salah satu pengalaman berat itu? Ada masa dimana saya ingin jadi filsuf. Ketika saya mendaftar untuk masuk jurusan filosofi, saya ditolak. Penolakan itu karena alasan politis, karena saya iseng membuat film. Saya membuat film tentang kelompok gypsy di Hungaria yang mengirim surat kepada pemimpin komunis tentang keinginan mereka untuk keluar dari Hungaria karena tidak punya apa-apa, tidak punya makanan, tidak punya pekerjaan. Setelah itu, saya membuat lagi film pendek, semacam dokumenter tentang kehidupan keluarga pekerja yang bermukim secara illegal di rumah-rumah terlantar. Saat polisi datang untuk menyingkirkan mereka, saya malah dipenjara. Setelah keluar dari penjara, anda akhirnya berhasil masuk universitas? Tidak. Saya tidak pernah mendaftar ke universitas lagi. Saya tidak lagi peduli tentang filosofi. Saat itu saya memutuskan, saya tidak mau jadi filsuf lagi. Tapi kemudian anda menerjemahkannya dalam film? Terutama Werckmeister dan Satantango? Tidak, tidak. Saya tidak mau jadi filsuf lagi, bahkan dalam film sekalipun. Tapi anda tidak bisa mengelak, keinginan untuk menekuni hal-hal filosofis dalam film-film anda. Khususnya Werckmeister juga sangat kental dengan dimensi kosmis. Adegan pembuka Werckmeister misalnya, dimana orang-orang berkumpul memperagakan komposisi kosmik. Anda sepertinya percaya tentang hal-hal yang berhubungan dengan filosofi metafisik. Saya tidak pernah memikirkan hal-hal teoris ketika sedang bekerja.Anda tahu, setiap orang punya kewajiban sosial yang besar. Waktu saya membuat Werckmeister, di Hungaria kami memang sedang menghadapi problem sosial dalam sistem politik kami. Saya pikir, kenapa film ini tidak mempertanyakan masalah sosial itu? Kami juga menghadapi problem ontologi dan saya pikir semua masalah-masalah ini datang dari kosmos. Tapi tidak pernah saya dan tim saya membicarakan hal hal metafisik. Saya hanya mendengarkan dan memikirkan apa yang terjadi, mengkonstruksinya agar semua sudah siap ketika syuting dimulai. Di Werckmeister, saya hanya ingin bercerita tentang bagaimana warga desa terpencil itu tiba-tiba menjadi gelisah menyambut datangnya ikan paus. Ketika saya bekerja, saya tidak membicarakan hal hal teoritis. Kami selalu menghadapi problem teknis, kami tidak pernah membicarakan soal chaos atau hal-hal eksistensial. Kami membiacarakan bagaimana seharusnya adegan dijalanan, bisa bekerja sesuai yang seharusnya. Bagaimana jika seseorang masuk ruangan, dan bagaimana seharusnya reaksi orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut. Kami membicarakan hal-hal kecil dan detail. Tidak pernah teori. Mengapa anda pikir semua ini datang dari kosmos? Segalanya dalam hidup selalu lebih besar dari yang kita duga. Kita ini, manusia hanya bagian yang sangat kecil dari itu semua. Tapi saya tidak akan memberikan definisi apalagi interpretasi apa-apa tentang film saya. Biarkan imaginasi anda berkembang sendiri tanpa perlu saya pagari. Maaf, tapi tentunya anda percaya Tuhan? Itulah masalahnya. Saya tidak percaya. Mudah saja untuk menyalahkan Tuhan dalam segala hal. Mudah saja bilang, ini kehendak Tuhan. Tapi saya pikir bodoh sekali kalau manusia seenak-enaknya menganggap bahwa Tuhan lah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Tidak, saya tidak akan menghabiskan waktu saya dengan mengharapkan Tuhan ada. Anda pernah jadi eksil, keluar dari Hungaria beberapa waktu lamanya. Apakah juga ada hubungannya dengan kegiatan membuat film? Iya. Waktu itu sekitar tahun 1985. Saya ingin sudah ingin sekali membuat Satantango yang terinspirasi dari novel The Melancholy of Resistance karya sahabat saya Laszlo Krasznahorkai. Karena masalah politik, studio dan perusahaan film yang kami dirikan bersama-sama dengan beberapa sutradara independen Hungaria akhirnya ditutup oleh pemerintah. Satantango akhirnya sempat tersimpan lama rak buku, tapi saya sempat membuat Damnation di periode itu. Setelah itu, karena tekanan politik, saya akhirnya meinggalkan Hungaria dan menetap di Jerman Barat hingga runtuhnya tembok Berlin. Bersamaan dengan itu, situasi politik membaik, dan saya kembali ke Hungaria. Anda lama berkutat dengan sistem di Hungaria untuk membuat film. Sekarang boleh dibilang, nama anda sudah jaminan. Kritikus-kritikus pun memuji-muji film anda. Apakah sekarang anda lebih mudah membuat film daripada sebelumnya? Tidak akan pernah ada kata lebih mudah untuk membuat film. Nama? Apalah artinya nama. Tentu saja penting untuk tahu pendapat orang tentang film-film yang saya kerjakan karena selama mengerjakannya, praktis saya dan tim saya bekerja sendiri. Kami selalu pusing masalah dana, pusing menghadapi masalah-masalah di lapangan. Selama proses itu, anda tidak akan pernah punya waktu untuk memikirkan penonton atau siapa yang akan menonton film itu. Hanya sutradara film iklan saja yang memikirkan penontonnya. Bahkan setelah selesai pun, saya sudah cukup puas jika ada sepuluh orang yang menyatakan pendapatnya tentang film saya, karena penting bagi saya untuk tahu apa pendapat mereka. Tapi saya tidak pernah membayangkan ribuan orang akan menonton film saya, saya toh tidak bisa memuaskan dan menyenangkan semua orang. Di Hungaria sendiri, secara resmi, tidak ada yang suka. Kami toh berada di luar standar yang ada. Di jaman Komunis, kami adalah orang luar, tapi bahkan setelah Komunis berganti pun, kami tetaplah berada diluar garis, berada diluar sistem, berada diluar komunitas borjuis kecil yang bodoh bernama industri film. Hampir semua film-film anda rupanya terinspirasi dari buku. Ya, tapi hanya terinspirasi bukan adaptasi. Biasanya saya lebih tertarik pada kesan yang ditimbulkan sebuah buku setelah saya membacanya. Kesan dan atmosfir itulah yang terolah di kepala saya, dan bukan karena alur cerita di buku itu. Saya tidak tahu banyak tentang budaya Hungaria. Apakah film-film anda menggambarkan kepribadian orang-orang Hungaria, Saya tidak tahu. Yang pasti saya orang Hungaria. Anda tahu, saya tidak tahu apa-apa selain saya orang Hungaria. Film-film anda pada umumnya disyut dengan format hitam putih dan sekilas ada pengaruh gaya Tarkovsky. Apakah dia yang menginspirasi anda? Sulit juga dibilang begitu. Saya suka film-film Tarkovsky walaupun tidak semuanya. Yang terbaik bagi saya Andrei Rublyov dan tentu saja Stalker. Tapi pilihan format hitam putih bukan karena Tarkovsky. Alasannya sederhana, saya pusing melihat terlalu banyak warna. Saya hanya membuat dua film berwarna. Selebihnya hitam putih. Saya juga tidak tahu, tapi saya merasa menggunakan warna membuat film saya jadi cerewet melebihi yang seharusnya. Yang menginspirasi saya justru Cassavetes. Saya sangat suka dengan film-film Cassavetes. Tapi film-film Cassavetes selalu riuh dengan dialog dengan pergerakan kamera yang selalu ikut andil, sementara film anda sangat kalem, minim dialog dan kamera anda selalu berjarak. Saya terinspirasi bukan berarti saya harus mengikuti dia kan? Saya sangat suka dengan gaya naturalis Cassavetes, tapi saya juga sadar saya tidak bisa membuat film seperti dia. Saya punya keberatan sendiri. Anda pernah menyerah untuk jadi filsuf. Kenapa akhirnya ngotot membuat film? Itu pertanyaan yang sering saya ajukan terhadap diri sendiri dan saya tetap tidak bisa menjawab. Yang saya tahu pasti adalah saya tidak akan bisa membuat film jika orang-orang disekitar saya tidak memberikan kesempatan. Banyak waktu yang saya habiskan hanya untuk gagal. Banyak waktu saya habiskan untuk memohon-mohon dana dan berusaha mencari kemungkinan untuk membuat film yang berbeda dari film-film mainstream di Hungaria. Ketika saya akhirnya bisa mendapatkan sedikit uang, dengan bodohnya saya bangga menyebut diri ‘independen’. Tapi kemudian saya sadar, tidak ada itu yang namanya independen apalagi kebebasan berkarya, yang ada hanya uang dan politik. Saya hanya bisa memberikan pembenaran terhadap oportunis-oportunis. Mungkin juga saya sudah menjadi bagian di kelompok itu. Anda benar-benar pesimis rupanya terhadap diri sendiri Saya bukan pesimis, tapi realistis.*** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |